Author : AnTaIsTa
(Annisa, Shinta, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast : All
EXO’s members, Kim Sei Hi (OC), Han Bio Ka (OC), Yeon Seol Chan (OC), Park Shin Hye (OC), Patricia (OC)
Genre : Romance, adventure
***
Malam
itu, langit begitu terang. Bintang-bintang bertaburan di langit. Awan
keabu-abuan bergerak perlahan, tertiup angin. Kai dan Sei Hi berada di halaman
belakang, didampingi daun-daun kering yang berserakan di tanah.***
Seol
Chan, dan Shin Hye masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Sedangkan Bio, yah, dia
bersama Chen. Masih mengobrol di pekarangan depan sedari tadi.
“Malam
ini adalah malam bulan purnama,” Sei Hi menarik napas. Ia memandang Kai. “Kau
siap? Oppa …?”
“Aku
selalu siap,” Kai menelan ludah. “Memangnya apa yang akan kita lakukan
sekarang?”
Sei
Hi menunduk, lalu mengangkat kepalanya, “Ikuti saja instruksiku.”
Keduanya
mendekat. Sangat dekat, mungkin jaraknya hanya beberapa sentimeter. Sei Hi
mengangkat kedua tangannya, dan Kai juga begitu. Lalu keduanya berpegangan
tangan di depan dada. Sei Hi menatap Kai sekilas, kemudian menarik napas.
Sei
Hi memejamkan matanya sejenak. Kai terdiam, memandangi wajah putih Sei Hi yang
jernih. Sekonyong-konyong ada sesuatu yang melesat ke dalam celah antara
tangannya dan tangan Sei Hi. Sesuatu yang tajam, menusuk-nusuk kulitnya dengan
kejam.
Kai
meringis, berusaha melepaskan pegangan tangannya dengan Sei Hi. Apa sesuatu
yang menyakitkan itu?
Tetapi
Sei Hi tidak mengijinkan. Masih dalam posisi mata yang tertutup, Sei Hi justru
menggenggam tangan Kai lebih kuat. Sesuatu yang menusuk-nusuk itu sepertinya
semakin besar. Berkembang perlahan dan tusukannya semakin sadis.
Kai
mengerang berulang kali. Sakit rasanya. Ia terus berusaha melepaskan tangannya.
“Sei-ah
… apa ini?” tanyanya cepat.
Sei
Hi tidak menjawab. Dia diam tak bersuara. Wajahnya datar.
“Sei
Hi-ah …,” Kai menunduk. Tanpa ia sadari air mata mengambang di pelupuk matanya.
Rasa sakit itu tak tertahankan. “Sei-ah, apa yang harus kulakukan? Ini terlalu
sakit!”
Sei
Hi masih terdiam.
“Sei
Hi-ah!” suara Kai meninggi. Ia berteriak dengan keras saat melihat ada darah
yang mengalir dari tangannya.
“Sei
… Sei …,” Kai menjerit tertahan. “Apa instruksimu? Aku masih menunggu itu ….”
“Dasar Patricia sialan! Mau-maunya
dia ikut campur dalam urusan ini,” dengus seseorang.
Aku berbalik. Untuk kesekian
kalinya, aku melihatnya. Sosok hitam itu.
“Urusan ini belum selesai,” saat
itu matanya terlihat. Sepasang mata berwarna putih keperakan, mengkilat galak.
Penuh dendam dan amarah. Seketika tubuhnya terlihat semu. Seperti pasir tertiup
angin, ia menghilang diiringi jeritan wanita dan lolongan serigala yang
melengking tinggi.
Aku hanya termenung bingung. Apa
itu artinya ….
***
Flashback,
Sei Hi menemui Patricia.
“Ada
satu cara lain untuk menyelamatkan namja itu,” kata Patricia serak. “Cara ini
berlaku untuk peri, yah, kau benar-benar memaksa.”
“Apa
masih ada kaitannya dengan cinta sejati?” tanya Sei Hi.
“Tentu
saja,” Patricia berdiri. Tubuhnya begitu bungkuk hingga ia memakai tongkat.
“Kutukan tidak sesederhana itu untuk ditaklukkan. Sihir atau apapun takkan
mampu menghilangkannya dengan mudah. Apalagi kutukan tingkat dewa seperti itu.”
Sei
Hi memutar bola matanya.
Patricia
tersenyum lemah, “Tapi, kau siap melakukan hal ini?”
“Apapun
akan kulakukan untuk namja itu,” Sei Hi berkata mantap. “Katakan saja.”
“Kau
yakin?” Patricia mengangkat sebelah alisnya. Dia merogoh saku jubah abu-abunya
yang berdebu. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sesuatu mengilap yang
membuat bola mata Sei Hi membesar.
“Harus
pakai itu …?”
Patricia
mengangguk. Dia memandang sesuatu itu, kemudian menatap Sei Hi, “Ini cara yang
kau inginkan. Ingat, kutukan tidak mudah untuk dikalahkan.”
Patricia
melempar sesuatu itu pada Sei Hi. Sei Hi menangkapnya dengan tangkas.
Sesuatu
itu kini berada di tangannya. Sebuah simbol kehidupan.
“Tapi,
aku bisa mati kalau begini,” desah Sei Hi pelan.
“Itu
tergantung padamu, Sei,” Patricia kembali duduk. “Keputusan ada di tanganmu.”
***
“Sei-ah!
Kumohon hentikan ini semua!” Kai menjerit-jerit karena darah di tangannya sudah
menutupi separuh bagian tangannya.
Air
mata Kai bercucuran. Ia berusaha sekuat tenaga untuk bertahan. Sulit sekali,
karena simbol kehidupan itu terus melukai tubuhnya.
Ketika
itu, tiba-tiba angin berhembus dengan kencang. Awan di langit bergerak
perlahan. Dan bulan purnama muncul, menerangi kedua orang tersebut.
Kai
yang menyadari keberadaan bulan purnama itu membelalak. Ia takut bila berubah
menjadi serigala lagi. Kai berusaha melepaskan diri. Ia menarik-narik tubuhnya
agar segera terlepas.
“Sei-ah!
Itu bulan purnama! Kau tahu kan apa yang akan terjadi?”
Tapi
tidak ada yang terjadi. Semua baik-baik saja sampai bulan purnama kembali
lenyap di balik awan.
Kai
melongo. Dia tidak mengerti sama sekali apa yang barusan terjadi.
Mata
Sei Hi membuka. Bola matanya putih, tanpa bulatan hitam di tengahnya. Wajahnya
datar mengerikan. Dan di balik tubuhnya muncul sepasang sayap putih seperti
burung, melebar secepat cahaya. Kemudian meledak tak terduga meninggalkan
helaian bulu putih bertaburan di angkasa.
Perlahan
darah di tangan Kai menyusut. Seperti disedot, mengalir melewati kelak-kelok
tangannya dan masuk kembali ke sumber di mana mereka keluar. Kai yang masih
kebingungan hanya memandangi tangannya. Dan, ia juga tidak merasakan sesuatu
yang menusuk-nusuk itu lagi.
Sei
Hi mengerjap. Bola matanya kembali seperti semula. Napasnya naik-turun. Ia lalu
melepaskan genggaman tangannya dengan Kai. Simbol itu masih ada di tangannya.
Berkilau diterpa cahaya bulan.
Sei
Hi tersenyum tipis. Ia menggenggam simbol itu erat-erat, lalu memasukkannya ke
dalam saku.
“Kau
lihat yang terjadi kan, Oppa?” Sei Hi mengatur napasnya. “Kutukan itu hilang.”
“Benarkah?”
mata Kai membulat.
Sei
Hi mengangguk mantap. Senyumnya mengembang. Ia menarik tangannya dari saku,
lalu menghela napas.
“Tapi,
mungkin sosok hitam itu masih menghantuimu. Kata Patricia, kekuatannya terlalu
tangguh. Patricia saja tak mampu melawannya,” ujar Sei Hi datar.
Kai
tertawa kecil, “Aku penasaran seperti apa Patricia yang kamu ceritakan.”
Sei
Hi mengangguk pelan. Ia menarik tangan Kai, kemudian mengajaknya masuk ke dalam
rumah.
Yah,
kutukan memang sulit untuk ditaklukkan.
Di
sana, di sisi lain dunia. Sosok hitam itu. Berdiri di ambang antara kehidupan
dan kematian. Diikuti sorak-sorai teriakan di sekelilingnya.
***
[Tamat]
By : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar