About

Sabtu, 30 Agustus 2014

Knight Under The Light (Part 1)

Title    : Knight Under The Light
Author : An (Annisa)
Length : Chaptered
Cast     : Kim Soon Hi (OC), Jack (OC), Oh Sehun (EXO)
Genre : Adventure
***
Exoca, 9 September 107.
“Jack!”
Lelaki jakung berkulit putih itu berbalik.
“Jack!” napasnya naik-turun. “Ini, bawalah ke Bumi.”
Lelaki bernama Jack itu menerima seorang bayi mungil, diselimuti kain putih. Tubuhnya hangat, tidak seperti Exoplanet yang sekarang.
“Bawalah hati-hati. Jaga ia sampai bertemu keluarganya,” wanita paruh baya itu tersenyum. “Perang kudeta ini takkan berakhir. Worth akan terus meneror kita. Kondisi itu berbahaya untuk adikmu, Vinessa.”
Jack memandang bayi yang ia gendong, “Namanya Vinessa?”

“Ya,” wanita itu mengecup dahi si bayi. “Jaga ia untukku, Jack. Aku akan ke medan perang.”
“Bu,” Jack meraih tangan wanita itu. “Ibu baru saja melahirkan, kan? Kenapa terburu-buru? Istirahatlah dulu.”
“Aku sudah mengobati diriku sendiri, Jack,” wanita itu tersenyum lagi. “Pergilah sekarang.”
Jack mengangguk. Wanita itu, dengan sekali hentakan, melayang ke langit. Menembus awan, lalu ia menjelajah Exoca menuju medan perang.
Jack menghela napas. Ia mendongak, menatap langit yang makin lama makin kelam. Asap hitam keabu-abuan tak kunjung menghilang. Tetap saja berada di langit, tak mengijinkan cahaya masuk.
Kejam.
***
Soon Hi memasuki halaman kampusnya. Ramai sekali di sana. Banyak mahasiswa-mahasiswi yang berseliweran ke sana-kemari. Soon Hi berjalan terus menuju fakultasnya yang berada di ujung jalan.
Ia mendorong pintu kaca, menggesekkan kartu pelajarnya di pintu masuk, lalu melewati beberapa lorong dan akhirnya sampai di kelasnya. Soon Hi melangkah ke dalam, mencari bangku yang kosong.
“Sehun, Sehun-ah, lihat di sebelahmu itu.”
Bisikan itu lagi-lagi terdengar. Soon Hi menoleh ke kanan.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada segerombolan anak laki-laki yang berkumpul. Salah satunya Sehun, entertainer yang cukup terkenal di daerah itu. Ada desas-desus kalau Sehun itu menyukai Soon Hi, entah dari mana berita itu berasal. Tapi Soon Hi sendiri tidak menghiraukannya dan sepertinya berita itu hanya bualan belaka. Sehun saja tidak terlihat seperti menyukai Soon Hi.
Sehun tidak menggubris kicauan teman-temannya. Ia tetap bersikap cool dan berpura-pura tidak mendengarnya. Ia memasang earphone dan mengeraskan volume lagu yang diputarnya agar ucapan teman-temannya tak satupun yang masuk ke telinga.
Soon Hi melanjutkan langkahnya, meninggalkan gerombolan lelaki tersebut.
“Soon Hi-yah! Di sini!”
Seorang yeoja melambaikan tangannya pada Soon Hi. Soon Hi tersenyum dan berlari ke arahnya.
“Eonni, aku mencarimu dari tadi,” Soon Hi meletakkan tasnya di samping yeoja itu.
Yeoja itu, Kim Sooyoung, tersenyum. “Apa mereka menggodamu lagi?” Sooyoung menuding Sehun dan kawan-kawannya.
Soon Hi mendesah, “Yah, begitulah.”
Sooyoung tertawa kecil.
“Kenapa mereka selalu melakukan itu, sih? Apa gara-gara berita konyol itu? Tapi jelas-jelas Sehun tidak menyukaiku, dan aku juga tidak menyukainya,” Soon Hi membuka bukunya dengan sedikit menggerutu.
Sooyoung hanya tersenyum mendengarnya. Dalam hati, ia menggumamkan sesuatu.
***
Setelah kuliah berakhir, Sooyoung pamit pada Soon Hi dan menghilang bersama teman-temannya. Katanya, ia ada perlu di bagian administrasi. Soon Hi hanya menyanggupi dan berlalu dari kelasnya. Baru saja ia melangkah, Sehun dan teman-temannya lewat di dekatnya. Untuk kesekian kalinya, teman sepermainannya Sehun kembali menggoda Soon Hi dan Sehun. Sehun masih saja bersikap cuek dan justru berjalan mendahului teman-temannya.
Soon Hi bergegas pergi dari situ sebelum mereka bertambah parah. Ia membelok keluar kampus dan berjalan pulang. Beberapa menit kemudian, ia sampai di halte. Jarak rumahnya ke kampus cukup jauh, kira-kira lima kilometer. Ia harus berjalan ke halte, lalu naik angkutan umum menuju gerbang perumahannya. Dari sana ia turun dan berjalan lagi.
Soon Hi mendekati loket. Cukup ramai di situ. Ia bahkan harus mengantre. Setelah menunggu beberapa menit, Soon Hi akhirnya mendapat giliran. Ia mendekati si penjaga loket.
“Satu tiket ke arah …,” belum sempat Soon Hi selesai berbicara, si penjaga loket menyahut.
“Maaf, Nona. Tiketnya sudah habis. Nanti siang datanglah lagi.”
Dengan lunglai, ia melangkah keluar halte. Selama lima belas menit, ia hanya berdiri di sisi jalan, memandangi kendaraan yang melintas di depannya. Soon Hi kebingungan apa yang harus dilakukannya. Masa ia harus berjalan lima kilometer?
Soon Hi menghela napas, kemudian mulai melangkahkan kaki. Yah, apa boleh buat. Karena tidak menemukan angkutan untuknya, terpaksa ia harus jalan kaki.
Cuaca semakin terik. Soon Hi merapat ke pinggir, mencari tempat untuk berteduh. Bangunan tua yang berada di sisi jalan menaunginya. Lumayan, ia tidak perlu merasa kepanasan lagi.
Soon Hi terus berjalan. Banyak orang yang berjualan di trotoar, membuat jalan itu menjadi pasar dadakan. Soon Hi harus melangkah dengan hati-hati agar tidak menginjak barang yang dijual.
Tiba-tiba, ada perasaan aneh menyelubungi hatinya.
Soon Hi tertegun. Ia berhenti melangkah. Ada yang tidak enak.
Orang-orang berlalu-lalang di dekatnya. Para penjual juga sibuk menawarkan dagangannya, disambut sahutan dari para pembeli. Ramai, tentu saja. Tapi ada firasat aneh yang membuat Soon Hi merasa kesepian.
Soon Hi sendiri bingung apa yang dirasakannya. Sesuatu seperti … jeritan, tangisan. Sekonyong-konyong hidungnya mencium bau darah. Apa ini?
Soon Hi memandang sekeliling. Tidak ada yang berjualan daging atau semacamnya yang mengandung darah. Di sini penuh dengan sayur-mayur juga snack. Dari mana bau ini berasal?
Sekali lagi, ada perasaan aneh dalam dirinya. Kali ini berasal dari tatapan ganjil seorang pria yang berdiri di samping pedagang roti. Tatapan itu mengerikan. Secara tidak langsung mengintimidasi orang yang ditatapnya. Pria itu seperti … akan membunuhnya.
Soon Hi buru-buru membalikkan badan dan mempercepat langkah. Ia tidak ingin menoleh ke belakang. Terlalu mengerikan untuk dilihat.
Seketika, ia sadar pria itu membuntutinya. Mengikuti tiap langkahnya dengan misterius. Soon Hi mulai panik. Ia terus mempercepat langkah, sampai setengah berlari. Namun pria itu tetap saja mengekornya, entah apa yang diinginkannya dari Soon Hi.
Soon Hi akhirnya berlari. Ia melompati beberapa dagangan yang diletakkan di trotoar, juga terkadang menabrak orang-orang yang ada di situ. Soon Hi terus berlari, masa bodoh dengan omelan dan caci maki orang-orang tersebut.
Namun, mendadak perasaan aneh yang meliputi hatinya, lenyap. Soon Hi mencoba menoleh ke belakang.
Pria itu menghilang!
Soon Hi berhenti. Ia mengatur napasnya. Setelah itu ia tersenyum lega.
“Syukurla …”
Belum selesai ia berkata, ada sebuah tangan yang mencengkeram kerah bajunya dan menggoyangnya dengan kasar. Soon Hi sempat menjerit karenanya. Tapi anehnya, tak satupun orang di situ yang mendengarnya.
Pria itu muncul lagi! Dia menarik Soon Hi menuju gang sempit di antara dua gedung tua. Soon Hi tak mampu melawan. Tenaganya terlalu kecil jika dibandingkan dengan pria itu.
Sang pria menyeretnya ke tembok, lalu mengangkat Soon Hi tinggi-tinggi sampai kakinya tak bisa menyentuh tanah. Soon Hi meronta-ronta diturunkan. Pria itu menatap Soon Hi dengan tajam. Matanya melotot menakutkan, seolah matanya hampir melompat keluar.
Soon Hi berhenti bergerak. Pandangan itu membuatnya getir. Apa yang dilakukan pria ini padanya? Apa maunya?
Soon Hi memberanikan diri berbicara, “Apa … apa yang kau inginkan dariku?”
“Apa yang aku inginkan?” sang pria berucap galak. Tiba-tiba, sebuah tangan keluar dari dalam tubuhnya. Sambil memegang pisau, tangan itu muncul dari balik punggung. Soon Hi semakin ketakutan dibuatnya. Siapa sebenarnya pria ini?
“Apa yang aku inginkan?” pria itu menyeringai. “Aku ingin kau mati!”
Soon Hi membelalak, “Apa salahku?”
“Bila kau mati, maka tidak ada lagi penerus kekuatan pengendali benda dari nenek moyangmu. Worth akan segera menguasai Exoplanet, dan itu yang Gargant inginkan,” ujar pria itu. Kerutan wajahnya mengeras, dan pipinya mengurus mendadak. Tulang rahangnya terlihat dengan jelas. Senyumnya mengerikan, ditambah matanya yang melotot.
Soon Hi tidak mengerti, “Maaf, mungkin kau salah orang.”
“Salah orang katamu?!” kulit pria itu bertambah hitam. Ototnya membesar, rambutnya yang putih bertambah panjang. “Ah, aku tahu bagaimana Jack mengajarimu. Dia sosok yang cerdas, dan pasti ia menularkan kecerdasannya padamu. Kau pura-pura tidak mengenalku, kan?”
“Aku benar-benar tidak mengenalmu,” Soon Hi berbicara takut-takut. Ia bingung dengan semua ini. Worth? Jack? Exoplanet? Gargant? Apa itu semua?
Pria itu bertambah marah. Wajahnya memerah, denyut nadinya bertambah. Tiba-tiba ada satu tangan lagi yang muncul dari punggung, membuat total tangannya menjadi empat. Tiap tangannya memegang pisau, yang semuanya mengarah pada Soon Hi.
“Kau belum pernah melihat amarahku, ya?” ia menggerakkan seluruh pisau itu. Soon Hi meronta, berusaha melepaskan diri. Tidak mungkin. Kekuatan pria itu terlalu hebat untuk dilawan.
JLEB!

***
[Bersambung ....]
By : An (Annisa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar