About

Selasa, 27 Mei 2014

First Snow (Part 4)

Title    : First Snow
Author : AnTa (Annisa and Shinta)
Length : Chaptered
Cast     : All EXO's members, Kim Yeajin (OC)
Genre : Friendship, school life
***
Esok hari, suasana kelas begitu sepi. Chanyeol masuk dengan gaduh, tak ada lagi sambutan hormat dari teman-teman sekelasnya. Chanyeol juga tidak mengharapkannya. Biasanya ia akan marah pada teman-temannya bila tidak disambut, tetapi kini tidak. Ia duduk di bangkunya tanpa berucap apa-apa, sembari melemparkan pandangan keluar jendela. Teman-temannya hanya bisa melongo, memperhatikan gerak-geriknya. Namun sebagian dari mereka bersyukur, Chanyeol tidak marah sehingga tidak ada kehebohan pagi itu.

Chanyeol sesekali melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Baekhyun dan Kyungsoo belum datang. Kini disadarinya Kai tidak masuk, mungkin sakit akibat perbuatannya kemarin. Chanyeol menghela napas, berpaling, “Apa benar ayah Baekhyun menolong ayahku dulu hingga sekarang kondisinya begini?”
Di tengah keraguannya, anggota The King School mendatangi Chanyeol.
“Chanyeol, kamu ingin ikut kami menjenguk Kai? Bukankah kamu yang membuat dia …,” Luhan agak takut melanjutkan kalimatnya. “Sakit …?”
Chanyeol terdiam sedetik. Ia berceletuk, seraya memandang anggota geng-nya, “Dengar, ini semua tidak akan terjadi apabila Baekhyun dan Kyungsoo datang ke sini. Jadi jika kalian ingin menyalahkan seseorang, salahkanlah mereka!”
“Chanyeol!” Chen tibat-tiba membentak. “Jangan selalu menyalahkan orang lain! Salahkan dirimu sendiri dan jangan mencari-cari ketidaksempurnaan orang lain! Kamu mungkin tidak bisa menerima kenyataan. Kamu bisa hidup mewah seperti ini, segala yang kamu inginkan bisa dikabulkan, karena ayah Baekhyun! Bayangkan jika ayah Baekhyun tidak menolongmu. Mungkin Baekhyun-lah yang justru menjadi ketua The King School dan kamu ikut berlari-lari bersama Kyungsoo.”
Chanyeol membisu.
“Lihat sekarang, Baekhyun yang kena impasnya. Dan dalam keadaan itu, masihkah kamu menghinanya?”
Chanyeol teringat akan pesan ibunya semalam untuk berteman dengan Baekhyun, “Bagaimana kamu tahu ayah Baekhyun menolong keluargaku?”
“Kemarin Kai meneleponku kalau ia sakit, tidak bisa masuk sekolah hari ini. Kemudian aku berpikir mungkin itu salahmu, Chanyeol, menceburkannya ke dalam danau. Untung saja Suho dan Sehun tidak kamu ceburkan. Jika iya, berarti ada tiga korban. Aku tidak bisa diam saja. Maka aku ke rumahmu dan memberitahu kedua orangtuamu segala sikapmu selama ini. Ibumu tampak kecewa mendengarnya. Beliau mengira kau baik-baik saja di sekolah. Juga, beliau menceritakan padaku tentang ini,” tutur Chen.
Chanyeol tak sanggup berbicara. Ia melempar pandangan ke jendela. Perlahan, dirasakannya air matanya menetes. Kini ia sadar, seluruh perbuatannya sepanjang ini.
Tak lama, Baekhyun dan Kyungsoo masuk ke dalam kelas. Chanyeol yang menyadari hal itu beranjak dari duduknya dan berlari menuju Baekhyun. Sebenarnya Baekhyun ingin berbalik badan dan berlari menghindar. Ia takut di-bully oleh Chanyeol. Namun, ia sama sekali tidak menyangka ketika Chanyeol mendekapnya, lama sekali. Baekhyun membeku, bingung. Semua murid di kelas itu mematung melihat peristiwa tersebut.
“Terima kasih,” Chanyeol berbisik pelan di telinga Baekhyun. Ia melepas dekapannya. Untuk kedua kalinya, Baekhyun terkejut mendengar kata-kata Chanyeol. Wajah Chanyeol yang dipenuhi air mata, dan senyuman tulusnya juga membuat Baekhyun terkejut lagi. “Aku … minta … maaf ….”
Chanyeol memeluk Baekhyun lagi. Kini lebih lama.
Kyungsoo tersenyum kecil. Lalu ia melangkah menuju tempat duduknya dan meletakkan tasnya. Kemudian ia sadar tidak melihat wajah Kai pagi itu. Biasanya, setiap pagi Kai duduk di bangkunya, menunggu bel tanda masuk berbunyi. Tidak keluar kelas sampai istirahat.
“Kai tidak masuk?” tanya Kyungsoo, entah kepada siapa ia bertanya.
Xiumin yang mendengar kata-kata Kyungsoo menggeleng, “Dia sakit.”
Kyungsoo manggut-manggut. Mungkin gara-gara kejadian kemarin, begitu pikirnya. Saat ia berbalik badan, gantian dia yang dipeluk Chanyeol.
“Chan … yeol …?”
***
Sepulang sekolah, mereka berencana menjenguk Kai. Setelah membeli buah-buahan, Chen menelepon Kai. Beberapa saat ia berbicara dengannya. Kemudian handphone-nya dimatikan, “Kai di rumah sakit. Di Neunggok. Ada yang tahu di mana itu?”
Chanyeol terkejut, “Di rumah sakit? Separah itukah?”
Tidak ada temannya yang menanggapi kata-katanya.
Tao menyahut, “Aku tahu! Tidak begitu jauh dari sekolah. Kita jalan kaki saja.”
Kedua belas namja itu berjalan bersama. Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di rumah sakit. Mereka bertanya ke bagian informasi dan akhirnya mereka tiba di kamar Kai.
Kyungsoo membukanya. Kai ada di situ, duduk di ranjang. Ia tersenyum ketika melihat teman-temannya datang. Kyungsoo berlari kecil dan memeluknya, “Maaf, ya. Saat itu aku dan Baekhyun sempat tidak percaya padamu. Kami kira kamu menjebak kami untuk di-bully lagi.”
Kai tersenyum tipis.
Chanyeol diam saja. Dia hanya berdiri di ambang pintu, membeku. Sama kali tidak dilangkahkan kakinya untuk masuk.
“Kai, kamu sakit apa?” Baekhyun mendekat.
Kai mendesah pelan, “Dokter mendiagnosanya, pneumonia. Tapi, entahlah. Mungkin saat itu aku terlalu banyak menghirup air.”
Chanyeol menunduk mendengarnya.
Semuanya terdiam, saling memandang.
Tiba-tiba, Luhan menunjuk televisi yang sedang menyala, “Keraskan volumenya!”
Xiumin melihat remote TV. Ia segera menyambarnya dan mengeraskan volume TV.
“Akan diadakan audisi grup menyanyi di SM Town. Setiap grup boleh beranggotakan pria atau wanita. Jumlah anggotanya minimal tiga, dan maksimal lima belas. Pendaftaran dibuka mulai hari ini, hingga akhir bulan. Kunjungi website resmi SM Entertainment untuk informasi lengkapnya. Terima kasih atas partisipasi Anda.”
“Ayo kita ikut!” seru Luhan bersemangat.
“Kita? Kita semua?” tanya Kyungsoo bingung. “Bagaimana dengan Kai?”
Semua menatap Kai.
“Hei, jangan cemaskan aku! Aku pasti bisa sembuh sebelum audisi! Tenang saja. Yang jelas, kalian di sini berbakat. Jangan sia-siakan kesempatan besar ini!” ujar Kai menenangkan.
“Baiklah, kalau begitu kita buka website-nya SM,” Kris mengeluarkan handphone-nya. Beberapa menit kemudian, di layar handphone-nya itu muncul formulir pendaftaran.
“Di sini ada nama grup, nama ketua, anggota, alamat, nomor telepon, dan lainnya. Oke, nama grup. Apa nama grup kita?” Kris mendongakkan kepalanya.
Baekhyun spontan menjawab, “XOXO.”
“XOXO?” Lay menautkan alis. “Kenapa XOXO?”
“Hmm … hanya XOXO yang langsung terpikirkan olehku,” Baekhyun cengar-cengir.
“Ya, XOXO saja. Kupikir tidak buruk, kok,” sambung Sehun.
Kris mengetikkan XOXO. “Lalu nama ketua. Siapa ketuanya?”
Chanyeol mengira teman-temannya akan menunjuknya. Tetapi tidak. Tidak ada satupun yang menoleh kepadanya. Chanyeol menunduk lagi.
“Suho hyung?” Chen melirik Suho.
Suho membelalak, “Jangan aku! Xiumin saja, dia paling tua di antara kita!”
“Suho orang yang adil. Ayo ketik saja, Kris. Kim-Jong-Myeon,” eja Sehun.
Kris menuruti kata-kata Sehun. Sedangkan Suho mengomel sendiri.
“Kemudian, anggota,” Kris menghela napas. “Kim Jong In, lalu Oh Sehun. Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Kim Jong Dae, Kim Minseok, Wu Yi Fan, Lu Han, Zhang Yixing, dan Huang Zi Tao. Lalu ….” Kris berhenti mengetik.
“Chanyeol? Kau mau ikut?” tanya Kai pelan.
Chanyeol memandang teman-temannya sekilas. Ia menunduk lagi, kemudian dilangkahkan kakinya pelan-pelan mundur dari kamar itu.
Baekhyun langsung merenggut tangan Chanyeol dan menariknya masuk, “Kris, ketik namanya. Park Chanyeol.”
Tanpa basa-basi, Kris langsung saja mengetik. Chanyeol melirik Baekhyun, Baekhyun tersenyum padanya.
***
“Baekhyun, terima kasih soal tadi,” ucap Chanyeol pelan ketika mereka berjalan bersama setelah menjenguk Kai.
“Tidak perlu,” Baekhyun tersenyum lagi. “Lagipula, aku tahu kamu ingin bergabung, tetapi takut kami tidak memaafkanmu.”
Chanyeol tidak menjawab.
“Chanyeol, lihat wajahku.”
Chanyeol menatap Baekhyun.
“Apakah aku tidak bisa membuatmu tersenyum?”
Chanyeol kaget mendengarnya.
“Cobalah tersenyum, sekali saja. Kamu pasti terlihat sangat manis.”
Chanyeol terpaku. Namun ketika melihat Baekhyun mengucapkannya, perlahan senyumannya mengembang.
“Ah hai! Aku berhasil!” sorak Baekhyun gembira.
Senyuman Chanyeol melebar. Dengan gemas dipeluknya Baekhyun. Baekhyun tertawa, begitu pula dengan Chanyeol.
***
“Hai, Kyungsoo!” sapa Yeajin pagi itu.
Kyungsoo balas tersenyum, “Hai juga!”
Mereka berjalan berdampingan.
“Sudahkah kamu melihat iklan di TV kemarin? SM membuka audisi! Kesempatan yang luar biasa. Aku akan mendaftar bersama teman-temanku,” tutur Yeajin.
“Oh ya? Aku juga mendaftar,” balas Kyungsoo.
“Dengan siapa saja?”
“Aku, Baekhyun, dan anggota geng The King School itu,” jawab Kyungsoo.
“Kalian sudah berteman?” mata Yeajin melebar.
“Yap,” Kyungsoo mengangguk.
“Syukurlah,” Yeajin tersenyum.
Saat itu, Chanyeol dan Baekhyun lewat di depan mereka. Kyungsoo dan Yeajin mendadak gugup. Mereka takut Chanyeol akan menerjang mereka. Chanyeol kan suka dengan Yeajin.
Namun tidak. Chanyeol justru melempar senyum pada mereka berdua, dan melanjutkan langkahnya dengan Baekhyun. Baekhyun mengacungkan jempol pada Kyungsoo dan mengedipkan sebelah mata seolah berkata, “Chanyeol berbeda dari yang dulu!”
Yeajin mendadak bersorak, “Akhirnya Chanyeol berubah.”
Kyungsoo manggut-manggut. Ia tersenyum senang.
***
Hari H.
“Aku gugup,” Kai mondar-mandir.
“Aku juga gugup,” Kyungsoo menggigit jarinya.
Chanyeol memegang kertas berisi lirik lagu. Ia bernyanyi pelan menghafalkan lagunya. Melihat kedua anak itu seperti anak ayam tersesat, ia mendekat, “Tidak apa-apa. Kami semua juga pasti gugup. Ini adalah penampilan pertama kita, di depan orang banyak. Anggap saja tidak ada siapapun di sana. Hanya kita berdua belas, oke?”
Kai berhenti, lalu menarik napas, “Kurasa aku butuh minum.”
“Minumlah punyaku,” Chanyeol memberikan sebotol air putih. “Minum air putih adalah salah satu kiat mengusir demam panggung.”
Kyungsoo tertawa kecil dan melayangkan tinjunya ke bahu Chanyeol dengan lembut, “Aku menyukaimu, Chanyeol!”
***
Kedua belas namja itu berdiri di atas panggung. Membentuk formasi. Kai memberi aba-aba pada teman-temannya dengan jarinya.
Kemudian musik mengalun. Tao pertama yang menyanyi.
Yo … okay … sexy ….
Dilanjut Kai.
Neo hokshi molla gyeonggo haneunde
Tao menyahut.
Jaldeureo
Kai lagi.
Jigeum wiheomhae
Tao.
So dangerous
Sehun.
Jakku nareul jageug hajima
Nado nal molla
Baekhyun.
Summi jakku meotneunda
Niga nal hyanghae georeo onda
Chen.
Nareul bomyeo utneunda
Neodo naege kkeulli neunji
***
Geomjeong geurimja nae ane kkae eona
Neol boneun du nune bul kkochi nuntteo
Geu nyeo gyeoteseo moduda mulleona
Ijen jogeum sshik sana woji nikka
Na eureureong eureureong eureureong dae
Na eureureong eureureong eureureong dae
Na eureureong eureureong eureureong dae
Da mulleo seoji anheumyeon dachyeodo molla
Na eureureong eureureong eureureong dae
Na eureureong eureureong eureureong dae
Na eureureong eureureong eureureong dae
Kai menutup penampilan mereka.
Da mulleo seoji anheumyeon dachyeodo molla
Selesai.
Mereka membungkuk bersama-sama, disusul sorakan dan tepuk tangan.
Lega.
***
“Maaf, saya ingin bertanya. Kapan pengumuman audisinya?” tanya Suho pada seorang staf SM.
“Oh, minggu depan. Kalian bisa melihatnya di website SM,” jawab staf itu dan berlalu.
“Terima kasih,” Suho kembali ke teman-temannya. “Masih minggu depan. Ayo kita pulang sekarang.”
“Oke.” Mereka keluar dari gedung SM dan menuju halte bus terdekat. Bus datang dan mereka naik.
Setelah duduk dan merasa nyaman, Kyungsoo melihat keluar jendela. Ia terkejut ketika melihat sosok Kai masih berada di luar, berjalan menyusuri trotoar.
“Suho hyung! Kai masih di luar!” pekik Kyungsoo.
Suho kaget. Ia menghitung seluruh teman-temannya dan benar, kurang satu. Suho berusaha memberhentikan bus, namun gagal. Seketika mereka panik tidak karuan.
“Hei, hei, hei, ada apa dengan mobil itu?” tunjuk Luhan pada sebuah mobil yang terlihat aneh. Mobil itu dikendarai dengan liar, tidak tahu aturan. Kecepatannya tinggi, membelok ke arah yang tidak mereka duga, Kai!
“Kai!” pekik Chanyeol. Ia berlari ke depan, dan meminta sopir bus itu menghentikan busnya.
Kesebelas namja itu bergegas turun dari bus dan mendekati tempat kecelakaan itu. Mobil itu menindasnya, ya, menindasnya. Tragis sekali.
Beberapa menit kemudian polisi datang, disertai ambulans di belakangnya. Mobil itu benar-benar rusak. Bentuknya bisa dibilang bukan mobil gara-gara kerusakannya. Pengendara mobil itu tewas di tempat, dan langsung dibawa ambulans ke rumah sakit. Rongsokan mobil disingkirkan, dan sosok Kai ….
[Bersambung ....]

By : AnTa (Annisa and Shinta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar