Title : The Legend of Twelve Foxes
Author : AnTa (Annisa and Shinta)
Length : Chaptered
Cast : All EXO's members, Kim Yeajin (OC), all Super Junior's members
Genre : Adventure
***
Kini Kai berada di sebuah ruangan. Isinya adalah
rak-rak yang berjejer memenuhi ruangan. Botol-botol anggur terpampang di rak
tersebut. Kai menghela napas. Ia melihat seluruh ruangan. Kemudian pandangannya
tertuju pada sebuah peti yang diletakkan di atas meja kecil di ujung ruangan.***
Kai melangkah ke sana. Ia membuka peti itu. Sebuah
kertas kusam terlipat rapi di sana. Kai mengambil kertas itu dam membukanya.
Isinya:
Cara memindahkan
kekuatan:
1.
Cincin dalam kekonyolan botol bercampur aduk
2.
Pakailah, lepaskan dengan hati yang tulus
3.
Orang lain ada yang lebih membutuhkan
Cara memusnahkan
kekuatan:
1.
Ketika hati yang pecah bertemu, dan cincin-cincin
dibentangkan di tanah
2.
Dengan segenap jiwa raga, keduanya menerjang
3.
Hancurlah mereka
“Maksudnya?” Kaia mengerutkan kening. Ia mengantongi
kertas itu dan ia berteleportasi kembali ke teman-temannya.
“Kai-ah, bagaimana? Apa isi di bawah pintu ini?”
tanya Chen sambil menginjak-injak pintu yang sulit dibuka itu.
“Ya, isinya gudang anggur,” Kai mengeluarkan kertas
kusam. “Ini, kutemukan di dalam sebuah peti.”
Yeajin merebut kertas itu, “Kertas ini pernah
ditunjukkan ayahku padaku. Aku juga pernah diberi tahu apa maksud dari
kata-kata ini. Memang sengaja dibuat menggunakan kata-kata kias untuk
melindungi kekuatan itu.”
“Kalau begitu jelaskan,” Chanyeol tidak sabar.
“‘Cincin dalam
kekonyolan botol bercampur aduk’ maksudnya ada sebuah botol aneh dalam
gudang anggur itu yang isinya cincin. Lalu ‘pakailah,
lepaskan dengan hati yang tulus’ bermaksud kita yang memiliki kekuatan itu
mengenakan cincin-cincin tersebut. Kemudian kekuatan yang kita miliki akan
berpindah pada cincin itu. Dan untuk melepas cincin itu dari jari kita, kita
harus benar-benar rela agar kekuatan itu hilang dari tubuh kita. ‘Orang lain ada yang lebih membutuhkan’
artinya berikan cincin itu pada orang lain,” Yeajin melipat kembali kertas itu.
“Sudah, kalian hanya ingin memindahkan kekuatan, bukan? Tidak memusnahkannya
kan?”
“Ya,” jawab Kyungsoo singkat.
“Oppa, kembalikan kertas kusam ini di peti itu
seperti semula,” Yeajin menyerahkan kertas itu pada Kai. Ia tidak berucap
apa-apa setelahnya.
Kai mengangguk, “Ada yang mau ikut denganku mencari
botol aneh itu?”
Chanyeol, Kyungsoo, dan Baekhyun mengacungkan
tangan.
“Baiklah, pegang tanganku dan pejamkan mata kalian.”
***
Ketika mata mereka dibuka, sampailah mereka di dalam
gudang.
“Wah, jadi seperti ini rasanya berteleportasi?”
Baekhyun tersenyum. “Kai, maukah kamu bertukar kekuatan denganku?”
“Diamlah,” Chanyeol menepuk pundak Baekhyun. “Tujuan
kita ke sini untuk mencari botol itu.”
Maka dari itu mereka berpencar mencari di
sudut-sudut yang berbeda. Mereka meneliti tiap-tiap botol yang tertata di sana.
Rupanya semua mereknya sama, warna botol dan bentuknya sama, bahkan kekentalan
isinya juga sama. Sekilas tidak ada yang berbeda. Saat mereka menggoyangkan botol
itu, mengecek apa isi di dalam botol itu, bunyinya juga sama. Hanya gemericik
air.
“Apa yang berbeda?” Kai bertopang dagu.
“Kali ini kita butuh Tao,” Chanyeol menghela napas.
“Kita harus memintanya kembali ke masa lalu. Botol apa yang dimaksud ayah Yeajin.”
Akhirnya mereka kembali ke tempat semula.
***
Sesuai permintaan, Tao menggunakan kekuatannya untuk
kembali ke masa lalu. Semuanya memang terasa berputar, dan mereka berhenti di
satu waktu. Saat itu rumah Yeajin kecil, dan tidak ada Yeajin di situ. Ibunya
saja tidak nampak. Hanya ayah Yeajin ketika masih berumur belasan tahun.
Ayah Yeajin berlari-lari kecil menuju pintu rahasia.
Ia membukanya dengan mudah, dan masuk ke dalamnya. Ia masuk ke gudang anggur.
Tao mengintipnya. Sepertinya ayah Yeajin tidak mengetahui keberadaan Tao di
situ. Tao mungkin tidak terlihat di mata ayah Yeajin.
Ayah Yeajin membelai sebuah botol. Ia
mengeluarkannya, lalu memeluknya erat, “Kumohon ada seseorang yang
menghancurkanmu. Dunia ini lebih baik tanpamu.”
Tao membelalak. Ia mengingat-ingat letak botol itu.
Kemudian waktu berputar dan ia kembali ke waktu semula.
***
“Rak nomor tiga. Botolnya berada di sisi rak tiga
dari kiri dan tiga dari atas. Tunggu dulu, serba tiga?” Tao baru saja sadar.
“Tiga? Ada apa dengan angka itu?” Chen bingung.
“Lupakan saja, yang penting aku tahu di mana letak
botol itu,” Kai menghilang. Beberapa detik kemudian ia kembali lagi seraya
membawa botol itu.
“Oppa, sudah kau kembalikan kertasnya?” tanya Yeajin
memastikan.
“Sudah,” jawab Kai singkat. Ia berusaha membuka
tutup botol itu. “Aih, susahnya.”
“Jangan terlalu kaku,” Kris mengambil botol itu. Ia
membantingnya ke tanah. Pecah, tentu saja. Airnya mengalir ke mana-mana. Namun,
tiba-tiba dari balik aliran air itu muncul dua belas cincin berlambang aneh.
Mereka mengamati cincin-cincin itu.
Yeajin mendekat, “Seingatku, teleportasi itu
simbolnya segitiga yang di tengahnya ada lingkaran. Kalau api simbolnya burung phoenix. Tanah seperti … mana tadi? Nah,
simbol yang ini. Sedangkan untuk pengontrol waktu yang jam pasir. Terbang itu
lambangnya seperti jas, atau jubah mungkin istilahnya. Lalu petir yang
bentuknya menyerupai kalajengking. Es seperti pecahan es. Kehidupan seperti unicorn. Air yang bentuknya seperti
tetesan air. Kalau telekinesis yang begini lambangnya. Cahaya yang ini. Dan
yang terakhir angin.”
Suho menyambar cincin milik Sehun. Ia bergegas
mengantonginya tanpa berkata apa-apa.
“Lalu kita pakai,” Kai mengenakan cincinnya. Disusul
teman-temannya.
“Sekarang dilepas,” ujar Yeajin.
Tetapi tak satupun dari mereka yang ingin
melepasnya.
“Hei, tidak apa-apa. Ini semua demi Sehun,” ucap
Yeajin lagi.
Xiumin segera melepas cincinnya, “Ya, lagipula
dengan kekuatan ini, aku merasa kesulitan untuk minum.”
“Aku takut tirai kamarku terbakar lagi,” Chanyeol
ikut.
“Aku tidak ingin silau.”
“Lantai kamarku retak, semoga dengan ini retakannya
tidak bertambah.”
“Aku justru takut ketika mendadak tubuhku melayang.”
“Aku takut ketika benda-benda melayang ke arahku.”
Mereka satu per satu melepaskan cincinnya. Tetapi
Kai membutuhkan waktu lama untuk rela melepasnya.
“Aku lebih suka berteleportasi daripada berjalan,”
kata Kai pelan. Ia melepas cincinnya. Namun, cincin itu melekat di jarinya.
“Kai-ah, Sehun itu teman kita. Kamu lebih
mementingkan kekuatan dibandingkan Sehun?” tutur Chanyeol.
Kai menatap Chanyeol, “Padahal waktu itu kamu hendak
menceburkannya ke danau setelah aku.” Ia tertawa kecil, lalu berkata, “Baiklah,
aku ikhlas.”
***
“Terima kasih, Yeajin atas bantuannya,” kata Suho
sembari melambaikan tangannya pada Yeajin. Yeajin mengangguk, tersenyum, lalu
menutup pintu gerbang. Suho mengambil handphone-nya.
Ia hendak menelepon Sehun.
“Jam berapa ini?” tanya Chen.
Kyungsoo melihat arlojinya, “Jam lima sore.
Bagaimana jika kita pulang dulu? Aku yakin Sehun baik-baik saja di sana.”
“Kamu belum lama mengenal Ryeowook,” sahut Chanyeol
cepat. “Dia kejam.”
“Diamlah. Aku sedang menelepon Sehun,” Suho
meletakkan jari telunjuknya di bibir.
Beberapa saat kemudian, telepon tersambung.
Lagi-lagi tidak ada suara di seberang.
“Sehun-ah? Atau Ryeowook? Halo?” kata Suho.
Tidak ada jawaban.
“Ryeowook, bila kamu mendengar suaraku, aku hanya
ingin menjelaskan kepadamu. Kami sudah melepas kekuatan kami, tinggal
memberikannya kepada kalian. Tetapi, beri tahu di mana kami harus bertemu
dengan kalian,” ujar Suho.
Tiba-tiba terdengar suara Sehun di situ, “Hyung! Sudah kukatakan jangan memberikan
kekuatan itu pada mereka! Mereka …”
Lalu terdengar desisan dan suara Sehun lenyap.
Kemudian Ryeowook yang berbicara, “Baguslah.
Temui kami nanti malam jam dua belas di sebelah Daeyeong High School. Di sana
kamu akan bertemu denganku.”
Telepon terputus.
Suho mematikan handphone-nya,
“Mari kita kembali ke dorm.”
***
Di tempat lain. Seseorang berdiri di situ menghadap
ke arah sebuah alat. Ia menekan beberapa tombol, lalu memutar suatu tuas.
Ia tersenyum sinis.
“Ryeowook-ah, kamu menguranginya?”
“Ya, tentu saja. Aku punya tujuan lain selain
mendapatkan kekuatan itu.”
“Sehun hendak kau bunuh?”
“Tenang, aku tahu apa yang kulakukan. Kita lihat apa
reaksi mereka besok.”
“Dasar.”
“Leeteuk hyung, Sehun masih di situ?”
“Tentu saja. Memangnya dia bisa berteleportasi?”
Mereka tertawa, tawa renyah penuh dendam.
***
[Bersambung ....]
By : AnTa (Annisa and Shinta)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar