Author : AnTaIsTa
(Annisa, Shinta, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast : All
EXO’s members, Kim Sei Hi (OC), Han Bio Ka (OC), Yeon Seol Chan (OC), Park Shin Hye (OC), Patricia (OC)
Genre : Romance, adventure
***
“Kai juga aneh menurutku,” Baekhyun menimpali. “Tadi
Chanyeol sempat membuka jendela sebelum Kai meniup lilin bukan? Saat itu ia
ikut melihat bulan dan tidak terjadi apa-apa. Tapi setelah meniup lilin, dan ia
melihat bulan, kenapa tiba-tiba ia jadi serigala?”
“Yang penting kita harus kembali ke dorm. Dorm kita
sangat berantakan. Lagipula, lukanya Kyungsoo harus segera diobati,” Chanyeol
menarik napas. “Semoga Kai baik-baik saja di hutan.”
***
Paginya, mereka terdiam di ruang tengah. Saling
memandang tanpa pembicaraan yang berarti. Chen dibantu Suho mengobati luka
Kyungsoo. Sementara yang lain hanya memandangi gerak-gerik ketiga namja itu.
“Kenapa kamu berubah seperti itu?” Sehun melempar
pandangan keluar jendela. “Kai-ah ….”
Selang beberapa menit setelah Sehun berkata
demikian, handphone Suho berdering. Suho meninggalkan Kyungsoo sebentar
untuk mengangkat handphone-nya.
“Annyeonghaseyo,” ujar Suho mengawali
percakapan.
“Suho-ah? Aku lupa memberitahu kalian kemarin. Nanti
jam sembilan pagi semua personil XOXO harus ke tempat latihan untuk persiapan konser
jam lima sore. Konsernya di Dangshin City. Tak hanya kalian yang hadir. Artis
SM lainnya juga ikut serta. Jadi, aku berharap kalian semua lengkap dan tidak
boleh terlambat ke tempat latihan. Ini konser yang penting!”
Suho kaget mendengar kata-kata manager XOXO
di telepon barusan. Ia menelan ludah. Bagaimana dengan Kai?
“Ya, saya akan memberitahu teman-teman. Gomawo,”
Suho menutup telepon. Ia meletakkan handphone-nya, kemudian berjalan ke
ruang tengah. Teman-temannya masih di sana, diam seribu bahasa.
Chanyeol angkat bicara, “Siapa yang telepon?”
“Manager,” Suho menjawab singkat. “Katanya
kita ada konser di Dangshin City. Jam sembilan nanti kita ke tempat latihan. Ia
berharap kita semua hadir. Lengkap dan tak ada yang terlambat. Ini konser yang
penting ucapnya.”
Tidak ada komentar.
“Tapi, Kai bagaimana? Kalian tentu tahu bagaimana
reaksi manager kalau kita tidak lengkap,” Suho melanjutkan.
Masih hening.
Suho dengan pasrah membanting tubuhnya ke sofa. Chen
yang baru saja selesai mengobati Kyungsoo berkata, “Tenang saja. Kita yakinkan manager
kalau Kai ada urusan lain. Tapi jangan beritahu manager soal tadi
malam.”
“Ya,” timpal Baekhyun. “Suho hyung, kau tidak bilang
apa-apa soal Kai di telepon tadi?”
Suho menggeleng.
“Harusnya kau bilang! Entah alasannya tidak enak
badan atau lainnya. Jika begini, manager akan tahu kita ada masalah.
Masa kamu tidak bicara soal Kai sementara seolah-olah kau tahu Kai sakit?
Padahal kita semua harus hadir di konser itu!” tutur Baekhyun.
“Maksudmu?” tanya Luhan.
Baekhyun menghela napas sejenak. “Misalnya kita
memberi alasan pada manager kalau Kai sedang sakit. Berarti latar
suasananya, Kai sedang sakit sehingga ia tidak bisa ikut konser. Maka dari itu,
sudah semestinya Suho berkata pada manager kalau Kai sakit. Dan tadi Suho tidak
bilang apapun terkait Kai. Manager bisa mencurigai kita.”
Teman-temannya mendengar penjelasannya. Tapi mereka
hanya melongo seperti sapi ompong.
Baekhyun dengan kesal menepuk pipinya, “Sudahlah,
lupakan saja.”
***
Jam
sembilan kurang lima menit.
Chanyeol
membuka pintu. Kesebelas namja itu sampai di ruang latihan. Ramai sekali.
Artis-artis SM tampak di sana. Mereka sibuk sendiri dengan keperluan mereka.
Dari
arah yang tidak diketahui, manager
XOXO menghampiri XOXO, “Akhirnya kalian datang. Sudah kutunggu dari tadi.”
Matanya melirik ke sana-kemari, “Umm … Kai mana?”
Suho
agak gugup, “Di … dia sedang tidak enak badan.”
Manager
yang melihat kegugupan Suho bertanya, “Benarkah?”
Chanyeol
mengambil alih, “Ya, Kai sedang sakit. Sebaiknya noona jangan menjenguknya. Dia
butuh waktu untuk tidak diganggu.”
Manager
terdiam. Ia memandang Chanyeol, “Kau berbohong.”
Mereka
tersentak.
“Wajah
Chanyeol selalu berkata, ‘Aku sedang berbohong.’ bila ia berbohong,” manager menghela napas. “Ada apa dengan
Kai sekarang?”
“Dia
sedang sakit, sungguh. Aku … aku tidak berbohong,” Chanyeol berusaha
menyakinkan manager, sedangkan
jantungnya berdegup kencang.
“Ya,
benar, noona. Biarkan dia tidak ikut konser untuk hari ini,” pinta Kyungsoo.
“Khusus hari ini.”
“Tapi
ini hari yang penting,” nada bicara manager
meninggi. “Penontonnya jutaan, dan ada pula presiden Korea di sana. Aku harus
memastikan kalian lengkap.”
Mereka
membisu.
“Aku
tidak peduli. Yang jelas aku ingin Kai ada di konser, walaupun ketika latihan ia
sakit seperti bualanmu,” manager
berlalu.
***
“Selamat
malam,” seorang lelaki jangkung dengan langkah tegap memasuki panggung. Ia
dengan ramah menyapa para penonton. “Baik, mari kita sambut penampilan pertama
sebagai pembuka acara ini yang diisi oleh SM Entertainment. Ini dia, SNSD,
XOXO, f(x), SHINee, dan TVXQ! Silakan.”
Lagu
Seoul Song mereka nyanyikan dengan sempurna. XOXO juga berusaha tampil
semaksimal mungkin, meski Kai tidak hadir di antara mereka. Mereka
membungkukkan badan seusai bernyanyi, disambut tepuk tangan meriah dari
penonton.
Sehun
merenggut tangan Chanyeol tiba-tiba, “Hyung, aku takut.”
“Aku
juga,” balas Chanyeol. “Apa yang harus kita katakan pada jutaan orang di ujung
sana?”
Belum
sempat Sehun menjawab, sang MC berkata, “Kemudian penampilan selanjutnya. Yaitu
Sehun, Chanyeol, dan Kai dari XOXO, serta Key SHINee yang akan membawakan lagu
Two Moons beserta dance-nya.”
MC
memberi isyarat pada mereka untuk tampil. Sehun kebingungan, “Hyung! Bagaimana
ini?”
“Tenang,
tenangkan dirimu,” Chanyeol menarik napas. Ia mulai tenang. Tetapi ketika Key
memanggil mereka, Chanyeol langsung panik. “Sehun-ah, aku jadi gugup.”
Dengan
kaki bergetar, keduanya ke stage.
Mereka bertiga terdiam, Key sendiri bingung.
“Ada
apa dengan kalian? Lalu, di mana Kai? Oh ya, aku juga tidak melihat Kai di
ruang latihan,” tanya Key berturut-turut.
“Di
mana Kai?” teriak salah satu penonton.
“Ya,
di mana Kai? Aku tidak melihatnya tadi,” seru yang lain.
Kemudian
mendadak suasana ricuh. Chanyeol dan Sehun hanya terpaku diam. Keduanya
menggeleng bersamaan.
Para
fans yang berada di dekat mereka sontak melempari Chanyeol dan Sehun dengan
botol.
“Hyung,
kenapa jadi begini?” Sehun memeluk tangan Chanyeol dan membawanya ke backstage. Para penonton kecewa akan
penampilan mereka. Tak biasanya XOXO demikian.
Di
backstage, XOXO terlihat panik. Key
mendekati mereka, “Chanyeol-ah, dan Sehun-ah, ada apa? Kenapa kalian sampai
sebegitu gugupnya, padahal hanya satu personil yang tidak tampil?”
Chen
menyahut, “Mereka mungkin terlalu memikirkan Kai.”
“Kai
kenapa?” tanya Key.
“Sakit,”
Xiumin menimpali.
Key
setelah itu berpaling dan pergi.
Manager
XOXO mendekat, “Kumohon kalian jujur. Ada apa dengan Kai? Dan, kenapa XOXO bisa
kacau seperti ini padahal hanya satu orang yang tidak ada? Kalian benar-benar
mengecewakanku! Mau kau taruh di mana mukaku ini?”
Kesebelas
namja itu tidak berkomentar. Amarah sang manager
benar-benar menakutkan.
“Hal
ini tidak boleh terulang. Bila terjadi lagi, aku akan minta pihak SM untuk
mengeluarkan kalian dari SM Entertainment. Mengerti?” ancam sang manager. Kemudian ia pergi.
Mereka
akhirnya memutuskan untuk kembali ke dorm, meskipun konser belum berakhir.
Xiumin menarik napas, “Seandainya Kai ada, semua ini tak mungkin terjadi.”
Luhan
mendekap Xiumin, “Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Aku masih bingung kenapa Kai
berubah seperti itu.”
“Aku
menyayangi Kai,” suara lirih Kyungsoo terdengar. Chanyeol meliriknya. Kata-kata
itu pernah ia dengar dari mulut Kyungsoo, dulu ketika mengira Kai mati
tertabrak mobil setelah audisi SM.
Chanyeol
memeluk Kyungsoo, “Saranghaeyo
Kai-ah.”
***
Beberapa
hari berlalu, dan Kai belum kembali. XOXO tidak diijinkan tampil di hadapan
publik oleh SM setelah kejadian itu. Jadi mereka hanya menghabiskan waktu
dengan kegiatan yang membosankan.
Pagi
itu, Chen bangun terlebih dahulu. Ia mengucek matanya, dan membuka tirai kamar.
Sinar mentari menerobos masuk. Aih, hangatnya.
Chen
menghela napas, lalu membuka pintu kamar. Seketika, ia terlonjak kaget. Ada
jejak misterius di lantai dorm mereka. Jejak kaki manusia yang penuh lumpur dan
tanah.
Chen
mengikuti ke mana jejak itu pergi. Rupanya jejak itu berhenti di depan kamar
Kai. Chen terdiam sejenak. Ada perasaan aneh di benaknya. Perasaan senang
kemungkinan Kai pulang dan perasaan takut yang bercampur aduk. Perlahan, Chen
membuka pintu kamar Kai.
Ada
seseorang berselimut, tidur nyenyak di atas ranjang.
“Kai-ah?”
Chen melangkah mendekat. Ia membuka selimut orang itu. Sekejap, senyumnya tersungging.
“Syukurlah kamu kembali.”
***
[Bersambung ....]
By : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar