Title : White Rose
Author : An
(Annisa)
Length :
Oneshoot
Cast : Kim Jong Dae (EXO), Han Bio Ka (OC), Yesung (Super Junior), Byun
Baekhyun (EXO)
Baekhyun (EXO)
Genre : Romance
***
Namanya Bio.
Lengkapnya, Han Bio Ka.
Gadis itu selalu saja
menarik perhatianku. Entah apa daya tarik yang dimilikinya, tapi dia berhasil
memikat hatiku. Membuat mataku menatapnya sepanjang hari, bahkan kulitku
merinding ketika dia bernyanyi.
Aku Kim Jong Dae. Pria
asal Seoul dengan tinggi 174 cm dan tulang pipi yang menonjol. Mungkin fisikku
tak begitu menarik. Mataku sipit, banyak orang menyebutnya mata unta. Suara
“cempreng”-ku mungkin mengganggu, tapi itulah keunikanku. Aku baru menemukannya
beberapa waktu yang lalu. Yah, walaupun harus melalui kisah yang menyakitkan.
Mau mendengarnya?
***
Yesung mendekati bangku
tempatku duduk. Ia menaruh nampan makan siangnya dengan keras, menyebabkan
minuman yang ada di atasnya tumpah sedikit. Dengan kasar ia menggeret kursi,
kemudian mendudukinya tepat di depanku. Namja aneh itu langsung menyantap makan
siangnya tanpa berucap apa-apa, tidak memedulikan seluruh tatapan yang mengarah
padanya ketika itu.
“Jong Dae-ah,” setelah
menelan makanannya, namja itu berkata. “Jujurlah padaku.”
Aku memandangnya heran,
“Maksudmu?”
“Kau benar-benar
menyukai Bio, kan?” alis kanannya digerakkannya dengan genit. “Jujur sajalah.”
Aku kembali mengarahkan
pandanganku pada mangkuk. Aku menyendok isinya, lalu menyuapkannya ke mulut.
Yesung masih memperhatikanku. Dia mengamati tiap inci wajahku, mungkin
menghitung berapa cm jarak antara hidung dan mataku. Yah, ini sifat yang paling
kubenci dari Yesung. Namja itu takkan berhenti menatap sampai ia mendapatkan
jawabannya.
Sudah beberapa menit
berlalu. Dan dia masih menatapku. Risih rasanya diperhatikan sedetail itu.
Dasar.
“Memang kenapa kamu
bertanya begitu?”
“Karena,” akhirnya dia
mengalihkan perhatiannya. Ia mengaduk-aduk sup dalam mangkuknya. “Karena, aku
juga menyukainya. Jadi, kupikir mulai saat ini kita bisa mengadakan kompetisi.
Antar-pria, kau tahu?”
Aku memutar bola
mataku, “Untuk apa?”
“Untuk menentukan siapa
namja yang disukai Bio,” tantangnya. “Nanti kita tanya Bio, seperti apa tipe
idealnya. Setelah itu kita berlomba-lomba melakukannya. Setuju?”
Aku berpikir sejenak.
Pria ini lucu. Mana mungkin Bio menyukai salah satu dari kami? Mustahil
rasanya.
Baru saja kami
membicarakannya. Bio datang sambil membawa buku-buku pelajarannya, kemudian duduk
di sampingku. Dengan raut wajah gembira dia berkata, “Ayahku pulang besok
Minggu!”
“Benarkah?” tanyaku.
Bio mengangguk senang,
“Sudah lama kami tak bertemu. Semenjak beliau ditugaskan keluar negeri, untuk bertemu
rasanya cuma mitos.”
“Chukkae,” Yesung tersenyum kecil.
Bio mengangguk-angguk
layaknya mainan anjing berwarna coklat yang dipajang di dashboard mobil. Kami lalu mengobrol bersama. Membicarakan apa saja
yang ada di pikiran kami. Yah, sebenarnya kami cukup akrab. Bisa dibilang
sahabat.
“Umm … Bio-ah,” Yesung
mengerlingkan matanya padaku. Aku yang tidak mengerti maksud erlingan itu hanya
terdiam.
Bio mendongak.
“Aku … cuma penasaran.
Se-seperti apa sebenarnya tipe idealmu itu?” tutur Yesung terbata-bata. Ia
melirikku berulang kali.
Bio hampir memuncratkan
air dalam mulutnya setelah mendengar pertanyaan Yesung. Ia menelannya dengan
sulit, kemudian tertawa. Aku dan Yesung hanya berpandangan.
“Tipe ideal? Memangnya
ada apa dengan tipe ideal?” tawa Bio belum selesai.
Kami berdua seperti
orang linglung. Aku pura-pura tidak tahu dan membuka-buka buku pelajaran Bio.
Sementara Yesung mengaduk-aduk isi mangkuknya yang sudah kosong seraya
bergumam, “Lupakan saja.”
Bio tertawa lebih
keras. Kemudian ia menutup buku pelajarannya yang kubuka, dan memandang kami
berdua satu per satu.
“Tipe ideal secara
fisik atau sifat?” tanyanya serius.
Yesung kembali
menegakkan duduknya, “Dua-duanya kalau bisa.”
Bio menghela napas
sejenak, “Untuk fisik, aku lebih suka namja yang tidak terlalu putih kulitnya,
tapi manis. Kalau sifat, aku cuma ingin namja yang cuek dan setia.” Setelah
itu, ia tersenyum-senyum sendiri.
Aku dan Yesung saling
bertukar pandang. Lalu sama-sama tersenyum.
Kompetisi dimulai!
***
“Namja yang tidak
terlalu putih,” aku memandangi tubuhku di cermin. “Apa aku putih?”
Aku berputar-putar di
depan cermin. Menurutku, sih, aku good-looking. Tapi entah apa Bio memikirkan
hal yang sama. Aku menggelengkan kepalaku.
“Tampil lebih alami
saja. Mungkin Bio akan mengubah tipe idealnya setelah melihatku,” aku
mengusap-usap daguku. Beberapa detik setelahnya aku sadar itu mustahil.
“Lupakan soal
penampilan,” aku berkacak pinggang. “Sifatku saja yang diubah menjadi lebih
baik. Menjadi tipe idealnya.”
Aku memandang diriku di
cermin, “Cuek dan setia, eh? Setia gampang-gampang saja, tapi aku tidak bisa
cuek padanya.”
Sekonyong-konyong handphone-ku berbunyi. Aku mendekat ke
meja dan mengangkatnya.
“Jong Dae-ah, ikut denganku ke taman dekat rumahmu! Kau tahu kan, taman
mawar yang ada di sudut jalan? Nah, pergilah ke sana sekarang! Aku ingin
menunjukkanmu sesuatu,” suara Yesung terdengar begitu saja menyetrum
telingaku.
Belum sempat aku
menjawab, Yesung sudah menutup teleponnya.
“Dasar,” aku mengambil
jaketku di belakang pintu.
***
Siang hari, di kantin
sekolah seusai makan siang.
“Pst!” aku tahu jarak
antara kami hanya beberapa sentimeter, dan aku sangat heran kenapa dia masih
saja berbisik. “Kamu membawa benda itu kan?” Yesung mendelik ke arahku.
Aku membuka kantong
plastik yang kubawa. Sekuntum mawar putih.
“Ya,” balasku. “Kau
juga membawanya?”
Yesung mengangguk
mantap, “Hei, apa menurutmu, aku tampak lebih ganteng?”
Aku tertawa.
“Atau, minimal lebih
hitam?” Yesung memandangku.
“Tanyakan hal itu pada
Bio,” ujarku. “Dia yang bisa menilai.”
Yesung manggut-manggut,
“Ah, ya. Nanti kau yang menembaknya duluan, ya?”
Mataku langsung
membesar, “Menembak-maksudmu?”
Yesung menunjuk mawar
putih yang kubawa, “Dengan mawar itu. Tembaklah dia duluan. Aku mengalah, kok.
Giliranku setelahmu.”
Oh, jadi ini alasannya
mengajakku ke taman mawar waktu itu.
“Aku tak mempunyai
rencana untuk menembaknya,” sahutku tukas. “Kau saja, Yesung-ah.”
Yesung menggeleng,
“Tidak, tidak. Kau juga. Ayolah, Jong Dae! Kesempatan ini takkan terulang dua
kali!”
Aku meliriknya sekilas,
lalu memandang mawar putih itu.
Yesung, oh, Yesung.
Kenapa aku selalu mengikuti ajakanmu?
***
Sore itu. Masih di
kantin.
Ada Bio. Dia membaca
buku-bukunya di salah satu bangku. Aku dan Yesung mengamatinya dari jauh.
Yesung memberi isyarat
padaku untuk segera mendekat. Dia mendorong-dorong tubuhku dari belakang. Makin
lama aku makin dekat dengan Bio. Bio yang menyadari keberadaanku, menoleh.
“Hai, Jong Dae,
Yesung!” ucapnya riang.
“Ucapkan kata-katanya,”
Yesung berbisik di telingaku. “Maukah kau jadi …”
“Bio-ah,” aku
mengeluarkan mawar putih itu dari punggung. “Kamu … mau jadi …”
“Pacarmu, eh?” Bio
tersenyum. “Maaf, Jong Dae-ah. Ada orang lain di hatiku.”
Seperti ditubruk truk
sebesar gajah yang membawa barang seberat lima ratus ton, tubuhku terasa remuk.
Kakiku begitu lemas, sampai-sampai aku tak merasakan adanya tulang di sana.
Aku hanya menarik
napas, lalu tersenyum tipis. Kulangkahkan kakiku ke belakang perlahan-lahan.
Aku berbalik mendekati sudut dinding. Pandanganku mengarah pada mawar putih
itu. Kugenggam tangkainya, tak peduli apakah tanganku berdarah karenanya.
Sayup-sayup aku
mendengar Yesung juga menembak Bio. Mungkin dia berpendapat bahwa orang yang
disukai Bio adalah dirinya. Aku sama sekali tidak kaget ketika Bio menolaknya.
Jawaban yang diberikan sama denganku; dia menyukai orang lain.
Yah, sejak awal sudah
kukatakan bukan? Yesung sangat lucu. Dia pikir Bio menyukai salah satu dari
kami hanya karena hubungan kami cukup dekat. Lihat saja. Jika dia menyukai kami
balik, pasti sebentar lagi kami akan bangun karena hari sudah pagi.
Yesung, sama lemasnya
denganku, mendekatiku terhuyung-huyung. Wajahnya begitu kusut, bahkan lebih
kusut ketimbang baju yang tidak disetrika selama seminggu.
Baru saja kami hendak
melangkah pergi, ada suara lagi. Suara rombongan murid yang sangat ribut.
Mereka datang keroyokan, masuk bersamaan di kantin. Jika dilihat-lihat, hanya
ada seorang murid yang punya keperluan di situ, hanya saja yang menemani
sejagad raya.
“Itu … Byun Baekhyun,
kan?” tunjuk Yesung pada seorang namja. “Mantannya, Taeyeon? Newbie yang menarik entertainer senior karena kemampuannya menyanyi?” matanya
mengerling padaku.
Aku mengangguk pelan.
Byun Baekhyun … jangan-jangan dialah yang ….
Sedetik berlalu.
Kejadian yang kuterka dalam kepalaku benar-benar terjadi. Di situ, tepat di
depanku, Byun Baekhyun berlutut. Ia mengeluarkan setangkai mawar merah pada Bio
yang berada di hadapannya. Bio, tanpa basa-basi lagi menerima mawar itu.
Diiringi sorak-sorai teman-teman Baekhyun yang menemaninya, kedua orang itu
menjalin cinta ketika itu juga. Ketika aku baru saja ditolak, dan ketika aku
masih berada di situ.
Bio-ah … kau ini gadis
kejam.
Yesung bergegas menarik
lenganku dan kami berlalu dari situ.
***
Makan siang.
Setiap kali aku melihat
makanan di depanku, semakin rasa mualku bertambah kuat. Nafsu makanku hilang
sejak kemarin. Setelah melihat kejadian itu, aku tak mampu makan sesuap
nasipun.
Yesung juga sama. Ia
mengaduk-aduk makanannya tanpa selera.
“Kau tahu? Sepertinya
Bio membohongi kita. Dia bilang tipe idealnya itu lelaki berkulit agak hitam.
Tapi, lihat saja si Baekhyun itu. Apa dia hitam, eh?” gerutunya.
Aku mengangguk lemas.
Yah, setidaknya aku mengerti kalau perempuan itu sulit dimengerti.
Aku menoleh ke sisi
kananku. Biasanya Bio duduk di situ, makan bersama kami. Semenjak kejadian
kemarin, Bio selalu pergi dengan Baekhyun.
Yesung menarik napas.
Lalu ia membanting sendoknya dengan kasar ke nampan, kemudian mengambil
barang-barangnya dan pergi.
Aku meletakkan kepala
di meja, menatap langit biru di luar jendela. Kosong tanpa awan. Benar-benar
menggambarkan suasana hatiku, ya?
***
“Jong Dae-ah!
Yesung-ah!”
Kami menoleh bersamaan.
Bio berlari-lari di koridor mendekati kami. Dia … menangis sambil menutup
matanya dengan kedua tangan.
“Jong Dae-ah …
Yesung-ah ….” Dalam sekejap, Bio memelukku. Aku sendiri kaget ketika dia
menangis di dekapanku. Yesung menatapku bingung, begitu pula aku.
“Ada apa?” tanyaku
hati-hati. Bio mengusap matanya, kemudian terisak-isak.
“Baekhyun … Baekhyun
menembakku ternyata hanya untuk pelampiasan saja!” ucap Bio memulai.
Aku dan Yesung melongo
bingung.
Bio menarik napas, lalu
melanjutkan, “Kau tahu kan kalau mantannya itu Taeyeon? Waktu itu, saat
Baekhyun dan Taeyeon masih berpacaran, Taeyeon memutuskan hubungannya karena
menyukai orang lain. Setelah itu Taeyeon selalu bersama orang itu. Baekhyun
yang, mungkin merasa marah, akhirnya mencari orang untuk pelampiasan. Dan orang
itu aku!”
Bio menangis lagi.
Untung saja koridor tersebut sepi, tak ada orang di sana selain kami. Tangisan
Bio mengeras, lama-lama semakin keras. Aku mengusap pipinya lembut, kemudian
berkata, “Lalu, apa yang terjadi dengan Baekhyun?”
“Dia balikan dengan
Taeyeon,” Bio menatapku. “Jong Dae-ah, mianhae. Mianhae aku menolakmu waktu
itu. Mianhae aku membiarkanmu melihatku menerima Baekhyun. Aku … aku memang
kejam.”
Aku tersenyum, lalu
mendekapnya. Dia terus menangis di dekapanku. Yesung berbisik di telingaku,
“Syukurlah Bio kembali.”
Aku memandangnya,
kemudian mengangguk. Kuarahkan pandanganku ke jendela. Entah mengapa, aku
seolah melihat mawar putih yang kupakai untuk menembak Bio di jendela itu.
Bersandarkan kaca, warnanya berkilauan diterpa cahaya mentari.
***
By : An (Annisa)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar