About

Jumat, 07 November 2014

Dawn Wolf (Part 3)

Title    : Dawn Wolf
Author : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast     : All EXO’s members, Kim Sei Hi (OC), Han Bio Ka (OC), Yeon Seol Chan (OC), Park Shin Hye (OC), Patricia (OC)

Genre : Romance, adventure
***
“Kai juga aneh menurutku,” Baekhyun menimpali. “Tadi Chanyeol sempat membuka jendela sebelum Kai meniup lilin bukan? Saat itu ia ikut melihat bulan dan tidak terjadi apa-apa. Tapi setelah meniup lilin, dan ia melihat bulan, kenapa tiba-tiba ia jadi serigala?”
“Yang penting kita harus kembali ke dorm. Dorm kita sangat berantakan. Lagipula, lukanya Kyungsoo harus segera diobati,” Chanyeol menarik napas. “Semoga Kai baik-baik saja di hutan.”
***

Paginya, mereka terdiam di ruang tengah. Saling memandang tanpa pembicaraan yang berarti. Chen dibantu Suho mengobati luka Kyungsoo. Sementara yang lain hanya memandangi gerak-gerik ketiga namja itu.
“Kenapa kamu berubah seperti itu?” Sehun melempar pandangan keluar jendela. “Kai-ah ….”
Selang beberapa menit setelah Sehun berkata demikian, handphone Suho berdering. Suho meninggalkan Kyungsoo sebentar untuk mengangkat handphone-nya.
Annyeonghaseyo,” ujar Suho mengawali percakapan.
Suho-ah? Aku lupa memberitahu kalian kemarin. Nanti jam sembilan pagi semua personil XOXO harus ke tempat latihan untuk persiapan konser jam lima sore. Konsernya di Dangshin City. Tak hanya kalian yang hadir. Artis SM lainnya juga ikut serta. Jadi, aku berharap kalian semua lengkap dan tidak boleh terlambat ke tempat latihan. Ini konser yang penting!
Suho kaget mendengar kata-kata manager XOXO di telepon barusan. Ia menelan ludah. Bagaimana dengan Kai?
“Ya, saya akan memberitahu teman-teman. Gomawo,” Suho menutup telepon. Ia meletakkan handphone-nya, kemudian berjalan ke ruang tengah. Teman-temannya masih di sana, diam seribu bahasa.
Chanyeol angkat bicara, “Siapa yang telepon?”
Manager,” Suho menjawab singkat. “Katanya kita ada konser di Dangshin City. Jam sembilan nanti kita ke tempat latihan. Ia berharap kita semua hadir. Lengkap dan tak ada yang terlambat. Ini konser yang penting ucapnya.”
Tidak ada komentar.
“Tapi, Kai bagaimana? Kalian tentu tahu bagaimana reaksi manager kalau kita tidak lengkap,” Suho melanjutkan.
Masih hening.
Suho dengan pasrah membanting tubuhnya ke sofa. Chen yang baru saja selesai mengobati Kyungsoo berkata, “Tenang saja. Kita yakinkan manager kalau Kai ada urusan lain. Tapi jangan beritahu manager soal tadi malam.”
“Ya,” timpal Baekhyun. “Suho hyung, kau tidak bilang apa-apa soal Kai di telepon tadi?”
Suho menggeleng.
“Harusnya kau bilang! Entah alasannya tidak enak badan atau lainnya. Jika begini, manager akan tahu kita ada masalah. Masa kamu tidak bicara soal Kai sementara seolah-olah kau tahu Kai sakit? Padahal kita semua harus hadir di konser itu!” tutur Baekhyun.
“Maksudmu?” tanya Luhan.
Baekhyun menghela napas sejenak. “Misalnya kita memberi alasan pada manager kalau Kai sedang sakit. Berarti latar suasananya, Kai sedang sakit sehingga ia tidak bisa ikut konser. Maka dari itu, sudah semestinya Suho berkata pada manager kalau Kai sakit. Dan tadi Suho tidak bilang apapun terkait Kai. Manager bisa mencurigai kita.”
Teman-temannya mendengar penjelasannya. Tapi mereka hanya melongo seperti sapi ompong.
Baekhyun dengan kesal menepuk pipinya, “Sudahlah, lupakan saja.”
***
Jam sembilan kurang lima menit.
Chanyeol membuka pintu. Kesebelas namja itu sampai di ruang latihan. Ramai sekali. Artis-artis SM tampak di sana. Mereka sibuk sendiri dengan keperluan mereka.
Dari arah yang tidak diketahui, manager XOXO menghampiri XOXO, “Akhirnya kalian datang. Sudah kutunggu dari tadi.” Matanya melirik ke sana-kemari, “Umm … Kai mana?”
Suho agak gugup, “Di … dia sedang tidak enak badan.”
Manager yang melihat kegugupan Suho bertanya, “Benarkah?”
Chanyeol mengambil alih, “Ya, Kai sedang sakit. Sebaiknya noona jangan menjenguknya. Dia butuh waktu untuk tidak diganggu.”
Manager terdiam. Ia memandang Chanyeol, “Kau berbohong.”
Mereka tersentak.
“Wajah Chanyeol selalu berkata, ‘Aku sedang berbohong.’ bila ia berbohong,” manager menghela napas. “Ada apa dengan Kai sekarang?”
“Dia sedang sakit, sungguh. Aku … aku tidak berbohong,” Chanyeol berusaha menyakinkan manager, sedangkan jantungnya berdegup kencang.
“Ya, benar, noona. Biarkan dia tidak ikut konser untuk hari ini,” pinta Kyungsoo. “Khusus hari ini.”
“Tapi ini hari yang penting,” nada bicara manager meninggi. “Penontonnya jutaan, dan ada pula presiden Korea di sana. Aku harus memastikan kalian lengkap.”
Mereka membisu.
“Aku tidak peduli. Yang jelas aku ingin Kai ada di konser, walaupun ketika latihan ia sakit seperti bualanmu,” manager berlalu.
***
“Selamat malam,” seorang lelaki jangkung dengan langkah tegap memasuki panggung. Ia dengan ramah menyapa para penonton. “Baik, mari kita sambut penampilan pertama sebagai pembuka acara ini yang diisi oleh SM Entertainment. Ini dia, SNSD, XOXO, f(x), SHINee, dan TVXQ! Silakan.”
Lagu Seoul Song mereka nyanyikan dengan sempurna. XOXO juga berusaha tampil semaksimal mungkin, meski Kai tidak hadir di antara mereka. Mereka membungkukkan badan seusai bernyanyi, disambut tepuk tangan meriah dari penonton.
Sehun merenggut tangan Chanyeol tiba-tiba, “Hyung, aku takut.”
“Aku juga,” balas Chanyeol. “Apa yang harus kita katakan pada jutaan orang di ujung sana?”
Belum sempat Sehun menjawab, sang MC berkata, “Kemudian penampilan selanjutnya. Yaitu Sehun, Chanyeol, dan Kai dari XOXO, serta Key SHINee yang akan membawakan lagu Two Moons beserta dance-nya.”
MC memberi isyarat pada mereka untuk tampil. Sehun kebingungan, “Hyung! Bagaimana ini?”
“Tenang, tenangkan dirimu,” Chanyeol menarik napas. Ia mulai tenang. Tetapi ketika Key memanggil mereka, Chanyeol langsung panik. “Sehun-ah, aku jadi gugup.”
Dengan kaki bergetar, keduanya ke stage. Mereka bertiga terdiam, Key sendiri bingung.
“Ada apa dengan kalian? Lalu, di mana Kai? Oh ya, aku juga tidak melihat Kai di ruang latihan,” tanya Key berturut-turut.
“Di mana Kai?” teriak salah satu penonton.
“Ya, di mana Kai? Aku tidak melihatnya tadi,” seru yang lain.
Kemudian mendadak suasana ricuh. Chanyeol dan Sehun hanya terpaku diam. Keduanya menggeleng bersamaan.
Para fans yang berada di dekat mereka sontak melempari Chanyeol dan Sehun dengan botol.
“Hyung, kenapa jadi begini?” Sehun memeluk tangan Chanyeol dan membawanya ke backstage. Para penonton kecewa akan penampilan mereka. Tak biasanya XOXO demikian.
Di backstage, XOXO terlihat panik. Key mendekati mereka, “Chanyeol-ah, dan Sehun-ah, ada apa? Kenapa kalian sampai sebegitu gugupnya, padahal hanya satu personil yang tidak tampil?”
Chen menyahut, “Mereka mungkin terlalu memikirkan Kai.”
“Kai kenapa?” tanya Key.
“Sakit,” Xiumin menimpali.
Key setelah itu berpaling dan pergi.
Manager XOXO mendekat, “Kumohon kalian jujur. Ada apa dengan Kai? Dan, kenapa XOXO bisa kacau seperti ini padahal hanya satu orang yang tidak ada? Kalian benar-benar mengecewakanku! Mau kau taruh di mana mukaku ini?”
Kesebelas namja itu tidak berkomentar. Amarah sang manager benar-benar menakutkan.
“Hal ini tidak boleh terulang. Bila terjadi lagi, aku akan minta pihak SM untuk mengeluarkan kalian dari SM Entertainment. Mengerti?” ancam sang manager. Kemudian ia pergi.
Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke dorm, meskipun konser belum berakhir. Xiumin menarik napas, “Seandainya Kai ada, semua ini tak mungkin terjadi.”
Luhan mendekap Xiumin, “Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Aku masih bingung kenapa Kai berubah seperti itu.”
“Aku menyayangi Kai,” suara lirih Kyungsoo terdengar. Chanyeol meliriknya. Kata-kata itu pernah ia dengar dari mulut Kyungsoo, dulu ketika mengira Kai mati tertabrak mobil setelah audisi SM.
Chanyeol memeluk Kyungsoo, “Saranghaeyo Kai-ah.”
***
Beberapa hari berlalu, dan Kai belum kembali. XOXO tidak diijinkan tampil di hadapan publik oleh SM setelah kejadian itu. Jadi mereka hanya menghabiskan waktu dengan kegiatan yang membosankan.
Pagi itu, Chen bangun terlebih dahulu. Ia mengucek matanya, dan membuka tirai kamar. Sinar mentari menerobos masuk. Aih, hangatnya.
Chen menghela napas, lalu membuka pintu kamar. Seketika, ia terlonjak kaget. Ada jejak misterius di lantai dorm mereka. Jejak kaki manusia yang penuh lumpur dan tanah.
Chen mengikuti ke mana jejak itu pergi. Rupanya jejak itu berhenti di depan kamar Kai. Chen terdiam sejenak. Ada perasaan aneh di benaknya. Perasaan senang kemungkinan Kai pulang dan perasaan takut yang bercampur aduk. Perlahan, Chen membuka pintu kamar Kai.
Ada seseorang berselimut, tidur nyenyak di atas ranjang.
“Kai-ah?” Chen melangkah mendekat. Ia membuka selimut orang itu. Sekejap, senyumnya tersungging. “Syukurlah kamu kembali.”

***
[Bersambung ....]
By : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar