About

Selasa, 27 Mei 2014

The Legend of Twelve Foxes (Part 5)

Title    : The Legend of Twelve Foxes
Author : AnTa (Annisa and Shinta)
Length : Chaptered
Cast     : All EXO's members, Kim Yeajin (OC), all Super Junior's members
Genre : Adventure
***
Jam sebelas malam.
Kesebelas namja itu sudah bangun. Mereka menyelinap perlahan dari dorm, agar staf-staf di situ tidak terbangun atau curiga dengan kelakuan mereka. Setelah mencapai lobby, mereka berjingkat-jingkat keluar. Ada satpam yang tengah membelakangi mereka, entah apa yang dilakukannya. Yang jelas ia tidak sedang terlelap.
Mereka berlari-lari kecil menuju Daeyeong High School. Sebetulnya sekolah itu cukup jauh, namun mereka tidak punya waktu untuk mengambil sepeda. Karena itu langsung saja yang ada di pikiran mereka ialah berlari.
Sesampainya di Daeyeong, tidak ada siapapun di situ. Mereka menunggu beberapa saat. Merasa tidak ada yang datang, Suho menelepon Sehun lagi.
“Ryeowook, kami sudah di tempat perjanjian.”
Pertama sepi, tidak ada jawaban.

“Jangan mempermainkanku,” ucap Suho kemudian.
Telepon terputus. Lalu sesosok berjaket keluar dari sisi gang kecil di samping Daeyeong. Bukan sesosok, tapi dua belas.
“Ryeowook,” gumam Chanyeol pelan. Ia memandang satu per satu sosok-sosok itu. Dulunya mereka adalah geng musuhnya Chanyeol. Lay bersembunyi di balik tubuh Chanyeol. Chanyeol melirik Lay, lalu kembali menatap sosok-sosok itu.
“Chanyeol-ah, kita bertemu lagi, setelah sekian lama,” ucap seseorang di antara mereka, Ryeowook.
“Aku tidak ingin berbicara banyak padamu. Berikan Sehun, lalu akan kami berikan cincin-cincin berkekuatan itu,” balas Chanyeol.
“Sehun?” Ryeowook menghela napas. “Menurutku sebaiknya kalian berikan dulu cincinnya.”
“Sehun lebih dahulu,” Chanyeol maju beberapa langkah.
“Jangan sok berani. Semalam aku mengurangi kadar oksigennya, ia bisa mati pagi ini,” Ryeowook menyeringai. “Berikan cincinnya, lalu kalian boleh melepas Sehun.”
Chanyeol tak berkutik. Ia meremas-remas jaketnya. Dalam hati ia mengumpat-umpat Ryeowook.
Ryeowook menghembuskan napas, “Jangan membuang waktu.”
Suho akhirnya maju, dan hendak memberikan cincin-cincin itu. Namun Chanyeol menahannya, “Suho hyung, kita tidak bisa langsung mempercayai Ryeowook. Bisa saja ia tidak melepas Sehun ketika kita memberikan cincin ini.”
Suho dengan pasrah menjawab, “Tapi sekarang kita harus mempercayainya. Maukah kamu Sehun mati di sana?”
Suho memberikan Ryeowook cincin-cincin itu. Ryeowook tersenyum, lalu membagikan kesebelas cincin pada teman-temannya.
“Kurang satu,” kata Ryeowook. Ia memandang Chanyeol, “Kau sembunyikan satunya?”
“Tidak. Cincin yang lain miliknya Sehun. Kita harus bertemu dengan Sehun dulu,” jawab Chanyeol. “Cincin-cincin itu milik kalian sekarang. Kini, lepaskan Sehun.”
“Biar kupikir dulu,” Ryeowook mengusap-usap dagunya. “Tidak.”
“Hei?! Aku telah memenuhi permintaanmu dan sekarang kamu tidak ingin membebaskannya?” Chanyeol mulai emosi. “Apa lagi yang kau minta?!”
Ryeowook memutar bola matanya, “Kalian tahu semenjak kalian masuk SM popularitas Super Junior menurun? Aku ingin membunuh salah satu dari kalian, sehingga XOXO tak mampu lagi bersinar, dan Super Junior akan tetap berjaya.”
Chanyeol spontan menerjang Ryeowook. Ia dengan marah menghantam Ryeowook dengan tinjunya. Ryeowook yang mendapatkan cincin Chanyeol, tiba-tiba saja tubuhnya berselimut api dan hal itu membuat Chanyeol melompat mundur.
“Jangan macam-macam,”  Ryeowook mengintimidasi.
Mereka terdiam, saling menatap penuh amarah.
“Aku tidak bisa terdiam lebih lama,” Kai maju beberapa langkah. “Sebabak belur apa kita nanti, aku tidak peduli. Yang jelas, ini semua demi Sehun.”
Mereka bertatapan lagi.
Dan pertengkaran tak terhindarkan.
***
Chanyeol berhasil lolos dari cengkeraman Ryeowook. Kini sasarannya Donghae, karena ia melihat kunci-kunci yang bergelantungan di celananya. Chanyeol menerjang Donghae hingga Donghae terjerembab ke tanah. Mereka saling pukul, sebelum akhirnya Chanyeol mendapat kunci-kunci itu dan berlari masuk ke dalam gang. Donghae yang melihatnya hendak mengejar, namun Xiumin di belakangnya mengalihkan perhatiannya.
Chanyeol berlari masuk lebih dalam, semakin dalam. Ia tidak peduli tubuhnya yang penuh memar. Dan akhirnya ia menemukan sebuah gudang di ujung gang. Chanyeol memasuki gudang itu perlahan. Gelap sekali di dalam.
“Sehun? Kamu di sini?” tanyanya pelan. Tidak ada jawaban. Chanyeol mencari saklar lampu. Setelah menemukannya, lampu menyala. Rupanya tidak hanya sekedar gudang. Ada lorong lagi yang tidak terlihat ujungnya. Chanyeol segera masuk ke situ.
Ia menyusuri lorong, sembari sesekali memanggil Sehun. Tetap saja tidak ada yang menyahut panggilannya. Chanyeol akhirnya menemukan sebuah ruang di ujung. Seperti brankas besar dengan pintu tebalnya.
Chanyeol berlari ke sana, dan mengetuk-ngetuk pintunya, “Sehun? Sehun-ah? Jawablah!”
Sepi.
Chanyeol mengeluarkan kunci yang dirampasnya dari Donghae. Ia mencari-cari kunci yang cocok dengan pintu itu. Chanyeol mencoba salah satu kunci, gagal. Kunci yang kedua juga gagal. Begitu seterusnya dan rupanya tidak ada kunci yang cocok.
“Sial!” umpat Chanyeol. Ia membanting kunci-kunci itu ke tanah. Lalu diketuk-ketuknya lagi pintu itu, “Sehun, kumohon bila kamu memang berada di dalam sini, jawablah panggilanku!”
Tetap saja sepi.
Chanyeol mendesah, bingung. Ia akhirnya mengambil lagi kunci yang tadi dibantingnya, lalu mengamati satu per satu kunci itu. “Memang tidak ada yang cocok,” Chanyeol mulai putus asa. Dilemparnya kunci itu ke tanah lagi.
Ia berlari lagi menyusuri lorong, dan kembali ke gudang. Ia membongkar-bongkar seluruh isi gudang itu, mencari kunci yang cocok. Namun, benar-benar tidak ada kunci yang terselip di manapun. Chanyeol berlari lagi ke brankas itu. Ia memandang brankas itu, siapa tahu ada petunjuk. Tidak, tidak ada.
“Sehun? Sehun-ah? Di mana kamu?” Chanyeol menempelkan telinganya di pintu brankas. Tiba-tiba ia sadar ada sebuah tuas kecil di sisi pintu. Hampir tidak terlihat.
“Mungkinkah ini?” Chanyeol menarik tuas itu. Tidak ada yang terjadi. Chanyeol menekannya, juga tidak apa-apa. Chanyeol akhirnya memutarnya ke kanan, hanya terdengar sesuatu yang bergeser-geser dan akhirnya berhenti. Pintu tetap saja tidak bisa dibuka. Chanyeol memutar tuas itu ke kiri. Lagi, terdengar sesuatu bergeser. Namun, kini diiringi dengan pintu yang terbuka.
“Sehun-ah?”
***
Sehun ada di situ. Ia duduk di lantai. Kedua tangannya menggantung terikat rantai yang menempel di langit-langit ruangan. Kepalanya menunduk, badannya lemas sekali.
“Sehun? Sehun-ah!” Chanyeol berlari ke dalam. Ia menepuk-nepuk pipi Sehun. Sehun membuka matanya sedikit, ia melirik Chanyeol.
“Hyung?”
“Syukurlah,” Chanyeol bernapas lega. Ia menggoyang-goyang rantai yang mengikat Sehun. “Aduh, kuncinya,” Chanyeol mencari kunci yang tadi dilemparnya ke tanah. Ia keluar brankas dan mencari kunci itu, lalu masuk lagi.
“Hyung ….,” Sehun menundukkan kepalanya lagi.
“Tidak apa-apa, aku di sampingmu. Sekarang kamu baik-baik saja,” Chanyeol menenangkan dan berusaha membuka rantai itu.
“Hyung, aku tidak kuat lagi ….”
“Sudah kukatakan, tidak apa-apa,” ujar Chanyeol. Ia kesulitan membuka rantainya.
Tak terduga, seseorang muncul di situ.
“Kalian ingin bunuh diri?” Chanyeol berbalik. Didapatinya Ryeowook berdiri di ambang pintu. Ia perlahan menutup pintu brankas. Chanyeol mendadak panik. Ia berdiri dan berlari ke arah Ryeowook. Namun tiba-tiba kakinya terpeleset.
Ryeowook tertawa. Tetapi belum sempat ia menutup pintu dengan sempurna, seseorang menerkamnya. Keduanya saling memukul, dan sebagainya. Chanyeol kembali membuka rantai, akhirnya berhasil. Ia menepuk pipi Sehun lagi, “Sehun-ah? Kumohon bangunlah kamu!”
Sehun tidak menjawab.
Chanyeol panik lagi. Ia segera membopong tubuh Sehun keluar ruangan. Di luar dilihatnya Kai yang tengah dipiting Ryeowook.
“Kai ….”
“Jangan cemaskan aku! Segera bawa Sehun keluar! Ia butuh udara segar!”
Chanyeol berlari melewati lorong dan kembali ke gudang. Ia bergegas membuka pintu gudang. Tetapi tiba-tiba ada orang yang melayangkan tinju ke arahnya. Chanyeol terjatuh, begitu pula dengan Sehun.
Leeteuk muncul di sana, “Teman-temanmu banyak yang sudah pingsan di luar sana. Kamu juga ingin menyusul mereka?”
Leeteuk hendak menendang Chanyeol, namun kakinya direnggut seseorang. Leeteuk menoleh, rupanya Baekhyun.
“Jangan ganggu temanku,” Baekhyun mencengkeram kaki Leeteuk lebih kuat, hingga Leeteuk mengerang kesakitan.
Leeteuk berbalik, menarik kerah baju Baekhyun dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Leeteuk yang berkekuatan tanah itu mudah saja membuat Baekhyun tak sadarkan diri hanya dengan satu pukulan. Chanyeol meringis. Ia teringat kembali saat mem-bully Baekhyun. Betapa menyesalnya ia.
Tetapi, sesuatu yang janggal kembali terasa. Sesuatu yang aneh, sangat aneh. Ketika bulan purnama muncul dari balik awan.

***
[Bersambung ...]
By : AnTa (Annisa and Shinta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar