Author : AnTaIsTa
(Annisa, Shinta, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast : All
EXO’s members, Kim Sei Hi (OC), Han Bio Ka (OC), Yeon Seol Chan (OC), Park Shin Hye (OC), Patricia (OC)
Genre : Romance, adventure
***
*Kelanjutan cerita Shadows
Chanyeol menggoyang tubuh Baekhyun pelan. Merasa
tidak ada respon, Chanyeol menggoyangnya lebih keras. Baekhyun hanya bergerak
sedikit, lalu ia kembali terlelap. Chanyeol menarik napas, sebelum berteriak di
telinga Baekhyun.
|
“Hei! Bangun!”
Baekhyun sontak terbangun. Matanya membuka lebar. Chanyeol nyengir, “Tebak
sekarang jam berapa?”
“Jam tujuh pagi?”
“Ini setengah dua belas malam!”
Chanyeol tertawa kecil. “Besok
ulang tahunnya Kai. Jadi nanti jam dua belas, kita rayakan.”
Baekhyun mengangkat alis kanannya. Lalu ia menguap,
kemudian merebahkan tubuhnya, “Sebentar, sepuluh menit lagi.”
Chanyeol menghela napas. Ia
turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Diambilnya segayung air, lalu
dibawanya menuju Baekhyun. Tepat di atas kepala Baekhyun ia menumpahkannya.
Baekhyun yang sadar tubuhnya mendadak basah bangun
dan memekik, “Chanyeollie!”
***
Sehun dan Suho sibuk di ruang tengah. Mereka
menggeser-geser sofa ke pinggir untuk memperluas ruangan itu. Sedangkan Chen
dan Kyungsoo menyiapkan kue dan menghiasnya. Sementara yang lain ada yang
sedang membangunkan temannya, dan ada pula yang masih nyaman di pulau kapuk.
Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari kamar.
Kecuali Kai tentunya. Belum ada yang membangunkannya hingga sekarang.
“Meja yang ini perlu digeser?” Sehun menunjuk sebuah
meja.
“Jangan, biarkan saja di situ. Untuk meletakkan
kuenya. Dan, oh perlukah kita beri taplak di atasnya?” jawab Suho sambil
membuka lemari mencari taplak.
“Tidak perlu menurutku. Meja
itu sudah bagus. Lagipula, kalau diberi taplak, taplaknya justru akan kotor,”
ujar Sehun.
Suho menutup kembali pintu
lemari.
Chen dan Kyungsoo muncul dari
dapur. Keduanya membawa kue tar yang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk
keduabelas namja itu.
Kris yang tinggi, dibantu Chanyeol memasang tulisan
‘Happy Birthday’ di salah satu sisi ruangan. Kemudian hadiah-hadiah yang telah
mereka siapkan sebelumnya ditata rapi di sofa. Ruangan itu terlihat indah,
dengan hiasan pita di sudut-sudut dinding.
“Nah, sekarang Kai,” gumam Kyungsoo.
“Matikan lampunya!” seru Chen.
Luhan menekan saklar. Ruangan seketika gelap.
Kyungsoo melangkah menuju kamar Kai. Ia membuka pintunya perlahan, lalu ia
mendapati Kai masih tertidur. Kyungsoo menggugah Kai. Awalnya Kai hanya
mendesah, berbalik badan, dan menarik selimutnya.
Kyungsoo menggoyang tubuh Kai, “Bangun!”
Kai mendengkur.
Kyungsoo terdiam sejenak. Ia mencari cara. Kemudian
didekatinya telinga Kai dan berbisik, “Ada ayam di ruang tengah. Ayo makan!”
Kai hanya membalas, “Ya, sisakan buatku.” Lalu ia
menutup matanya kembali.
Kyungsoo menggaruk kepalanya, “Kalau kamu tidak
cepat ambil, kami habiskan!”
“Terserah. Aku bisa memesan ayam sendiri.”
Kyungsoo frustasi. Akhirnya didorongnya Kai dengan
kuat hingga ia jatuh dari ranjang.
“Aduh,” Kai mengelus punggungnya. “Hyung, kejamnya
kamu!”
“Bagaimana tidak? Kamu dibangunkan sulit sekali!”
dengus Kyungsoo. “Ayo, ikut aku ke ruang tengah!”
Kyungsoo menggamit tangan Kai dan membawanya ke
ruang tengah. Gelap sekali di situ. Saat itu Kyungsoo melepas tangan Kai dan
cepat-cepat bergabung dengan teman yang lain. Kai yang merasa kehilangan jejak
Kyungsoo berkata pelan, “Hyung? Kalian main petak umpat ya? Ayolah, jangan
kekanak-kanakan.”
Sekejap lampu menyala dan berucaplah mereka semua,
“Selamat ulang tahun!”
Kai sedikit kaget, “Oh, terima kasih.”
“Apa? Balasanmu cuma begitu?”
protes Baekhyun. “Kami menyiapkan ini semua dan kamu hanya menjawab demikian?”
Chen tertawa kecil, “Tidak apa-apa. Sekarang,
tiuplah lilinnya. Setelah itu potong kuenya dan hadiahnya silakan diambil.”
“Ini masih jam dua belas kurang
lima menit. Kita tunggu jam dua belas saja,” sahut Sehun.
“Baiklah.”
Kemudian mereka mengobrol. Chanyeol tiba-tiba merasa
kepanasan. Ia lalu menyibakkan tirai dan membuka jendela. Angin malam masuk. Saat itu awan bergerak, tertiup angin. Lalu bulan
purnama dengan cahayanya yang terang benderang muncul. Bulat sekali bentuknya.
“Indahnya,” komentar Lay yang melihat hal itu pula.
“Menurutku cahayanya jauh lebih terang dibanding bulan purnama sebelumnya.”
“Ya,” jawab Chanyeol singkat. Ia masih memandangi
bulan itu.
Teman-teman yang lain juga ikut melihat. Chanyeol
sempat melirik Luhan. Ia takut Luhan akan berubah menjadi serigala lagi.
Luhan yang merasa dilihat Chanyeol berkata,
“Chanyeol-ah, aku saat itu hanya dirasuki. Aku bukan seorang werewolf. Tidak perlu memandangku
begitu.”
Chanyeol tersenyum, lalu berpaling. Bulan purnama
itu hilang, mungkin tertutup awan.
Suho menatap arlojinya, “Sepuluh detik lagi jam dua
belas. Kai-ah, siap-siap meniup lilin!”
Kyungsoo menarik Kai dan membawanya ke depan kue. Kai tertawa, lalu
menatap kue itu. Teman-temannya
mengerubunginya, menunggunya meniup lilin.
“Sepuluh ….”
Kyungsoo merasa tidak enak.
“Sembilan ….”
Firasat buruk mendadak menyelimuti hatinya.
“Delapan ….”
Ia sendiri bingung apa yang membuatnya tidak nyaman
malam itu.
“Tujuh ….”
Kyungsoo mengamati teman-temannya satu per satu.
“Enam ….”
Ada yang aneh, sungguh.
“Lima ….”
Kyungsoo membelalak.
“Empat ….”
Ia ingat perkataan Yeajin sebelum gadis itu pindah
keluar kota.
“Tiga ….”
Tentang Kai.
“Dua ….”
Untuk berhati-hati terhadap Kai.
“Satu ….”
[Bersambung ....]
By : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar