Author : An
IsTa (Annisa, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast : All EXO’s members, Kim Yeajin (OC)
Genre : Mystery, adventure
***
Sebuah taman yang indah. Seperti lukisan. Benar, ada
sebuah pohon di sana. Pohon yang tinggi, rindang, mengundang siapa pun untuk
berteduh di bawahnya. Mereka tersenyum. Pemandangan di sana sangat indah.
Begitu indah.
Namun sekonyong-konyong ada sesuatu yang berjalan
dengan cepat.
“Apa itu?” Luhan kaget. Ia bersembunyi di balik
Sehun.
Bukan hanya satu. Ada lagi yang lain. Mereka
berulang kali muncul di depan mereka. Berputar-putar. Di tengah kebingungan
itu, pintu permata tertutup tiba-tiba dengan keras.
“Ada dua belas bayangan dengan simbol aneh,” gumam
Kai. “Ingat itu?”
“Jadi itulah mereka?” Chanyeol mengangguk-angguk.
Ya, kedua belas bayangan itu, dengan simbol-simbol
kekuatan di masing-masing dadanya.
“Berusaha untuk memegang simbolnya, lalu tancapkan
di batang pohon,” Kai mengulangi kata-kata Yeajin. “Aku harus menangkap
simbolku sendiri? Aih, betapa susahnya. Ia dan aku sama-sama bisa berteleportasi.”
“Apa? Jadi bayangan itu juga punya kekuatan seperti
kita?” Chen membelalak. “Oh, tidak!”
“Masa?” Baekhyun mengamati bayangan bersimbol sama
dengan dirinya. Benar, mendadak bayangan itu bercahaya dan menghilang. Entah ke
mana perginya.
“Bila ada dua kekuatan yang sama saling menyerang,
menurutku tidak ada habisnya,” ujar Kyungsoo. “Yang harus kita lakukan adalah
mencari pasangan kekuatan itu, lalu menerjangnya.”
“‘Ketika hati yang pecah bertemu, dan cincin-cincin
dibentangkan di tanah’,” kata Kai tiba-tiba.
“Itu salah satu penggalan kalimat di kertas kusam, bagian cara memusnahkan
kekuatan. Hati yang pecah mungkin maksudnya hatinya Yeajin. Pecah dan bingung
antara Ryeowook dan Kyungsoo. Cincin-cincin dibentangkan di tanah berarti
ritual itu. Ritual dengan perlak yang digelar dan cincin yang diletakkan di
atasnya.”
“Rupanya begitu maksudnya?” Suho mengangguk-angguk.
“‘Dengan
segenap jiwa raga, keduanya menerjang’ maksudnya kita dan bayangan-bayangan
itu. Pasangan kita,” seru Kai lagi.
“Lalu?” mata Sehun berbinar.
“‘Hancurlah
mereka’? Maksudnya?” Kai mengerutkan kening.
“Itu urusan nanti,” sela Kyungsoo. “Sekarang
pasangannya bagaimana?”
“Pernah ditulis di novel ‘MAMA’,” Chanyeol
memejamkan mata. Ia mengingat-ingat. “Air dengan es, api dengan terbang, cahaya
dengan kehidupan, tanah dengan petir, teleportasi dengan telekinesis, lalu
angin dengan pengontrol waktu.”
“Jadi maksudnya? Aku harus menangkap bayangan
bersimbol teleportasi?” Luhan memastikan.
“Ya,” Kyungsoo mengangguk.
“Betapa sulitnya itu!” rintih Luhan. “Kai-ah, kenapa
aku harus berpasangan denganmu?”
***
Ini tentang salju.
Suho mencari-cari bayangan itu. Bayangan bersimbol
pecahan es, yang terkadang muncul dan lenyap di batuan es. Suho sendiri juga
bingung bagaimana ceritanya ia bisa sampai di batuan es itu.
Simbol itu mendadak muncul, tepat di depan wajahnya.
Suho segera melayangkan tangannya ke situ. Namun sekejap menghilang. Suho
mendengus pelan, lalu ia mengedarkan pandangannya.
Mendadak ada yang melemparinya dengan bola-bola salju.
Suho yang kaget menunduk, berusaha melindungi kepalanya dari serangan itu.
Tetapi tidak pula serangan itu berhenti. Justru semakin banyak dan bertambah
banyak. Lama kelamaan seluruh tubuhnya tertutup salju. Suho yang merasa
kedinginan hendak menghancurkan gundukan salju tersebut. Tetapi anehnya tidak
bisa. Gundukan itu keras layaknya batu.
Suho seketika panik. Ia berusaha sekuat tenaga,
meninju-ninju segala arah. Gagal. Suho terdiam. Tenaganya terkuras banyak.
Namun ia teringat kembali akan kekuatan airnya.
Suho memejamkan mata.
Tiba-tiba gundukan itu pecah berkeping-keping. Suho
berdiri di sana. Gelombang air menyelimutinya seperti bola. Bayangan bersimbol
itu ada di ujung sana. Bayangannya tidak terlihat, hanya simbolnya saja yang
melayang di udara.
Suho menghempaskan bola air yang menyelimuti
tubuhnya ke sana. Simbol itu dengan mudah menghindar. Suho berjalan mendekat.
Ia menggerakkan tangannya, mengendalikan gelombang air yang muncul dari balik
tubuhnya, menyerbu simbol itu.
Ketika gelombang itu menyentuh simbol, airnya
membeku.
Suho mendekat perlahan, hendak mengambil simbol
tersebut. Namun si simbol tiba-tiba membuat gelombang air yang membeku itu
pecah. Pecahannya berupa jarum, yang melayang sejenak, sebelum akhirnya
menerjang Suho.
***
“Ah, aih,” Chanyeol menggapai-nggapai simbol Kris
yang melayang di udara. Jauh di angkasa sana. Chanyeol meloncat. Tidak sampai.
Ia melompat lebih tinggi. Tetap saja ia gagal.
Ups, tidak hanya simbol yang ada di sana.
Terlihat mata merah besar yang menyala mendadak.
Chanyeol yang melihatnya bergidik. Setelah itu tubuhnya yang hitam bergerak.
Cakar tajamnya bergesekan dengan tanah menimbulkan bunyi berdecit. Sayapnya
dibentangkan lebar-lebar. Lalu ia dan Chanyeol bertatapan. Chanyeol hanya
menelan ludah. Ia tahu siapa yang ada di depannya itu.
Tiba-tiba ada api yang menyembur dari mulut sosok
itu. Chanyeol yang kaget berlari pergi.
Itu … naga.
***
“Sepertinya aku mudah kok. Tidak perlu berlari-lari
seperti Chanyeol. Lihatlah, simbolnya menempel di pohon MAMA,” Baekhyun
mendekati pohon. Ia tersenyum penuh kemenangan sambil menyentuh simbol itu. Ia
memegangnya, lalu hendak menariknya keluar. Tidak bisa.
“Apa? Ayolah,” Baekhyun berusaha mengeluarkan simbol
itu. “Ini menggunakan tenaga dalam? Baiklah.”
Baekhyun menekan simbol itu kuat-kuat. Terus
berusaha mengeluarkannya. Sampai-sampai ia meringis saat mengetahui darah segar
mengalir dari telapak tangannya. Ia tidak bisa melepaskan tangannya dari situ.
“Napasku sesak,” Baekhyun mengamati simbol itu. “Ini
simbol kehidupan, ya? Pantas saja. Ia bisa bertindak sesukanya hendak melukai
orang atau mengobatinya.” Baekhyun menarik napas, “Aku bisa mati kalau begini.”
***
“Argh!” Kai menarik napas. Ia baru saja menabrak
sesuatu. Ia berbalik, memandang simbol itu. Simbol telekinesis, yang mampu
mendorong, mengangkat, atau lebih tepatnya mengendalikan suatu benda.
Kai berdiri. Ia berteleportasi lebih dekat dengan
simbol itu, namun justru kini yang didapatkannya adalah dorongan yang jauh
lebih kuat. Kini justru ia menabrak batu. Kai seketika terjerembab. Di
dapatinya jidatnya berdarah.
“Sialan!” pekiknya. Kai mengusap jidatnya, lalu ia
mengaduh. Kai melempar pandangannya. Ia mendapati Baekhyun kesulitan dengan
pohon MAMA. Tangannya penuh darah. Baekhyun sendiri tidak mau melihat
tangannya. Ia menunduk sambil meringis. Tangan satunya lagi memegang dadanya.
Ia juga sesak napas.
Kai bersyukur ia tidak separah Baekhyun. Hanya
jidatnya yang berdarah. Itu tidak masalah. Kai bangkit lagi. Ia kemudian
berteleportasi. Ketika simbol itu hendak mendorongnya, Kai berteleportasi lagi.
Menghindar. Begitu seterusnya sampai ketika tangan Kai hendak memegang simbol,
simbol itu menepis tangannya. Lalu Kai tiba-tiba dijatuhkannya ke tanah dalam
keadaan menelungkup. Kemudian Kai merasa ada sesuatu yang memukul punggungnya.
Kai yang dalam keadaan terpojok itu mencari celah untuk kabur.
***
Kyungsoo merasa dirinya disetrum lagi. Kyungsoo
terjatuh. Ia berbalik dan cepat-cepat membuat tameng dari tanah sebelum ada
lagi yang menyetrumnya. Namun tanahnya mendadak terbelah, lalu ada petir yang
lain menyerangnya.
Kyungsoo yang kaget cepat-cepat berlari. Tentu saja
petir jauh lebih cepat darinya. Sehingga dirinya kembali tersetrum. Kyungsoo
menarik napasnya. Jantung berdegup kencang. Simbol itu … kemana dia?
***
Sehun merasa dirinya diputar, lalu berada dalam
sebuah pantai yang indah. Sehun menghirup udaranya, tetapi mendadak ia diputar
lagi ke sebuah pabrik dengan asapnya yang mengepul. Sehun terbatuk-batuk. Ia
mengamati pemandangan di sekitarnya. Dunia kembali berputar. Ia kini berada di
sebuah hutan belantara. Ada manusia purba di situ, tengah menggesekkan batu
guna membuat api.
“Di mana simbol itu?” gumam Sehun sendiri. Lagi,
dirinya diputar dan kembali ke waktu semula. Waktu di mana ia berada dalam
taman itu.
Sehun tiba-tiba tersaruk ke depan. Ada seseorang
yang menendangnya dari belakang. Ia buru-buru bangkit dan membalikkan badan.
Bayangan bersimbol itu nampak. Sehun hendak mengeluarkan anginnya, tetapi
simbol itu memberhentikan waktu, sehingga Sehun tak mampu bergerak. Simbol itu
melangkah mendekati Sehun, lalu memukulinya dengan kasar sebelum ia membuat
waktu berjalan lagi.
Sehun terjatuh. Ia memegangi tangannya yang penuh
memar. Ia memandangi bayangan itu.
***
Xiumin berada dalam sebuah tabung berisi air. Di
sana ada bayangan bersimbol pula, yang tepat berada di depannya. Xiumin harus
segera menangkap simbol itu, sebelum dirinya sendiri kehabisan napas di dalam
tabung itu.
Simbol itu dengan lincah menghindar tiap kali Xiumin
mengulurkan tangan. Sepertinya ia juga membuat Xiumin makin lama makin
tenggelam jauh dari permukaan. Xiumin berusaha menangkap simbol itu, sambil
terus menghemat napasnya.
Ia akhirnya punya ide. Dibekukannya simbol itu
bersama air di sekitarnya. Ia mengambilnya, lalu hendak ke permukaan. Sayang,
ada sesuatu yang menarik kakinya jauh lebih dalam. Tentu saja hal itu membuat
Xiumin kaget. Sementara napasnya hampir habis.
***
Kris kebingungan. Ia melihat bayangan itu. Bayangan
itu juga melihatnya. Namun ia bingung bagaimana mengambil simbol itu, karena
bayangan itu berada dalam suatu area yang terbakar. Apinya menjalar ke
mana-mana.
Kris menengok ke atas. Ia tidak bisa menggunakan
kekuatan terbangnya. Bila terbang, api itu justru akan membakarnya karena api
tersebut tertiup angin ke atas. Ia berpikir.
***
Lay memandangi cahaya-cahaya itu. Cahaya yang
membuat matanya silau, menghalangi pandangannya. Lay mencari-cari simbol itu.
Ia kesulitan mencarinya akibat cahaya yang seolah ingin merusak matanya.
***
Ini butuh ketelitian. Luhan mengikuti ke mana
jalannya si simbol. Namun sering kali simbol itu lolos dari pandangannya.
Simbol milik Kai, yang berteleportasi ke mana pun ia mau. Luhan berusaha
menangkapnya, tetapi tentu saja susah.
***
Chen melihat simbol itu. Bergerak dengan cepat di
tanah. Chen berusaha menangkapnya, menghentikan gerakannya. Namun selalu gagal.
Sampai akhirnya tiba-tiba ada stalakmit runcing muncul dari tanah yang menyobek
kulitnya.
Ketika stalakmit itu menyayat punggungnya, ia muntah
darah.
***
[Bersambung ....]
By : An IsTa (Annisa, Isti, and Gita)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar