Title : First Snow
Author : AnTa (Annisa and Shinta)
Length : Chaptered
Cast : All EXO's members, Kim Yeajin (OC)
Genre : Friendship, school life
***
Esok hari, suasana kelas begitu sepi. Chanyeol masuk
dengan gaduh, tak ada lagi sambutan hormat dari teman-teman sekelasnya.
Chanyeol juga tidak mengharapkannya. Biasanya ia akan marah pada teman-temannya
bila tidak disambut, tetapi kini tidak. Ia duduk di bangkunya tanpa berucap
apa-apa, sembari melemparkan pandangan keluar jendela. Teman-temannya hanya
bisa melongo, memperhatikan gerak-geriknya. Namun sebagian dari mereka
bersyukur, Chanyeol tidak marah sehingga tidak ada kehebohan pagi itu.
Chanyeol sesekali melemparkan pandangannya ke seluruh
penjuru kelas. Baekhyun dan Kyungsoo belum datang. Kini disadarinya Kai tidak
masuk, mungkin sakit akibat perbuatannya kemarin. Chanyeol menghela napas,
berpaling, “Apa benar ayah Baekhyun menolong ayahku dulu hingga sekarang
kondisinya begini?”
Di tengah keraguannya, anggota The King School
mendatangi Chanyeol.
“Chanyeol, kamu ingin ikut kami menjenguk Kai?
Bukankah kamu yang membuat dia …,” Luhan agak takut melanjutkan kalimatnya.
“Sakit …?”
Chanyeol terdiam sedetik. Ia berceletuk, seraya
memandang anggota geng-nya, “Dengar, ini semua tidak akan terjadi apabila
Baekhyun dan Kyungsoo datang ke sini. Jadi jika kalian ingin menyalahkan
seseorang, salahkanlah mereka!”
“Chanyeol!” Chen tibat-tiba membentak. “Jangan
selalu menyalahkan orang lain! Salahkan dirimu sendiri dan jangan mencari-cari
ketidaksempurnaan orang lain! Kamu mungkin tidak bisa menerima kenyataan. Kamu
bisa hidup mewah seperti ini, segala yang kamu inginkan bisa dikabulkan, karena
ayah Baekhyun! Bayangkan jika ayah Baekhyun tidak menolongmu. Mungkin
Baekhyun-lah yang justru menjadi ketua The King School dan kamu ikut
berlari-lari bersama Kyungsoo.”
Chanyeol membisu.
“Lihat sekarang, Baekhyun yang kena impasnya. Dan
dalam keadaan itu, masihkah kamu menghinanya?”
Chanyeol teringat akan pesan ibunya semalam untuk
berteman dengan Baekhyun, “Bagaimana kamu tahu ayah Baekhyun menolong
keluargaku?”
“Kemarin Kai meneleponku kalau ia sakit, tidak bisa
masuk sekolah hari ini. Kemudian aku berpikir mungkin itu salahmu, Chanyeol,
menceburkannya ke dalam danau. Untung saja Suho dan Sehun tidak kamu ceburkan.
Jika iya, berarti ada tiga korban. Aku tidak bisa diam saja. Maka aku ke
rumahmu dan memberitahu kedua orangtuamu segala sikapmu selama ini. Ibumu
tampak kecewa mendengarnya. Beliau mengira kau baik-baik saja di sekolah. Juga,
beliau menceritakan padaku tentang ini,” tutur Chen.
Chanyeol tak sanggup berbicara. Ia melempar
pandangan ke jendela. Perlahan, dirasakannya air matanya menetes. Kini ia
sadar, seluruh perbuatannya sepanjang ini.
Tak lama, Baekhyun dan Kyungsoo masuk ke dalam
kelas. Chanyeol yang menyadari hal itu beranjak dari duduknya dan berlari
menuju Baekhyun. Sebenarnya Baekhyun ingin berbalik badan dan berlari
menghindar. Ia takut di-bully oleh Chanyeol. Namun, ia sama sekali tidak menyangka
ketika Chanyeol mendekapnya, lama sekali. Baekhyun membeku, bingung. Semua
murid di kelas itu mematung melihat peristiwa tersebut.
“Terima kasih,” Chanyeol berbisik pelan di telinga
Baekhyun. Ia melepas dekapannya. Untuk kedua kalinya, Baekhyun terkejut
mendengar kata-kata Chanyeol. Wajah Chanyeol yang dipenuhi air mata, dan
senyuman tulusnya juga membuat Baekhyun terkejut lagi. “Aku … minta … maaf ….”
Chanyeol memeluk Baekhyun lagi. Kini lebih lama.
Kyungsoo tersenyum kecil. Lalu ia melangkah menuju
tempat duduknya dan meletakkan tasnya. Kemudian ia sadar tidak melihat wajah
Kai pagi itu. Biasanya, setiap pagi Kai duduk di bangkunya, menunggu bel tanda
masuk berbunyi. Tidak keluar kelas sampai istirahat.
“Kai tidak masuk?” tanya Kyungsoo, entah kepada siapa
ia bertanya.
Xiumin yang mendengar kata-kata Kyungsoo menggeleng,
“Dia sakit.”
Kyungsoo manggut-manggut. Mungkin gara-gara kejadian
kemarin, begitu pikirnya. Saat ia berbalik badan, gantian dia yang dipeluk
Chanyeol.
“Chan … yeol …?”
***
Sepulang sekolah, mereka berencana menjenguk Kai.
Setelah membeli buah-buahan, Chen menelepon Kai. Beberapa saat ia berbicara
dengannya. Kemudian handphone-nya dimatikan, “Kai di rumah sakit. Di Neunggok.
Ada yang tahu di mana itu?”
Chanyeol terkejut, “Di rumah sakit? Separah itukah?”
Tidak ada temannya yang menanggapi kata-katanya.
Tao menyahut, “Aku tahu! Tidak begitu jauh dari
sekolah. Kita jalan kaki saja.”
Kedua belas namja itu berjalan bersama. Beberapa
menit kemudian, sampailah mereka di rumah sakit. Mereka bertanya ke bagian
informasi dan akhirnya mereka tiba di kamar Kai.
Kyungsoo membukanya. Kai ada di situ, duduk di
ranjang. Ia tersenyum ketika melihat teman-temannya datang. Kyungsoo berlari
kecil dan memeluknya, “Maaf, ya. Saat itu aku dan Baekhyun sempat tidak percaya
padamu. Kami kira kamu menjebak kami untuk di-bully lagi.”
Kai tersenyum tipis.
Chanyeol diam saja. Dia hanya berdiri di ambang
pintu, membeku. Sama kali tidak dilangkahkan kakinya untuk masuk.
“Kai, kamu sakit apa?” Baekhyun mendekat.
Kai mendesah pelan, “Dokter mendiagnosanya,
pneumonia. Tapi, entahlah. Mungkin saat itu aku terlalu banyak menghirup air.”
Chanyeol menunduk mendengarnya.
Semuanya terdiam, saling memandang.
Tiba-tiba, Luhan menunjuk televisi yang sedang
menyala, “Keraskan volumenya!”
Xiumin melihat remote TV. Ia segera menyambarnya dan
mengeraskan volume TV.
“Akan diadakan audisi grup menyanyi di SM Town.
Setiap grup boleh beranggotakan pria atau wanita. Jumlah anggotanya minimal
tiga, dan maksimal lima belas. Pendaftaran dibuka mulai hari ini, hingga akhir
bulan. Kunjungi website resmi SM Entertainment untuk informasi lengkapnya.
Terima kasih atas partisipasi Anda.”
“Ayo kita ikut!” seru Luhan bersemangat.
“Kita? Kita semua?” tanya Kyungsoo bingung.
“Bagaimana dengan Kai?”
Semua menatap Kai.
“Hei, jangan cemaskan aku! Aku pasti bisa sembuh
sebelum audisi! Tenang saja. Yang jelas, kalian di sini berbakat. Jangan
sia-siakan kesempatan besar ini!” ujar Kai menenangkan.
“Baiklah, kalau begitu kita buka website-nya SM,”
Kris mengeluarkan handphone-nya. Beberapa menit kemudian, di layar
handphone-nya itu muncul formulir pendaftaran.
“Di sini ada nama grup, nama ketua, anggota, alamat,
nomor telepon, dan lainnya. Oke, nama grup. Apa nama grup kita?” Kris
mendongakkan kepalanya.
Baekhyun spontan menjawab, “XOXO.”
“XOXO?” Lay menautkan alis. “Kenapa XOXO?”
“Hmm … hanya XOXO yang langsung terpikirkan olehku,”
Baekhyun cengar-cengir.
“Ya, XOXO saja. Kupikir tidak buruk, kok,” sambung
Sehun.
Kris mengetikkan XOXO. “Lalu nama ketua. Siapa
ketuanya?”
Chanyeol mengira teman-temannya akan menunjuknya.
Tetapi tidak. Tidak ada satupun yang menoleh kepadanya. Chanyeol menunduk lagi.
“Suho hyung?” Chen melirik Suho.
Suho membelalak, “Jangan aku! Xiumin saja, dia
paling tua di antara kita!”
“Suho orang yang adil. Ayo ketik saja, Kris.
Kim-Jong-Myeon,” eja Sehun.
Kris menuruti kata-kata Sehun. Sedangkan Suho
mengomel sendiri.
“Kemudian, anggota,” Kris menghela napas. “Kim Jong
In, lalu Oh Sehun. Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Kim Jong Dae, Kim Minseok, Wu Yi
Fan, Lu Han, Zhang Yixing, dan Huang Zi Tao. Lalu ….” Kris berhenti mengetik.
“Chanyeol? Kau mau ikut?” tanya Kai pelan.
Chanyeol memandang teman-temannya sekilas. Ia
menunduk lagi, kemudian dilangkahkan kakinya pelan-pelan mundur dari kamar itu.
Baekhyun langsung merenggut tangan Chanyeol dan
menariknya masuk, “Kris, ketik namanya. Park Chanyeol.”
Tanpa basa-basi, Kris langsung saja mengetik.
Chanyeol melirik Baekhyun, Baekhyun tersenyum padanya.
***
“Baekhyun, terima kasih soal tadi,” ucap Chanyeol
pelan ketika mereka berjalan bersama setelah menjenguk Kai.
“Tidak perlu,” Baekhyun tersenyum lagi. “Lagipula,
aku tahu kamu ingin bergabung, tetapi takut kami tidak memaafkanmu.”
Chanyeol tidak menjawab.
“Chanyeol, lihat wajahku.”
Chanyeol menatap Baekhyun.
“Apakah aku tidak bisa membuatmu tersenyum?”
Chanyeol kaget mendengarnya.
“Cobalah tersenyum, sekali saja. Kamu pasti terlihat
sangat manis.”
Chanyeol terpaku. Namun ketika melihat Baekhyun
mengucapkannya, perlahan senyumannya mengembang.
“Ah hai! Aku berhasil!” sorak Baekhyun gembira.
Senyuman Chanyeol melebar. Dengan gemas dipeluknya
Baekhyun. Baekhyun tertawa, begitu pula dengan Chanyeol.
***
“Hai, Kyungsoo!” sapa Yeajin pagi itu.
Kyungsoo balas tersenyum, “Hai juga!”
Mereka berjalan berdampingan.
“Sudahkah kamu melihat iklan di TV kemarin? SM
membuka audisi! Kesempatan yang luar biasa. Aku akan mendaftar bersama
teman-temanku,” tutur Yeajin.
“Oh ya? Aku juga mendaftar,” balas Kyungsoo.
“Dengan siapa saja?”
“Aku, Baekhyun, dan anggota geng The King School
itu,” jawab Kyungsoo.
“Kalian sudah berteman?” mata Yeajin melebar.
“Yap,” Kyungsoo mengangguk.
“Syukurlah,” Yeajin tersenyum.
Saat itu, Chanyeol dan Baekhyun lewat di depan
mereka. Kyungsoo dan Yeajin mendadak gugup. Mereka takut Chanyeol akan
menerjang mereka. Chanyeol kan suka dengan Yeajin.
Namun tidak. Chanyeol justru melempar senyum pada
mereka berdua, dan melanjutkan langkahnya dengan Baekhyun. Baekhyun
mengacungkan jempol pada Kyungsoo dan mengedipkan sebelah mata seolah berkata,
“Chanyeol berbeda dari yang dulu!”
Yeajin mendadak bersorak, “Akhirnya Chanyeol
berubah.”
Kyungsoo manggut-manggut. Ia tersenyum senang.
***
Hari H.
“Aku gugup,” Kai mondar-mandir.
“Aku juga gugup,” Kyungsoo menggigit jarinya.
Chanyeol memegang kertas berisi lirik lagu. Ia
bernyanyi pelan menghafalkan lagunya. Melihat kedua anak itu seperti anak ayam
tersesat, ia mendekat, “Tidak apa-apa. Kami semua juga pasti gugup. Ini adalah
penampilan pertama kita, di depan orang banyak. Anggap saja tidak ada siapapun
di sana. Hanya kita berdua belas, oke?”
Kai berhenti, lalu menarik napas, “Kurasa aku butuh
minum.”
“Minumlah punyaku,” Chanyeol memberikan sebotol air
putih. “Minum air putih adalah salah satu kiat mengusir demam panggung.”
Kyungsoo tertawa kecil dan melayangkan tinjunya ke
bahu Chanyeol dengan lembut, “Aku menyukaimu, Chanyeol!”
***
Kedua belas namja itu berdiri di atas panggung.
Membentuk formasi. Kai memberi aba-aba pada teman-temannya dengan jarinya.
Kemudian musik mengalun. Tao pertama yang menyanyi.
Yo … okay … sexy
….
Dilanjut Kai.
Neo hokshi molla
gyeonggo haneunde
Tao menyahut.
Jaldeureo
Kai lagi.
Jigeum wiheomhae
Tao.
So dangerous
Sehun.
Jakku nareul
jageug hajima
Nado nal molla
Baekhyun.
Summi jakku
meotneunda
Niga nal
hyanghae georeo onda
Chen.
Nareul bomyeo
utneunda
Neodo naege
kkeulli neunji
***
Geomjeong
geurimja nae ane kkae eona
Neol boneun du
nune bul kkochi nuntteo
Geu nyeo
gyeoteseo moduda mulleona
Ijen jogeum
sshik sana woji nikka
Na eureureong
eureureong eureureong dae
Na eureureong
eureureong eureureong dae
Na eureureong
eureureong eureureong dae
Da mulleo seoji
anheumyeon dachyeodo molla
Na eureureong
eureureong eureureong dae
Na eureureong
eureureong eureureong dae
Na eureureong
eureureong eureureong dae
Kai menutup
penampilan mereka.
Da mulleo seoji
anheumyeon dachyeodo molla
Selesai.
Mereka membungkuk bersama-sama, disusul sorakan dan
tepuk tangan.
Lega.
***
“Maaf, saya ingin bertanya. Kapan pengumuman
audisinya?” tanya Suho pada seorang staf SM.
“Oh, minggu depan. Kalian bisa melihatnya di website
SM,” jawab staf itu dan berlalu.
“Terima kasih,” Suho kembali ke teman-temannya.
“Masih minggu depan. Ayo kita pulang sekarang.”
“Oke.” Mereka keluar dari gedung SM dan menuju halte
bus terdekat. Bus datang dan mereka naik.
Setelah duduk dan merasa nyaman, Kyungsoo melihat
keluar jendela. Ia terkejut ketika melihat sosok Kai masih berada di luar,
berjalan menyusuri trotoar.
“Suho hyung! Kai masih di luar!” pekik Kyungsoo.
Suho kaget. Ia menghitung seluruh teman-temannya dan
benar, kurang satu. Suho berusaha memberhentikan bus, namun gagal. Seketika
mereka panik tidak karuan.
“Hei, hei, hei, ada apa dengan mobil itu?” tunjuk
Luhan pada sebuah mobil yang terlihat aneh. Mobil itu dikendarai dengan liar,
tidak tahu aturan. Kecepatannya tinggi, membelok ke arah yang tidak mereka
duga, Kai!
“Kai!” pekik Chanyeol. Ia berlari ke depan, dan
meminta sopir bus itu menghentikan busnya.
Kesebelas namja itu bergegas turun dari bus dan
mendekati tempat kecelakaan itu. Mobil itu menindasnya, ya, menindasnya. Tragis
sekali.
Beberapa menit kemudian polisi datang, disertai
ambulans di belakangnya. Mobil itu benar-benar rusak. Bentuknya bisa dibilang
bukan mobil gara-gara kerusakannya. Pengendara mobil itu tewas di tempat, dan
langsung dibawa ambulans ke rumah sakit. Rongsokan mobil disingkirkan, dan sosok
Kai ….
[Bersambung
....]
By : AnTa (Annisa and Shinta)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar