Title : The Legend of Twelve Foxes
Author : AnTa (Annisa and Shinta)
Length : Chaptered
Cast : All EXO's members, Kim Yeajin (OC), all Super Junior's members
Genre : Adventure
***
“Akhirnya sampailah kita di dorm,” Chanyeol membuka
pintu dan meletakkan belanjaan di meja. Ia lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.***
Kris berbalik, “Suho-ah, Sehun bersamamu?”
Suho kaget, “Tidak.”
“Tapi tadi dia keluar dorm. Kupikir ia menyusulmu,”
kata Kris lagi.
“Sehun keluar?” Chen mendekat. “Aku tidak
melihatnya.”
“Bukankah dia tadi duduk di sana?” Baekhyun menunjuk
sofa yang dipakai Chanyeol.
“Iya, aku juga melihatnya duduk di situ,” Kyungsoo
membuka jendela. “Ke mana dia pergi?”
“Tapi bila ia keluar kamar, seharusnya kami
berpapasan dengannya. Kami tidak berpapasan,” tutur Kai.
“Kita telepon saja. Dia pastinya membawa handphone,” Suho membuka jaketnya. Ia
mengambil handphone-nya di saku
jaket. Lalu diketikkan nomor telepon Sehun dan diteleponnya. Pertama telepon
tersambung untuk beberapa detik, setelah itu putus. Suho mencobanya lagi. Ia
gagal menghubungi Sehun. Untuk yang ketiga kalinya, Suho menelepon Sehun.
Gagal.
“Mungkin kamu salah menuliskan nomornya. Biar aku
yang telepon,” Luhan mengeluarkan handphone.
Namun ia juga gagal menghubungi Sehun.
Suho mencobanya lagi. Kali ini telepon tersambung,
namun tidak ada suara di seberang.
“Sehun? Sehun-ah? Kau di sana?” Suho membuka
pembicaraan. Teman-temannya mendengarkan dengan cemas.
Sepi, tak ada jawaban.
“Sehun?”
Lalu terdengar sesuatu bergesek-gesek dalam telepon.
Kemudian suara muncul, “Suho? Baru saja
aku hendak meneleponmu.”
Suho kaget. Tak biasanya Sehun memanggilnya begitu,
“Sehun-ah, kamu di mana?”
“Sehun
baik-baik saja di sini. Jangan khawatir.”
Suho terkejut, “Kamu siapa?”
“Aku Kim
Ryeowook.”
“Ryeowook?” Chanyeol terlonjak dari sofa. Ia tentu
saja mendengar suara di seberang telepon karena Suho mengaktifkan loud speaker. “Sialan bocah itu!”
“Kok bisa handphone-nya
Sehun berada padamu?” tanya Suho.
“Sehun
bersamaku. Aku tahu masing-masing dari kalian mendapatkan kekuatan novel
‘MAMA’. Aku tahu hal itu karena aku mendengar pembicaraan Kai dan Chanyeol di
depan supermarket tadi pagi. Aku menginginkan kekuatan itu. Akan kukembalikan
Sehun, tetapi berikan kekuatan kalian itu pada kami. Kuberi waktu tiga hari.
Bila lebih dari tiga hari, Sehun takkan kembali. Kuperingatkan, sebab Sehun
sekarang berada dalam ruangan tertutup tanpa ventilasi atau jendela. Dia bisa
mati dalam jangka waktu tiga hari.”
Seketika mereka semua panik.
“Dan satu
lagi, jangan coba-coba panggil polisi atau beri tahu orang lain. Kami bisa
langsung membunuh Sehun dengan menghilangkan oksigen di dalam ruangannya. Dia
tidak bisa menggunakan kekuatannya, sebab ruangan tempatnya berada bisa
menetralisir kekuatannya.”
Suho menenangkan dirinya, “Baik, kami akan berusaha
memenuhi permintaanmu. Tetapi tolong, bisakah aku berbicara dengannya
sebentar?”
Tidak ada sahutan. Kemudian setelah menunggu
beberapa detik, terdengar suara, “Hyung?”
“Sehun? Itukah kamu?”
“Hyung,
kumohon jangan berikan kekuatan itu! Mereka serakah! Kalau kamu berikan juga
mereka tetap …,” telepon terputus.
Hening. Mereka bingung, sangat bingung.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya
Kyungsoo.
“Aku tahu,” Kai menghela napas. “Cari novel itu.
Kita belum selesai membaca. Siapa tahu ada petunjuk di dalamnya!”
Mereka langsung berpencar ke seluruh ruangan.
Beberapa dari mereka juga turun ke lantai bawah dan bertanya ke staf-staf SM
kalau saja mereka melihat novel itu. Namun tak satupun yang mengetahui tentang
novel itu.
“Coba kucari di internet,” Lay mengeluarkan handphone-nya. Ia mulai browsing. Tetapi anehnya novel itu tidak
ada di internet.
“Chanyeol-ah, ayo kita coba cari di toko buku!”
Baekhyun menarik tangan Chanyeol dan keduanya berjalan keluar dorm.
“Tao, kita ikut mencari,” Kris menggandeng tangan
Tao keluar dorm pula.
“Ayolah, di mana novel itu?” Kyungsoo menggigit
jari.
Kai berpikir sejenak, “Kyungsoo-ah … ada yang lebih
penting selain novel itu.”
Kyungsoo meliriknya, “Apa?”
“Penulis,” ujar Kai. “Penulis, siapa penulisnya?”
Kyungsoo bertopang dagu. Ia merasa ingat sesuatu,
tetapi pikirannya bercampur aduk sekarang, “Aku sulit mengingatnya, Kai.”
Kai memegang bahu Kyungsoo, “Tatap aku.”
Kyungsoo memandang mata Kai.
“Jernihkan dulu pikiranmu, lalu ingat-ingat siapa
penulisnya.”
Kyungsoo memejamkan matanya. Ia mencari di otaknya,
sampai akhirnya dibuka matanya dan ia berseru, “Kai-ah! Penulis novel itu … aku
ingat, penulisnya adalah ayahnya Yeajin! Aku lupa siapa namanya, tetapi aku
tahu pasti ia merupakan ayahnya Yeajin.”
“Yeajin?” Suho mengerutkan kening. “Kalau begitu ayo
kita ke rumahnya!”
Luhan menyahut, “Tapi meski kita ke rumahnya pun,
tentu saja kita tidak boleh memberi tahu Yeajin soal ini. Kamu tahu ancaman
Ryeowook tadi?”
“Lupakan saja ancamannya,” Xiumin menimpali. “Ini
semua demi Sehun.”
***
Mereka akhirnya tiba di rumah Yeajin. Yeajin
menyambut mereka dengan gembira. Tetapi mendadak raut wajahnya berubah ketika
melihat Kyungsoo memasang tampang serius.
“Yeajin, ada yang harus kubicarakan. Dan kami butuh
tempat yang tersembunyi,” ujar Kyungsoo cepat.
“Baiklah,” Yeajin mengangguk. “Lho, Sehun mana?”
Kyungsoo tidak menanggapi. Mereka berkumpul di taman
belakang rumah. Kyungsoo menceritakan kejadian penculikan Sehun itu. Suho dan
Kai menambahkan sedikit-sedikit.
Yeajin tidak berkomentar. Ia hanya menggigit bibir.
“Karena itu, mungkin ada yang disampaikan ayahmu
sebelum meninggal?” tanya Kyungsoo hati-hati.
Yeajin menghela napas, “Ternyata benar apa yang
diramalkan ayah. Rupanya beginilah kejadiannya. Aku menyesal sempat tidak
percaya dengan ramalan ayah. Kalau tahu begini, pasti sudah kumusnahkan
kekuatan itu.”
“….”
“Aku lupa bagaimana dan apa yang dikatakan ayahku.
Yang jelas, isinya menyangkut tentang gudang anggur,” kata Yeajin kemudian.
“Gudang anggur?” Chanyeol mengerutkan kening.
“Setahuku kamu tidak punya gudang anggur.”
Yeajin mengangguk mengiyakan.
“Kalau begitu apa yang dimaksud dengan gudang
anggur?” ucap Kai.
“Benarkah kamu tidak punya gudang anggur?” Baekhyun
memastikan.
“Iya, aku juga pernah menanyakan perihal gudang
anggur pada ibuku, dan ibuku juga berkata tidak ada gudang anggur di rumahku,”
tegas Yeajin.
“Mungkin beliau berbohong?” terka Luhan.
“Tidak, beliau tidak pernah berbohong. Lagipula bila
berbohong, wajah beliau menunjukkan kalau beliau sedang berbohong,” tutur
Yeajin menjelaskan.
“Tunggu dulu, kamu tadi berkata kalau kamu
seharusnya sudah memusnahkan kekuatan ini. Dengan begitu, sudah sepatutnya kamu
tahu bagaimana cara memusnahkannya,” Kai menjelaskan.
Yeajin mengangguk, “Aku tahu sedikit. Tetapi ini
bukan soal memusnahkan, ini soal bagaimana kekuatan itu dipindahkan ke Ryeowook
dan kawan-kawannya.”
Mereka hening, berpikir.
“Sebaiknya kita berpencar mengelilingi rumah Yeajin.
Siapa tahu salah satu dari kalian menemukan gudang anggur itu,” usul Kris
sambil berdiri.
Mereka semua setuju dan membagi kelompok. Ada yang
mencari di dalam rumah Yeajin, di pekarangan depan, garasi, dan di taman belakang.
Ketika hendak berpencar, Baekhyun tersandung sesuatu. Ia tersaruk ke depan.
Chanyeol buru-buru menolong namja-nya itu.
“Chanyeol-ah, jangan pedulikan aku! Lihat itu!
Bukankah itu gagang pintu?” tunjuk Baekhyun pada sesuatu.
Suho meraba-raba sesuatu yang menyebabkan Baekhyun
tersandung. Benar, gagang pintu! Suho tersenyum girang. Ia menyingkirkan
rerumputan yang menghalangi, lalu berusaha membuka pintu yang tertempel di
tanah itu.
Teman-temannya bergegas membantu. Namun, dengan
kekuatan dua belas orang pun pintu itu juga tak sanggup dibuka. Luhan
mengajukan diri, “Coba aku yang membukanya.”
Luhan memandangi pintu itu lama, berpikir bahwa
pintu itu akan terangkat dan terbuka untuk mereka. Awalnya, pintu itu memang
terangkat sedikit. Luhan dan teman-temannya bersorak, sehingga pintu itu
tertutup lagi. Luhan mencoba untuk yang kedua kalinya, kali ini lebih fokus.
Pintu itu terbuka sedikit demi sedikit. Belum sempat menampakkan isinya,
lagi-lagi pintu itu tertutup.
Kyungsoo maju beberapa langkah. Ia menghentakkan
kakinya ke tanah dengan kuat. Bukannya menyebabkan pintu itu rusak dan terbuka,
justru menimbulkan retakan dan getaran yang luar biasa dahsyat.
“Kyungsoo-ah …. Hentikan!” pekik Suho takut.
“Aku juga tidak tahu bagaimana cara
menghentikannya!”
“Sudah, kita diam saja. Mungkin getarannya akan
hilang beberapa saat lagi,” Yeajin menengahi.
Benar, beberapa menit setelahnya getaran itu hilang.
“Syukurlah,” Suho bernapas lega.
“Kalau begitu apa boleh buat,” Kai menghela napas.
“Aku yang akan masuk ke dalam sendiri.” Ia memejamkan mata.
“Tapi tunggu dulu, Kai. Bagaimana jika isinya bukan
gudang anggur?” Chanyeol hendak mencegah Kai.
Terlambat. Kai sudah berteleportasi ke sana.
***
[Bersambung ....]
By : AnTa (Annisa and Shinta)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar