Author : AnTaIsTa
(Annisa, Shinta, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast : All
EXO’s members, Kim Sei Hi (OC), Han Bio Ka (OC), Yeon Seol Chan (OC), Park Shin Hye (OC), Patricia (OC)
Genre : Romance, adventure
***
Kai
tersentak.***
Shin
Hye menunjuk benda bulat bercahaya di langit yang muncul di balik awan, “Asyik ya,
menata kayu bakar di bawah sinar bulan.”
“Tidak
perlu pakai lampu. Pakai cahaya bulan saja,” Bio mematikan lampu. “Sudah
terang, kan?”
Kai
merasa tidak enak. Tangannya menggenggam kayu dengan kuat, dan menyebabkan
salah satu sisinya terkelupas.
“Oppa?”
Seol Chan yang melihat Kai kaget. “Ada apa?”
Kai
tidak menjawab. Ia meringis.
Sei
Hi memandang Kai dengan khawatir.
Cakar-cakar
tajam muncul dari tangan Kai, menyebabkan empat gadis itu menjerit. Bulu-bulu
hitam menyelimuti tubuh Kai, dan matanya memerah. Sei Hi menahan napas.
Sekarang ia tahu, apa yang membuat Kyungsoo menarik Kai dari panggung ketika
konser. Juga kenapa ia berada di hutan.
Sosok
Kai berubah menjadi serigala. Matanya mendelik tajam. Sei Hi menelan ludah,
kemudian berkata, “Oppa?”
Serigala
itu melolong, kemudian menggeram dan menerjang Sei Hi. Sei Hi berteriak dan ia
cepat-cepat melangkah mundur. Sosok serigala Kai mendekatinya. Sei Hi yang
ketakutan, tak sadar kalau ia kini terpojok di sudut ruangan. Seol Chan, Shin
Hye, dan Bio hanya mampu menganga, bingung apa yang harus dilakukan.
Sei
Hi meringkuk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Serigala Kai mengaum
ganas, hendak mencakar Sei Hi.
“Hentikan! Kubilang hentikan!”
Sosok hitam itu tertawa sinis, “Aku
senang melakukan ini. Tidakkah kamu gembira melihatnya terpojok seperti itu?
Kita tinggal mengayunkan cakar atau menggigit tengkuk gadis itu. Ia sudah
mati.”
Aku tak kuat melihatnya. Sei Hi
pasti tidak bisa berbuat apa-apa. Bila sosokku di sana mencakarnya, betapa aku
tidak tahu balas budi. Aku sudah ditolongnya ketika bertarung dengan babi
hutan. Sosok putih yang melintas waktu itu, Sei Hi. Aku baru sadar sekarang.
Sosok putih itu bukan malaikat, bukan pula ajal. Dia Sei Hi yang membawaku
kemari.
“Aku tidak ingin melakukannya. Aku
ingin sosokku di sana berlari ke hutan,” aku melotot pada sosok itu. “Kumohon,
buatlah diriku yang di sana berbalik dan pergi.”
“Tidak! Tadi sudah kukatakan aku
senang melakukan ini,” sosok itu tertawa.
Aku tidak bisa membiarkannya
mempengaruhiku. Aku yang harus mengambil alih diriku di sana.
Serigala
itu tiba-tiba mematung. Ia menurunkan cakarnya. Matanya yang merah perlahan
berubah kecokelatan. Sei Hi memandang Kai takut-takut.
“Oppa
… jangan lakukan ini. Tolong,” Sei Hi berkata lirih.
Kai
mundur satu langkah. Kemudian ia berbalik dan lari ke hutan. Sosoknya
menghilang.
Sei
Hi menarik napas lega, “Aku harus menemui Patricia. Apa yang dikatakannya
benar.”
***
“Salam,
Guru,” sapa Sei Hi. Ia menunduk pada seorang wanita tua yang sedang duduk
menikmati indahnya alam.
“Kau,
Sei Hi. Ada apa kau kemari?” sosok tua itu tersenyum.
“Aku
ingin menanyakan perihal temanku yang tiba-tiba menjadi seekor serigala,” ujar
Sei Hi.
Sosok
itu yang bernama Patricia, menjawab, “Benar apa yang kukatakan, bukan? Kau
sempat tidak mempercayainya.”
Sei
Hi menangguk sopan.
Patricia
mendesah, “Baiklah, aku akan menceritakan semuanya.”
Keduanya
berbincang serius, sangat serius.
***
Sei
Hi kembali. Sebelum ia pulang, ia memutuskan untuk mencari Kai. Cukup sulit
mencarinya. Namun kemudian ditemukannya Kai tengah duduk bersandar pada pohon.
Kepalanya menunduk.
“Oppa?”
Sei Hi mendekat hati-hati.
Kai
terdiam, tidak menjawab.
Sei
Hi menghela napas. Dilepasnya jaket yang dikenakannya, lalu ia menyelimuti Kai
dengannya. “Di sini dingin. Pakailah jaketku,” ucapnya pelan.
Angin
berhembus. Suasana hening.
Kemudian
tangan Kai tiba-tiba memegang lengan Sei Hi. Dengan lirih ia berkata, “Terima
kasih jaketnya.”
“Sama-sama,”
Sei Hi mengangguk. “Oppa, ada yang ingin kutanyakan. Tapi, bisakah kita kembali
ke rumah dulu? Dingin sekali di sini.”
Kai
tersenyum. Ia berdiri, kemudian berjalan berdampingan dengan Sei Hi menuju
rumah.
“Oppa,
apa ayahmu atau ibumu pernah membunuh serigala?”
***
“Aih,
menyebalkan sekali!” gerutu Suho. “Lihatlah para paparazzi di luar sana. Kita jadi kesulitan keluar dorm.”
“Kalau
kita keluar, mereka pasti menanyakan tentang Kai. Memangnya apa urusannya
dengan mereka?” Baekhyun melongok keluar jendela. “Ada berapa paparazzi di sana? Satu … dua …”
“Hitunglah
kalau bisa. Mereka seperti gerombolan semut,” sahut Chen.
“Memangnya
kita gula sehingga dikerubuti? Dasar,” Suho menutup jendela. “Lupakan saja
mereka.”
Luhan
menarik koran yang berada di atas sofa, lalu membacanya. “Berita tentang Kai
menjadi liputan utama di sini.”
Suho
merebut koran itu dan menyobeknya dengan kasar. Dia mengumpat-umpat para paparazzi.
***
“Membunuh
… serigala?”
Sei
Hi menangguk.
“Memangnya
kenapa?” Kai mengerutkan kening.
“Aku
tanya. Ini ada hubungannya denganmu,” jawab Sei Hi.
“Umm
…,” Kai mengingat-ingat. “Ayahku pernah ketika ia dulu berkemah, kemudian
seekor serigala menyerangnya.”
“Lalu?”
“Lalu
… ya … ditembaknya serigala itu,” lanjut Kai.
Sei
Hi berpikir sejenak, “Selain peristiwa itu, mungkin di lain waktu pernah
membunuh serigala lagi?”
“Tidak.
Kedua orangtuaku penyayang binatang. Ayahku terpaksa menembak si serigala. Bila
tidak, ia bisa mati,” tutur Kai.
“Oh,”
Sei Hi mendesah. “Apa serigala yang dibunuh ayahmu ciri-cirinya berbulu hitam
dengan sepasang mata merah?”
“Yap,”
Kai mengiyakan. “Kata ayahku, itu serigala paling mengerikan yang pernah
ditemuinya.”
“Sudah
kuduga,” Sei Hi mendesah. “Karena begitulah rupamu saat menjadi serigala.”
Mata
Kai melebar, “Yang benar saja?”
Sei
Hi manggut-manggut.
“Astaga,
betapa mengerikannya aku!” pekik Kai. Ia mengacak-acak rambutnya.
Sei
Hi menarik napas, “Aku tahu apa yang menyebabkanmu menjadi werewolf.”
Kai
berhenti mengacak rambut, “Apa?”
“Ayahmu
dulu membunuh serigala milik penyihir ketika umurnya 20 tahun. Penyihir itu
telah menganggap si serigala sebagai anaknya, maka penyihir itu mengutuk ayahmu
bila ayahmu mempunyai anak dan tumbuh hingga berumur 20 tahun, dia akan menjadi
manusia serigala,” jelas Sei Hi.
Kai
terdiam. Ia mempautkan alis, “Dari mana kamu tahu?”
“Aku
…,” Sei Hi meremas-remas bajunya. “Perlukah kuceritakan yang sebenarnya?”
“Sebenarnya
… maksudmu?”
“Aku
bukan manusia. Aku … peri yang diutus ke sini.”
“Peri?”
Kai tersentak.
“Aku
dikirim ke sini oleh Patricia, penasihat kerajaan peri yang tahu segalanya.
Patricia sebelumnya telah mengirim Yeajin, tapi sepertinya Yeajin tak mampu
menghalangi kutukan itu. Jadi, Patricia mengutusku,” lanjut Sei Hi.
Kai
kaget, “Yeajin? Kim Yeajin maksudmu?”
“Hm,”
Sei Hi mengangguk. “Yeajin tentu sudah kalian kenal kan? Dia seorang peri.
Tepatnya, keluarganya peri.”
Kai
terpaku.
“Keluarga
Yeajin istimewa. Aku bahkan iri melihat mereka. Keluarga Yeajin dipercaya oleh
Patricia untuk menyimpan kekuatan alam, dua belas kekuatan luar biasa itu.”
Mata
Kai membesar.
“Botol
yang berisi kekuatan kalau tidak salah diletakkan di rak nomor tiga, tiga dari
kiri, dan tiga dari atas. Kenapa serba tiga? Karena tiga adalah simbol keluarga
Yeajin, simbol kehormatan dalam dunia peri.”
“Bukannya
tiga disebut angka sial?” tanya Kai.
“Orang-orang
di duniamu berpendapat begitu, tetapi tidak dengan para peri. Angka tiga di
duniaku dianggap pembawa keberuntungan. Selalu ada rezeki di balik angka tiga,”
jawab Sei Hi.
Kai
manggut-manggut.
“Aku
tahu kamu terkena kutukan itu dari Patricia. Aku pergi menemuinya saat kamu
menjadi serigala,” ujar Sei Hi.
Kai
menghela napas, “Patricia tahu semuanya, bukan?”
“Tadi
sudah kukatakan begitu,” Sei Hi menatap Kai.
“Kalau
begitu, tanyakan kepadanya bagaimana menghilangkan kutukan itu,” mata Kai
berbinar.
“Umm
… aku sudah menanyakannya.”
“Apa
katanya?” Kai terlihat bersemangat.
“Hanya
cinta sejatinya yang bisa menghilangkannya,” tutur Sei Hi. Saat itu Sei Hi
menunduk.
“Cinta
… sejati …?”
[Bersambung ....]
By : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar