About

Jumat, 07 November 2014

Dawn Wolf (Part 7)

Title    : Dawn Wolf
Author : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast     : All EXO’s members, Kim Sei Hi (OC), Han Bio Ka (OC), Yeon Seol Chan (OC), Park Shin Hye (OC), Patricia (OC)

Genre : Romance, adventure
***
“Ya,” Sei Hi masih menunduk. “Maksudnya orang yang kamu suka, juga menyukaimu dengan tulus.”
Kai memutar bola matanya, “Aku sudah menyukai seseorang. Sejak beberapa hari yang lalu.”
Sei Hi mengangkat kepalanya, “Siapa?”
Kai terlihat gugup. Ia lalu menjawab, “Kamu.”
***
“Kenapa Kai belum juga pulang?” Chen menghela napas. “Ini sudah sebulan dan ia tak kunjung muncul.”
Chanyeol hendak berbicara, namun ia segera membatalkannya.
Suho mendesah, “Chen-ah, bagaimana kalau kita menyusul Kai ke hutan? Siapa tahu ia sudah menjadi manusia!”
Kyungsoo dan Chanyeol kompak berteriak, “Jangan!”
Teman-temannya memandang mereka bingung.
Kyungsoo menjadi salah tingkah, “Po … pokoknya jangan!”
“Kenapa?” tanya Sehun penasaran.
Chanyeol akhirnya berkata, “Ya, terserah kalian saja kalau mau menjemputnya.”
Chen dan Suho memandang Chanyeol aneh.
Chanyeol ikut salah tingkah, “Sudahlah, sana jemput sana!” Ia mendorong-dorong Chen dan Suho keluar dorm. Setelah itu ditutupnya pintu dorm dan menguncinya.
“Kejam sekali dongsaeng itu!” celetuk Suho. “Masa hyung-nya disuruh-suruh begitu?”
Chen tersenyum tipis dan menarik tangan Suho, “Tidak perlu berurusan dengan Chanyeol. Kita mencari Kai saja.”
***
Sei Hi tersentak mendengar pernyataan Kai, “Kenapa … kamu menyukaiku?”
Kai menggaruk-garuk kepalanya, “Karena, baru kali ini aku menemukan sosok perempuan yang begitu berbeda dari perempuan lain yaitu kamu, Sei Hi.”
Sei Hi terdiam, tak mampu berkata-kata.
Kai mendekap Sei Hi, “Kamu istimewa di mataku.”
Sei Hi melepas dekapan Kai, “Oppa, apakah kamu tahu meski kau mencintaiku kutukannya tetap terjadi?”
Kai menatap Sei Hi, “Umm … mungkin karena kamu tidak menyukaiku?”
Sei Hi menggeleng, “Itu karena aku peri! Cinta sejatimu seharusnya manusia, bukan peri!” ucap Sei Hi. Matanya berkaca-kaca. “Manusia! Banyak yang lebih cantik dariku.”
Setelah berucap demikian, Sei Hi melesat ke dalam kamarnya.
Kai sendiri terpaku. Ketika itu, Seol Chan, Shin Hye, dan Bio datang. Mereka membawa kayu bakar yang telah diikat rapi. Ketiganya tersenyum pada Kai dan berlalu ke belakang rumah.
Kai menghela napas, “Atau, mungkin aku sebaiknya memilih di antara tiga gadis itu?” Ia menggigit bibit, “Entahlah.”
Kemudian ia berbalik dan pergi.
***
“Kai-ah!”
Hening, tak ada sahutan.
“Coba bagian sana,” Suho menarik tangan Chen.
“Tunggu, bukankah di sana ada cahaya?” Chen menunjuk sesuatu.
“Umm … ya, memang. Tapi mana mungkin dia di sana?”
Chen tanpa menjawab perkataan Suho, berlari ke arah cahaya itu. Suho mendesah sebentar sebelum akhirnya mengejar Chen.
Cahaya itu rupanya berasal dari sebuah rumah yang dihuni empat gadis itu, ditambah Kai.
Di depan rumah, Bio sedang berlari-larian. Ia tertawa senang sembari mengejar tiga kupu-kupu di dekatnya. Chen dan Suho tiba di situ. Chen mematung melihatnya. Ia mengangkat alis kanannya, terpana melihat Bio.
Bio yang sadar akan keberadaan Chen membalikkan badan. Bio sempat kaget melihat anggota XOXO berada di sana. Kemudian ia tersenyum dan berkata, “Oppa mencari Kai?”
Chen tidak mendengar pertanyaan Bio. Ia masih terpesona pada kecantikan Bio.
Suho melirik Chen. Ia menjentikkan jarinya di depan wajah namja itu, “Kamu melamun?”
Chen cepat-cepat menggelengkan kepala. Dia segera menjawab pertanyaan Bio, “Ya. Apa kamu melihatnya?”
Bio tertawa kecil, “Dia ada di dalam. Silakan masuk.”
“Terima kasih,” Suho melangkah. Ia melirik Chen, “Kenapa diam saja? Ayo kita ke dalam!”
“Umm … kamu duluan saja,” tanpa memalingkan wajah dari Bio, Chen berujar.
Suho tiba-tiba terkikik. Ia tahu ada apa dengan Chen saat itu. “Ya sudah. Aku duluan. Oh ya, Chen-ah, jangan lupa minta nomor teleponnya! Kemudian ajak dia ke suatu taman yang indah,” Suho menghilang.
Mata Chen membesar. Ia hendak menghantam Suho dengan kepalan tangannya. Namun karena Suho sudah tak terlihat batang hidungnya, Chen hanya mampu menunduk. Ia menahan malu, sementara Bio tersenyum-senyum sendiri.
***
“Apakah ada cara lain selain cinta sejati? Coba kamu tanya Patricia,” tanya Kai penuh harap. Ia menatap sosok Sei Hi yang memainkan daun-daun kering.
Sei Hi duduk di teras belakang, membelakangi Kai. Ia mendesah pelan. Lalu Sei Hi membalikkan badan, “Tidak ada, Oppa.”
Kai mengangguk-angguk, “Lagipula cinta sejati maksudnya saling mencintai dengan tulus. Aku yang menyukaimu, belum tentu kamu menyukaiku pula.”
Sei Hi terlihat kaget. Ia tersenyum tipis, “Ah, ya benar juga.”
Kai duduk di samping Sei Hi. Ia menatap gadis itu, lalu berucap, “Bila kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?”
Sei Hi berpikir sebentar, “Mungkin …. Aku akan mencoba menyukai salah satu dari tiga gadis itu. Seol Chan, Shin Hye, dan Bio Ka.”
“Tapi tidak satupun dari mereka menjadi seleraku.”
Sei Hi tersenyum kecil. Tiba-tiba raut wajahnya berubah, kemudian tanpa berucap sepatah katapun ia melesat ke dapur. Kai yang bingung mengejarnya. Sampai di dapur, Sei Hi menghilang. Lenyap tanpa bekas.
“Sei Hi-ah?” panggil Kai. “Sei Hi-ah? Kamu di sini?”
Saat itu sekonyong-konyong Suho datang. Ia yang melihat Kai langsung memeluknya. Kai kaget. Ia berpaling dan dilihatnya Suho tengah mendekapnya.
Kai terpaku diam. Matanya berputar ke sana-kemari, mencari sosok Sei Hi.
“Akhirnya aku menemukanmu,” Suho mendesah lega. “Kai-ah, ayo kita pulang.”
Kai membelalak, “Maaf, hyung. Aku … sebaiknya di sini saja.”
Suho terkejut mendengarnya, “Tapi, bagaimana dengan XOXO?”
“Semua akan baik-baik saja, percayalah,” Kai menepuk pundak Suho dua kali. “Lagipula, aku takut membahayakan kalian ketika berubah menjadi serigala.”
“Kami tidak apa-apa. Aku justru mengkhawatirkan keadaan empat gadis itu. Kamu pasti pernah menjadi serigala ketika berada di antara mereka kan?” sahut Suho. “Jangan berbohong. Kamu sudah meninggalkan dorm hampir sebulan lamanya. Selama itu pasti kamu pernah berubah.”
Kai mendesah, “Iya, sih. Tapi buktinya mereka baik-baik saja.”
“Kalau begitu pulanglah,” Suho menarik napas. “Kami juga baik-baik saja setelah kamu menjadi serigala.”
Kai menggeleng pelan, “Tidak. Cakarku melukai Kyungsoo.”
Suho terlonjak. Sesaat ia mengingat kejadian itu.
“Maaf, hyung. Aku takut melukai kalian lagi,” Kai menelan ludah. “Aku baik-baik saja di sini.”
“Semua takkan ‘baik-baik saja’ meski kau meyakinkanku bahwa situasi akan ‘baik-baik saja’ ketika kutukan itu tetap terjadi,” Suho menatap Kai dalam-dalam.
“Pulanglah, hyung,” Kai tersenyum tipis. “Aku tetap meyakinkanmu kalau semua akan ‘baik-baik saja’.”

***
[Bersambung ....]
By : AnTaIsTa (Annisa, Shinta, Isti and Gita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar