About

Jumat, 07 November 2014

Dawn Wolf (Part 9)

Title    : Dawn Wolf
Author : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast    : All EXO’s members, Kim Sei Hi (OC), Han Bio Ka (OC), Yeon Seol Chan (OC), Park Shin Hye (OC), Patricia (OC)
Genre : Romance, adventure
***
Malam itu, langit begitu terang. Bintang-bintang bertaburan di langit. Awan keabu-abuan bergerak perlahan, tertiup angin. Kai dan Sei Hi berada di halaman belakang, didampingi daun-daun kering yang berserakan di tanah.
Seol Chan, dan Shin Hye masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Sedangkan Bio, yah, dia bersama Chen. Masih mengobrol di pekarangan depan sedari tadi.
“Malam ini adalah malam bulan purnama,” Sei Hi menarik napas. Ia memandang Kai. “Kau siap? Oppa …?”

“Aku selalu siap,” Kai menelan ludah. “Memangnya apa yang akan kita lakukan sekarang?”
Sei Hi menunduk, lalu mengangkat kepalanya, “Ikuti saja instruksiku.”
Keduanya mendekat. Sangat dekat, mungkin jaraknya hanya beberapa sentimeter. Sei Hi mengangkat kedua tangannya, dan Kai juga begitu. Lalu keduanya berpegangan tangan di depan dada. Sei Hi menatap Kai sekilas, kemudian menarik napas.
Sei Hi memejamkan matanya sejenak. Kai terdiam, memandangi wajah putih Sei Hi yang jernih. Sekonyong-konyong ada sesuatu yang melesat ke dalam celah antara tangannya dan tangan Sei Hi. Sesuatu yang tajam, menusuk-nusuk kulitnya dengan kejam.
Kai meringis, berusaha melepaskan pegangan tangannya dengan Sei Hi. Apa sesuatu yang menyakitkan itu?
Tetapi Sei Hi tidak mengijinkan. Masih dalam posisi mata yang tertutup, Sei Hi justru menggenggam tangan Kai lebih kuat. Sesuatu yang menusuk-nusuk itu sepertinya semakin besar. Berkembang perlahan dan tusukannya semakin sadis.
Kai mengerang berulang kali. Sakit rasanya. Ia terus berusaha melepaskan tangannya.
“Sei-ah … apa ini?” tanyanya cepat.
Sei Hi tidak menjawab. Dia diam tak bersuara. Wajahnya datar.
“Sei Hi-ah …,” Kai menunduk. Tanpa ia sadari air mata mengambang di pelupuk matanya. Rasa sakit itu tak tertahankan. “Sei-ah, apa yang harus kulakukan? Ini terlalu sakit!”
Sei Hi masih terdiam.
“Sei Hi-ah!” suara Kai meninggi. Ia berteriak dengan keras saat melihat ada darah yang mengalir dari tangannya.
“Sei … Sei …,” Kai menjerit tertahan. “Apa instruksimu? Aku masih menunggu itu ….”
“Dasar Patricia sialan! Mau-maunya dia ikut campur dalam urusan ini,” dengus seseorang.
Aku berbalik. Untuk kesekian kalinya, aku melihatnya. Sosok hitam itu.
“Urusan ini belum selesai,” saat itu matanya terlihat. Sepasang mata berwarna putih keperakan, mengkilat galak. Penuh dendam dan amarah. Seketika tubuhnya terlihat semu. Seperti pasir tertiup angin, ia menghilang diiringi jeritan wanita dan lolongan serigala yang melengking tinggi.
Aku hanya termenung bingung. Apa itu artinya ….
***
Flashback, Sei Hi menemui Patricia.
“Ada satu cara lain untuk menyelamatkan namja itu,” kata Patricia serak. “Cara ini berlaku untuk peri, yah, kau benar-benar memaksa.”
“Apa masih ada kaitannya dengan cinta sejati?” tanya Sei Hi.
“Tentu saja,” Patricia berdiri. Tubuhnya begitu bungkuk hingga ia memakai tongkat. “Kutukan tidak sesederhana itu untuk ditaklukkan. Sihir atau apapun takkan mampu menghilangkannya dengan mudah. Apalagi kutukan tingkat dewa seperti itu.”
Sei Hi memutar bola matanya.
Patricia tersenyum lemah, “Tapi, kau siap melakukan hal ini?”
“Apapun akan kulakukan untuk namja itu,” Sei Hi berkata mantap. “Katakan saja.”
“Kau yakin?” Patricia mengangkat sebelah alisnya. Dia merogoh saku jubah abu-abunya yang berdebu. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sesuatu mengilap yang membuat bola mata Sei Hi membesar.
“Harus pakai itu …?”
Patricia mengangguk. Dia memandang sesuatu itu, kemudian menatap Sei Hi, “Ini cara yang kau inginkan. Ingat, kutukan tidak mudah untuk dikalahkan.”
Patricia melempar sesuatu itu pada Sei Hi. Sei Hi menangkapnya dengan tangkas.
Sesuatu itu kini berada di tangannya. Sebuah simbol kehidupan.
“Tapi, aku bisa mati kalau begini,” desah Sei Hi pelan.
“Itu tergantung padamu, Sei,” Patricia kembali duduk. “Keputusan ada di tanganmu.”
***
“Sei-ah! Kumohon hentikan ini semua!” Kai menjerit-jerit karena darah di tangannya sudah menutupi separuh bagian tangannya.
Air mata Kai bercucuran. Ia berusaha sekuat tenaga untuk bertahan. Sulit sekali, karena simbol kehidupan itu terus melukai tubuhnya.
Ketika itu, tiba-tiba angin berhembus dengan kencang. Awan di langit bergerak perlahan. Dan bulan purnama muncul, menerangi kedua orang tersebut.
Kai yang menyadari keberadaan bulan purnama itu membelalak. Ia takut bila berubah menjadi serigala lagi. Kai berusaha melepaskan diri. Ia menarik-narik tubuhnya agar segera terlepas.
“Sei-ah! Itu bulan purnama! Kau tahu kan apa yang akan terjadi?”
Tapi tidak ada yang terjadi. Semua baik-baik saja sampai bulan purnama kembali lenyap di balik awan.
Kai melongo. Dia tidak mengerti sama sekali apa yang barusan terjadi.
Mata Sei Hi membuka. Bola matanya putih, tanpa bulatan hitam di tengahnya. Wajahnya datar mengerikan. Dan di balik tubuhnya muncul sepasang sayap putih seperti burung, melebar secepat cahaya. Kemudian meledak tak terduga meninggalkan helaian bulu putih bertaburan di angkasa.
Perlahan darah di tangan Kai menyusut. Seperti disedot, mengalir melewati kelak-kelok tangannya dan masuk kembali ke sumber di mana mereka keluar. Kai yang masih kebingungan hanya memandangi tangannya. Dan, ia juga tidak merasakan sesuatu yang menusuk-nusuk itu lagi.
Sei Hi mengerjap. Bola matanya kembali seperti semula. Napasnya naik-turun. Ia lalu melepaskan genggaman tangannya dengan Kai. Simbol itu masih ada di tangannya. Berkilau diterpa cahaya bulan.
Sei Hi tersenyum tipis. Ia menggenggam simbol itu erat-erat, lalu memasukkannya ke dalam saku.
“Kau lihat yang terjadi kan, Oppa?” Sei Hi mengatur napasnya. “Kutukan itu hilang.”
“Benarkah?” mata Kai membulat.
Sei Hi mengangguk mantap. Senyumnya mengembang. Ia menarik tangannya dari saku, lalu menghela napas.
“Tapi, mungkin sosok hitam itu masih menghantuimu. Kata Patricia, kekuatannya terlalu tangguh. Patricia saja tak mampu melawannya,” ujar Sei Hi datar.
Kai tertawa kecil, “Aku penasaran seperti apa Patricia yang kamu ceritakan.”
Sei Hi mengangguk pelan. Ia menarik tangan Kai, kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Yah, kutukan memang sulit untuk ditaklukkan.
Di sana, di sisi lain dunia. Sosok hitam itu. Berdiri di ambang antara kehidupan dan kematian. Diikuti sorak-sorai teriakan di sekelilingnya.

***
[Tamat]
By : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar