Title : The Legend of Twelve Foxes
Author : AnTa (Annisa and Shinta)
Length : Chaptered
Cast : All EXO's members, Kim Yeajin (OC), all Super Junior's members
Genre : Adventure
***
Pagi. Keduabelas namja itu turun bersamaan dari bus.
Mereka tentu saja hendak menuju dorm mereka, SM Town. Setelah kelulusan minggu
lalu, mereka langsung menjalani training
dan kini telah debut. Kyungsoo melangkah menuju lobby. Di depannya terlihat
seorang gadis berperawakan langsing. Sepertinya ia tengah menunggu Kyungsoo.***
“Oppa! Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu,”
gadis itu menepuk pundak Kyungsoo.
Kyungsoo berpaling, “Yeajin? Sejak kapan kamu berada
di sini?”
Yeajin tersenyum, “Selamat ya, atas kemenangan XOXO
waktu audisi itu. Aku turut senang mendengarnya. Maaf baru bisa menyampaikan
hal ini. Padahal pengumuman audisinya sudah lama berlangsung.”
“Terima kasih. Ini juga berkat pertolongan yang kamu
berikan padaku dan Baekhyun dari terkaman Chanyeol,” ucap Kyungsoo seraya
melirik Chanyeol. Chanyeol yang melihat kejadian itu cepat-cepat memalingkan wajahnya
dengan malu.
“Hihi, rupanya Chanyeol bisa malu juga ya ….,”
Yeajin tertawa kecil.
Kyungsoo ikut tertawa, “Oh iya, ada apa kamu
kemari?”
“Umm …. Kemarin sore aku melihat sebuah toko buku
yang baru diresmikan. Jadi, mungkin kita bisa ke sana? Melihat-lihat buku,”
ujar Yeajin.
“Oke, tapi nanti sore saja. Aku tidak bisa kalau
sekarang,” tanggap Kyungsoo.
“Baiklah. Nanti sore jam empat kita bertemu di depan
lobby ya,” Yeajin berlalu dan melambaikan tangannya.
“Ya, sampai nanti,” balas Kyungsoo.
***
Sesuai perjanjian, Kyungsoo berlari-lari kecil
menuju lobby. Di sana Yeajin sudah menunggunya. Yeajin sempat melempar senyum
pada Kyungsoo, sebelum akhirnya mereka berdua berjalan berdampingan menuju
sebuah toko buku di seberang jalan. Toko buku itu besar, namanya ‘Millenium
Book Store’. Mereka pun masuk.
Seorang penjaga toko di sana menyapa dengan ramah,
“Selamat datang di toko buku kami, silakan memilih buku yang Anda suka.”
Kyungsoo dan Yeajin hanya tersenyum mendengar sapaan
itu.
Yeajin si kutu buku itu berkata pada Kyungsoo,
“Oppa, aku ingin melihat-lihat buku di sebelah sana. Bila ingin mencariku,
carilah di tempat itu ya!” Sekejap Yeajin lenyap di antara rak-rak buku.
Kyungsoo mematung di depan pintu. Ia bingung apa
yang harus dilakukan. Akhirnya dilangkahkan kakinya menuju sebuah rak. Isinya
tentang akuntansi. Tidak menarik. Ia bergeser ke rak lainnya. Justru kini
ditemuinya bacaan anak-anak. Kyungsoo berjalan lagi. Sekarang di hadapannya
terdapat sebuah rak berisi buku-buku tentang komputer. Kyungsoo bergerak lagi.
“Novel apa ini?” matanya tertuju sebuah novel di
bagian rak bacaan remaja. Novel itu tebal, cover
depannya bergambar sebuah bangku taman kosong di bawah pohon yang daunnya
berguguran. Judul novel itu ‘MAMA’.
“‘MAMA’? Mungkin maksudnya ibunda,” Kyungsoo
menimang-nimang novel itu. Ia melihat harganya, “Tidak terlalu mahal. Beli,
ah.”
Kyungsoo membawa novel itu ke kasir. Setelah
membayar, ia menunggu Yeajin di depan pintu. Beberapa menit kemudian, Yeajin
datang sambil membawa kantong plastik berisi beberapa buku.
“Beli apa, Oppa?” Yeajin menatap Kyungsoo.
“Novel ini,” Kyungsoo menunjukkan novelnya. Ia
sedikit kaget saat melihat air muka Yeajin berubah setelah mengamati novel
‘MAMA’.
“Oppa tahu? Penulis novel ini adalah ayahku, tetapi
beliau sudah meninggal dua tahun yang lalu,” kata Yeajin.
“Oh, aku ikut berduka cita,” Kyungsoo merangkul
Yeajin. “Setidaknya novel yang dibuat ayahmu masih banyak penggemarnya.
Sepertinya isinya menarik. Tentang ibunda bukan?”
Yeajin tersenyum tipis, “Baca saja sendiri.”
***
Kyungsoo menaiki lift.
Ia menyobek plastik yang membungkus novel ‘MAMA’. Ia membaca-bacanya dengan
kilat. Kemudian ketika pintu lift
dibuka, Kyungsoo melangkah sembari membaca. Tangannya bergerak untuk membuka
pintu dorm, dan seusai terbuka muncul wajah ceria Chanyeol di situ.
“Kyungsoo-ah! Halo ….,” Chanyeol nyengir.
Kyungsoo tersentak, “Oh, halo juga, Hyung.”
“Buku apa itu?” Chanyeol melihat novel yang dipegang
Kyungsoo.
“Tadi aku membelinya bersama Yeajin,” jawab Kyungsoo.
“Sudahkah kamu membacanya? Kalau belum, ayo kita
baca bersama,” Chanyeol menarik lengan Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk.
Mereka berduabelas duduk bersama, membentuk
lingkaran di ruang tengah.
“‘MAMA’? Sepertinya asyik, tapi isinya banyak
sekali. Aku tidak mampu membacakannya sampai selesai untuk hari ini,” Chanyeol
membuka halaman novel itu.
“Tidak apa-apa. Ayo bacakan!” seru Suho bersemangat.
Chanyeol mulai membaca. Novel itu bercerita tentang
sekelompok remaja yang terkena radiasi nuklir di kotanya. Seluruh warga kota
itu meninggal, kecuali sekelompok remaja itu. Ternyata mereka ditakdirkan untuk
melindungi dunia ini dari serangan tiga organisasi berbahaya yang ingin merusak
dunia. Mereka masing-masing mendapatkan kekuatan yang unik. Kekuatan itulah
yang melindungi mereka dari radiasi nuklir, juga akan membantu mereka
mengalahkan tiga organisasi tersebut.
“… dan pada akhirnya mereka berlari pergi
bersama-sama dari kota itu,” Chanyeol menguap. “Ayolah, aku mengantuk. Kita
berhenti di sini saja ya?”
“Kekuatan mereka benar-benar bagus. Andaikan kita
juga bisa memilikinya,” celetuk Kai.
“Semoga kekuatan ini bisa menjadi kenyataan.
Bayangkan, aku bisa melempar batu-batu ke arah penjahat yang hendak melukai
Yeajin,” gurau Kyungsoo.
“Dan akan kubakar celananya,” sahut Chanyeol diikuti
tawa dari teman-temannya.
“Aku yang akan memadamkannya,” timpal Suho.
“Ini sudah malam, ayo kita tidur,” Xiumin beranjak
dari situ dan berjalan menuju kamarnya.
Satu per satu mereka meninggalkan ruang tengah.
***
Tepat
jam dua belas malam.
Mereka berduabelas bermimpi yang sama.
Sebuah pohon yang daunnya gugur di cover depan novel ‘MAMA’ itu bergoyang.
Daun-daunnya yang gugur ditarik kembali dan terpasang di ranting-ranting yang
bergesekan. Pohon itu terdiam selama beberapa detik. Lalu tiba-tiba pohon itu,
seperti meledak, dedaunannya terlepas dari pohon dan keluar dari cover itu. Daun-daun itu berputar pelan,
dan memasuki kamar keduabelas namja itu satu per satu.
Jangan bangunkan mereka hingga mereka mengetahui apa
yang akan terjadi paginya.
***
[Bersambung ....]
By : AnTa (Annisa and Shinta)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar