About

Selasa, 27 Mei 2014

The Legend of Twelve Foxes (Part 2)

Title    : The Legend of Twelve Foxes
Author : AnTa (Annisa and Shinta)
Length : Chaptered
Cast     : All EXO's members, Kim Yeajin (OC), all Super Junior's members
Genre : Adventure
***
Suho terbangun dari tidurnya. Ia mengusap wajahnya, dan mendadak wajahnya basah kuyup.
Suho menjerit kaget, “Ada apa dengan wajahku?”
***
Lay membuka jendela. Angin segar menerobos masuk. Lay menghirupnya dengan senyuman. Ia melirik ke kanan. Dilihatnya sebuah pot berisi bunga yang layu. Lay mendekati bunga itu dan membelainya, “Mekarlah kamu.”
Matanya membelalak ketika melihat bunga itu benar-benar mekar.
***

Baekhyun hendak menggosok giginya. Setelah bermain-main dengan mencipratkan air di cermin, ia mengusap cermin dengan tangannya. Seketika matanya terasa silau. Baekhyun yang merasa heran menyelidiki cermin itu. Tetapi tentu saja tidak ada lampu di dalamnya. Baekhyun mengusap cermin itu kembali, dan lagi dirasakannya silau.
Baekhyun melihat telapak tangannya. Tangannya bercahaya!
***
Chanyeol meregangkan tangannya. Namun buru-buru dihentikannya sebab tirai kamarnya tiba-tiba saja terbakar.
Chanyeol berlari ke kamar mandi. Ia meraih gayung dan hendak mengambil air. Untuk kedua kalinya, aktivitasnya kembali dihentikan sebab gayung itu hangus terbakar pula. Chanyeol hanya mematung, bingung.
***
Kai mengucek kedua matanya. Ia melirik jam. Ia ingin pergi ke kamar mandi, tetapi rasa malas menggelayutinya. Ia berbaring lagi dan memejamkan mata, “Seandainya aku bisa pergi ke kamar mandi tanpa harus berjalan.”
Ia membuka matanya kembali, dan betapa terkejutnya ia ketika sadar dirinya berbaring di bath tub!
***
Kyungsoo menghela napas panjang, lalu menurunkan kakinya dari ranjang. Ia benar-benar kaget saat kakinya menginjak lantai kamar, lantai itu retak. Kyungsoo melonjak kaget dan menarik kembali kakinya. Selama beberapa saat ia membeku.
Kyungsoo memberanikan diri menurunkan kaki. Lantai itu justru bertambah retakannya, semakin melebar. Kyungsoo kaget dan melompat dari lantai menuju ranjangnya. Dan, ranjangnya langsung jebol.
***
Luhan masih teringat cerita novel ‘MAMA’ itu. Ia sangat ingin memiliki kekuatan telekinesis. Ketika melihat sisir di atas meja, timbul keinginan untuk mencobanya. Luhan mengamati sisir itu dan memikirkan bahwa sisir itu akan melayang kepadanya.
Terus demikian.
Sedetik kemudian, sisir itu benar-benar melayang ke arahnya.
Luhan spontan berteriak, “Hantu!”
***
Sehun melakukan sedikit pemanasan di kamarnya. Ketika ia mendorong tangannya ke depan, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mendorongnya hingga ia terhempas menghantam tembok.
“Aduh,” ujarnya.
***
Pada saat Kris bangun, tiba-tiba tubuhnya melayang. Kris seketika kaget. Ia berteriak-teriak meminta turun. Dan mendadak tubuhnya terjatuh dengan keras di ranjang. Langsung ia memegangi punggungnya yang sakit.
***
Sedangkan Tao, ketika ia melihat keluar jendela dan memandang anak-anak kecil di luar sana tengah bermain dengan riangnya. Ia merasa rindu dengan masa kecilnya, juga tentu saja ingin bertemu dengan ibunya kembali. Tao berbalik dan menutup jendelanya.
Sekonyong-konyong, jarum jam di kamarnya bergerak mundur dengan cepat. Pemandangan di kamarnya juga berubah. Orang-orang berseliweran seperti kilat, bercampur aduk abstrak. Kemudian waktu berhenti. Kini di depan wajahnya terdapat ibunya yang berkata, “Hai, Anakku!”
Bukannya gembira bertemu ibunya lagi, Tao justru memekik kaget. Jam berputar lagi, kembali ke waktu semula. Napas Tao naik turun. Dan ia pingsan.
***
Xiumin meraih gelas berisi air putih. Ia hendak meneguknya, tetapi betapa kagetnya ia ketika air di gelas itu membeku!
Xiumin meletakkan gelasnya kembali, “Ada apa dengan tanganku?”
***
Chen membuka laci kamarnya. Ia mengambil handphone-nya. Ketika dinyalakan, handphone-nya mati. Chen mencari-cari charger handphone-nya. Tetapi ia tidak menemukannya. Chen memegang handphone­-nya lagi. Dipandangnya layarnya seraya berucap, “Bisakah kamu menyala tanpa menggunakan charger?”
Tiba-tiba handphone-nya menyala. Layarnya menampilkan gambar-gambar yang bergerak dengan cepat. Lagu-lagu di handphone-nya juga diputar. Anehnya, suara lagunya semakin keras, terus mengeras. Chen kebingungan dan langsung melempar handphone-nya ke ranjang. Sekejap, handphone-nya kembali mati.
***
Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari kamar masing-masing. Ada yang janggal hari itu. Mereka merasa tidak nyaman, entah apa yang membuat mereka demikian. Yang jelas, hal itu menyebabkan mereka terdiam dan sepi sekali. Mereka hanya melempar senyum satu sama lain.
Chanyeol memecah keheningan, “Ayo kita lanjutkan membaca novel tadi malam!”
Kyungsoo mengangguk menyanggupi. Ia mencari novel itu di rak buku, tetapi tidak ada. Dicarinya pula di laci-laci, bahkan kamar teman-temannya dibukanya satu-satu. Novel itu tetap saja tidak berhasil ditemukan.
“Hyung, kamu yang terakhir membawa novel itu. Kamu letakkan di mana?” Kyungsoo menarik-narik baju Chanyeol.
“Di rak buku. Kita cari lagi, mungkin tadi kamu kurang jeli,” ajak Chanyeol.
Untuk kedua kalinya, novel itu juga tidak ditemukan. Teman-teman yang lain ikut mencari, namun novel ‘MAMA’ seperti lenyap tanpa bekas.
Suho berkata, “Mana mungkin ada pencuri yang mau mengambil novel itu?”
Tidak ada respon. Suasana kembali hening.
“Kalian tahu? Kupikir aku bisa mengendalikan air,” ujar Suho.
Baekhyun menimpali, “Cahaya juga bisa kuatur.”
“Entahlah, dari segala kejadian tadi pagi, aku bisa berteleportasi.”
“Tirai di kamarku terbakar.”
“Saat aku hendak minum, airnya membeku.”
“Lantai kamarku retak dan ranjangku rusak.”
“Aku bisa melihat ibuku tadi.”
“Aku terhempas.”
“Bunga di dekat jendelaku tiba-tiba mekar.”
“Tubuhku mendadak ringan.”
Handphone-ku terlihat aneh hari ini.”
“Kaget ketika melihat sisir menghampiriku.”
Hening lagi. Mereka bertatapan.
“Jadi kesimpulannya?” Sehun memandang teman-temannya.
“Kita mungkin mendapatkan kekuatan dari novel itu,” sahut Kai.
“Bukan mungkin, tetapi memang,” seru Luhan. Senyumnya mengembang.
“Sungguh?” mata Tao melebar.
“Tolong salah satu cubit aku!” ucap Chen.
Kyungsoo mencubit tangan Chen.
“Kurang kuat, Kyungsoo-ah. Coba lagi!”
Kyungsoo mencubitnya lagi dengan sekuat tenaga.
“Ah! Aduh! Kyung … auw! Kyungsoo, hentikan!” Chen mengaduh dan melihat tangannya. Merah sekali.
“Jadi ini bukan mimpi?” Sehun melonjak. “Yehet!”
Mereka bersorak riang dan sibuk dengan kekuatannya masing-masing.
“Tetapi kita tidak boleh berbuat jahat,” kata Chanyeol tiba-tiba. Seluruh temannya memandangnya.
“Ya, tentu saja. Kita rahasiakan kekuatan ini, jangan sampai orang lain tahu,” Suho mengangguk mengiyakan.
***
Setelah itu, Kai, Chanyeol, dan Suho berbelanja ke supermarket. Hanya Suho yang masuk, Kai dan Chanyeol mengobrol di luar tentang kekuatan mereka. Mereka tidak bisa melupakan hal itu, karena bagi mereka kekuatan itu ialah hadiah terbesar di kehidupan mereka.
Tiba-tiba sesosok manusia berjalan melewati mereka. Sosok itu menyenggol Kai sebentar, dan melotot pada Chanyeol. Chanyeol hanya menahan napas melihatnya.
“Siapa itu?” tanya Kai. Ia tidak melihat wajah sosok itu.
Chanyeol menghela napas, “Kim Ryeowook. Dia … kau tahu siapa dia.”
***
Sehun mendapati handphone­-nya berdering. Ia mengangkatnya. Seseorang di seberang telepon berbicara kepadanya, “Bisakah kamu ke lobby? Aku ingin bertemu denganmu di sana. Kumohon jangan ajak siapapun.
“Siapa kamu?” tanya Sehun.
Kau akan tahu nanti.
Sehun perlahan menyelinap ke pintu agar teman-temannya tidak ada yang tahu ia keluar. Namun, Kris -si mata elang- tentu saja tahu Sehun keluar kamar. Ia beranjak dari sofa dan membuka pintu. Tak ditemukannya Sehun di lorong dorm. Ia mengangkat bahu, “Mungkin ia ingin menyusul Suho.” Kris menutup kembali pintu dorm.
Sehun melangkah keluar lift. Sekarang ia telah sampai di lobby. Ia membuka handphone-nya, “Aku sudah di lobby. Kamu di mana?”
Keluar dari lobby.
Sehun membuka pintu lobby dan keluar. “Aku sudah di ...,” belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, seseorang membekapnya dari belakang.

***
[Bersambung ....]
By : AnTa (Annisa and Shinta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar