Title : Knight Under The Light
Author : An
(Annisa)
Length :
Chaptered
Cast : Kim Soon Hi (OC), Jack (OC), Oh Sehun
(EXO)
Genre :
Adventure
***
Exoca, 9
September 107.
“Jack!”
Lelaki jakung
berkulit putih itu berbalik.
“Jack!” napasnya
naik-turun. “Ini, bawalah ke Bumi.”
Lelaki bernama
Jack itu menerima seorang bayi mungil, diselimuti kain putih. Tubuhnya hangat,
tidak seperti Exoplanet yang sekarang.
“Bawalah
hati-hati. Jaga ia sampai bertemu keluarganya,” wanita paruh baya itu
tersenyum. “Perang kudeta ini takkan berakhir. Worth akan terus meneror kita.
Kondisi itu berbahaya untuk adikmu, Vinessa.”
Jack memandang
bayi yang ia gendong, “Namanya Vinessa?”
“Ya,” wanita itu
mengecup dahi si bayi. “Jaga ia untukku, Jack. Aku akan ke medan perang.”
“Bu,” Jack
meraih tangan wanita itu. “Ibu baru saja melahirkan, kan? Kenapa terburu-buru?
Istirahatlah dulu.”
“Aku sudah
mengobati diriku sendiri, Jack,” wanita itu tersenyum lagi. “Pergilah
sekarang.”
Jack mengangguk.
Wanita itu, dengan sekali hentakan, melayang ke langit. Menembus awan, lalu ia
menjelajah Exoca menuju medan perang.
Jack menghela
napas. Ia mendongak, menatap langit yang makin lama makin kelam. Asap hitam
keabu-abuan tak kunjung menghilang. Tetap saja berada di langit, tak
mengijinkan cahaya masuk.
Kejam.
***
Soon Hi memasuki
halaman kampusnya. Ramai sekali di sana. Banyak mahasiswa-mahasiswi yang
berseliweran ke sana-kemari. Soon Hi berjalan terus menuju fakultasnya yang
berada di ujung jalan.
Ia mendorong
pintu kaca, menggesekkan kartu pelajarnya di pintu masuk, lalu melewati
beberapa lorong dan akhirnya sampai di kelasnya. Soon Hi melangkah ke dalam,
mencari bangku yang kosong.
“Sehun,
Sehun-ah, lihat di sebelahmu itu.”
Bisikan itu
lagi-lagi terdengar. Soon Hi menoleh ke kanan.
Tak jauh dari
tempatnya berdiri, ada segerombolan anak laki-laki yang berkumpul. Salah
satunya Sehun, entertainer yang cukup terkenal di daerah itu. Ada desas-desus kalau Sehun itu
menyukai Soon Hi, entah dari mana berita itu berasal. Tapi Soon Hi sendiri
tidak menghiraukannya dan sepertinya berita itu hanya bualan belaka. Sehun saja
tidak terlihat seperti menyukai Soon Hi.
Sehun tidak
menggubris kicauan teman-temannya. Ia tetap bersikap cool dan berpura-pura tidak mendengarnya. Ia memasang earphone dan mengeraskan volume lagu
yang diputarnya agar ucapan teman-temannya tak satupun yang masuk ke telinga.
Soon Hi
melanjutkan langkahnya, meninggalkan gerombolan lelaki tersebut.
“Soon Hi-yah! Di
sini!”
Seorang yeoja
melambaikan tangannya pada Soon Hi. Soon Hi tersenyum dan berlari ke arahnya.
“Eonni, aku
mencarimu dari tadi,” Soon Hi meletakkan tasnya di samping yeoja itu.
Yeoja itu, Kim
Sooyoung, tersenyum. “Apa mereka menggodamu lagi?” Sooyoung menuding Sehun dan
kawan-kawannya.
Soon Hi
mendesah, “Yah, begitulah.”
Sooyoung tertawa
kecil.
“Kenapa mereka
selalu melakukan itu, sih? Apa gara-gara berita konyol itu? Tapi jelas-jelas
Sehun tidak menyukaiku, dan aku juga tidak menyukainya,” Soon Hi membuka
bukunya dengan sedikit menggerutu.
Sooyoung hanya
tersenyum mendengarnya. Dalam hati, ia menggumamkan sesuatu.
***
Setelah kuliah
berakhir, Sooyoung pamit pada Soon Hi dan menghilang bersama teman-temannya.
Katanya, ia ada perlu di bagian administrasi. Soon Hi hanya menyanggupi dan
berlalu dari kelasnya. Baru saja ia melangkah, Sehun dan teman-temannya lewat
di dekatnya. Untuk kesekian kalinya, teman sepermainannya Sehun kembali
menggoda Soon Hi dan Sehun. Sehun masih saja bersikap cuek dan justru berjalan
mendahului teman-temannya.
Soon Hi bergegas
pergi dari situ sebelum mereka bertambah parah. Ia membelok keluar kampus dan
berjalan pulang. Beberapa menit kemudian, ia sampai di halte. Jarak rumahnya ke
kampus cukup jauh, kira-kira lima kilometer. Ia harus berjalan ke halte, lalu
naik angkutan umum menuju gerbang perumahannya. Dari sana ia turun dan berjalan
lagi.
Soon Hi
mendekati loket. Cukup ramai di situ. Ia bahkan harus mengantre. Setelah
menunggu beberapa menit, Soon Hi akhirnya mendapat giliran. Ia mendekati si
penjaga loket.
“Satu tiket ke
arah …,” belum sempat Soon Hi selesai berbicara, si penjaga loket menyahut.
“Maaf, Nona.
Tiketnya sudah habis. Nanti siang datanglah lagi.”
Dengan lunglai,
ia melangkah keluar halte. Selama lima belas menit, ia hanya berdiri di sisi
jalan, memandangi kendaraan yang melintas di depannya. Soon Hi kebingungan apa
yang harus dilakukannya. Masa ia harus berjalan lima kilometer?
Soon Hi menghela
napas, kemudian mulai melangkahkan kaki. Yah, apa boleh buat. Karena tidak
menemukan angkutan untuknya, terpaksa ia harus jalan kaki.
Cuaca semakin
terik. Soon Hi merapat ke pinggir, mencari tempat untuk berteduh. Bangunan tua
yang berada di sisi jalan menaunginya. Lumayan, ia tidak perlu merasa kepanasan
lagi.
Soon Hi terus
berjalan. Banyak orang yang berjualan di trotoar, membuat jalan itu menjadi
pasar dadakan. Soon Hi harus melangkah dengan hati-hati agar tidak menginjak
barang yang dijual.
Tiba-tiba, ada
perasaan aneh menyelubungi hatinya.
Soon Hi
tertegun. Ia berhenti melangkah. Ada yang tidak enak.
Orang-orang
berlalu-lalang di dekatnya. Para penjual juga sibuk menawarkan dagangannya,
disambut sahutan dari para pembeli. Ramai, tentu saja. Tapi ada firasat aneh
yang membuat Soon Hi merasa kesepian.
Soon Hi sendiri
bingung apa yang dirasakannya. Sesuatu seperti … jeritan, tangisan.
Sekonyong-konyong hidungnya mencium bau darah. Apa ini?
Soon Hi
memandang sekeliling. Tidak ada yang berjualan daging atau semacamnya yang
mengandung darah. Di sini penuh dengan sayur-mayur juga snack. Dari mana bau ini berasal?
Sekali lagi, ada
perasaan aneh dalam dirinya. Kali ini berasal dari tatapan ganjil seorang pria
yang berdiri di samping pedagang roti. Tatapan itu mengerikan. Secara tidak
langsung mengintimidasi orang yang ditatapnya. Pria itu seperti … akan
membunuhnya.
Soon Hi
buru-buru membalikkan badan dan mempercepat langkah. Ia tidak ingin menoleh ke
belakang. Terlalu mengerikan untuk dilihat.
Seketika, ia
sadar pria itu membuntutinya. Mengikuti tiap langkahnya dengan misterius. Soon
Hi mulai panik. Ia terus mempercepat langkah, sampai setengah berlari. Namun
pria itu tetap saja mengekornya, entah apa yang diinginkannya dari Soon Hi.
Soon Hi akhirnya
berlari. Ia melompati beberapa dagangan yang diletakkan di trotoar, juga
terkadang menabrak orang-orang yang ada di situ. Soon Hi terus berlari, masa
bodoh dengan omelan dan caci maki orang-orang tersebut.
Namun, mendadak
perasaan aneh yang meliputi hatinya, lenyap. Soon Hi mencoba menoleh ke
belakang.
Pria itu
menghilang!
Soon Hi
berhenti. Ia mengatur napasnya. Setelah itu ia tersenyum lega.
“Syukurla …”
Belum selesai ia
berkata, ada sebuah tangan yang mencengkeram kerah bajunya dan menggoyangnya
dengan kasar. Soon Hi sempat menjerit karenanya. Tapi anehnya, tak satupun
orang di situ yang mendengarnya.
Pria itu muncul
lagi! Dia menarik Soon Hi menuju gang sempit di antara dua gedung tua. Soon Hi
tak mampu melawan. Tenaganya terlalu kecil jika dibandingkan dengan pria itu.
Sang pria
menyeretnya ke tembok, lalu mengangkat Soon Hi tinggi-tinggi sampai kakinya tak
bisa menyentuh tanah. Soon Hi meronta-ronta diturunkan. Pria itu menatap Soon
Hi dengan tajam. Matanya melotot menakutkan, seolah matanya hampir melompat
keluar.
Soon Hi berhenti
bergerak. Pandangan itu membuatnya getir. Apa yang dilakukan pria ini padanya?
Apa maunya?
Soon Hi
memberanikan diri berbicara, “Apa … apa yang kau inginkan dariku?”
“Apa yang aku
inginkan?” sang pria berucap galak. Tiba-tiba, sebuah tangan keluar dari dalam
tubuhnya. Sambil memegang pisau, tangan itu muncul dari balik punggung. Soon Hi
semakin ketakutan dibuatnya. Siapa sebenarnya pria ini?
“Apa yang aku
inginkan?” pria itu menyeringai. “Aku ingin kau mati!”
Soon Hi
membelalak, “Apa salahku?”
“Bila kau mati,
maka tidak ada lagi penerus kekuatan pengendali benda dari nenek moyangmu.
Worth akan segera menguasai Exoplanet, dan itu yang Gargant inginkan,” ujar
pria itu. Kerutan wajahnya mengeras, dan pipinya mengurus mendadak. Tulang
rahangnya terlihat dengan jelas. Senyumnya mengerikan, ditambah matanya yang
melotot.
Soon Hi tidak
mengerti, “Maaf, mungkin kau salah orang.”
“Salah orang
katamu?!” kulit pria itu bertambah hitam. Ototnya membesar, rambutnya yang
putih bertambah panjang. “Ah, aku tahu bagaimana Jack mengajarimu. Dia sosok
yang cerdas, dan pasti ia menularkan kecerdasannya padamu. Kau pura-pura tidak
mengenalku, kan?”
“Aku benar-benar
tidak mengenalmu,” Soon Hi berbicara takut-takut. Ia bingung dengan semua ini.
Worth? Jack? Exoplanet? Gargant? Apa itu semua?
Pria itu
bertambah marah. Wajahnya memerah, denyut nadinya bertambah. Tiba-tiba ada satu
tangan lagi yang muncul dari punggung, membuat total tangannya menjadi empat.
Tiap tangannya memegang pisau, yang semuanya mengarah pada Soon Hi.
“Kau belum
pernah melihat amarahku, ya?” ia menggerakkan seluruh pisau itu. Soon Hi
meronta, berusaha melepaskan diri. Tidak mungkin. Kekuatan pria itu terlalu
hebat untuk dilawan.
JLEB!
***
[Bersambung ....]
By : An (Annisa)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar