Title : The Legend of Twelve Foxes
Author : AnTa (Annisa and Shinta)
Length : Chaptered
Cast : All EXO's members, Kim Yeajin (OC), all Super Junior's members
Genre : Adventure
***
Jam sebelas malam.***
Kesebelas namja itu sudah bangun. Mereka menyelinap
perlahan dari dorm, agar staf-staf di situ tidak terbangun atau curiga dengan
kelakuan mereka. Setelah mencapai lobby, mereka berjingkat-jingkat keluar. Ada
satpam yang tengah membelakangi mereka, entah apa yang dilakukannya. Yang jelas
ia tidak sedang terlelap.
Mereka berlari-lari kecil menuju Daeyeong High
School. Sebetulnya sekolah itu cukup jauh, namun mereka tidak punya waktu untuk
mengambil sepeda. Karena itu langsung saja yang ada di pikiran mereka ialah
berlari.
Sesampainya di Daeyeong, tidak ada siapapun di situ.
Mereka menunggu beberapa saat. Merasa tidak ada yang datang, Suho menelepon
Sehun lagi.
“Ryeowook, kami sudah di tempat perjanjian.”
Pertama sepi, tidak ada jawaban.
“Jangan mempermainkanku,” ucap Suho kemudian.
Telepon terputus. Lalu sesosok berjaket keluar dari
sisi gang kecil di samping Daeyeong. Bukan sesosok, tapi dua belas.
“Ryeowook,” gumam Chanyeol pelan. Ia memandang satu
per satu sosok-sosok itu. Dulunya mereka adalah geng musuhnya Chanyeol. Lay
bersembunyi di balik tubuh Chanyeol. Chanyeol melirik Lay, lalu kembali menatap
sosok-sosok itu.
“Chanyeol-ah, kita bertemu lagi, setelah sekian
lama,” ucap seseorang di antara mereka, Ryeowook.
“Aku tidak ingin berbicara banyak padamu. Berikan
Sehun, lalu akan kami berikan cincin-cincin berkekuatan itu,” balas Chanyeol.
“Sehun?” Ryeowook menghela napas. “Menurutku
sebaiknya kalian berikan dulu cincinnya.”
“Sehun lebih dahulu,” Chanyeol maju beberapa
langkah.
“Jangan sok berani. Semalam aku mengurangi kadar
oksigennya, ia bisa mati pagi ini,” Ryeowook menyeringai. “Berikan cincinnya,
lalu kalian boleh melepas Sehun.”
Chanyeol tak berkutik. Ia meremas-remas jaketnya.
Dalam hati ia mengumpat-umpat Ryeowook.
Ryeowook menghembuskan napas, “Jangan membuang waktu.”
Suho akhirnya maju, dan hendak memberikan
cincin-cincin itu. Namun Chanyeol menahannya, “Suho hyung, kita tidak bisa
langsung mempercayai Ryeowook. Bisa saja ia tidak melepas Sehun ketika kita
memberikan cincin ini.”
Suho dengan pasrah menjawab, “Tapi sekarang kita
harus mempercayainya. Maukah kamu Sehun mati di sana?”
Suho memberikan Ryeowook cincin-cincin itu. Ryeowook
tersenyum, lalu membagikan kesebelas cincin pada teman-temannya.
“Kurang satu,” kata Ryeowook. Ia memandang Chanyeol,
“Kau sembunyikan satunya?”
“Tidak. Cincin yang lain miliknya Sehun. Kita harus
bertemu dengan Sehun dulu,” jawab Chanyeol. “Cincin-cincin itu milik kalian
sekarang. Kini, lepaskan Sehun.”
“Biar kupikir dulu,” Ryeowook mengusap-usap dagunya.
“Tidak.”
“Hei?! Aku telah memenuhi permintaanmu dan sekarang
kamu tidak ingin membebaskannya?” Chanyeol mulai emosi. “Apa lagi yang kau
minta?!”
Ryeowook memutar bola matanya, “Kalian tahu semenjak
kalian masuk SM popularitas Super Junior menurun? Aku ingin membunuh salah satu
dari kalian, sehingga XOXO tak mampu lagi bersinar, dan Super Junior akan tetap
berjaya.”
Chanyeol spontan menerjang Ryeowook. Ia dengan marah
menghantam Ryeowook dengan tinjunya. Ryeowook yang mendapatkan cincin Chanyeol,
tiba-tiba saja tubuhnya berselimut api dan hal itu membuat Chanyeol melompat
mundur.
“Jangan macam-macam,” Ryeowook mengintimidasi.
Mereka terdiam, saling menatap penuh amarah.
“Aku tidak bisa terdiam lebih lama,” Kai maju
beberapa langkah. “Sebabak belur apa kita nanti, aku tidak peduli. Yang jelas, ini semua demi Sehun.”
Mereka bertatapan lagi.
Dan pertengkaran tak terhindarkan.
***
Chanyeol berhasil lolos dari cengkeraman Ryeowook.
Kini sasarannya Donghae, karena ia melihat kunci-kunci yang bergelantungan di
celananya. Chanyeol menerjang Donghae hingga Donghae terjerembab ke tanah.
Mereka saling pukul, sebelum akhirnya Chanyeol mendapat kunci-kunci itu dan
berlari masuk ke dalam gang. Donghae yang melihatnya hendak mengejar, namun
Xiumin di belakangnya mengalihkan perhatiannya.
Chanyeol berlari masuk lebih dalam, semakin dalam.
Ia tidak peduli tubuhnya yang penuh memar. Dan akhirnya ia menemukan sebuah
gudang di ujung gang. Chanyeol memasuki gudang itu perlahan. Gelap sekali di
dalam.
“Sehun? Kamu di sini?” tanyanya pelan. Tidak ada
jawaban. Chanyeol mencari saklar lampu. Setelah menemukannya, lampu menyala.
Rupanya tidak hanya sekedar gudang. Ada lorong lagi yang tidak terlihat
ujungnya. Chanyeol segera masuk ke situ.
Ia menyusuri lorong, sembari sesekali memanggil
Sehun. Tetap saja tidak ada yang menyahut panggilannya. Chanyeol akhirnya
menemukan sebuah ruang di ujung. Seperti brankas besar dengan pintu tebalnya.
Chanyeol berlari ke sana, dan mengetuk-ngetuk
pintunya, “Sehun? Sehun-ah? Jawablah!”
Sepi.
Chanyeol mengeluarkan kunci yang dirampasnya dari
Donghae. Ia mencari-cari kunci yang cocok dengan pintu itu. Chanyeol mencoba
salah satu kunci, gagal. Kunci yang kedua juga gagal. Begitu seterusnya dan
rupanya tidak ada kunci yang cocok.
“Sial!” umpat Chanyeol. Ia membanting kunci-kunci
itu ke tanah. Lalu diketuk-ketuknya lagi pintu itu, “Sehun, kumohon bila kamu
memang berada di dalam sini, jawablah panggilanku!”
Tetap saja sepi.
Chanyeol mendesah, bingung. Ia akhirnya mengambil
lagi kunci yang tadi dibantingnya, lalu mengamati satu per satu kunci itu.
“Memang tidak ada yang cocok,” Chanyeol mulai putus asa. Dilemparnya kunci itu
ke tanah lagi.
Ia berlari lagi menyusuri lorong, dan kembali ke
gudang. Ia membongkar-bongkar seluruh isi gudang itu, mencari kunci yang cocok.
Namun, benar-benar tidak ada kunci yang terselip di manapun. Chanyeol berlari
lagi ke brankas itu. Ia memandang brankas itu, siapa tahu ada petunjuk. Tidak,
tidak ada.
“Sehun? Sehun-ah? Di mana kamu?” Chanyeol
menempelkan telinganya di pintu brankas. Tiba-tiba ia sadar ada sebuah tuas
kecil di sisi pintu. Hampir tidak terlihat.
“Mungkinkah ini?” Chanyeol menarik tuas itu. Tidak
ada yang terjadi. Chanyeol menekannya, juga tidak apa-apa. Chanyeol akhirnya
memutarnya ke kanan, hanya terdengar sesuatu yang bergeser-geser dan akhirnya
berhenti. Pintu tetap saja tidak bisa dibuka. Chanyeol memutar tuas itu ke
kiri. Lagi, terdengar sesuatu bergeser. Namun, kini diiringi dengan pintu yang
terbuka.
“Sehun-ah?”
***
Sehun ada di situ. Ia duduk di lantai. Kedua tangannya
menggantung terikat rantai yang menempel di langit-langit ruangan. Kepalanya
menunduk, badannya lemas sekali.
“Sehun? Sehun-ah!” Chanyeol berlari ke dalam. Ia
menepuk-nepuk pipi Sehun. Sehun membuka matanya sedikit, ia melirik Chanyeol.
“Hyung?”
“Syukurlah,” Chanyeol bernapas lega. Ia
menggoyang-goyang rantai yang mengikat Sehun. “Aduh, kuncinya,” Chanyeol
mencari kunci yang tadi dilemparnya ke tanah. Ia keluar brankas dan mencari
kunci itu, lalu masuk lagi.
“Hyung ….,” Sehun menundukkan kepalanya lagi.
“Tidak apa-apa, aku di sampingmu. Sekarang kamu
baik-baik saja,” Chanyeol menenangkan dan berusaha membuka rantai itu.
“Hyung, aku tidak kuat lagi ….”
“Sudah kukatakan, tidak apa-apa,” ujar Chanyeol. Ia
kesulitan membuka rantainya.
Tak terduga, seseorang muncul di situ.
“Kalian ingin bunuh diri?” Chanyeol berbalik.
Didapatinya Ryeowook berdiri di ambang pintu. Ia perlahan menutup pintu
brankas. Chanyeol mendadak panik. Ia berdiri dan berlari ke arah Ryeowook.
Namun tiba-tiba kakinya terpeleset.
Ryeowook tertawa. Tetapi belum sempat ia menutup
pintu dengan sempurna, seseorang menerkamnya. Keduanya saling memukul, dan
sebagainya. Chanyeol kembali membuka rantai, akhirnya berhasil. Ia menepuk pipi
Sehun lagi, “Sehun-ah? Kumohon bangunlah kamu!”
Sehun tidak menjawab.
Chanyeol panik lagi. Ia segera membopong tubuh Sehun
keluar ruangan. Di luar dilihatnya Kai yang tengah dipiting Ryeowook.
“Kai ….”
“Jangan cemaskan aku! Segera bawa Sehun keluar! Ia
butuh udara segar!”
Chanyeol berlari melewati lorong dan kembali ke
gudang. Ia bergegas membuka pintu gudang. Tetapi tiba-tiba ada orang yang
melayangkan tinju ke arahnya. Chanyeol terjatuh, begitu pula dengan Sehun.
Leeteuk muncul di sana, “Teman-temanmu banyak yang
sudah pingsan di luar sana. Kamu juga ingin menyusul mereka?”
Leeteuk hendak menendang Chanyeol, namun kakinya
direnggut seseorang. Leeteuk menoleh, rupanya Baekhyun.
“Jangan ganggu temanku,” Baekhyun mencengkeram kaki
Leeteuk lebih kuat, hingga Leeteuk mengerang kesakitan.
Leeteuk berbalik, menarik kerah baju Baekhyun dan mengangkatnya
tinggi-tinggi. Leeteuk yang berkekuatan tanah itu mudah saja membuat Baekhyun
tak sadarkan diri hanya dengan satu pukulan. Chanyeol meringis. Ia teringat
kembali saat mem-bully Baekhyun.
Betapa menyesalnya ia.
Tetapi, sesuatu yang janggal kembali terasa. Sesuatu
yang aneh, sangat aneh. Ketika bulan purnama muncul dari balik awan.
***
[Bersambung ...]
By : AnTa (Annisa and Shinta)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar