About

Rabu, 19 November 2014

White Rose

Title    : White Rose
Author : An (Annisa)
Length : Oneshoot
Cast     : Kim Jong Dae (EXO), Han Bio Ka (OC), Yesung (Super Junior), Byun
Baekhyun (EXO)
Genre : Romance
***
Namanya Bio. Lengkapnya, Han Bio Ka.
Gadis itu selalu saja menarik perhatianku. Entah apa daya tarik yang dimilikinya, tapi dia berhasil memikat hatiku. Membuat mataku menatapnya sepanjang hari, bahkan kulitku merinding ketika dia bernyanyi.
Oh, sungguh, apa yang menarik darimu?
Aku Kim Jong Dae. Pria asal Seoul dengan tinggi 174 cm dan tulang pipi yang menonjol. Mungkin fisikku tak begitu menarik. Mataku sipit, banyak orang menyebutnya mata unta. Suara “cempreng”-ku mungkin mengganggu, tapi itulah keunikanku. Aku baru menemukannya beberapa waktu yang lalu. Yah, walaupun harus melalui kisah yang menyakitkan.
Mau mendengarnya?
***                        

Yesung mendekati bangku tempatku duduk. Ia menaruh nampan makan siangnya dengan keras, menyebabkan minuman yang ada di atasnya tumpah sedikit. Dengan kasar ia menggeret kursi, kemudian mendudukinya tepat di depanku. Namja aneh itu langsung menyantap makan siangnya tanpa berucap apa-apa, tidak memedulikan seluruh tatapan yang mengarah padanya ketika itu.
“Jong Dae-ah,” setelah menelan makanannya, namja itu berkata. “Jujurlah padaku.”
Aku memandangnya heran, “Maksudmu?”
“Kau benar-benar menyukai Bio, kan?” alis kanannya digerakkannya dengan genit. “Jujur sajalah.”
Aku kembali mengarahkan pandanganku pada mangkuk. Aku menyendok isinya, lalu menyuapkannya ke mulut. Yesung masih memperhatikanku. Dia mengamati tiap inci wajahku, mungkin menghitung berapa cm jarak antara hidung dan mataku. Yah, ini sifat yang paling kubenci dari Yesung. Namja itu takkan berhenti menatap sampai ia mendapatkan jawabannya.
Sudah beberapa menit berlalu. Dan dia masih menatapku. Risih rasanya diperhatikan sedetail itu. Dasar.
“Memang kenapa kamu bertanya begitu?”
“Karena,” akhirnya dia mengalihkan perhatiannya. Ia mengaduk-aduk sup dalam mangkuknya. “Karena, aku juga menyukainya. Jadi, kupikir mulai saat ini kita bisa mengadakan kompetisi. Antar-pria, kau tahu?”
Aku memutar bola mataku, “Untuk apa?”
“Untuk menentukan siapa namja yang disukai Bio,” tantangnya. “Nanti kita tanya Bio, seperti apa tipe idealnya. Setelah itu kita berlomba-lomba melakukannya. Setuju?”
Aku berpikir sejenak. Pria ini lucu. Mana mungkin Bio menyukai salah satu dari kami? Mustahil rasanya.
Baru saja kami membicarakannya. Bio datang sambil membawa buku-buku pelajarannya, kemudian duduk di sampingku. Dengan raut wajah gembira dia berkata, “Ayahku pulang besok Minggu!”
“Benarkah?” tanyaku.
Bio mengangguk senang, “Sudah lama kami tak bertemu. Semenjak beliau ditugaskan keluar negeri, untuk bertemu rasanya cuma mitos.”
Chukkae,” Yesung tersenyum kecil.
Bio mengangguk-angguk layaknya mainan anjing berwarna coklat yang dipajang di dashboard mobil. Kami lalu mengobrol bersama. Membicarakan apa saja yang ada di pikiran kami. Yah, sebenarnya kami cukup akrab. Bisa dibilang sahabat.
“Umm … Bio-ah,” Yesung mengerlingkan matanya padaku. Aku yang tidak mengerti maksud erlingan itu hanya terdiam.
Bio mendongak.
“Aku … cuma penasaran. Se-seperti apa sebenarnya tipe idealmu itu?” tutur Yesung terbata-bata. Ia melirikku berulang kali.
Bio hampir memuncratkan air dalam mulutnya setelah mendengar pertanyaan Yesung. Ia menelannya dengan sulit, kemudian tertawa. Aku dan Yesung hanya berpandangan.
“Tipe ideal? Memangnya ada apa dengan tipe ideal?” tawa Bio belum selesai.
Kami berdua seperti orang linglung. Aku pura-pura tidak tahu dan membuka-buka buku pelajaran Bio. Sementara Yesung mengaduk-aduk isi mangkuknya yang sudah kosong seraya bergumam, “Lupakan saja.”
Bio tertawa lebih keras. Kemudian ia menutup buku pelajarannya yang kubuka, dan memandang kami berdua satu per satu.
“Tipe ideal secara fisik atau sifat?” tanyanya serius.
Yesung kembali menegakkan duduknya, “Dua-duanya kalau bisa.”
Bio menghela napas sejenak, “Untuk fisik, aku lebih suka namja yang tidak terlalu putih kulitnya, tapi manis. Kalau sifat, aku cuma ingin namja yang cuek dan setia.” Setelah itu, ia tersenyum-senyum sendiri.
Aku dan Yesung saling bertukar pandang. Lalu sama-sama tersenyum.
Kompetisi dimulai!
***
“Namja yang tidak terlalu putih,” aku memandangi tubuhku di cermin. “Apa aku putih?”
Aku berputar-putar di depan cermin. Menurutku, sih, aku good-looking. Tapi entah apa Bio memikirkan hal yang sama. Aku menggelengkan kepalaku.
“Tampil lebih alami saja. Mungkin Bio akan mengubah tipe idealnya setelah melihatku,” aku mengusap-usap daguku. Beberapa detik setelahnya aku sadar itu mustahil.
“Lupakan soal penampilan,” aku berkacak pinggang. “Sifatku saja yang diubah menjadi lebih baik. Menjadi tipe idealnya.”
Aku memandang diriku di cermin, “Cuek dan setia, eh? Setia gampang-gampang saja, tapi aku tidak bisa cuek padanya.”
Sekonyong-konyong handphone-ku berbunyi. Aku mendekat ke meja dan mengangkatnya.
Jong Dae-ah, ikut denganku ke taman dekat rumahmu! Kau tahu kan, taman mawar yang ada di sudut jalan? Nah, pergilah ke sana sekarang! Aku ingin menunjukkanmu sesuatu,” suara Yesung terdengar begitu saja menyetrum telingaku.
Belum sempat aku menjawab, Yesung sudah menutup teleponnya.
“Dasar,” aku mengambil jaketku di belakang pintu.
***
Siang hari, di kantin sekolah seusai makan siang.
“Pst!” aku tahu jarak antara kami hanya beberapa sentimeter, dan aku sangat heran kenapa dia masih saja berbisik. “Kamu membawa benda itu kan?” Yesung mendelik ke arahku.
Aku membuka kantong plastik yang kubawa. Sekuntum mawar putih.
“Ya,” balasku. “Kau juga membawanya?”
Yesung mengangguk mantap, “Hei, apa menurutmu, aku tampak lebih ganteng?”
Aku tertawa.
“Atau, minimal lebih hitam?” Yesung memandangku.
“Tanyakan hal itu pada Bio,” ujarku. “Dia yang bisa menilai.”
Yesung manggut-manggut, “Ah, ya. Nanti kau yang menembaknya duluan, ya?”
Mataku langsung membesar, “Menembak-maksudmu?”
Yesung menunjuk mawar putih yang kubawa, “Dengan mawar itu. Tembaklah dia duluan. Aku mengalah, kok. Giliranku setelahmu.”
Oh, jadi ini alasannya mengajakku ke taman mawar waktu itu.
“Aku tak mempunyai rencana untuk menembaknya,” sahutku tukas. “Kau saja, Yesung-ah.”
Yesung menggeleng, “Tidak, tidak. Kau juga. Ayolah, Jong Dae! Kesempatan ini takkan terulang dua kali!”
Aku meliriknya sekilas, lalu memandang mawar putih itu.
Yesung, oh, Yesung. Kenapa aku selalu mengikuti ajakanmu?
***
Sore itu. Masih di kantin.
Ada Bio. Dia membaca buku-bukunya di salah satu bangku. Aku dan Yesung mengamatinya dari jauh.
Yesung memberi isyarat padaku untuk segera mendekat. Dia mendorong-dorong tubuhku dari belakang. Makin lama aku makin dekat dengan Bio. Bio yang menyadari keberadaanku, menoleh.
“Hai, Jong Dae, Yesung!” ucapnya riang.
“Ucapkan kata-katanya,” Yesung berbisik di telingaku. “Maukah kau jadi …”
“Bio-ah,” aku mengeluarkan mawar putih itu dari punggung. “Kamu … mau jadi …”
“Pacarmu, eh?” Bio tersenyum. “Maaf, Jong Dae-ah. Ada orang lain di hatiku.”
Seperti ditubruk truk sebesar gajah yang membawa barang seberat lima ratus ton, tubuhku terasa remuk. Kakiku begitu lemas, sampai-sampai aku tak merasakan adanya tulang di sana.
Aku hanya menarik napas, lalu tersenyum tipis. Kulangkahkan kakiku ke belakang perlahan-lahan. Aku berbalik mendekati sudut dinding. Pandanganku mengarah pada mawar putih itu. Kugenggam tangkainya, tak peduli apakah tanganku berdarah karenanya.
Sayup-sayup aku mendengar Yesung juga menembak Bio. Mungkin dia berpendapat bahwa orang yang disukai Bio adalah dirinya. Aku sama sekali tidak kaget ketika Bio menolaknya. Jawaban yang diberikan sama denganku; dia menyukai orang lain.
Yah, sejak awal sudah kukatakan bukan? Yesung sangat lucu. Dia pikir Bio menyukai salah satu dari kami hanya karena hubungan kami cukup dekat. Lihat saja. Jika dia menyukai kami balik, pasti sebentar lagi kami akan bangun karena hari sudah pagi.
Yesung, sama lemasnya denganku, mendekatiku terhuyung-huyung. Wajahnya begitu kusut, bahkan lebih kusut ketimbang baju yang tidak disetrika selama seminggu.
Baru saja kami hendak melangkah pergi, ada suara lagi. Suara rombongan murid yang sangat ribut. Mereka datang keroyokan, masuk bersamaan di kantin. Jika dilihat-lihat, hanya ada seorang murid yang punya keperluan di situ, hanya saja yang menemani sejagad raya.
“Itu … Byun Baekhyun, kan?” tunjuk Yesung pada seorang namja. “Mantannya, Taeyeon? Newbie yang menarik entertainer senior karena kemampuannya menyanyi?” matanya mengerling padaku.
Aku mengangguk pelan. Byun Baekhyun … jangan-jangan dialah yang ….
Sedetik berlalu. Kejadian yang kuterka dalam kepalaku benar-benar terjadi. Di situ, tepat di depanku, Byun Baekhyun berlutut. Ia mengeluarkan setangkai mawar merah pada Bio yang berada di hadapannya. Bio, tanpa basa-basi lagi menerima mawar itu. Diiringi sorak-sorai teman-teman Baekhyun yang menemaninya, kedua orang itu menjalin cinta ketika itu juga. Ketika aku baru saja ditolak, dan ketika aku masih berada di situ.
Bio-ah … kau ini gadis kejam.
Yesung bergegas menarik lenganku dan kami berlalu dari situ.
***
Makan siang.
Setiap kali aku melihat makanan di depanku, semakin rasa mualku bertambah kuat. Nafsu makanku hilang sejak kemarin. Setelah melihat kejadian itu, aku tak mampu makan sesuap nasipun.
Yesung juga sama. Ia mengaduk-aduk makanannya tanpa selera.
“Kau tahu? Sepertinya Bio membohongi kita. Dia bilang tipe idealnya itu lelaki berkulit agak hitam. Tapi, lihat saja si Baekhyun itu. Apa dia hitam, eh?” gerutunya.
Aku mengangguk lemas. Yah, setidaknya aku mengerti kalau perempuan itu sulit dimengerti.
Aku menoleh ke sisi kananku. Biasanya Bio duduk di situ, makan bersama kami. Semenjak kejadian kemarin, Bio selalu pergi dengan Baekhyun.
Yesung menarik napas. Lalu ia membanting sendoknya dengan kasar ke nampan, kemudian mengambil barang-barangnya dan pergi.
Aku meletakkan kepala di meja, menatap langit biru di luar jendela. Kosong tanpa awan. Benar-benar menggambarkan suasana hatiku, ya?
***
“Jong Dae-ah! Yesung-ah!”
Kami menoleh bersamaan. Bio berlari-lari di koridor mendekati kami. Dia … menangis sambil menutup matanya dengan kedua tangan.
“Jong Dae-ah … Yesung-ah ….” Dalam sekejap, Bio memelukku. Aku sendiri kaget ketika dia menangis di dekapanku. Yesung menatapku bingung, begitu pula aku.
“Ada apa?” tanyaku hati-hati. Bio mengusap matanya, kemudian terisak-isak.
“Baekhyun … Baekhyun menembakku ternyata hanya untuk pelampiasan saja!” ucap Bio memulai.
Aku dan Yesung melongo bingung.
Bio menarik napas, lalu melanjutkan, “Kau tahu kan kalau mantannya itu Taeyeon? Waktu itu, saat Baekhyun dan Taeyeon masih berpacaran, Taeyeon memutuskan hubungannya karena menyukai orang lain. Setelah itu Taeyeon selalu bersama orang itu. Baekhyun yang, mungkin merasa marah, akhirnya mencari orang untuk pelampiasan. Dan orang itu aku!”
Bio menangis lagi. Untung saja koridor tersebut sepi, tak ada orang di sana selain kami. Tangisan Bio mengeras, lama-lama semakin keras. Aku mengusap pipinya lembut, kemudian berkata, “Lalu, apa yang terjadi dengan Baekhyun?”
“Dia balikan dengan Taeyeon,” Bio menatapku. “Jong Dae-ah, mianhae. Mianhae aku menolakmu waktu itu. Mianhae aku membiarkanmu melihatku menerima Baekhyun. Aku … aku memang kejam.”
Aku tersenyum, lalu mendekapnya. Dia terus menangis di dekapanku. Yesung berbisik di telingaku, “Syukurlah Bio kembali.”
Aku memandangnya, kemudian mengangguk. Kuarahkan pandanganku ke jendela. Entah mengapa, aku seolah melihat mawar putih yang kupakai untuk menembak Bio di jendela itu. Bersandarkan kaca, warnanya berkilauan diterpa cahaya mentari.
***
By : An (Annisa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar