About

Jumat, 07 November 2014

Dawn Wolf (Part 8)

Title    : Dawn Wolf
Author : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast     : All EXO’s members, Kim Sei Hi (OC), Han Bio Ka (OC), Yeon Seol Chan (OC), Park Shin Hye (OC), Patricia (OC)
Genre : Romance, adventure
***
“Kita harus menyusul Chen dan Suho,” Luhan melihat arlojinya. “Mereka belum pulang. Sudah satu jam kita menunggu mereka.”
“Tapi bagaimana kita keluar sedangkan banyak paparazzi di luar sana yang menunggu kita?” Lay menunjuk-nunjuk jendela.
“Kita buat strategi,” Sehun berbicara. “Kris dan Chanyeol pergi ke lantai bawah. Lalu kalian menarik perhatian paparazzi dan membawa mereka pergi jauh dari lobby. Lalu kami ber … ada berapa orang? Ya pokoknya sisanya, cepat-cepat lari ke hutan.”
“Hutan yang mana?” Tao bertanya.
“Aku tahu. Aku yang membawa Kai ke sana,” Kyungsoo melirik Chanyeol. Ia melempar pandangan ‘aku-takut-melihat-sosok-putih-itu-lagi’ pada Chanyeol.
Chanyeol membalas dengan tatapan ‘sudah-kita-ikuti-saja-strateginya-Sehun’.
Akhirnya Chanyeol dan Kris turun ke lantai bawah. Keduanya dengan gagah berani menemui paparazzi. Tentu saja paparazzi-paparazzi itu menanyai mereka dengan sejuta pertanyaan perihal Kai. Chanyeol dan Kris tidak menjawab. Dengan dingin mereka melangkah terus menjauh dari lobby. Paparazzi itu mengikuti mereka. Pertanyaan terus terlontar dari mulut paparazzi, membuat telinga Chanyeol panas. Hampir ia menampar salah satu paparazzi bila Kris tidak menahan tangannya.
“Oke, pelan-pelan ….”
Ketujuh namja itu mengendap-endap keluar lobby. Mereka berusaha agar paparazzi itu tetap mengikuti Chanyeol dan Kris, dan tidak berbalik mengekor mereka.
***
“Kai-ah,” Suho merogoh saku celananya. “Ini, bawalah handphone-ku. Bila kamu ingin pulang sewaktu-waktu, telepon kami.”
Kai menerima handphone itu, “Terima kasih.”
Suho menghela napas panjang. Ia menatap Kai lama sekali.
Sedetik kemudian, Sei Hi muncul dari balik tubuh Kai. Suho yang melihatnya melompat kaget. Sampai-sampai ia terjatuh. Kai yang melihat Suho segera membalikkan badan. Di sana berdiri Sei Hi, tersenyum menatap Kai.
“Dari mana … kamu …?”
“Siapa dia? Kenapa dia bisa ada di sini? Apakah dia hantu?” Suho merasa sangat takut melihat Sei Hi.
Kai sebenarnya juga terkejut melihat Sei Hi yang muncul tiba-tiba. Namun ia sadar, mungkin Sei Hi baru saja pulang dari dunianya. Sehingga ia menenangkan Suho, “Tidak apa-apa, hyung. Ia bukan hantu. Dia yang menolongku saat aku terluk …”
Suho mengerutkan kening ketika Kai menghentikan ucapannya, “‘Terluk’ apa?”
Kai tertawa kecil, “Dia yang menemukanku di hutan dan membawaku ke sini.” Ia sengaja tertawa untuk menutupi suatu hal dari Suho, yakni tentang dirinya yang terluka akibat bertarung dengan babi hutan.
Suho manggut-manggut.
“Hyung, sekali lagi. Pulanglah.”
***
Di dekat supermarket, Chanyeol dan Kris menggiring paparazzi. Paparazzi masih menanyakan hal yang sama, tentang Kai dan konser itu. Chanyeol bukannya menjawab pertanyaan tersebut justru berbisik pada Kris, “Hyung, ke mana lagi kita akan membawa mereka?”
Kris hanya mengangkat bahu.
Tiba-tiba pintu supermarket dibuka. Seorang gadis, Shin Hye keluar dari sana. Chanyeol memandang Shin Hye. Ia tersenyum dan berlari mendekati Shin Hye.
Annyeong haseyo,” Chanyeol menyapa Shin Hye.
Shin Hye hanya mengangguk anggun. Lalu ia melenggang pergi. Chanyeol tidak tinggal diam. Ia mengikuti Shin Hye.
Kris yang melihat kejadian itu berseru, “Chanyeollie! Sedang apa kamu di sana?”
Paparazzi kini tidak tertarik lagi dengan Kai. Mereka sekarang mengikuti Chanyeol dan memotret Chanyeol yang tengah mengekor Shin Hye. Kris tersenyum, “Baguslah kalau begitu. Biarkan paparazzi mengikutinya.”
***
Mereka saling diam. Chen masih menunduk, dan Bio juga masih tersenyum sendiri.
“Umm … apa kita sudah berkenalan?” akhirnya Chen memberanikan diri. “Aku Chen, personil XOXO.”
Bio mengangguk, “Aku sering melihatmu di televisi.”
“Oh,” Chen kembali menunduk. Suasana hening untuk beberapa detik.
“Aku Han Bio Ka. Panggil saja Bio,” Bio mengulurkan tangan.
Chen menjabat tangan Bio, “Kenapa kamu tinggal di hutan yang lebat ini? Masih ada tempat tinggal yang lebih baik.”
Bio melepas jabatan tangan Chen, “Di sinilah tempatku. Aku tidak bisa meninggalkannya.”
“Kenapa?” tanya Chen heran.
“Tidak apa-apa. Hutan ini menyimpan ribuan kenangan masa kecilku,” Bio menarik napas. “Dan … jika kamu tinggal di sini bersamaku, banyak hal baru yang bisa dipelajari.”
Chen manggut-manggut.
***
“Noona, jalannya pelan-pelan saja.”
Shin Hye menoleh pada Chanyeol, “Kamu mengikutiku sampai di sini?”
Chanyeol menjadi salah tingkah, “Bisakah kita berkenalan?”
Shin Hye tersenyum, “Namaku Park Shin Hye, panggil saja Shin Hye.”
“Oh, nama awalanmu sama dengan namaku,” Chanyeol mengulurkan tangan. “Aku Park Chanyeol.”
Happy virus-nya XOXO,” Shin Hye tersenyum. “Aku fans-mu, Oppa.”
Chanyeol tersenyum-senyum. Keduanya tidak memedulikan paparazzi yang sibuk memotret mereka. Chanyeol dan Shin Hye terus mengobrol.
***
Dengan perdebatan yang cukup memusingkan, Suho akhirnya keluar. Ia berulang kali memandang Kai dan si gadis yang mengagetkannya. Kai hanya tersenyum dan melambaikan tangannya, “Hati-hati, hyung.”
Suho mengangguk. Ia memantapkan diri, kemudian pergi dari ruangan itu.
“Oppa!” seru Sei Hi semangat. Ia menarik tangan Kai. “Aku tahu caranya!”
“Cara apa?” Kai terlihat bingung.
“Cara menghilangkan kutukan itu,” mata Sei Hi berbinar. “Walaupun aku peri, itu tak masalah. Baru saja aku bertanya pada Patricia.”
Kai tersenyum bahagia. “Benarkah?” Mendadak, ia teringat sesuatu, “Tapi, kau tetap harus menyukaiku balik, kan?”
Sei Hi tersenyum kecil. Ia mengedipkan mata perlahan, lalu menyahut, “Oppa, jujur, aku juga menyukaimu. Sejak lama malahan. Sejak kau debut dan berdiri di panggung.”
Seperti ada udara yang berhembus dengan kencang, Kai merasa terbang. Ia benar-benar yakin dirinya masih berdiri di situ, kakinya masih menginjak tanah. Tapi entah mengapa hatinya begitu gembira mendengar kata-kata Sei Hi.
“Kau … benar-benar … tulus …?”
Sei Hi mengangguk anggun.
“Tulus setulus-tulusnya?”
Sei Hi kembali mengangguk.
“Tulus setulus-tulus-tulusnya?”
“Oppa, aku sudah bilang ‘iya’,” Sei Hi tersenyum. “Kau tahu? Sejak pertama kali diberi tugas seperti ini oleh Patricia, aku sangat kaget saat tahu kaulah orang yang dimaksud. Aku benar-benar tidak menyangka.”
“Maksudnya?” Kai menaikkan alisnya.
“Maksudnya,” Sei Hi mendekati Kai. Kai yang lebih tinggi darinya membuatnya mendongak, “Ketika aku mulai menyukaimu, aku tetap menjalankan tugasku untuk mencari orang yang dimaksud Patricia. Aku juga berharap orang itu bukan kau, karena aku tak ingin kau mengalami hal semacam ini. Tapi, rupanya takdir berkata lain.”
Kai menunduk, memainkan jari-jarinya. Lalu ia menarik napas dan memandang mata Sei Hi, “Setidaknya, ambil hal positifnya. Karena hal itu, kita bisa bertemu sekarang.”
Sei Hi tersenyum. Kai ikut tersenyum, dan akhirnya keduanya tertawa.
***
Chen dan Bio mulai akrab. Keduanya mengobrol dengan nyaman, sambil menatap kupu-kupu yang beterbangan di sekitar mereka.
Pada saat itu, Suho muncul dari pintu. Matanya membelalak. Tawanya hampir saja meledak jika ia tidak menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tapi tiap kali ia melihat mereka, semakin kuat dorongan dari dalam tubuhnya untuk tertawa. Suho sampai terguling di tanah untuk menahan tawanya meledak.
Chen yang merasakan seseorang berada di belakangnya, berbalik dan menemukan Suho sedang meringkuk di tanah. Ia terkejut dan mendekat, “Apa yang kau lakukan, hyung?”
Suho melirik Chen sekilas. Lalu ia mengatur napas dan berdiri. Ia berdehem sejenak. Kemudian Suho berbisik di telinga Chen, “Sudah kau minta nomor teleponnya?”
Chen yang mendengarnya segera memukul lengan Suho, “Apaan kau ini, hyung!”
Suho tertawa, “Tidak apa-apa, kok. Segeralah meminta. Kita harus pulang ke dorm sekarang.”
“Apa?” mata Chen membesar.
“Makanya, cepatlah minta!” seru Suho. Ia mendorong-dorong tubuh Chen menuju Bio. Bio hanya kebingungan melihat ulah kedua namja itu.
“Hyung!” sentak Chen pelan. Ia berbalik dan menepis tangan Suho. “Kenapa kita harus pergi sekarang? Tak bisakah kita berjalan-jalan sejenak? Lagipula, kau seharusnya mengobrol dulu dengan Kai.”
Suho tersenyum menggoda, “Dasar, bilang saja kau ingin berjalan-jalan dengannya. Pergilah ke taman, jangan di hutan seperti ini.” Suho menuding Bio dengan kepalanya.
Chen merasa frustasi. Ia memijat dahinya sebentar, lalu berujar, “Hyung, pergilah sana! Jangan ganggu kami! Pulanglah duluan, cepat-cepat!” Kini giliran Chen yang mendorong Suho menjauh.
Chen mendorongnya hingga tepi hutan. Ia mendorong lebih keras sehingga hampir saja Suho terhempas ke pohon.
Chen melambaikan tangan, “Pergi!” Lalu ia berlalu dari sana.
Suho tersenyum, lalu berteriak, “Jangan lupa nomor teleponnya, Chen-ah!”
Kemudian Suho tertawa kecil. Perlahan, tawanya membesar. Terus membesar dan lama-kelamaan meledak. Di tengah hutan itu, ia tertawa dengan keras. Chen menyukai Bio yang cantiknya seperti itu? Hari sudah kiamat jika Bio menyukainya pula.

***
[Bersambung ....]
By : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar