Title : It’s About You and Me
Author : Is
(Isti)
Length : Oneshoot
Cast : Kim Sei Hi (OC), Kim Jong In (EXO), Park
Shin Hye (OC)
Genre : Sad, romance
***
“Saya
akan menyebutkan sepuluh nama pembuat cerpen terbaik bulan ini di kampus kita,
Kim Sei Hi, Han Ji Eun, Kim Ji Hyo, Kim Hana, Cha Dae Woong, Kim Jong In, Park
Shin Hye, Yeon Seol Chan, Park Gi Wong, dan Han Mi Ho. Bagi yang namanya
disebutkan dimohon ke Ruang Sastra 1 setelah jam kedua,” pengeras suara kampus, yang membuat semua pengarang
cerpen di kampus merasa tegang. Salah satunya Sei Hi yang namanya disebut
paling awal.
“Jeongmal?” tanya Sei Hi dalam hatinya.
Seorang Yeoja menghampirinya, dengan
senyuman.
“Sei Hi! Kau hebat! Kau dapatkan posisi
pertama,” kata Seol Chan, salah satu sahabatnya di
kampus. Sei Hi memiliki empat sahabat Sei Hi, Seol Chan, Shin Hye, dan Bio.
Tapi Bio tidak sekampus dengannya.
“Kau juga mendapatkannya,” senyum Sei Hi, dan merangkul Seol Chan menuju kelas.
***
Jam kedua usai, sepuluh nama yang disebut
melangkah menuju Ruang Sastra 1.
“Kalian akan mendapatkan tugas membuat cerita
sebagus-bagusnya dengan tema cinta dan satu karangan dibuat berpasangan.
Pasangannya aku yang menentukan, yaitu, Sei Hi dengan Jong In,
Ji Eun dengan Ji Hyo, Hana dengan Shin Hye, Dae Woong dengan Seol
Chan, dan pasangan yang terakhir Mi Ho dengan Gi Wong. Buatlah semampu
kalian! Mengerti?” kata Ketua Sastra 1.
“Ne,” semua anggota bersemangat.
Sei Hi dan Jong In tak begitu akrab,
tapi mereka tetap bekerja semaksimal mungkin dengan ide cemerlang mereka,
mereka berdua sama pandainya dalam mengukir kata dan memperindah kalimat. Tapi
Sei Hi agak kesulitan karena tema cerita itu cinta. Dia lebih suka mengarang
cerita fanfic keren, dan tak ada kata cinta di dalamnya. Jong In
membantunya saat dia tak tahu bahasa cinta.
***
“Baru kali ini aku bertemu orang
sepertimu, yang tak tahu soal cinta. Seberapa besar ketidaktahuanmu?” ejek
Jong In.
“Mo ya?” Sei Hi termenung. Sebegitu bodohnyakah dia?,dia bingung dan terus memikirkan kata
yang dilontarkan Jong In.
“Hei kau, aku hanya bercanda. Cepat bantu
aku!” Jong In menyudahi percakapan yang hanya akan membuat Sei Hi
merenung.
“Berapa kali kau pacaran?” kata Sei Hi
sambil menatap Jong In.
“Memang kanapa?” kata Jong In sambil tetap
menatap layar laptop.
“Aku hanya bertanya, sudah lupakan,” Sei
Hi mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kali ini, Jong In menatap Sei Hi dan
sedikit tersenyum. Jong In heran akan tingkah Sei Hi yang kelihatanya
masih polos.
“Sei Hi, apakah kau pernah pacaran?” tanya
Jong In. Matanya memandang Sei Hi.
“Memangnya kenapa?” Sei Hi juga menatap
Jong In.
“Aniya, lupakan.” Jong In telah menanyakan
hal yang salah.
Jong In kembali menatap Sei Hi dan
tersenyum. Sei Hi sedikit aneh dengan pandangan Jong In.
***
Dengan berjalannya waktu mereka
berdua semakin dekat, Sei Hi jatuh cinta pada Jong in, tapi dia tak tahu
bagaimana perasaan Jong In padanya. Seraya cerita yang dibuatnya selesai, kini
mereka menyerahkan cerita itu dan menunggu hasil pengumuman. Akhir-akhir ini
Sei Hi sering keluar bersama Jong In. Malam ini, dia akan keluar dengan Jong In
lagi.
“Jong In-ah, kita akan pergi ke mana?
Bisakah nanti saat kita pulang kau antarkan aku ke toko buku? Aku ingin membeli
novel,” tanya Sei Hi.
“Arasoyo,” senyum Jong In. Keduanya naik
mobil Jong In menuju sebuah kafe.
“Sei Hi, bisakah aku bertanya
padamu?” tatap Jong In.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” Sei Hi
balik bertanya.
“Aku mencintai seseorang, kapan aku harus
menyatakan persaanku?” Jong In menunduk.
“Kenapa kau bertanya padaku? Aku tak tahu
itu,” Sei Hi mengira dirinyalah yang dimaksud Jong In.
“Kaukan seorang perempuan. Setidaknya kau
juga merasakan,” Jong In menghela napas.
“Sebaiknya kau katakan secepatnya,” senyum
Sei Hi.
“Setelah pengumuman cerita itu, aku akan
menyatakan perasaanku padanya.” Jong In bersemangat.
“Iya, itu waktu yang tepat,” setuju Sei Hi.
Ia berharap bahwa dirinya yang akan mendapatkan cinta Jong In.
***
“Pengumuman ditunjukan untuk lima pasangan
pengarang cerita, nama disesuaikan urutan. Sei Hi-Jong In, Dae Woong-Seol Chan,
Ji Eun-Jihyo, Mi Ho-Gi Wong, dan Hana-Shin Hye. Selamat untuk Sei Hi dan Jong
In!”
Pengumuman itu membuat Sei Hi dan Jong In
senang. Mereka bersalaman, lalu Jong In pergi meninggalkan Sei Hi. Jong In
pergi menemui Shin Hye.
“Shin Hye,” sapa Jong In.
Shin Hye pun menoleh ke arah Jong In. Jong
In menghampirinya dan menarik tangan Shin Hye, dia mengajak Shin Hye ke suatu
tempat di mana tak ada orang yang melihat mereka.
“Ada apa Jong In?” tanya Shin Hye.
“Shin Hye, sudah lama aku memperhatikanmu.
Di sini aku akan menyatakan segalanya padamu,” tatap Jong In pada Shin Hye.
Tanpa sepengetahuan Jong In, Sei Hi
membuntuti Jong In dan Shin Hye. Kini dia melihat segalanya. Ternyata bukan dia
orang yang dicintai Jong In.
“Shin Hye, maukah kau menjadi cintaku?”
Jong In menaruh harapan besar pada Shin Hye.
“Jong In, sudah lama juga aku menanti ini,
aku terima,” senyum Shin Hye.
Sei Hi yang mendengar semua itu melangkah
pergi dengan air mata.
Inikah jatuh cinta? Sesakit inikah?
Sepedih inikah? Sampai air mataku berlinang, bagaimana bisa ini terjadi?
Sei Hi tak menyangka semua ini akan
terjadi dan menyangkutkan Shin Hye. Dia bingung harus bagaimana? Haruskah dia
pergi menghapus luka dan cinta?
***
Esoknya bangku Sei Hi telah kosong, Jong
In dan dua sahabat Sei Hi bingung. Ternyata Sei Hi telah pindah ke kampus yang
sama dengan Bio. Sebelumnya di bawah meja Jongin telah tertulis surat dari Sei
Hi.
Jongin-ah, setidaknya ini perasaanku
untukmu.
Tak lama saat kau mendadak dekat denganku,
aku mulai menyukaimu.
Entah apa yang kupikir. Aku hanya ingin
mengutarakan semua ini, aku tak bermaksud ingin memilikimu. Maaf jika kata-kataku ini menyinggungmu. Aku tahu kini kau sudah ada yang memiliki, dia adalah
sahabatku. Jaga dia, aku akan pergi jauh darimu. Terimakasih kau sudah pernah menjadi seseorang yang
spesial di hidupku.
Sei-Hi
Di sekolah barunya dia bertemu Bio, dia menceritakan
segalanya pada Bio.
“Haruskah aku seperti ini, Bio?” tanya Sei
Hi sembari memeluk Bio.
“Sei Hi-ssi saat sesuatu tak kau miliki,
aku yakin ada yang lebih baik untukmu, sudahlah berhenti menangis kau sahabatku
yang paling kuat,” kata Bio.
“Ne,” angguk Sei Hi.
“Ayo masuk kelas,” ajak Bio pada Sei Hi.
Sei Hi menjalani hari-harinya secara luar
biasa. Dia berharap bisa jatuh cinta dengan orang lain. Tapi itu sulit karena
dia masih mengharapkan Jong In, lelaki yang dianggapnya sempurna yang pernah
hadir menghiasi hidupnya.
***
Lima tahun kemudian, Sei Hi menjadi
penulis yang sukses. Namanya berkibaran di Korea, novelnya selalu laris terjual
dan salah satu novelnya yang lengendaris adalah It’s About
You and Me, itu mengungkapkan kisahnya sendiri dengan sebuah kata indah
untuk menyambut pembaca di awal halaman novel.
Jujur sebelumnya aku tak pernah merasa
jatuh cinta.
Denganmu aku baru merasakannya.
Aku berusaha menutupi segalanya
perasaanku, cintaku untukmu.
Aku kira kau juga rasakan itu, sebagaimana
yang aku rasakan.
Selalu bergetar saat kau memandangku.
Tapi cinta itu serasa musnah, setelah aku
harus melihatmu.
Mencintai orang lain dengan cintamu.
Itu sakit, tapi aku hanya bisa tersenyum
dan pergi.
Aku inginkan dirimu sampai saat ini.
Selalu menunggumu, dengan setulus hatiku.
Ingatlah, sampai saat ini.
Itu kata-kata yang terdapat dari novel
karangannya.
Saat Sei Hi mulai penat dan ia ingin
berjalan-jalan untuk menyegarkan badannya. Ada seorang namja yang menabraknya
dari belakang. Namja itu adalah orang yang ditulis di novelnya yaitu Jong In.
“Sei Hi,” tatap Jong In.
Sei Hi berlari pergi, tapi tangan Jong In
menghentikannya dan menariknya ke suatu tempat. Ia ingat hal itu yang dilakukan
Jong In pada Shin Hye. Sei Hi mencoba melepaskan, tapi genggaman itu semakin
erat.
“Wae?” teriak Sei Hi, menghentikan langkah
Jong In.
“Sei Hi, aku tahu bagaimana perasaanmu.
Setidaknya adakah maaf untukku?” pinta Jong In.
“Jong In-ah, lupakan hal itu!” Sei Hi tak
mampu melihat wajah Jong In.
“Wae? Bukankah kau menantiku sampai saat
ini?” Jong In menatap Sei Hi semakin mendalam.
“Apa kau membaca semua itu?” tanya Sei Hi.
“Ya, aku membaca semuanya,” Jong In mengeluarkan
novel It’s About You and Me.
Air mata Sei Hi mengalir, tangan Jong In
mengusapnya.
“Kenapa kau tak bilang?” Jong In memegang
wajah Sei Hi.
“Haruskah aku mendengar tolakanmu?” tangis
Sei Hi.
“Sekarang aku akan menjawab segala ucapanmu,”
kata Jong In sembari merentangkan tangan. Kemudian ia menghela napas, dan
berkata, “Sei Hi, saranghaeyo.” Detik berikutnya Jong In memeluk Sei Hi.
Sei Hi menangis di pelukan Jong In, kini
dia menangis dengan air mata bahagia. Sei Hi dan Jong In memulai semuanya
sekarang dan mereka berjanji, bagaimana mereka mengawalinya, mereka juga
mengakhirinya dengan cara yang sama.
***
By : Is (Isti)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar