Author : AnTaIsTa
(Annisa, Shinta, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast : All
EXO’s members, Kim Sei Hi (OC), Han Bio Ka (OC), Yeon Seol Chan (OC), Park Shin Hye (OC), Patricia (OC)
Genre : Romance, adventure
***
“Kita harus menyusul Chen dan Suho,” Luhan
melihat arlojinya. “Mereka belum pulang. Sudah satu jam kita menunggu mereka.”Genre : Romance, adventure
***
“Tapi
bagaimana kita keluar sedangkan banyak paparazzi
di luar sana yang menunggu kita?” Lay menunjuk-nunjuk jendela.
“Kita
buat strategi,” Sehun berbicara. “Kris dan Chanyeol pergi ke lantai bawah. Lalu
kalian menarik perhatian paparazzi
dan membawa mereka pergi jauh dari lobby. Lalu kami ber … ada berapa orang? Ya
pokoknya sisanya, cepat-cepat lari ke hutan.”
“Hutan
yang mana?” Tao bertanya.
“Aku
tahu. Aku yang membawa Kai ke sana,” Kyungsoo melirik Chanyeol. Ia melempar
pandangan ‘aku-takut-melihat-sosok-putih-itu-lagi’ pada Chanyeol.
Chanyeol
membalas dengan tatapan ‘sudah-kita-ikuti-saja-strateginya-Sehun’.
Akhirnya
Chanyeol dan Kris turun ke lantai bawah. Keduanya dengan gagah berani menemui paparazzi. Tentu saja paparazzi-paparazzi itu menanyai mereka dengan sejuta pertanyaan perihal Kai.
Chanyeol dan Kris tidak menjawab. Dengan dingin mereka melangkah terus menjauh
dari lobby. Paparazzi itu mengikuti
mereka. Pertanyaan terus terlontar dari mulut paparazzi, membuat telinga Chanyeol panas. Hampir ia menampar salah
satu paparazzi bila Kris tidak
menahan tangannya.
“Oke,
pelan-pelan ….”
Ketujuh
namja itu mengendap-endap keluar lobby. Mereka berusaha agar paparazzi itu tetap mengikuti Chanyeol
dan Kris, dan tidak berbalik mengekor mereka.
***
“Kai-ah,”
Suho merogoh saku celananya. “Ini, bawalah handphone-ku.
Bila kamu ingin pulang sewaktu-waktu, telepon kami.”
Kai
menerima handphone itu, “Terima
kasih.”
Suho
menghela napas panjang. Ia menatap Kai lama sekali.
Sedetik
kemudian, Sei Hi muncul dari balik tubuh Kai. Suho yang melihatnya melompat
kaget. Sampai-sampai ia terjatuh. Kai yang melihat Suho segera membalikkan
badan. Di sana berdiri Sei Hi, tersenyum menatap Kai.
“Dari
mana … kamu …?”
“Siapa
dia? Kenapa dia bisa ada di sini? Apakah dia hantu?” Suho merasa sangat takut
melihat Sei Hi.
Kai
sebenarnya juga terkejut melihat Sei Hi yang muncul tiba-tiba. Namun ia sadar,
mungkin Sei Hi baru saja pulang dari dunianya. Sehingga ia menenangkan Suho,
“Tidak apa-apa, hyung. Ia bukan hantu. Dia yang menolongku saat aku terluk …”
Suho
mengerutkan kening ketika Kai menghentikan ucapannya, “‘Terluk’ apa?”
Kai
tertawa kecil, “Dia yang menemukanku di hutan dan membawaku ke sini.” Ia
sengaja tertawa untuk menutupi suatu hal dari Suho, yakni tentang dirinya yang
terluka akibat bertarung dengan babi hutan.
Suho
manggut-manggut.
“Hyung,
sekali lagi. Pulanglah.”
***
Di dekat supermarket,
Chanyeol dan Kris menggiring paparazzi.
Paparazzi masih menanyakan hal yang
sama, tentang Kai dan konser itu. Chanyeol bukannya menjawab pertanyaan
tersebut justru berbisik pada Kris, “Hyung, ke mana lagi kita akan membawa
mereka?”
Kris
hanya mengangkat bahu.
Tiba-tiba
pintu supermarket dibuka. Seorang gadis, Shin Hye keluar dari sana. Chanyeol
memandang Shin Hye. Ia tersenyum dan berlari mendekati Shin Hye.
“Annyeong haseyo,” Chanyeol menyapa Shin
Hye.
Shin
Hye hanya mengangguk anggun. Lalu ia melenggang pergi. Chanyeol tidak tinggal
diam. Ia mengikuti Shin Hye.
Kris
yang melihat kejadian itu berseru, “Chanyeollie! Sedang apa kamu di sana?”
Paparazzi
kini tidak tertarik lagi dengan Kai. Mereka sekarang mengikuti Chanyeol dan
memotret Chanyeol yang tengah mengekor Shin Hye. Kris tersenyum, “Baguslah
kalau begitu. Biarkan paparazzi
mengikutinya.”
***
Mereka
saling diam. Chen masih menunduk, dan Bio juga masih tersenyum sendiri.
“Umm
… apa kita sudah berkenalan?” akhirnya Chen memberanikan diri. “Aku Chen,
personil XOXO.”
Bio
mengangguk, “Aku sering melihatmu di televisi.”
“Oh,”
Chen kembali menunduk. Suasana hening untuk beberapa detik.
“Aku
Han Bio Ka. Panggil saja Bio,” Bio mengulurkan tangan.
Chen
menjabat tangan Bio, “Kenapa kamu tinggal di hutan yang lebat ini? Masih ada
tempat tinggal yang lebih baik.”
Bio
melepas jabatan tangan Chen, “Di sinilah tempatku. Aku tidak bisa
meninggalkannya.”
“Kenapa?”
tanya Chen heran.
“Tidak
apa-apa. Hutan ini menyimpan ribuan kenangan masa kecilku,” Bio menarik napas.
“Dan … jika kamu tinggal di sini bersamaku, banyak hal baru yang bisa
dipelajari.”
Chen
manggut-manggut.
***
“Noona,
jalannya pelan-pelan saja.”
Shin
Hye menoleh pada Chanyeol, “Kamu mengikutiku sampai di sini?”
Chanyeol
menjadi salah tingkah, “Bisakah kita berkenalan?”
Shin
Hye tersenyum, “Namaku Park Shin Hye, panggil saja Shin Hye.”
“Oh,
nama awalanmu sama dengan namaku,” Chanyeol mengulurkan tangan. “Aku Park
Chanyeol.”
“Happy virus-nya XOXO,” Shin Hye
tersenyum. “Aku fans-mu, Oppa.”
Chanyeol
tersenyum-senyum. Keduanya tidak memedulikan paparazzi yang sibuk memotret mereka. Chanyeol dan Shin Hye terus mengobrol.
***
Dengan
perdebatan yang cukup memusingkan, Suho akhirnya keluar. Ia berulang kali
memandang Kai dan si gadis yang mengagetkannya. Kai hanya tersenyum dan
melambaikan tangannya, “Hati-hati, hyung.”
Suho
mengangguk. Ia memantapkan diri, kemudian pergi dari ruangan itu.
“Oppa!”
seru Sei Hi semangat. Ia menarik tangan Kai. “Aku tahu caranya!”
“Cara
apa?” Kai terlihat bingung.
“Cara
menghilangkan kutukan itu,” mata Sei Hi berbinar. “Walaupun aku peri, itu tak
masalah. Baru saja aku bertanya pada Patricia.”
Kai
tersenyum bahagia. “Benarkah?” Mendadak, ia teringat sesuatu, “Tapi, kau tetap
harus menyukaiku balik, kan?”
Sei
Hi tersenyum kecil. Ia mengedipkan mata perlahan, lalu menyahut, “Oppa, jujur,
aku juga menyukaimu. Sejak lama malahan. Sejak kau debut dan berdiri di
panggung.”
Seperti
ada udara yang berhembus dengan kencang, Kai merasa terbang. Ia benar-benar
yakin dirinya masih berdiri di situ, kakinya masih menginjak tanah. Tapi entah
mengapa hatinya begitu gembira mendengar kata-kata Sei Hi.
“Kau
… benar-benar … tulus …?”
Sei
Hi mengangguk anggun.
“Tulus
setulus-tulusnya?”
Sei
Hi kembali mengangguk.
“Tulus
setulus-tulus-tulusnya?”
“Oppa,
aku sudah bilang ‘iya’,” Sei Hi tersenyum. “Kau tahu? Sejak pertama kali diberi
tugas seperti ini oleh Patricia, aku sangat kaget saat tahu kaulah orang yang
dimaksud. Aku benar-benar tidak menyangka.”
“Maksudnya?”
Kai menaikkan alisnya.
“Maksudnya,”
Sei Hi mendekati Kai. Kai yang lebih tinggi darinya membuatnya mendongak,
“Ketika aku mulai menyukaimu, aku tetap menjalankan tugasku untuk mencari orang
yang dimaksud Patricia. Aku juga berharap orang itu bukan kau, karena aku tak
ingin kau mengalami hal semacam ini. Tapi, rupanya takdir berkata lain.”
Kai
menunduk, memainkan jari-jarinya. Lalu ia menarik napas dan memandang mata Sei
Hi, “Setidaknya, ambil hal positifnya. Karena hal itu, kita bisa bertemu
sekarang.”
Sei
Hi tersenyum. Kai ikut tersenyum, dan akhirnya keduanya tertawa.
***
Chen
dan Bio mulai akrab. Keduanya mengobrol dengan nyaman, sambil menatap kupu-kupu
yang beterbangan di sekitar mereka.
Pada
saat itu, Suho muncul dari pintu. Matanya membelalak. Tawanya hampir saja
meledak jika ia tidak menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tapi tiap kali ia
melihat mereka, semakin kuat dorongan dari dalam tubuhnya untuk tertawa. Suho
sampai terguling di tanah untuk menahan tawanya meledak.
Chen
yang merasakan seseorang berada di belakangnya, berbalik dan menemukan Suho
sedang meringkuk di tanah. Ia terkejut dan mendekat, “Apa yang kau lakukan,
hyung?”
Suho
melirik Chen sekilas. Lalu ia mengatur napas dan berdiri. Ia berdehem sejenak.
Kemudian Suho berbisik di telinga Chen, “Sudah kau minta nomor teleponnya?”
Chen
yang mendengarnya segera memukul lengan Suho, “Apaan kau ini, hyung!”
Suho
tertawa, “Tidak apa-apa, kok. Segeralah meminta. Kita harus pulang ke dorm
sekarang.”
“Apa?”
mata Chen membesar.
“Makanya,
cepatlah minta!” seru Suho. Ia mendorong-dorong tubuh Chen menuju Bio. Bio
hanya kebingungan melihat ulah kedua namja itu.
“Hyung!”
sentak Chen pelan. Ia berbalik dan menepis tangan Suho. “Kenapa kita harus
pergi sekarang? Tak bisakah kita berjalan-jalan sejenak? Lagipula, kau
seharusnya mengobrol dulu dengan Kai.”
Suho
tersenyum menggoda, “Dasar, bilang saja kau ingin berjalan-jalan dengannya.
Pergilah ke taman, jangan di hutan seperti ini.” Suho menuding Bio dengan
kepalanya.
Chen
merasa frustasi. Ia memijat dahinya sebentar, lalu berujar, “Hyung, pergilah
sana! Jangan ganggu kami! Pulanglah duluan, cepat-cepat!” Kini giliran Chen
yang mendorong Suho menjauh.
Chen
mendorongnya hingga tepi hutan. Ia mendorong lebih keras sehingga hampir saja
Suho terhempas ke pohon.
Chen
melambaikan tangan, “Pergi!” Lalu ia berlalu dari sana.
Suho
tersenyum, lalu berteriak, “Jangan lupa nomor teleponnya, Chen-ah!”
Kemudian
Suho tertawa kecil. Perlahan, tawanya membesar. Terus membesar dan
lama-kelamaan meledak. Di tengah hutan itu, ia tertawa dengan keras. Chen
menyukai Bio yang cantiknya seperti itu? Hari sudah kiamat jika Bio menyukainya
pula.
***
[Bersambung ....]
By : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar