About

Jumat, 07 November 2014

Dawn Wolf (Part 6)

Title    : Dawn Wolf
Author : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast     : All EXO’s members, Kim Sei Hi (OC), Han Bio Ka (OC), Yeon Seol Chan (OC), Park Shin Hye (OC), Patricia (OC)

Genre : Romance, adventure
***
Kai tersentak.
Shin Hye menunjuk benda bulat bercahaya di langit yang muncul di balik awan, “Asyik ya, menata kayu bakar di bawah sinar bulan.”
“Tidak perlu pakai lampu. Pakai cahaya bulan saja,” Bio mematikan lampu. “Sudah terang, kan?”
Kai merasa tidak enak. Tangannya menggenggam kayu dengan kuat, dan menyebabkan salah satu sisinya terkelupas.
“Oppa?” Seol Chan yang melihat Kai kaget. “Ada apa?”
Kai tidak menjawab. Ia meringis.
Kenapa bulan harus muncul sekarang?
Sei Hi memandang Kai dengan khawatir.
Cakar-cakar tajam muncul dari tangan Kai, menyebabkan empat gadis itu menjerit. Bulu-bulu hitam menyelimuti tubuh Kai, dan matanya memerah. Sei Hi menahan napas. Sekarang ia tahu, apa yang membuat Kyungsoo menarik Kai dari panggung ketika konser. Juga kenapa ia berada di hutan.
Sosok Kai berubah menjadi serigala. Matanya mendelik tajam. Sei Hi menelan ludah, kemudian berkata, “Oppa?”
Serigala itu melolong, kemudian menggeram dan menerjang Sei Hi. Sei Hi berteriak dan ia cepat-cepat melangkah mundur. Sosok serigala Kai mendekatinya. Sei Hi yang ketakutan, tak sadar kalau ia kini terpojok di sudut ruangan. Seol Chan, Shin Hye, dan Bio hanya mampu menganga, bingung apa yang harus dilakukan.
Sei Hi meringkuk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Serigala Kai mengaum ganas, hendak mencakar Sei Hi.
“Hentikan! Kubilang hentikan!”
Sosok hitam itu tertawa sinis, “Aku senang melakukan ini. Tidakkah kamu gembira melihatnya terpojok seperti itu? Kita tinggal mengayunkan cakar atau menggigit tengkuk gadis itu. Ia sudah mati.”
Aku tak kuat melihatnya. Sei Hi pasti tidak bisa berbuat apa-apa. Bila sosokku di sana mencakarnya, betapa aku tidak tahu balas budi. Aku sudah ditolongnya ketika bertarung dengan babi hutan. Sosok putih yang melintas waktu itu, Sei Hi. Aku baru sadar sekarang. Sosok putih itu bukan malaikat, bukan pula ajal. Dia Sei Hi yang membawaku kemari.
“Aku tidak ingin melakukannya. Aku ingin sosokku di sana berlari ke hutan,” aku melotot pada sosok itu. “Kumohon, buatlah diriku yang di sana berbalik dan pergi.”
“Tidak! Tadi sudah kukatakan aku senang melakukan ini,” sosok itu tertawa.
Aku tidak bisa membiarkannya mempengaruhiku. Aku yang harus mengambil alih diriku di sana.
Serigala itu tiba-tiba mematung. Ia menurunkan cakarnya. Matanya yang merah perlahan berubah kecokelatan. Sei Hi memandang Kai takut-takut.
“Oppa … jangan lakukan ini. Tolong,” Sei Hi berkata lirih.
Kai mundur satu langkah. Kemudian ia berbalik dan lari ke hutan. Sosoknya menghilang.
Sei Hi menarik napas lega, “Aku harus menemui Patricia. Apa yang dikatakannya benar.”
***
“Salam, Guru,” sapa Sei Hi. Ia menunduk pada seorang wanita tua yang sedang duduk menikmati indahnya alam.
“Kau, Sei Hi. Ada apa kau kemari?” sosok tua itu tersenyum.
“Aku ingin menanyakan perihal temanku yang tiba-tiba menjadi seekor serigala,” ujar Sei Hi.
Sosok itu yang bernama Patricia, menjawab, “Benar apa yang kukatakan, bukan? Kau sempat tidak mempercayainya.”
Sei Hi menangguk sopan.
Patricia mendesah, “Baiklah, aku akan menceritakan semuanya.”
Keduanya berbincang serius, sangat serius.
***
Sei Hi kembali. Sebelum ia pulang, ia memutuskan untuk mencari Kai. Cukup sulit mencarinya. Namun kemudian ditemukannya Kai tengah duduk bersandar pada pohon. Kepalanya menunduk.
“Oppa?” Sei Hi mendekat hati-hati.
Kai terdiam, tidak menjawab.
Sei Hi menghela napas. Dilepasnya jaket yang dikenakannya, lalu ia menyelimuti Kai dengannya. “Di sini dingin. Pakailah jaketku,” ucapnya pelan.
Angin berhembus. Suasana hening.
Kemudian tangan Kai tiba-tiba memegang lengan Sei Hi. Dengan lirih ia berkata, “Terima kasih jaketnya.”
“Sama-sama,” Sei Hi mengangguk. “Oppa, ada yang ingin kutanyakan. Tapi, bisakah kita kembali ke rumah dulu? Dingin sekali di sini.”
Kai tersenyum. Ia berdiri, kemudian berjalan berdampingan dengan Sei Hi menuju rumah.
“Oppa, apa ayahmu atau ibumu pernah membunuh serigala?”
***
“Aih, menyebalkan sekali!” gerutu Suho. “Lihatlah para paparazzi di luar sana. Kita jadi kesulitan keluar dorm.”
“Kalau kita keluar, mereka pasti menanyakan tentang Kai. Memangnya apa urusannya dengan mereka?” Baekhyun melongok keluar jendela. “Ada berapa paparazzi di sana? Satu … dua …”
“Hitunglah kalau bisa. Mereka seperti gerombolan semut,” sahut Chen.
“Memangnya kita gula sehingga dikerubuti? Dasar,” Suho menutup jendela. “Lupakan saja mereka.”
Luhan menarik koran yang berada di atas sofa, lalu membacanya. “Berita tentang Kai menjadi liputan utama di sini.”
Suho merebut koran itu dan menyobeknya dengan kasar. Dia mengumpat-umpat para paparazzi.
***
“Membunuh … serigala?”
Sei Hi menangguk.
“Memangnya kenapa?” Kai mengerutkan kening.
“Aku tanya. Ini ada hubungannya denganmu,” jawab Sei Hi.
“Umm …,” Kai mengingat-ingat. “Ayahku pernah ketika ia dulu berkemah, kemudian seekor serigala menyerangnya.”
“Lalu?”
“Lalu … ya … ditembaknya serigala itu,” lanjut Kai.
Sei Hi berpikir sejenak, “Selain peristiwa itu, mungkin di lain waktu pernah membunuh serigala lagi?”
“Tidak. Kedua orangtuaku penyayang binatang. Ayahku terpaksa menembak si serigala. Bila tidak, ia bisa mati,” tutur Kai.
“Oh,” Sei Hi mendesah. “Apa serigala yang dibunuh ayahmu ciri-cirinya berbulu hitam dengan sepasang mata merah?”
“Yap,” Kai mengiyakan. “Kata ayahku, itu serigala paling mengerikan yang pernah ditemuinya.”
“Sudah kuduga,” Sei Hi mendesah. “Karena begitulah rupamu saat menjadi serigala.”
Mata Kai melebar, “Yang benar saja?”
Sei Hi manggut-manggut.
“Astaga, betapa mengerikannya aku!” pekik Kai. Ia mengacak-acak rambutnya.
Sei Hi menarik napas, “Aku tahu apa yang menyebabkanmu menjadi werewolf.”
Kai berhenti mengacak rambut, “Apa?”
“Ayahmu dulu membunuh serigala milik penyihir ketika umurnya 20 tahun. Penyihir itu telah menganggap si serigala sebagai anaknya, maka penyihir itu mengutuk ayahmu bila ayahmu mempunyai anak dan tumbuh hingga berumur 20 tahun, dia akan menjadi manusia serigala,” jelas Sei Hi.
Kai terdiam. Ia mempautkan alis, “Dari mana kamu tahu?”
“Aku …,” Sei Hi meremas-remas bajunya. “Perlukah kuceritakan yang sebenarnya?”
“Sebenarnya … maksudmu?”
“Aku bukan manusia. Aku … peri yang diutus ke sini.”
“Peri?” Kai tersentak.
“Aku dikirim ke sini oleh Patricia, penasihat kerajaan peri yang tahu segalanya. Patricia sebelumnya telah mengirim Yeajin, tapi sepertinya Yeajin tak mampu menghalangi kutukan itu. Jadi, Patricia mengutusku,” lanjut Sei Hi.
Kai kaget, “Yeajin? Kim Yeajin maksudmu?”
“Hm,” Sei Hi mengangguk. “Yeajin tentu sudah kalian kenal kan? Dia seorang peri. Tepatnya, keluarganya peri.”
Kai terpaku.
“Keluarga Yeajin istimewa. Aku bahkan iri melihat mereka. Keluarga Yeajin dipercaya oleh Patricia untuk menyimpan kekuatan alam, dua belas kekuatan luar biasa itu.”
Mata Kai membesar.
“Botol yang berisi kekuatan kalau tidak salah diletakkan di rak nomor tiga, tiga dari kiri, dan tiga dari atas. Kenapa serba tiga? Karena tiga adalah simbol keluarga Yeajin, simbol kehormatan dalam dunia peri.”
“Bukannya tiga disebut angka sial?” tanya Kai.
“Orang-orang di duniamu berpendapat begitu, tetapi tidak dengan para peri. Angka tiga di duniaku dianggap pembawa keberuntungan. Selalu ada rezeki di balik angka tiga,” jawab Sei Hi.
Kai manggut-manggut.
“Aku tahu kamu terkena kutukan itu dari Patricia. Aku pergi menemuinya saat kamu menjadi serigala,” ujar Sei Hi.
Kai menghela napas, “Patricia tahu semuanya, bukan?”
“Tadi sudah kukatakan begitu,” Sei Hi menatap Kai.
“Kalau begitu, tanyakan kepadanya bagaimana menghilangkan kutukan itu,” mata Kai berbinar.
“Umm … aku sudah menanyakannya.”
“Apa katanya?” Kai terlihat bersemangat.
“Hanya cinta sejatinya yang bisa menghilangkannya,” tutur Sei Hi. Saat itu Sei Hi menunduk.
“Cinta … sejati …?”
[Bersambung ....]
By : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar