About

Minggu, 13 Juli 2014

I'm Not A Pesky Kid (Part 1)

Title            : I’m Not A Pesky Kid
Author        : An (Annisa)
Length         : Chaptered
Cast            : Park Rae Hwa (OC), Choi Sang Hee (OC), Kim Yoon Ra (OC)

Genre          : Mystery
***
“Sang Hee-yah!”
Sang Hee menoleh. Dilihatnya Rae Hwa berlari mendekatinya. Ia tersenyum, lalu menepuk pundak Sang Hee.
“Apa kamu sudah melihat papan pengumuman?” ujar Rae Hwa. “Ada perlombaan seru akhir semester ini. Menantang sekali, lho!”
Sang Hee menghela napas, “Apa?”
“Perlombaan mencari tiga misteri di gua belakang sekolah. Apa kamu mau ikut? Kalau aku sih, iya. Sepertinya mengasyikkan!”
“Oh,” Sang Hee membalasnya dengan singkat. “Silakan, aku tidak tertarik.”
Rae Hwa menatap sahabatnya itu dengan heran, “Biasanya kamu menyukai hal-hal seperti ini.”

Sang Hee tersenyum tipis pada Rae Hwa, “Ya, kali ini aku tidak ingin ikut. Menurutku tidak menantang. Hanya disuruh mencari tiga misteri, kan? Kalau seratus misteri aku baru bergabung.”
Rae Hwa manggut-manggut, “Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Aku akan mendaftarkan diriku dalam perlombaan itu. Dah … hati-hati di jalan!”
Sang Hee melambaikan tangannya pada Rae Hwa yang berlari memasuki halaman sekolah. Ia mendekati gerombolan anak yang mengerumuni seorang pria. Mungkin di sanalah tempat pendaftaran lomba. Sang Hee menarik napas pelan.
***
“Choi Sang Hee tewas?”
“Ya, ada bekas cakaran di lehernya. Keadaannya mengenaskan! Aku yang diceritakan saja tidak kuat mendengarnya.”
“Sang Hee dari kelas Biologi itu kan?”
“Iya. Dia ditemukan tewas di gudang. Saat itu tukang kebun sekolah kita yang hendak mengambil sesuatu dalam gudang menemukan mayatnya. Ia menjerit-jerit ketakutan.”
Rae Hwa yang baru saja tiba di sekolah mendengar keributan. Banyak polisi dan tim penyelidik bolak-balik keluar masuk gudang. Murid-murid di sana banyak yang terlihat menggosipkan sesuatu. Rae Hwa mendekati seorang murid, “Ada apa, sih?”
Murid itu menatap Rae Hwa, “Tapi jangan menangis. Ini … soal sahabatmu.”
Mata Rae Hwa membulat, “Sang Hee maksudmu?”
Murid itu mengangguk, “Berjanjilah untuk tak menangis.”
Rae Hwa mengangguk. Ia begitu penasaran apa yang terjadi, tapi juga ada perasaan takut dalam dirinya.
“Dia … tewas.”
***
Ambulans datang, membawa mayat Sang Hee untuk diotopsi. Keluarga Sang Hee juga hadir di sana. Tangis tentu tak terhindarkan, bahkan bagi Rae Hwa yang sudah berjanji tak menangis, tidak mampu menahan air matanya. Ini begitu menyedihkan. Bagaimana tidak? Menurut hasil forensik yang didapatkan polisi, Sang Hee dibunuh. Tak mungkin dia meninggal begitu saja meninggalkan bekas cakaran di lehernya. Bekas cakaran itu tidak berukuran kecil seperti kucing atau anjing. Cakaran itu besar, terlalu besar bagi beruang.
Rae Hwa tidak kuat melihat keadaan sahabatnya itu. Hanya melihatnya sekilas saja membuat hatinya teriris. Siapa yang berani membunuh Sang Hee yang tidak berdosa itu? Kalau Sang Hee memang berbuat kesalahan, kenapa harus dibunuh? Tidak adakah cara yang lebih baik?
“Cakaran ini terletak di tengkuk lehernya, menguak lehernya dan memutus saluran pernapasannya. Sepertinya korban dipanggil ke sini, atau korban yang datang sendiri ke tempat kejadian. Kemungkinan pelaku menggunakan hewan dengan cakar runcing dan besar untuk membunuh korban. Tapi pertanyaannya, hewan seperti apa yang memiliki cakar sebesar itu?” analisis seorang tim penyelidik yang sambil mengumpulkan data. Rae Hwa yang tak jauh dari sana mendengarnya.
“Mungkin hewan seperti beruang, tapi mungkin dia memiliki kelainan pada cakarnya sehingga besarnya melebihi normal,” tambah seorang tim penyelidik yang lain.
“Bagaimana bisa beruang dibawa ke sini?”
“Mungkin dekat sini ada sarang beruang.”
Sarang beruang? Pikiran Rae Hwa melayang pada gua di belakang sekolah. Apakah … di sana sarangnya? Rae Hwa mengusap dagunya. Jadi, kemungkinan kasus Sang Hee ini adalah misteri pertama dalam gua itu. Jika begitu, apa lombanya sudah dimulai? Kenapa tak ada aba-aba mulai sebelumnya?
Ini semakin menarik. Juga menakutkan.
***
[Bersambung ....]
By : An (Annisa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar