Author : An
IsTa (Annisa, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast : All EXO’s members, Kim Yeajin (OC)
Genre : Mystery, adventure
***
*Kelanjutan cerita The Legend of Twelve FoxesKyungsoo mengangkat bahu mendengar pernyataan Yeajin. Ia tidak tahu apa-apa soal cincin itu. Terakhir ia melihatnya, cincin-cincin tersebut tersemat di jari Ryeowook dan kawan-kawannya.
Kyungsoo memandang wajah Yeajin, “Kupikir ayahmu
sudah meninggal. Ia datang padamu tadi malam?”
Yeajin tidak menjawab pertanyaan Kyungsoo. Ia
berlari pergi seraya menutup wajah dengan kedua tangannya.
Kyungsoo hanya melongo. Bingung ada apa dengan
Yeajin saat itu. Namun setelah sosok Yeajin menghilang di tikungan jalan,
Kyungsoo menghela napas. Ia berbalik dan berjalan menuju dorm.
Baru saja menginjakkan kaki di lobby, Suho muncul
dan menggandeng tangannya keluar. Kyungsoo kaget.
“Hyung, ada apa?”
“Ikut aku ke rumah sakit! Oh ya, tolong bawakan
barang-barangnya Sehun. Dari mana saja kamu tadi? Aku mencarimu,” kata Suho
cepat. Mereka menuju halte, lalu naik bus.
“Umm ….,” Kyungsoo belum sempat menjawab. Suho sibuk
sekali. Di dalam bus, ia tidak bisa duduk dengan tenang. Selalu saja ada yang
membuatnya bergerak.
Bus berhenti. Suho bergegas mengambil seluruh barang
bawaannya dan turun dari bus. Kyungsoo berlari-lari kecil mengejar langkahnya
yang begitu cepat. Ketika sampai di kamar Sehun, Kyungsoo meletakkan
barang-barang yang dibawanya perlahan.
Suho mendekati Sehun. Sehun berbaring di situ, belum
sadar. Mungkin ia benar-benar kehabisan oksigen saat itu. Kyungsoo duduk di
sebelah Suho.
“Hyung, tadi Yeajin bercerita padaku. Katanya
cincin-cincin berkekuatan itu hilang dari TKP. Ia ingin memusnahkan kekuatan
itu, namun tanpa cincin tentu saja tidak bisa,” ungkap Kyungsoo.
Suho menarik napas, “Kyungsoo-ah, menurutku sikap
Yeajin terlihat aneh.”
“Terlihat aneh? Biasa saja kok.”
“Ingat saat Yeajin membacakan maksud dari kertas
kusam yang dibawa Kai?” Suho memandang Kyungsoo. “Ia hanya membaca bagian
memindahkan kekuatan, setelah itu buru-buru dilipatnya kembali dan menyerahkan
kertasnya pada Kai. Raut wajahnya seperti ketakutan, atau begitulah.”
Kyungsoo mengingat-ingat kejadian itu, “Oh, iya.
Tetapi aku tidak memperhatikannya. Aku terfokus pada Sehun waktu itu.”
Suho merogoh saku jaketnya, “Tunggu sebentar.”
Kemudian ia menarik tangannya, lalu cincin Sehun berada di genggamannya.
“Cincin itu ada padamu?” mata Kyungsoo melebar.
“Semuanya?”
“Tidak semuanya. Hanya miliknya Sehun,” Suho
mengulurkan tangannya. “Ini, berikan pada Yeajin. Biar dia yang memusnahkannya.
Ia yang tahu bagaimana caranya.”
Kyungsoo mengambil cincin itu, “Suho hyung, Yeajin
juga bercerita kalau ayahnya datang padanya semalam.”
Suho tersentak, “Bukankah sudah mati?”
“Entahlah. Ketika aku menanyakan hal itu padanya, ia
justru berlari pergi,” ujar Kyungsoo.
“Atau, mungkin seperti Kai? Ia mengira ayahnya mati,
padahal yang mati bukan ayahnya?” Suho tertawa sedikit. “Mana kutahu. Aku hanya
menebak.”
“Bisa jadi,” Kyungsoo mengusap dagunya. Ia menatap
wajah Sehun, “Kumohon sadarlah!”
***
Kyungsoo mengetuk pintu rumah Yeajin. Beberapa saat
kemudian, pintu terbuka, dan Yeajin yang membukanya.
“Kamu sudah menemukan cincin-cincin itu? Ini, aku
dapat salah satunya. Rupanya Suho yang membawanya,” Kyungsoo menyerahkan cincin
Sehun pada Yeajin. “Aku berjanji akan membantumu mencari cincin yang lain.”
Yeajin tersenyum tipis, meraih cincin itu dan
menutup pintu rumahnya kembali tanpa berucap apa-apa.
Kyungsoo kaget melihat tanggapan Yeajin. Ia berlalu
dan bergumam sendiri, “Yeajin aneh. Tak biasanya ia begitu.”
***
[Bersambung ....]
By : An IsTa (Annisa, Isti, and Gita)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar