Title : The Legend of Twelve Foxes
Author : AnTa (Annisa and Shinta)
Length : Chaptered
Cast : All EXO's members, Kim Yeajin (OC), all Super Junior's members
Genre : Adventure
***
Suho terbangun dari tidurnya. Ia mengusap wajahnya,
dan mendadak wajahnya basah kuyup.***
Suho menjerit kaget, “Ada apa dengan wajahku?”
***
Lay membuka jendela. Angin segar menerobos masuk.
Lay menghirupnya dengan senyuman. Ia melirik ke kanan. Dilihatnya sebuah pot
berisi bunga yang layu. Lay mendekati bunga itu dan membelainya, “Mekarlah
kamu.”
Matanya membelalak ketika melihat bunga itu
benar-benar mekar.
***
Baekhyun hendak menggosok giginya. Setelah
bermain-main dengan mencipratkan air di cermin, ia mengusap cermin dengan
tangannya. Seketika matanya terasa silau. Baekhyun yang merasa heran
menyelidiki cermin itu. Tetapi tentu saja tidak ada lampu di dalamnya. Baekhyun
mengusap cermin itu kembali, dan lagi dirasakannya silau.
Baekhyun melihat telapak tangannya. Tangannya
bercahaya!
***
Chanyeol meregangkan tangannya. Namun buru-buru
dihentikannya sebab tirai kamarnya tiba-tiba saja terbakar.
Chanyeol berlari ke kamar mandi. Ia meraih gayung dan
hendak mengambil air. Untuk kedua kalinya, aktivitasnya kembali dihentikan
sebab gayung itu hangus terbakar pula. Chanyeol hanya mematung, bingung.
***
Kai mengucek kedua matanya. Ia melirik jam. Ia ingin
pergi ke kamar mandi, tetapi rasa malas menggelayutinya. Ia berbaring lagi dan
memejamkan mata, “Seandainya aku bisa pergi ke kamar mandi tanpa harus
berjalan.”
Ia membuka matanya kembali, dan betapa terkejutnya
ia ketika sadar dirinya berbaring di bath
tub!
***
Kyungsoo menghela napas panjang, lalu menurunkan
kakinya dari ranjang. Ia benar-benar kaget saat kakinya menginjak lantai kamar,
lantai itu retak. Kyungsoo melonjak kaget dan menarik kembali kakinya. Selama
beberapa saat ia membeku.
Kyungsoo memberanikan diri menurunkan kaki. Lantai
itu justru bertambah retakannya, semakin melebar. Kyungsoo kaget dan melompat
dari lantai menuju ranjangnya. Dan, ranjangnya langsung jebol.
***
Luhan masih teringat cerita novel ‘MAMA’ itu. Ia
sangat ingin memiliki kekuatan telekinesis. Ketika melihat sisir di atas meja,
timbul keinginan untuk mencobanya. Luhan mengamati sisir itu dan memikirkan
bahwa sisir itu akan melayang kepadanya.
Terus demikian.
Sedetik kemudian, sisir itu benar-benar melayang ke
arahnya.
Luhan spontan berteriak, “Hantu!”
***
Sehun melakukan sedikit pemanasan di kamarnya.
Ketika ia mendorong tangannya ke depan, tiba-tiba saja ada sesuatu yang
mendorongnya hingga ia terhempas menghantam tembok.
“Aduh,” ujarnya.
***
Pada saat Kris bangun, tiba-tiba tubuhnya melayang.
Kris seketika kaget. Ia berteriak-teriak meminta turun. Dan mendadak tubuhnya
terjatuh dengan keras di ranjang. Langsung ia memegangi punggungnya yang sakit.
***
Sedangkan Tao, ketika ia melihat keluar jendela dan
memandang anak-anak kecil di luar sana tengah bermain dengan riangnya. Ia
merasa rindu dengan masa kecilnya, juga tentu saja ingin bertemu dengan ibunya
kembali. Tao berbalik dan menutup jendelanya.
Sekonyong-konyong, jarum jam di kamarnya bergerak
mundur dengan cepat. Pemandangan di kamarnya juga berubah. Orang-orang
berseliweran seperti kilat, bercampur aduk abstrak. Kemudian waktu berhenti.
Kini di depan wajahnya terdapat ibunya yang berkata, “Hai, Anakku!”
Bukannya gembira bertemu ibunya lagi, Tao justru memekik
kaget. Jam berputar lagi, kembali ke waktu semula. Napas Tao naik turun. Dan ia
pingsan.
***
Xiumin meraih gelas berisi air putih. Ia hendak
meneguknya, tetapi betapa kagetnya ia ketika air di gelas itu membeku!
Xiumin meletakkan gelasnya kembali, “Ada apa dengan
tanganku?”
***
Chen membuka laci kamarnya. Ia mengambil handphone-nya. Ketika dinyalakan, handphone-nya mati. Chen mencari-cari charger handphone-nya. Tetapi ia tidak menemukannya. Chen memegang handphone-nya lagi. Dipandangnya
layarnya seraya berucap, “Bisakah kamu menyala tanpa menggunakan charger?”
Tiba-tiba handphone-nya
menyala. Layarnya menampilkan gambar-gambar yang bergerak dengan cepat.
Lagu-lagu di handphone-nya juga
diputar. Anehnya, suara lagunya semakin keras, terus mengeras. Chen kebingungan
dan langsung melempar handphone-nya
ke ranjang. Sekejap, handphone-nya
kembali mati.
***
Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari kamar
masing-masing. Ada yang janggal hari itu. Mereka merasa tidak nyaman, entah apa
yang membuat mereka demikian. Yang jelas, hal itu menyebabkan mereka terdiam
dan sepi sekali. Mereka hanya melempar senyum satu sama lain.
Chanyeol memecah keheningan, “Ayo kita lanjutkan
membaca novel tadi malam!”
Kyungsoo mengangguk menyanggupi. Ia mencari novel
itu di rak buku, tetapi tidak ada. Dicarinya pula di laci-laci, bahkan kamar
teman-temannya dibukanya satu-satu. Novel itu tetap saja tidak berhasil
ditemukan.
“Hyung, kamu yang terakhir membawa novel itu. Kamu
letakkan di mana?” Kyungsoo menarik-narik baju Chanyeol.
“Di rak buku. Kita cari lagi, mungkin tadi kamu
kurang jeli,” ajak Chanyeol.
Untuk kedua kalinya, novel itu juga tidak ditemukan.
Teman-teman yang lain ikut mencari, namun novel ‘MAMA’ seperti lenyap tanpa
bekas.
Suho berkata, “Mana mungkin ada pencuri yang mau
mengambil novel itu?”
Tidak ada respon. Suasana kembali hening.
“Kalian tahu? Kupikir aku bisa mengendalikan air,”
ujar Suho.
Baekhyun menimpali, “Cahaya juga bisa kuatur.”
“Entahlah, dari segala kejadian tadi pagi, aku bisa
berteleportasi.”
“Tirai di kamarku terbakar.”
“Saat aku hendak minum, airnya membeku.”
“Lantai kamarku retak dan ranjangku rusak.”
“Aku bisa melihat ibuku tadi.”
“Aku terhempas.”
“Bunga di dekat jendelaku tiba-tiba mekar.”
“Tubuhku mendadak ringan.”
“Handphone-ku
terlihat aneh hari ini.”
“Kaget ketika melihat sisir menghampiriku.”
Hening lagi. Mereka bertatapan.
“Jadi kesimpulannya?” Sehun memandang
teman-temannya.
“Kita mungkin mendapatkan kekuatan dari novel itu,”
sahut Kai.
“Bukan mungkin, tetapi memang,” seru Luhan.
Senyumnya mengembang.
“Sungguh?” mata Tao melebar.
“Tolong salah satu cubit aku!” ucap Chen.
Kyungsoo mencubit tangan Chen.
“Kurang kuat, Kyungsoo-ah. Coba lagi!”
Kyungsoo mencubitnya lagi dengan sekuat tenaga.
“Ah! Aduh! Kyung … auw! Kyungsoo, hentikan!” Chen
mengaduh dan melihat tangannya. Merah sekali.
“Jadi ini bukan mimpi?” Sehun melonjak. “Yehet!”
Mereka bersorak riang dan sibuk dengan kekuatannya
masing-masing.
“Tetapi kita tidak boleh berbuat jahat,” kata
Chanyeol tiba-tiba. Seluruh temannya memandangnya.
“Ya, tentu saja. Kita rahasiakan kekuatan ini,
jangan sampai orang lain tahu,” Suho mengangguk mengiyakan.
***
Setelah itu, Kai, Chanyeol, dan Suho berbelanja ke
supermarket. Hanya Suho yang masuk, Kai dan Chanyeol mengobrol di luar tentang
kekuatan mereka. Mereka tidak bisa melupakan hal itu, karena bagi mereka
kekuatan itu ialah hadiah terbesar di kehidupan mereka.
Tiba-tiba sesosok manusia berjalan melewati mereka.
Sosok itu menyenggol Kai sebentar, dan melotot pada Chanyeol. Chanyeol hanya
menahan napas melihatnya.
“Siapa itu?” tanya Kai. Ia tidak melihat wajah sosok
itu.
Chanyeol menghela napas, “Kim Ryeowook. Dia … kau
tahu siapa dia.”
***
Sehun mendapati handphone-nya
berdering. Ia mengangkatnya. Seseorang di seberang telepon berbicara kepadanya,
“Bisakah kamu ke lobby? Aku ingin bertemu
denganmu di sana. Kumohon jangan ajak siapapun.”
“Siapa kamu?” tanya Sehun.
“Kau akan tahu
nanti.”
Sehun perlahan menyelinap ke pintu agar
teman-temannya tidak ada yang tahu ia keluar. Namun, Kris -si mata elang- tentu
saja tahu Sehun keluar kamar. Ia beranjak dari sofa dan membuka pintu. Tak
ditemukannya Sehun di lorong dorm. Ia mengangkat bahu, “Mungkin ia ingin
menyusul Suho.” Kris menutup kembali pintu dorm.
Sehun melangkah keluar lift. Sekarang ia telah sampai di lobby. Ia membuka handphone-nya, “Aku sudah di lobby. Kamu
di mana?”
“Keluar dari
lobby.”
Sehun membuka pintu lobby dan keluar. “Aku sudah di
...,” belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, seseorang membekapnya dari
belakang.
***
[Bersambung ....]
By : AnTa (Annisa and Shinta)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar