Title : I’m Not A Pesky Kid
Author : An (Annisa)
Length : Chaptered
Cast : Park Rae Hwa (OC), Choi Sang Hee
(OC), Kim Yoon Ra (OC)
Genre : Mystery
***
“Sang
Hee-yah!”
Sang
Hee menoleh. Dilihatnya Rae Hwa berlari mendekatinya. Ia tersenyum, lalu
menepuk pundak Sang Hee.
“Apa
kamu sudah melihat papan pengumuman?” ujar Rae Hwa. “Ada perlombaan seru akhir
semester ini. Menantang sekali, lho!”
Sang
Hee menghela napas, “Apa?”
“Perlombaan
mencari tiga misteri di gua belakang sekolah. Apa kamu mau ikut? Kalau aku sih,
iya. Sepertinya mengasyikkan!”
“Oh,”
Sang Hee membalasnya dengan singkat. “Silakan, aku tidak tertarik.”
Rae
Hwa menatap sahabatnya itu dengan heran, “Biasanya kamu menyukai hal-hal
seperti ini.”
Sang
Hee tersenyum tipis pada Rae Hwa, “Ya, kali ini aku tidak ingin ikut. Menurutku
tidak menantang. Hanya disuruh mencari tiga misteri, kan? Kalau seratus misteri
aku baru bergabung.”
Rae
Hwa manggut-manggut, “Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Aku akan
mendaftarkan diriku dalam perlombaan itu. Dah … hati-hati di jalan!”
Sang
Hee melambaikan tangannya pada Rae Hwa yang berlari memasuki halaman sekolah.
Ia mendekati gerombolan anak yang mengerumuni seorang pria. Mungkin di sanalah
tempat pendaftaran lomba. Sang Hee menarik napas pelan.
***
“Choi
Sang Hee tewas?”
“Ya,
ada bekas cakaran di lehernya. Keadaannya mengenaskan! Aku yang diceritakan
saja tidak kuat mendengarnya.”
“Sang
Hee dari kelas Biologi itu kan?”
“Iya.
Dia ditemukan tewas di gudang. Saat itu tukang kebun sekolah kita yang hendak
mengambil sesuatu dalam gudang menemukan mayatnya. Ia menjerit-jerit
ketakutan.”
Rae
Hwa yang baru saja tiba di sekolah mendengar keributan. Banyak polisi dan tim
penyelidik bolak-balik keluar masuk gudang. Murid-murid di sana banyak yang
terlihat menggosipkan sesuatu. Rae Hwa mendekati seorang murid, “Ada apa, sih?”
Murid
itu menatap Rae Hwa, “Tapi jangan menangis. Ini … soal sahabatmu.”
Mata
Rae Hwa membulat, “Sang Hee maksudmu?”
Murid
itu mengangguk, “Berjanjilah untuk tak menangis.”
Rae
Hwa mengangguk. Ia begitu penasaran apa yang terjadi, tapi juga ada perasaan
takut dalam dirinya.
“Dia
… tewas.”
***
Ambulans
datang, membawa mayat Sang Hee untuk diotopsi. Keluarga Sang Hee juga hadir di
sana. Tangis tentu tak terhindarkan, bahkan bagi Rae Hwa yang sudah berjanji
tak menangis, tidak mampu menahan air matanya. Ini begitu menyedihkan.
Bagaimana tidak? Menurut hasil forensik yang didapatkan polisi, Sang Hee
dibunuh. Tak mungkin dia meninggal begitu saja meninggalkan bekas cakaran di
lehernya. Bekas cakaran itu tidak berukuran kecil seperti kucing atau anjing.
Cakaran itu besar, terlalu besar bagi beruang.
Rae
Hwa tidak kuat melihat keadaan sahabatnya itu. Hanya melihatnya sekilas saja
membuat hatinya teriris. Siapa yang berani membunuh Sang Hee yang tidak berdosa
itu? Kalau Sang Hee memang berbuat kesalahan, kenapa harus dibunuh? Tidak
adakah cara yang lebih baik?
“Cakaran
ini terletak di tengkuk lehernya, menguak lehernya dan memutus saluran
pernapasannya. Sepertinya korban dipanggil ke sini, atau korban yang datang
sendiri ke tempat kejadian. Kemungkinan pelaku menggunakan hewan dengan cakar
runcing dan besar untuk membunuh korban. Tapi pertanyaannya, hewan seperti apa
yang memiliki cakar sebesar itu?” analisis seorang tim penyelidik yang sambil
mengumpulkan data. Rae Hwa yang tak jauh dari sana mendengarnya.
“Mungkin
hewan seperti beruang, tapi mungkin dia memiliki kelainan pada cakarnya
sehingga besarnya melebihi normal,” tambah seorang tim penyelidik yang lain.
“Bagaimana
bisa beruang dibawa ke sini?”
“Mungkin
dekat sini ada sarang beruang.”
Sarang beruang? Pikiran Rae Hwa melayang pada gua di belakang
sekolah. Apakah … di sana sarangnya?
Rae Hwa mengusap dagunya. Jadi, kemungkinan kasus Sang Hee ini adalah misteri
pertama dalam gua itu. Jika begitu, apa lombanya sudah dimulai? Kenapa tak ada
aba-aba mulai sebelumnya?
Ini
semakin menarik. Juga menakutkan.
***
[Bersambung ....]
By : An (Annisa)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar