Title : When We Do It Together
Author : An
(Annisa)
Length : Oneshoot
Cast : Yeon Seol Chan (OC), Byun Baekhyun (EXO),
Kim Taeyeon (SNSD)
Genre : Sad, romance
***
Bagaimanapun kita mengawalinya, kita akan
mengakhirinya dengan cara yang sama.
Ia melonjak-lonjak gembira. Ia lolos audisi SM! Setelah itu ia
akan menjalani masa training dan kemudian memulai debut. Wah,
impiannya selama ini sudah di depan mata.
Yeoja itu, kini sedang bernyanyi-nyanyi riang di kamar barunya.
Dorm di SM Building menjadi rumah barunya. Ia dengan hati yang gembira menata
pakaiannya di lemari, menaruh buku-buku di rak, juga memasang sedikit hiasan di
meja dekat televisi.
Tangannya merogoh saku koper, menemukan sebuah foto yang dipigura.
Berdebu, tapi gambarnya masih jelas. Yeoja itu tersenyum tipis, kemudian
mengelap permukaan foto tersebut.
Di sana terdapat dirinya, dirangkul seorang namja yang lebih
tinggi beberapa sentimeter darinya, Baekhyun.
Ia tersenyum. Lalu melempar pandangannya keluar jendela.
Sedang apa, ya namja itu?
***
“Siapa ini?”
Taeyeon menunjuk gadis yang tengah dirangkul Baekhyun dalam sebuah
foto yang dipigura. Taeyeon dengan nada yang tinggi berbicara, “Siapa dia dan
... kenapa kamu merangkulnya?”
Baekhyun buru-buru mendekati Taeyeon. Ia mengambil foto itu dan
menaruhnya di dalam laci, “Bukan siapa-siapa. Dia temanku.
“Kelihatannya kalian dekat,” Taeyeon menatap Baekhyun galak.
“Kukira kamu belum pernah pacaran sebelumnya.”
Baekhyun mengangguk pelan, “Memang belum. Sudah kukatakan dia
hanya temanku. Sebatas teman saja.”
Taeyeon masih dengan tampang sinisnya berkata lagi, “Siapa dia?”
“Seol Chan,” ujar Baekhyun.
“Seol Chan?” Taeyeon seperti mengingat-ingat sesuatu. “Maksudmu
Yon Seol Chan itu? Dia masuk daftar anak-anak yang lolos audisi SM.”
“Oh ya?” Baekhyun manggut-manggut. Raut wajahnya berubah.
“Kenapa? Kamu ingin menemuinya lagi?”
Baekhyun menggeleng, “Tidak, Noona. Ayo kita makan siang bersama.
Lupakan saja soal gadis itu.”
***
Seol Chan berjalan keluar gedung SM. Ia menikmati udara segar
Seoul, sembari menyegarkan pikiran. Seol Chan melanjutkan langkahnya, berbelok
ke kanan menuju supermarket. Ia hendak masuk untuk membeli beberapa snack.
Namun tiba-tiba perutnya terasa lapar dan matanya menangkap restoran China di
seberang jalan. Seol Chan membatalkan niatnya untuk membeli snack,
dan kakinya membawanya menuju restoran itu.
“Selamat datang.”
Seorang pelayan wanita membungkuk memberi salam seraya membukakan
pintu untuk Seol Chan. Seol Chan membalasnya dengan senyuman.
“Ada berapa orang, Eonni?”
“Saya sendirian,” ucap Seol Chan. Pelayan itu mengangguk dengan
sopan dan mengajak Seol Chan menuju sudut ruangan. Di sana ada dua kursi di
satu meja.
“Silakan duduk di sini,” pelayan itu menarik kursi. Seol Chan
mengangguk dan duduk di kursi tersebut. Selanjutnya ia mulai memesan makanan.
Dan pelayan itu pergi.
Sembari menunggu, Seol Chan memperhatikan seluruh ruangan.
Tiba-tiba ia melihat seorang namja dan yeoja, duduk di bangku yang mirip
dengannya. Dua kursi di satu meja. Seol Chan memperhatikan namja dan yeoja itu.
Sepertinya ia merasa kenal dengan keduanya.
Si yeoja mungkin merasa diperhatikan. Ia menghentikan makannya dan
melirik Seol Chan. Yeoja itu menepuk pundak namja yang makan bersamanya, lalu
menunjuk Seol Chan. Namja itu menoleh melihat Seol Chan. Seol Chan seketika
kaget. Begitu pula dengan si namja.
“Baekhyun oppa?” sapa Seol Chan hati-hati.
“Kamu ... Seol Chan itu kan?”
Mereka tersenyum dan sama-sama mengangguk.
“Selamat datang di Seoul, Seol Chan-ssi,” kata Baekhyun.
“Gumawo,” Seol Chan tertawa kecil.
“Aku ingin memperkenalkanmu pada ...,” Baekhyun menatap Taeyeon.
“Pacar baruku. Dia Taeyeon. Mungkin kamu pernah melihatnya di televisi?”
Seol Chan terkejut mendengarnya. Pacar ... baru ...?
Taeyeon memandang Baekhyun aneh, “Pacar baru? Berarti kamu punya
pacar lama?”
Baekhyun mengangguk, “Kalau jujur, aku dulu berpacaran dengan Seol
Chan. Dia ...”
“Dulu?” Seol Chan memutus perkataan Baekhyun. “Kukira hubungan
kita masih terjaga sampai sekarang. Aku menyusulmu ke Seoul hanya agar kita
bisa bersama lagi. Dan kini ... kamu justru bersama Taeyeon?”
Baekhyun menatap Seol Chan tanpa merasa bersalah.
Seol Chan dengan marah mengemasi barang-barangnya dan beringsut
keluar.
“Eonni, ini makanan yang Anda pesan,” pelayan itu membawa satu
nampan berisi masakan China. Seol Chan tidak memedulikannya dan segera pergi
dari tempat itu.
“Jadi sebenarnya kamu masih berpacaran dengannya?” Taeyeon menatap
mata Baekhyun. “Lalu status kita selama ini apa? Kamu berbohong padaku kalau
ini kali pertama kamu berpacaran. Dan rupanya kamu sebenarnya menjalin hubungan
dengan yeoja itu?”
Baekhyun menggenggam tangan Taeyeon, “Noona, aku tetap
mencintaimu. Jangan pedulikan yeoja itu, tapi ingatlah, hatiku selalu ada
untukmu.”
“Apa kamu sedang berbohong?”
Baekhyun menggeleng, “Aku jatuh cinta padamu, Noona. Saat tiba di
Seoul, dan melihatmu bernyanyi dengan suara khasmu itu, aku menyukaimu. Rasa
senangku padamu lebih besar daripada dengan yeoja itu.”
“Jadi dia hanya hama yang masuk dalam kehidupanmu?”
“Anggap saja begitu,” Baekhyun tersenyum. “Sekali lagi kutegaskan,
aku mencintaimu. Sangat, sangat, sangat, mencintaimu.”
Taeyeon mendekap Baekhyun.
***
Seol Chan sampai di dorm. Rasa lapar yang tadinya melanda hilang.
Ia menangis pelan, memandangi foto itu. Foto Baekhyun yang merangkulnya. Saat
itu Baekhyun sudah lolos audisi SM, dan ia hendak pergi ke Seoul melanjutkan
cita-citanya. Sebelum ia berangkat, Baekhyun mengajak Seol Chan untuk berfoto
bersama. Foto itu dicetak dua kali, sama-sama diabadikan dalam pigura. Satunya
dibawa Seol Chan, dan satunya lagi dibawa Baekhyun.
Seol Chan berjanji akan menyusul Baekhyun ke Seoul, dengan cara
belajar lebih keras dalam dance sehingga lolos audisi SM.
Semua kerja kerasnya itu semata-mata hanya karena Baekhyun. Hanya karena ia
ingin menyusul Baekhyun, dan melanjutkan hubungan mereka.
Tapi hatinya begitu sakit saat tahu Baekhyun bersama orang lain.
Seol Chan mengusap-usap foto itu, lalu dimasukkannya ke dalam koper.
“Tidak apa-apa kok. Ada namja lain yang jauh lebih baik daripada
Baekhyun,” Seol Chan berusaha tegar. “Lagipula, mungkin Baekhyun dan Taeyeon
cocok lalu ... semoga kalian bahagia! Selamanya!”
Seol Chan tersenyum. Ia menghapus air matanya.
***
“Seol Chan-ssi!”
Seol Chan menoleh. Taeyeon ada di sana. Ia berlari-lari kecil
mendekati Seol Chan.
“Malam-malam begini kamu masih berkeliaran?” ujar Taeyeon. “Ini
sudah jam dua belas malam.”
Seol Chan mengangguk, “Ya, aku memang suka tidur malam. Lagipula,
aku juga ingin membeli mi instan. Sejak tadi siang aku belum makan.”
“Gara-gara kejadian tadi, ya?” Taeyeon menunduk. “Maafkan aku. Aku
sudah merebut Baekhyun darimu.”
Seol Chan tertawa kecil, “Tidak apa-apa, Eonni. Dia memang lebih
pantas bersamamu. Suara kalian sama-sama bagus, tidak dengan suaraku.”
Taeyeon ikut tertawa, “Suaramu juga khas kok. Agak serak, tapi
bagus. Aku ingin mendengarmu bernyanyi.”
“Tidak,” sahut Seol Chan. “Jangan sekarang.”
“Kenapa? Ini malam-malam dan tidak ada orang di sini selain kita,”
Taeyeon mengedarkan pandangannya. “Lihat? Sepi sekali.”
“Itu tandanya kalau aku bernyanyi, suaraku bisa terdengar hingga
Jepang saking sepinya,” gurau Seol Chan. “Dan aku tidak mau itu terjadi.”
Taeyeon tertawa, “Itu mustahil, Seol Chan-ssi. Pantas saja
Baekhyun menyukaimu, kamu orangnya asyik diajak mengobrol.”
Seol Chan menggeleng, “Tidak, ah. Tapi, terima kasih juga.”
Taeyeon menggandeng tangan Seol Chan, “Aku benar-benar minta
maaf.”
Seol Chan berujar, “Eonni, sudah kukatakan aku memaafkanmu. Semoga
kamu dan Baekhyun bahagia.”
“Gumawo,” Taeyeon merangkul Seol Chan. Keduanya berjalan bersama
di tengah kesenyapan malam.
Mereka terus berjalan, hingga akhirnya sampai di SM Building.
“Ayo, kita menyeberang. Aku ingin segera sampai dorm,” Taeyeon
melangkah lebih cepat. Ia berlari-lari menyeberang jalan, tak peduli kalau ada
mobil dengan kecepatan tinggi yang melintas.
Seol Chan menjerit. Tangannya tergerak untuk menarik Taeyeon,
“Eonni! Jangan menyeberang dulu! Ada mob ...”
Tidak, belum sempat ia menarik Taeyeon. Mobil itu menabrak
Taeyeon. Suaranya keras sekali, mungkin terdengar sampai lantai paling atas di
SM Building. Hal itu terbukti karena setelah suara tersebut terdengar,
lampu-lampu di dorm SM yang sebelumnya mati, langsung menyala semua.
“Eonni ...,” Seol Chan tidak kuat melihatnya. Ia cepat-cepat
mendekati Taeyeon. Yeoja itu meringkuk di bawah mobil. Wajahnya tidak terlihat,
karena sebagian besarnya tertutup rambut.
Si pengendara mobil itu keluar dari mobil, “Astaga! Siapa yang
kutabrak?” Pengendara mobil itu bergegas mengeluarkan handphone-nya
dan menelepon ambulans.
Darah keluar dari kepala Taeyeon. Lama kelamaan bertambah banyak.
Yeoja itu tidak bergerak sama sekali, membuat Seol Chan semakin khawatir.
“Eonni, sadarlah! Kau tidak apa-apa, bukan?”
Beberapa saat kemudian banyak orang berdatangan. Baekhyun juga
mendekat. Ambulans tiba di sana, diikuti beberapa mobil polisi.
“Ada apa?” Baekhyun menyusup di antara orang-orang. Tidak satupun
orang yang menjawab pertanyaannya. Baekhyun terus menyusup dan ia sampai di
tempat kejadian. Dilihatnya Seol Chan di situ, duduk di tengah jalan. Ia
menunduk, menutup wajahnya seraya menangis. Di dekat Seol Chan ada mobil,
bercak darah, juga beberapa pria dewasa yang entah sedang melakukan apa.
Pria-pria itu membawa seorang wanita yang ditutupi kain ke dalam ambulans.
Polisi memeriksa tempat tersebut.
Baekhyun mendekati Seol Chan, tak peduli ada beberapa pria yang
melarangnya memasuki tempat tersebut.
“Seol Chan-ssi, apa yang terjadi?”
Seol Chan mendongak. Matanya yang sembab menatap Baekhyun, “Aku
tak mampu untuk menceritakannya padamu.”
“Memangnya kenapa?”
“Tanyalah sendiri pada polisi-polisi itu,” Seol Chan kembali
menangis.
Baekhyun akhirnya bertanya pada polisi, “Pak, apa yang terjadi?”
“Ini kecelakaan. Siapa Anda? Apa Anda mungkin keluarga si korban?”
polisi itu balik bertanya.
“Saya Baekhyun. Maaf, Pak. Mungkin korbannya salah satu dari
keluarga saya. Jadi, mungkin saya boleh tahu siapa korbannya?”
Polisi itu menjawab, “Korban bernama Kim Taeyeon. Umur
kurang-lebih 26 tahun. Salah satu vokalis SNSD dalam SM Entertainment. Diduga
tertabrak karena didorong temannya. Karena kata si pengendara, ada orang lain
yang berdiri di situ dan mengulurkan tangan ke arah korban, yang sepertinya
bermaksud mendorong korban hingga tertabrak.”
Baekhyun membelalak mendengar seluruh ucapan polisi itu. Ia merasa
sangat marah, “Didorong? Oleh siapa?”
“Satu-satunya orang yang ada di tempat kejadian saat berlangsung
adalah gadis itu,” si polisi menunjuk Seol Chan yang menangis, menutup
wajahnya. “Kami juga akan memeriksanya.”
Baekhyun mendekati Seol Chan, “Maksudmu apa?”
Seol Chan menatap Baekhyun, “Maksudmu juga apa?”
“Maksudmu apa mendorong Taeyeon hingga tertabrak seperti itu? Kamu
iri melihatnya bersamaku? Kamu iri kenapa kami begitu dekat? Sehingga akhirnya
kamu marah dan mendorongnya sampai tertabrak mobil?” amarah Baekhyun
meletup-letup.
Seol Chan berdiri, “Aku tidak iri dengannya. Lagipula siapa yang
mendorongnya? Aku sama sekali tidak melakukannya.”
“Jangan bohong!” sentak Baekhyun. Seol Chan kaget. “Kamu
satu-satunya orang yang berdiri di sana, dan kata pengendara itu ia melihatmu
mengulurkan tangan mendorong Taeyeon,” Baekhyun benar-benar marah.
Seol Chan mengerutkan kening, “Aku memang mengulurkan tangan, tapi
...”
“Nah, kau mengaku sendiri kalau kamu mengulurkan tanganmu kan?
Buat apa kita mengulurkan tangan saat itu selain mendorong Taeyeon?”
“Oppa, dengar dulu perkataanku. Aku memang mengulurkan tangan,
tapi aku tidak bermaksud mendorongnya. Aku ingin menariknya, tapi dia justru
berlari,” Seol Chan kembali menangis.
Baekhyun memegang tangan Seol Chan, “Jangan nangis, Cengeng.”
Seol Chan benar-benar kaget. Baru kali ini Baekhyun memanggilnya
‘Cengeng’.
“Bohong. Apa yang kamu katakan semuanya bohong. Aku tidak percaya
padamu lagi,” Baekhyun berkata. “Aku baru sadar inilah sifat aslimu. Aku orang
yang beruntung meninggalkanmu. Aku menanggung kerugian besar bila aku masih
setia padamu. Ini sifatmu. Dasar pendengki!”
Seol Chan menggigit bibir mendengar semua itu. Ia tak tahan, dan
akhirnya berlari pergi. Baekhyun mengejarnya, “Mau ke mana kau? Kau berusaha
lari dari tanggung jawab?”
“Baekhyun-ah,” polisi itu memegang tangan Baekhyun. “Dia tidak
bersalah.”
“Hah?”
“Tadi baru saja kita lihat CCTV yang terpasang di pinggir jalan.
Itu, kau lihatkan benda hitam itu? Rupanya kejadiannya begini. Si korban dan
gadis itu berjalan berdampingan di trotoar. Kemudian si korban berlari
menyeberang jalan, saat itu ada mobil yang melintas dengan cepat. Pria ini
pengendara mobil itu. Pria ini mengira tidak ada orang yang menyeberang, karena
suasana sangat sepi. Sehingga ia menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan
gadis yang bersamamu tadi, memperingatkan si korban dan hendak menarik
tangannya. Namun mobilnya lebih cepat dan, berakhir seperti ini,” jelas polisi
itu panjang lebar.
Baekhyun membelalak. Rasa bersalah menyelimuti hatinya. Ia harus
segera meminta maaf pada Seol Chan. Baekhyun cepat-cepat berlari menyusul Seol
Chan yang sudah jauh di ujung jalan.
“Seol Chan-ssi! Seol Chan! Tunggu! Aku ingin bicara denganmu!”
Seol Chan sebenarnya mendengar panggilan itu. Tapi hatinya sudah
disakiti Baekhyun dua kali, membuatnya takut bila terjadi ketiga kalinya.
Bukannya menghentikan langkah, Seol Chan justru mempercepat larinya.
Baekhyun meringis. Ia terus berlari, berusaha menyusul Seol Chan.
Siganeul meomchwo nege doraga (Kuhentikan
waktu dan kembali padamu)
Chueokeui chaegeun neoui peijireul yeoreo (Kubuka
halaman dirimu di buku memoriku)
“Seol Chan-ah! Mianhaeyo!”
Seol Chan terus berlari, meski ia mendengar permintaan maaf
Baekhyun. Ia berbelok ke kiri.
“Astaga, dia menuju hutan,” Baekhyun berusaha berlari lebih cepat.
Nan geu ane isseo (Ada aku di situ)
Seol Chan berhenti sejenak. Ia kelelahan. Diusapnya peluh yang
bercucuran. Baekhyun berlari menyusulnya, semakin dekat dengan Seol Chan. Seol
Chan menatap Baekhyun.
“Kini kau merasakan kerja kerasku, saat aku berusaha memenuhi
janjiku menyusulmu ke Seoul,” Seol Chan mendesah. “Sekarang kau yang bekerja
keras menyusulku.”
Baekhyun semakin dekat. Seol Chan lalu berbalik dan berlari lebih
dalam ke hutan.
“Seol Chan-ssi! Kamu tidak tahu kalau ada jurang di hutan itu?”
Baekhyun mempercepat langkah.
Seol Chan tidak mendengarnya. Ia terus berlari, menembus semak
belukar. Langkahnya bertambah cepat. Baekhyun berada di belakangnya, tidak jauh
darinya. Seol Chan berlari terus, dan ...
“Ah!”
Kakinya kehilangan pijakan, sehingga terperosok. Seol Chan menoleh
ke bawah. Jurang! Bebatuan yang diinjaknya jatuh ke sana. Entah seberapa dalam
jurang tersebut. Mungkin sangat dalam, sampai-sampai kita tak dapat melihat
dasarnya.
Seol Chan mencari-cari akar pohon sebagai pegangan. Setelah
didapatnya, Seol Chan menggantung pada akar tersebut. Namun, sayangnya akar itu
tidak kuat menanggung beban tubuhnya. Sehingga akar itupun lama-kelamaan
membengkok, dan patah.
Seol Chan menjerit. Ia tak mampu berbuat apa-apa sekarang, hanya
pasrah apapun yang terjadi.
Ketika itu Baekhyun memegang tangan Seol Chan, menyelamatkannya
dari jatuh. Seol Chan mendongak, melihat Baekhyun yang tersenyum.
“Maaf,” Baekhyun menelan ludah. “Aku ... aku minta maaf soal tadi.
Seharusnya aku tidak langsung percaya perkataan orang lain dan menyelidikinya
dulu.”
Seol Chan terdiam.
“Kamu memaafkanku, kan?”
“Oppa,” Seol Chan balik tersenyum. “Aku tak mungkin tak
memaafkanmu.”
“Seol Chan-ssi,” Baekhyun menarik napas. “Maukah kamu jadi
pacarku? Selamanya hingga menikah kelak?”
Seol Chan tanpa ragu-ragu mengangguk, “Oppa, saranghaeyo.”
Baekhyun terlihat lega, “Seol Chan-ssi, aku juga, sa ...”
“Ah!”
Pegangan Baekhyun semakin longgar. Baekhyun berusaha mengangkat
Seol Chan, namun ia tidak kuat. Sementara itu ia juga tertarik ke bawah.
Baekhyun mencari pegangan. Sayangnya tangannya kurang panjang untuk meraih
pegangan itu.
“Oppa, lepaskan tanganku,” Seol Chan berkata lirih. “Aku tidak
apa-apa, kok.”
“Tidak! Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi untuk kedua
kalinya,” mata Baekhyun berkaca-kaca. “Bertahanlah, aku akan mengangkatmu.”
Tidak bisa. Ia tidak kuat. Sedangkan gravitasi bumi semakin
menarik keduanya ke jurang.
“Oppa, bila kau lepaskan tanganku, kau bisa selamat. Maka
lepaskanlah!” Seol Chan tersenyum tipis.
Baekhyun menggeleng. Air mata menggenang di pelupuk matanya, “Seol
Chan, saranghaeyo.”
Seol Chan ikut menangis, “Saranghaeyo, Oppa. Lepaskanlah
peganganmu. Hiduplah di sana. Kau tetap bisa mengingatku, kalau aku
mencintaimu.”
Baekhyun menggeleng, “Takkan pernah.”
Seol Chan dan Baekhyun saling melempar senyum.
“Seol Chan-ssi, ingatlah perkataanku ini,” Baekhyun berujar. Ia
mengusap matanya.
Seol Chan memandang Baekhyun.
“Bagaimanapun kita mengawalinya, kita akan mengakhirinya dengan
cara yang sama,” air mata Baekhyun mulai menetes. “Kita mengawalinya
bersama, maka kita mengakhirinya bersama pula.”
“Oppa,” ucap Seol Chan lirih. “Gumawo.”
Baekhyun mengangguk. Keduanya terperosok bersama ke dalam jurang,
saling berpegangan tangan. Bersama, takkan pernah berpisah.
Boiji anheun neol chajeuryeogo aesseuda (Aku
melihatmu, kau yang tak bisa kulihat)
Deulliji anheun neo deureuryeo aesseuda (Aku
mendengarmu, kau yang tak bisa kudengar)
***
By : An (Annisa)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar