Author : An
IsTa (Annisa, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast : All EXO’s members, Kim Yeajin (OC)
Genre : Mystery, adventure
***
“Terima kasih, selamat berbelanja kembali.”
Kyungsoo membawa kaleng sodanya keluar supermarket.
Ia meminumnya sambil berjalan ke dorm. Setelah jadwal padat mereka seharian,
sekarang saatnya beristirahat.
Tiba-tiba Yeajin datang menghampiri Kyungsoo dari
arah yang tidak diketahui. Kyungsoo kaget. Ia tersenyum melihat Yeajin. Awalnya
ia menebak-nebak tanggapan Yeajin. Apakah ia dingin atau justru tersenyum
membalasnya?
Yeajin tidak kedua-duanya. Ia menoleh ke kanan-kiri,
seolah memastikan tidak ada siapapun di sana selain mereka. Kemudian ia memeluk
tangan Kyungsoo, “Oppa, aku ingin bicara dengan Oppa.”
Mereka berjalan menuju dorm. Sampai di lobby, Yeajin
menghentikan langkah, “Oppa … aku bingung harus memulainya dari mana.”
“Memulai apa?”
“Memulai ceritanya,” Yeajin menunduk. “Oppa,
semuanya … aku … ah ….”
Kyungsoo menyodorkan kaleng sodanya, “Ini minumlah.
Mungkin bisa menyegarkanmu.”
Yeajin meneguknya sedikit, “Terima kasih. Jadi
begini …”
“Tunggu dulu, bagaimana kalau kita di dorm saja?”
ajak Kyungsoo.
Yeajin berpikir sejenak, “Baiklah.”
***
Sampai di dorm.
Yeajin menghela napas, memandang satu per satu
orang-orang di situ yang menatapnya pula.
“Silakan dimulai,” ujar Kyungsoo sambil duduk di
sofa.
Yeajin terdiam, “Dari mana aku harus memulai?”
“Dari mana saja,” sahut Chanyeol. “Kamu ingin
bercerita apa?”
“Soal Ryeowook,” Yeajin menunduk.
Kai, Chanyeol, dan Baekhyun bertatapan. Mereka
seolah berkata, “Dugaan kita benar.”
Yeajin mengangkat kepalanya, “Sebelum Kyungsoo dan Baekhyun
datang ke sekolah kita dulu, aku dan Ryeowook menjalani hubungan. Aku sangat
menyukainya, begitu pula dengan Ryeowook. Namun hubungan kami ditentang ayahku.
Ayahku tahu Ryeowook memliiki hati yang jahat, dan beliau memintaku untuk tidak
dekat dengan Ryeowook. Aku yang menyayangi Ryeowook tentu saja tidak menuruti
perintahnya.”
Yeajin menarik napas, “Tetapi Ryeowook masuk SM dan
kita mulai jarang berhubungan. Saat itu Kyungsoo masuk dan aku tertarik
padanya.”
Tidak ada kometar.
“Aku bingung dan shock
ketika mendengar Sehun diculik Ryeowook gara-gara kekuatan itu. Namun karena
kalian sudah tiba di rumahku, tidak mungkin aku menolak kalian. Jadi, terpaksa
aku menolong Sehun.”
“Kamu terpaksa?” Chanyeol membelalak.
Yeajin menunduk lagi, “Kemudian malamnya ayahku
datang kepadaku, menyuruhku untuk memusnahkan kekuatan itu. Tetapi terlambat,
kertas itu sudah dikembalikan ke tempatnya semula. Sedangkan aku tentu saja
tidak bisa membukanya sendiri. Dan aku juga tidak bisa berteleportasi.”
“Lalu?” Suho memajukan kepalanya.
“Ayahku mengancamku, agar segera memusnahkan
kekuatan itu. Bila tidak, beliau akan menyusup ke tubuh Luhan dan menjadi werewolf. Dengan begitu beliau mudah
saja membunuh Ryeowook. Aku hanya bisa terdiam, tidak tahu harus bagaimana.”
“Pantas saja tiba-tiba Luhan menjadi werewolf,” ujar Chanyeol.
“Aku jadi werewolf?”
Luhan kaget mendengarnya.
“Kemudian,” Yeajin terisak sedikit. “Aku mendengar
Ryeowook mati. Aku menangis, ya memang. Lalu aku teringat kekuatan rahasia yang
diberikan cincin-cincin itu.”
Mereka mendengarkan dengan serius.
“Cincin-cincin itu bisa membangkitkan orang mati.
Bila cincin tersebut ditata sedemikian rupa membentuk sebuah pola di atas
perlak khusus yang dibentangkan di atas kuburan orang tersebut, lalu baca sebuah
mantra. Dengan begitu ia bisa bangkit, dan juga ia memiliki semua kekuatan di
cincin itu.”
Terdiam.
“Tapi kenapa kamu tidak ingin membacakan bagian
memusnahkan kekuatan saat memegang kertas itu? Kertas kusam yang ditemukan Kai
di gudang anggur,” tanya Suho.
Yeajin mengusap matanya, “Kupikir kamu tidak
membacanya. Bagaimana kamu tahu ada bagian itu di sana?”
“Aku berada di belakangmu. Aku membacanya,” jawab
Suho cepat.
“Aku bingung saat itu, Oppa. Aku hanya ingin Sehun
kembali bebas dan Ryeowook tak lagi berbuat jahat setelah mendapat kekuatan
itu,” Yeajin menangis di pundak Kyungsoo. “Kumohon bantu aku menghentikan
Ryeowook.”
Kai menepuk lengan Yeajin dua kali. Yeajin
menatapnya.
“Kamu yang membangkitkan Ryeowook, bukan? Kamu yang
melakukan suatu ritual itu. Kalau begitu, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu
mau. Lalu kenapa kami harus membantumu?” Kai memandang bola mata Yeajin yang
merah akibat menangis.
“Oppa, Ryeowook tidak mengenaliku. Ia melukaiku. Ia
juga tidak menyahut panggilanku, atau menjawab segala perkataanku padanya,”
Yeajin menangis lagi. “Aku ingin ia kembali ke tempat yang seharusnya.”
Mereka bertatapan lagi.
Baekhyun mendekat, “Sekarang, mungkin kamu tahu
bagaimana cara menghentikan Ryeowook?”
Yeajin mengatur napasnya, sebelum akhirnya ia
berkata, “Ayahku pernah berkata padaku suatu hari, ‘Hanya dua belas pelopor
kekuatan yang bisa menghentikan bangkitnya suatu makhluk dengan cincin-cincin
ini. Mereka harus melintasi dunia dimensi melalui mimpi, masuk dalam sebuah
taman dengan pohon MAMA.’.”
Hening.
“Pohon MAMA? Maksudnya pohon di cover depan novel itu?” mata Chen membesar.
“Ya,” Yeajin mengangguk. “Ayahku pernah menceritakan
suasana di sana. Mereka para pelopor itu tidur dalam niat menemui taman itu,
maka mereka akan melintasi beberapa dimensi. Setelah itu akan ada sebuah pintu
raksasa terbuat dari permata dan emas, yang akan terbuka bila benar-benar ada
pelopor kekuatan di situ. Jadi misalnya kalian bukan pelopor kekuatan, pintu
itu tidak terbuka. Di balik pintu itu terdapat taman. Bukan taman biasa.
Semuanya terlihat seperti lukisan. Ada sebuah pohon besar di tengah, dengan
daun-daun yang rimbun. Tetapi dedaunannya kuning, sekarat apabila ada orang
yang dibangkitkan dari cincin-cincin itu. Kemudian ada pula dua belas bayangan
dengan simbol aneh. Simbol-simbol itu harus berhasil dipegang, lalu tancapkan
di batang pohon. Setelah keduabelas simbol menancap, pohon tumbang. Bencana
alam yang menggabungkan dua belas kekuatan terjadi, tanahnya membelah. Kalian
harus cepat-cepat kembali ke pintu, sebelum tanahnya pecah. Jika terjebak, bisa
jadi kalian tidak kembali ke dunia ini selamanya.”
Yeajin terengah-engah. Sedangkan teman-temannya
hanya terdiam.
“Dengan demikian, Ryeowook akan kembali ke tempat
asalnya. Juga kekuatan itu hilang dari tubuh kalian. Seratus persen,” sambung
Yeajin.
Karena tidak mendapat reaksi dari teman-temannya,
Yeajin melanjutkan.
“Sudah kujelaskan semuanya kan?” Yeajin tersenyum
tipis. “Jadi bisa kita mulai sekarang?”
“Tunggu dulu,” Baekhyun menyela. “Aku tidak terlalu
mengerti. Bisa jelaskan dari awal?”
***
“Di sini,” Kai menghempaskan dirinya ke ranjang. Ia
mencari-cari posisi yang nyaman.
“Kris hyung, bantu aku menggeser ranjang ini. Kita
gabungkan dua ranjang ini, lalu kita tidur di atasnya,” Suho mendorong-dorong
ranjang.
“Yang satu ini perlu kita gabungkan juga?” Xiumin
menunjuk ranjang lain.
“Yup, ayo,” Kyungsoo menarik tangan Xiumin. Mereka
dibantu teman lain menggabungkan ketiga ranjang itu. Sekarang mereka berbaring
di atasnya.
“Jangan lupa niatnya,” Yeajin mengingatkan. Ia duduk
di sofa tak jauh dari situ.
“Tapi bagaimana jika kita bukan pelopor kekuatan
itu?” tanya Chanyeol.
“Kita coba saja,” Chen meregangkan tangan. “Kai-ah,
geser ke sana sedikit. Aku kesempitan di sini.”
“Aku juga sempit.”
“Kalau begitu yang di sana geser.”
“Aku sudah hampir jatuh. Suruh saja sisi satunya.”
“Woi, geser!”
“Aduh, Chanyeol hyung, kakimu singkirkan!”
“Geser!”
“Baekhyun! Jangan letakkan tanganmu di kepalaku!”
“Aku juga mau pakai selimutnya!”
“Hei, geser!”
“Ya, ya. Sehun-ah, geser. Chen teriak-teriak dari
tadi.”
“Ya. Tapi, aduh! Hei, jangan dorong aku! Atau …”
Keributan itu berhenti ketika Sehun jatuh dari
ranjang.
Yeajin hanya menggelengkan kepalanya.
***
[Bersambung ....]
By : An IsTa (Annisa, Isti, and Gita)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar