Author : AnTaIsTa
(Annisa, Shinta, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast : All
EXO’s members, Kim Sei Hi (OC), Han Bio Ka (OC), Yeon Seol Chan (OC), Park Shin Hye (OC), Patricia (OC)
Genre : Romance, adventure
***
“Ya,”
Sei Hi masih menunduk. “Maksudnya orang yang kamu suka, juga menyukaimu dengan
tulus.”***
Kai
memutar bola matanya, “Aku sudah menyukai seseorang. Sejak beberapa hari yang
lalu.”
Sei
Hi mengangkat kepalanya, “Siapa?”
***
“Kenapa
Kai belum juga pulang?” Chen menghela napas. “Ini sudah sebulan dan ia tak
kunjung muncul.”
Chanyeol
hendak berbicara, namun ia segera membatalkannya.
Suho
mendesah, “Chen-ah, bagaimana kalau kita menyusul Kai ke hutan? Siapa tahu ia
sudah menjadi manusia!”
Kyungsoo
dan Chanyeol kompak berteriak, “Jangan!”
Teman-temannya
memandang mereka bingung.
Kyungsoo
menjadi salah tingkah, “Po … pokoknya jangan!”
“Kenapa?”
tanya Sehun penasaran.
Chanyeol
akhirnya berkata, “Ya, terserah kalian saja kalau mau menjemputnya.”
Chen
dan Suho memandang Chanyeol aneh.
Chanyeol
ikut salah tingkah, “Sudahlah, sana jemput sana!” Ia mendorong-dorong Chen dan
Suho keluar dorm. Setelah itu ditutupnya pintu dorm dan menguncinya.
“Kejam
sekali dongsaeng itu!” celetuk Suho. “Masa hyung-nya disuruh-suruh begitu?”
Chen
tersenyum tipis dan menarik tangan Suho, “Tidak perlu berurusan dengan
Chanyeol. Kita mencari Kai saja.”
***
Sei
Hi tersentak mendengar pernyataan Kai, “Kenapa … kamu menyukaiku?”
Kai
menggaruk-garuk kepalanya, “Karena, baru kali ini aku menemukan sosok perempuan
yang begitu berbeda dari perempuan lain yaitu kamu, Sei Hi.”
Sei
Hi terdiam, tak mampu berkata-kata.
Kai
mendekap Sei Hi, “Kamu istimewa di mataku.”
Sei
Hi melepas dekapan Kai, “Oppa, apakah kamu tahu meski kau mencintaiku
kutukannya tetap terjadi?”
Kai
menatap Sei Hi, “Umm … mungkin karena kamu tidak menyukaiku?”
Sei
Hi menggeleng, “Itu karena aku peri! Cinta sejatimu seharusnya manusia, bukan
peri!” ucap Sei Hi. Matanya berkaca-kaca. “Manusia! Banyak yang lebih cantik
dariku.”
Setelah
berucap demikian, Sei Hi melesat ke dalam kamarnya.
Kai
sendiri terpaku. Ketika itu, Seol Chan, Shin Hye, dan Bio datang. Mereka
membawa kayu bakar yang telah diikat rapi. Ketiganya tersenyum pada Kai dan
berlalu ke belakang rumah.
Kai
menghela napas, “Atau, mungkin aku sebaiknya memilih di antara tiga gadis itu?”
Ia menggigit bibit, “Entahlah.”
Kemudian
ia berbalik dan pergi.
***
“Kai-ah!”
Hening,
tak ada sahutan.
“Coba
bagian sana,” Suho menarik tangan Chen.
“Tunggu,
bukankah di sana ada cahaya?” Chen menunjuk sesuatu.
“Umm
… ya, memang. Tapi mana mungkin dia di sana?”
Chen
tanpa menjawab perkataan Suho, berlari ke arah cahaya itu. Suho mendesah
sebentar sebelum akhirnya mengejar Chen.
Cahaya
itu rupanya berasal dari sebuah rumah yang dihuni empat gadis itu, ditambah
Kai.
Di
depan rumah, Bio sedang berlari-larian. Ia tertawa senang sembari mengejar tiga
kupu-kupu di dekatnya. Chen dan Suho tiba di situ. Chen mematung melihatnya. Ia
mengangkat alis kanannya, terpana melihat Bio.
Bio
yang sadar akan keberadaan Chen membalikkan badan. Bio sempat kaget melihat
anggota XOXO berada di sana. Kemudian ia tersenyum dan berkata, “Oppa mencari
Kai?”
Chen
tidak mendengar pertanyaan Bio. Ia masih terpesona pada kecantikan Bio.
Suho
melirik Chen. Ia menjentikkan jarinya di depan wajah namja itu, “Kamu melamun?”
Chen
cepat-cepat menggelengkan kepala. Dia segera menjawab pertanyaan Bio, “Ya. Apa
kamu melihatnya?”
Bio
tertawa kecil, “Dia ada di dalam. Silakan masuk.”
“Terima
kasih,” Suho melangkah. Ia melirik Chen, “Kenapa diam saja? Ayo kita ke dalam!”
“Umm
… kamu duluan saja,” tanpa memalingkan wajah dari Bio, Chen berujar.
Suho
tiba-tiba terkikik. Ia tahu ada apa dengan Chen saat itu. “Ya sudah. Aku
duluan. Oh ya, Chen-ah, jangan lupa minta nomor teleponnya! Kemudian ajak dia
ke suatu taman yang indah,” Suho menghilang.
Mata
Chen membesar. Ia hendak menghantam Suho dengan kepalan tangannya. Namun karena
Suho sudah tak terlihat batang hidungnya, Chen hanya mampu menunduk. Ia menahan
malu, sementara Bio tersenyum-senyum sendiri.
***
“Apakah
ada cara lain selain cinta sejati? Coba kamu tanya Patricia,” tanya Kai penuh
harap. Ia menatap sosok Sei Hi yang memainkan daun-daun kering.
Sei
Hi duduk di teras belakang, membelakangi Kai. Ia mendesah pelan. Lalu Sei Hi
membalikkan badan, “Tidak ada, Oppa.”
Kai
mengangguk-angguk, “Lagipula cinta sejati maksudnya saling mencintai dengan
tulus. Aku yang menyukaimu, belum tentu kamu menyukaiku pula.”
Sei
Hi terlihat kaget. Ia tersenyum tipis, “Ah, ya benar juga.”
Kai
duduk di samping Sei Hi. Ia menatap gadis itu, lalu berucap, “Bila kamu jadi
aku, apa yang akan kamu lakukan?”
Sei
Hi berpikir sebentar, “Mungkin …. Aku akan mencoba menyukai salah satu dari
tiga gadis itu. Seol Chan, Shin Hye, dan Bio Ka.”
“Tapi
tidak satupun dari mereka menjadi seleraku.”
Sei
Hi tersenyum kecil. Tiba-tiba raut wajahnya berubah, kemudian tanpa berucap
sepatah katapun ia melesat ke dapur. Kai yang bingung mengejarnya. Sampai di
dapur, Sei Hi menghilang. Lenyap tanpa bekas.
“Sei
Hi-ah?” panggil Kai. “Sei Hi-ah? Kamu di sini?”
Saat
itu sekonyong-konyong Suho datang. Ia yang melihat Kai langsung memeluknya. Kai
kaget. Ia berpaling dan dilihatnya Suho tengah mendekapnya.
Kai
terpaku diam. Matanya berputar ke sana-kemari, mencari sosok Sei Hi.
“Akhirnya
aku menemukanmu,” Suho mendesah lega. “Kai-ah, ayo kita pulang.”
Kai
membelalak, “Maaf, hyung. Aku … sebaiknya di sini saja.”
Suho
terkejut mendengarnya, “Tapi, bagaimana dengan XOXO?”
“Semua
akan baik-baik saja, percayalah,” Kai menepuk pundak Suho dua kali. “Lagipula,
aku takut membahayakan kalian ketika berubah menjadi serigala.”
“Kami
tidak apa-apa. Aku justru mengkhawatirkan keadaan empat gadis itu. Kamu pasti
pernah menjadi serigala ketika berada di antara mereka kan?” sahut Suho.
“Jangan berbohong. Kamu sudah meninggalkan dorm hampir sebulan lamanya. Selama
itu pasti kamu pernah berubah.”
Kai
mendesah, “Iya, sih. Tapi buktinya mereka baik-baik saja.”
“Kalau
begitu pulanglah,” Suho menarik napas. “Kami juga baik-baik saja setelah kamu
menjadi serigala.”
Kai
menggeleng pelan, “Tidak. Cakarku melukai Kyungsoo.”
Suho
terlonjak. Sesaat ia mengingat kejadian itu.
“Maaf,
hyung. Aku takut melukai kalian lagi,” Kai menelan ludah. “Aku baik-baik saja
di sini.”
“Semua
takkan ‘baik-baik saja’ meski kau meyakinkanku bahwa situasi akan ‘baik-baik
saja’ ketika kutukan itu tetap terjadi,” Suho menatap Kai dalam-dalam.
“Pulanglah,
hyung,” Kai tersenyum tipis. “Aku tetap meyakinkanmu kalau semua akan ‘baik-baik
saja’.”
***
[Bersambung ....]
By : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti and Gita)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar