About

Minggu, 13 Juli 2014

Shadows (Part 6)

Title    : Shadows
Author : An IsTa (Annisa, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast     : All EXO’s members, Kim Yeajin (OC)

Genre  : Mystery, adventure
***
Sebuah taman yang indah. Seperti lukisan. Benar, ada sebuah pohon di sana. Pohon yang tinggi, rindang, mengundang siapa pun untuk berteduh di bawahnya. Mereka tersenyum. Pemandangan di sana sangat indah. Begitu indah.
Namun sekonyong-konyong ada sesuatu yang berjalan dengan cepat.
“Apa itu?” Luhan kaget. Ia bersembunyi di balik Sehun.
Bukan hanya satu. Ada lagi yang lain. Mereka berulang kali muncul di depan mereka. Berputar-putar. Di tengah kebingungan itu, pintu permata tertutup tiba-tiba dengan keras.
“Ada dua belas bayangan dengan simbol aneh,” gumam Kai. “Ingat itu?”

“Jadi itulah mereka?” Chanyeol mengangguk-angguk.
Ya, kedua belas bayangan itu, dengan simbol-simbol kekuatan di masing-masing dadanya.
“Berusaha untuk memegang simbolnya, lalu tancapkan di batang pohon,” Kai mengulangi kata-kata Yeajin. “Aku harus menangkap simbolku sendiri? Aih, betapa susahnya. Ia dan aku sama-sama bisa berteleportasi.”
“Apa? Jadi bayangan itu juga punya kekuatan seperti kita?” Chen membelalak. “Oh, tidak!”
“Masa?” Baekhyun mengamati bayangan bersimbol sama dengan dirinya. Benar, mendadak bayangan itu bercahaya dan menghilang. Entah ke mana perginya.
“Bila ada dua kekuatan yang sama saling menyerang, menurutku tidak ada habisnya,” ujar Kyungsoo. “Yang harus kita lakukan adalah mencari pasangan kekuatan itu, lalu menerjangnya.”
“‘Ketika hati yang pecah bertemu, dan cincin-cincin dibentangkan di tanah’,” kata Kai tiba-tiba. “Itu salah satu penggalan kalimat di kertas kusam, bagian cara memusnahkan kekuatan. Hati yang pecah mungkin maksudnya hatinya Yeajin. Pecah dan bingung antara Ryeowook dan Kyungsoo. Cincin-cincin dibentangkan di tanah berarti ritual itu. Ritual dengan perlak yang digelar dan cincin yang diletakkan di atasnya.”
“Rupanya begitu maksudnya?” Suho mengangguk-angguk.
“‘Dengan segenap jiwa raga, keduanya menerjang’ maksudnya kita dan bayangan-bayangan itu. Pasangan kita,” seru Kai lagi.
“Lalu?” mata Sehun berbinar.
“‘Hancurlah mereka’? Maksudnya?” Kai mengerutkan kening.
“Itu urusan nanti,” sela Kyungsoo. “Sekarang pasangannya bagaimana?”
“Pernah ditulis di novel ‘MAMA’,” Chanyeol memejamkan mata. Ia mengingat-ingat. “Air dengan es, api dengan terbang, cahaya dengan kehidupan, tanah dengan petir, teleportasi dengan telekinesis, lalu angin dengan pengontrol waktu.”
“Jadi maksudnya? Aku harus menangkap bayangan bersimbol teleportasi?” Luhan memastikan.
“Ya,” Kyungsoo mengangguk.
“Betapa sulitnya itu!” rintih Luhan. “Kai-ah, kenapa aku harus berpasangan denganmu?”
***
Ini tentang salju.
Suho mencari-cari bayangan itu. Bayangan bersimbol pecahan es, yang terkadang muncul dan lenyap di batuan es. Suho sendiri juga bingung bagaimana ceritanya ia bisa sampai di batuan es itu.
Simbol itu mendadak muncul, tepat di depan wajahnya. Suho segera melayangkan tangannya ke situ. Namun sekejap menghilang. Suho mendengus pelan, lalu ia mengedarkan pandangannya.
Mendadak ada yang melemparinya dengan bola-bola salju. Suho yang kaget menunduk, berusaha melindungi kepalanya dari serangan itu. Tetapi tidak pula serangan itu berhenti. Justru semakin banyak dan bertambah banyak. Lama kelamaan seluruh tubuhnya tertutup salju. Suho yang merasa kedinginan hendak menghancurkan gundukan salju tersebut. Tetapi anehnya tidak bisa. Gundukan itu keras layaknya batu.
Suho seketika panik. Ia berusaha sekuat tenaga, meninju-ninju segala arah. Gagal. Suho terdiam. Tenaganya terkuras banyak. Namun ia teringat kembali akan kekuatan airnya.
Suho memejamkan mata.
Tiba-tiba gundukan itu pecah berkeping-keping. Suho berdiri di sana. Gelombang air menyelimutinya seperti bola. Bayangan bersimbol itu ada di ujung sana. Bayangannya tidak terlihat, hanya simbolnya saja yang melayang di udara.
Suho menghempaskan bola air yang menyelimuti tubuhnya ke sana. Simbol itu dengan mudah menghindar. Suho berjalan mendekat. Ia menggerakkan tangannya, mengendalikan gelombang air yang muncul dari balik tubuhnya, menyerbu simbol itu.
Ketika gelombang itu menyentuh simbol, airnya membeku.
Suho mendekat perlahan, hendak mengambil simbol tersebut. Namun si simbol tiba-tiba membuat gelombang air yang membeku itu pecah. Pecahannya berupa jarum, yang melayang sejenak, sebelum akhirnya menerjang Suho.
***
“Ah, aih,” Chanyeol menggapai-nggapai simbol Kris yang melayang di udara. Jauh di angkasa sana. Chanyeol meloncat. Tidak sampai. Ia melompat lebih tinggi. Tetap saja ia gagal.
Ups, tidak hanya simbol yang ada di sana.
Terlihat mata merah besar yang menyala mendadak. Chanyeol yang melihatnya bergidik. Setelah itu tubuhnya yang hitam bergerak. Cakar tajamnya bergesekan dengan tanah menimbulkan bunyi berdecit. Sayapnya dibentangkan lebar-lebar. Lalu ia dan Chanyeol bertatapan. Chanyeol hanya menelan ludah. Ia tahu siapa yang ada di depannya itu.
Tiba-tiba ada api yang menyembur dari mulut sosok itu. Chanyeol yang kaget berlari pergi.
Itu … naga.
***
“Sepertinya aku mudah kok. Tidak perlu berlari-lari seperti Chanyeol. Lihatlah, simbolnya menempel di pohon MAMA,” Baekhyun mendekati pohon. Ia tersenyum penuh kemenangan sambil menyentuh simbol itu. Ia memegangnya, lalu hendak menariknya keluar. Tidak bisa.
“Apa? Ayolah,” Baekhyun berusaha mengeluarkan simbol itu. “Ini menggunakan tenaga dalam? Baiklah.”
Baekhyun menekan simbol itu kuat-kuat. Terus berusaha mengeluarkannya. Sampai-sampai ia meringis saat mengetahui darah segar mengalir dari telapak tangannya. Ia tidak bisa melepaskan tangannya dari situ.
“Napasku sesak,” Baekhyun mengamati simbol itu. “Ini simbol kehidupan, ya? Pantas saja. Ia bisa bertindak sesukanya hendak melukai orang atau mengobatinya.” Baekhyun menarik napas, “Aku bisa mati kalau begini.”
***
“Argh!” Kai menarik napas. Ia baru saja menabrak sesuatu. Ia berbalik, memandang simbol itu. Simbol telekinesis, yang mampu mendorong, mengangkat, atau lebih tepatnya mengendalikan suatu benda.
Kai berdiri. Ia berteleportasi lebih dekat dengan simbol itu, namun justru kini yang didapatkannya adalah dorongan yang jauh lebih kuat. Kini justru ia menabrak batu. Kai seketika terjerembab. Di dapatinya jidatnya berdarah.
“Sialan!” pekiknya. Kai mengusap jidatnya, lalu ia mengaduh. Kai melempar pandangannya. Ia mendapati Baekhyun kesulitan dengan pohon MAMA. Tangannya penuh darah. Baekhyun sendiri tidak mau melihat tangannya. Ia menunduk sambil meringis. Tangan satunya lagi memegang dadanya. Ia juga sesak napas.
Kai bersyukur ia tidak separah Baekhyun. Hanya jidatnya yang berdarah. Itu tidak masalah. Kai bangkit lagi. Ia kemudian berteleportasi. Ketika simbol itu hendak mendorongnya, Kai berteleportasi lagi. Menghindar. Begitu seterusnya sampai ketika tangan Kai hendak memegang simbol, simbol itu menepis tangannya. Lalu Kai tiba-tiba dijatuhkannya ke tanah dalam keadaan menelungkup. Kemudian Kai merasa ada sesuatu yang memukul punggungnya. Kai yang dalam keadaan terpojok itu mencari celah untuk kabur.
***
Kyungsoo merasa dirinya disetrum lagi. Kyungsoo terjatuh. Ia berbalik dan cepat-cepat membuat tameng dari tanah sebelum ada lagi yang menyetrumnya. Namun tanahnya mendadak terbelah, lalu ada petir yang lain menyerangnya.
Kyungsoo yang kaget cepat-cepat berlari. Tentu saja petir jauh lebih cepat darinya. Sehingga dirinya kembali tersetrum. Kyungsoo menarik napasnya. Jantung berdegup kencang. Simbol itu … kemana dia?
***
Sehun merasa dirinya diputar, lalu berada dalam sebuah pantai yang indah. Sehun menghirup udaranya, tetapi mendadak ia diputar lagi ke sebuah pabrik dengan asapnya yang mengepul. Sehun terbatuk-batuk. Ia mengamati pemandangan di sekitarnya. Dunia kembali berputar. Ia kini berada di sebuah hutan belantara. Ada manusia purba di situ, tengah menggesekkan batu guna membuat api.
“Di mana simbol itu?” gumam Sehun sendiri. Lagi, dirinya diputar dan kembali ke waktu semula. Waktu di mana ia berada dalam taman itu.
Sehun tiba-tiba tersaruk ke depan. Ada seseorang yang menendangnya dari belakang. Ia buru-buru bangkit dan membalikkan badan. Bayangan bersimbol itu nampak. Sehun hendak mengeluarkan anginnya, tetapi simbol itu memberhentikan waktu, sehingga Sehun tak mampu bergerak. Simbol itu melangkah mendekati Sehun, lalu memukulinya dengan kasar sebelum ia membuat waktu berjalan lagi.
Sehun terjatuh. Ia memegangi tangannya yang penuh memar. Ia memandangi bayangan itu.
***
Xiumin berada dalam sebuah tabung berisi air. Di sana ada bayangan bersimbol pula, yang tepat berada di depannya. Xiumin harus segera menangkap simbol itu, sebelum dirinya sendiri kehabisan napas di dalam tabung itu.
Simbol itu dengan lincah menghindar tiap kali Xiumin mengulurkan tangan. Sepertinya ia juga membuat Xiumin makin lama makin tenggelam jauh dari permukaan. Xiumin berusaha menangkap simbol itu, sambil terus menghemat napasnya.
Ia akhirnya punya ide. Dibekukannya simbol itu bersama air di sekitarnya. Ia mengambilnya, lalu hendak ke permukaan. Sayang, ada sesuatu yang menarik kakinya jauh lebih dalam. Tentu saja hal itu membuat Xiumin kaget. Sementara napasnya hampir habis.
***
Kris kebingungan. Ia melihat bayangan itu. Bayangan itu juga melihatnya. Namun ia bingung bagaimana mengambil simbol itu, karena bayangan itu berada dalam suatu area yang terbakar. Apinya menjalar ke mana-mana.
Kris menengok ke atas. Ia tidak bisa menggunakan kekuatan terbangnya. Bila terbang, api itu justru akan membakarnya karena api tersebut tertiup angin ke atas. Ia berpikir.
***
Lay memandangi cahaya-cahaya itu. Cahaya yang membuat matanya silau, menghalangi pandangannya. Lay mencari-cari simbol itu. Ia kesulitan mencarinya akibat cahaya yang seolah ingin merusak matanya.
***
Ini butuh ketelitian. Luhan mengikuti ke mana jalannya si simbol. Namun sering kali simbol itu lolos dari pandangannya. Simbol milik Kai, yang berteleportasi ke mana pun ia mau. Luhan berusaha menangkapnya, tetapi tentu saja susah.
***
Chen melihat simbol itu. Bergerak dengan cepat di tanah. Chen berusaha menangkapnya, menghentikan gerakannya. Namun selalu gagal. Sampai akhirnya tiba-tiba ada stalakmit runcing muncul dari tanah yang menyobek kulitnya.
Ketika stalakmit itu menyayat punggungnya, ia muntah darah.

***
[Bersambung ....]
By : An IsTa (Annisa, Isti, and Gita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar