About

Sabtu, 12 Juli 2014

Shadows (Part 4)

Title    : Shadows
Author : An IsTa (Annisa, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast     : All EXO’s members, Kim Yeajin (OC)

Genre  : Mystery, adventure
***
“Terima kasih, selamat berbelanja kembali.”
Kyungsoo membawa kaleng sodanya keluar supermarket. Ia meminumnya sambil berjalan ke dorm. Setelah jadwal padat mereka seharian, sekarang saatnya beristirahat.
Tiba-tiba Yeajin datang menghampiri Kyungsoo dari arah yang tidak diketahui. Kyungsoo kaget. Ia tersenyum melihat Yeajin. Awalnya ia menebak-nebak tanggapan Yeajin. Apakah ia dingin atau justru tersenyum membalasnya?
Yeajin tidak kedua-duanya. Ia menoleh ke kanan-kiri, seolah memastikan tidak ada siapapun di sana selain mereka. Kemudian ia memeluk tangan Kyungsoo, “Oppa, aku ingin bicara dengan Oppa.”
Mereka berjalan menuju dorm. Sampai di lobby, Yeajin menghentikan langkah, “Oppa … aku bingung harus memulainya dari mana.”
“Memulai apa?”
“Memulai ceritanya,” Yeajin menunduk. “Oppa, semuanya … aku … ah ….”
Kyungsoo menyodorkan kaleng sodanya, “Ini minumlah. Mungkin bisa menyegarkanmu.”
Yeajin meneguknya sedikit, “Terima kasih. Jadi begini …”
“Tunggu dulu, bagaimana kalau kita di dorm saja?” ajak Kyungsoo.
Yeajin berpikir sejenak, “Baiklah.”
***
Sampai di dorm.
Yeajin menghela napas, memandang satu per satu orang-orang di situ yang menatapnya pula.
“Silakan dimulai,” ujar Kyungsoo sambil duduk di sofa.
Yeajin terdiam, “Dari mana aku harus memulai?”
“Dari mana saja,” sahut Chanyeol. “Kamu ingin bercerita apa?”
“Soal Ryeowook,” Yeajin menunduk.
Kai, Chanyeol, dan Baekhyun bertatapan. Mereka seolah berkata, “Dugaan kita benar.”
Yeajin mengangkat kepalanya, “Sebelum Kyungsoo dan Baekhyun datang ke sekolah kita dulu, aku dan Ryeowook menjalani hubungan. Aku sangat menyukainya, begitu pula dengan Ryeowook. Namun hubungan kami ditentang ayahku. Ayahku tahu Ryeowook memliiki hati yang jahat, dan beliau memintaku untuk tidak dekat dengan Ryeowook. Aku yang menyayangi Ryeowook tentu saja tidak menuruti perintahnya.”
Yeajin menarik napas, “Tetapi Ryeowook masuk SM dan kita mulai jarang berhubungan. Saat itu Kyungsoo masuk dan aku tertarik padanya.”
Tidak ada kometar.
“Aku bingung dan shock ketika mendengar Sehun diculik Ryeowook gara-gara kekuatan itu. Namun karena kalian sudah tiba di rumahku, tidak mungkin aku menolak kalian. Jadi, terpaksa aku menolong Sehun.”
“Kamu terpaksa?” Chanyeol membelalak.
Yeajin menunduk lagi, “Kemudian malamnya ayahku datang kepadaku, menyuruhku untuk memusnahkan kekuatan itu. Tetapi terlambat, kertas itu sudah dikembalikan ke tempatnya semula. Sedangkan aku tentu saja tidak bisa membukanya sendiri. Dan aku juga tidak bisa berteleportasi.”
“Lalu?” Suho memajukan kepalanya.
“Ayahku mengancamku, agar segera memusnahkan kekuatan itu. Bila tidak, beliau akan menyusup ke tubuh Luhan dan menjadi werewolf. Dengan begitu beliau mudah saja membunuh Ryeowook. Aku hanya bisa terdiam, tidak tahu harus bagaimana.”
“Pantas saja tiba-tiba Luhan menjadi werewolf,” ujar Chanyeol.
“Aku jadi werewolf?” Luhan kaget mendengarnya.
“Kemudian,” Yeajin terisak sedikit. “Aku mendengar Ryeowook mati. Aku menangis, ya memang. Lalu aku teringat kekuatan rahasia yang diberikan cincin-cincin itu.”
Mereka mendengarkan dengan serius.
“Cincin-cincin itu bisa membangkitkan orang mati. Bila cincin tersebut ditata sedemikian rupa membentuk sebuah pola di atas perlak khusus yang dibentangkan di atas kuburan orang tersebut, lalu baca sebuah mantra. Dengan begitu ia bisa bangkit, dan juga ia memiliki semua kekuatan di cincin itu.”
Terdiam.
“Tapi kenapa kamu tidak ingin membacakan bagian memusnahkan kekuatan saat memegang kertas itu? Kertas kusam yang ditemukan Kai di gudang anggur,” tanya Suho.
Yeajin mengusap matanya, “Kupikir kamu tidak membacanya. Bagaimana kamu tahu ada bagian itu di sana?”
“Aku berada di belakangmu. Aku membacanya,” jawab Suho cepat.
“Aku bingung saat itu, Oppa. Aku hanya ingin Sehun kembali bebas dan Ryeowook tak lagi berbuat jahat setelah mendapat kekuatan itu,” Yeajin menangis di pundak Kyungsoo. “Kumohon bantu aku menghentikan Ryeowook.”
Kai menepuk lengan Yeajin dua kali. Yeajin menatapnya.
“Kamu yang membangkitkan Ryeowook, bukan? Kamu yang melakukan suatu ritual itu. Kalau begitu, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Lalu kenapa kami harus membantumu?” Kai memandang bola mata Yeajin yang merah akibat menangis.
“Oppa, Ryeowook tidak mengenaliku. Ia melukaiku. Ia juga tidak menyahut panggilanku, atau menjawab segala perkataanku padanya,” Yeajin menangis lagi. “Aku ingin ia kembali ke tempat yang seharusnya.”
Mereka bertatapan lagi.
Baekhyun mendekat, “Sekarang, mungkin kamu tahu bagaimana cara menghentikan Ryeowook?”
Yeajin mengatur napasnya, sebelum akhirnya ia berkata, “Ayahku pernah berkata padaku suatu hari, ‘Hanya dua belas pelopor kekuatan yang bisa menghentikan bangkitnya suatu makhluk dengan cincin-cincin ini. Mereka harus melintasi dunia dimensi melalui mimpi, masuk dalam sebuah taman dengan pohon MAMA.’.”
Hening.
“Pohon MAMA? Maksudnya pohon di cover depan novel itu?” mata Chen membesar.
“Ya,” Yeajin mengangguk. “Ayahku pernah menceritakan suasana di sana. Mereka para pelopor itu tidur dalam niat menemui taman itu, maka mereka akan melintasi beberapa dimensi. Setelah itu akan ada sebuah pintu raksasa terbuat dari permata dan emas, yang akan terbuka bila benar-benar ada pelopor kekuatan di situ. Jadi misalnya kalian bukan pelopor kekuatan, pintu itu tidak terbuka. Di balik pintu itu terdapat taman. Bukan taman biasa. Semuanya terlihat seperti lukisan. Ada sebuah pohon besar di tengah, dengan daun-daun yang rimbun. Tetapi dedaunannya kuning, sekarat apabila ada orang yang dibangkitkan dari cincin-cincin itu. Kemudian ada pula dua belas bayangan dengan simbol aneh. Simbol-simbol itu harus berhasil dipegang, lalu tancapkan di batang pohon. Setelah keduabelas simbol menancap, pohon tumbang. Bencana alam yang menggabungkan dua belas kekuatan terjadi, tanahnya membelah. Kalian harus cepat-cepat kembali ke pintu, sebelum tanahnya pecah. Jika terjebak, bisa jadi kalian tidak kembali ke dunia ini selamanya.”
Yeajin terengah-engah. Sedangkan teman-temannya hanya terdiam.
“Dengan demikian, Ryeowook akan kembali ke tempat asalnya. Juga kekuatan itu hilang dari tubuh kalian. Seratus persen,” sambung Yeajin.
Karena tidak mendapat reaksi dari teman-temannya, Yeajin melanjutkan.
“Sudah kujelaskan semuanya kan?” Yeajin tersenyum tipis. “Jadi bisa kita mulai sekarang?”
“Tunggu dulu,” Baekhyun menyela. “Aku tidak terlalu mengerti. Bisa jelaskan dari awal?”
***
“Di sini,” Kai menghempaskan dirinya ke ranjang. Ia mencari-cari posisi yang nyaman.
“Kris hyung, bantu aku menggeser ranjang ini. Kita gabungkan dua ranjang ini, lalu kita tidur di atasnya,” Suho mendorong-dorong ranjang.
“Yang satu ini perlu kita gabungkan juga?” Xiumin menunjuk ranjang lain.
“Yup, ayo,” Kyungsoo menarik tangan Xiumin. Mereka dibantu teman lain menggabungkan ketiga ranjang itu. Sekarang mereka berbaring di atasnya.
“Jangan lupa niatnya,” Yeajin mengingatkan. Ia duduk di sofa tak jauh dari situ.
“Tapi bagaimana jika kita bukan pelopor kekuatan itu?” tanya Chanyeol.
“Kita coba saja,” Chen meregangkan tangan. “Kai-ah, geser ke sana sedikit. Aku kesempitan di sini.”
“Aku juga sempit.”
“Kalau begitu yang di sana geser.”
“Aku sudah hampir jatuh. Suruh saja sisi satunya.”
“Woi, geser!”
“Aduh, Chanyeol hyung, kakimu singkirkan!”
“Geser!”
“Baekhyun! Jangan letakkan tanganmu di kepalaku!”
“Aku juga mau pakai selimutnya!”
“Hei, geser!”
“Ya, ya. Sehun-ah, geser. Chen teriak-teriak dari tadi.”
“Ya. Tapi, aduh! Hei, jangan dorong aku! Atau …”
Keributan itu berhenti ketika Sehun jatuh dari ranjang.
Yeajin hanya menggelengkan kepalanya.
***
[Bersambung ....]
By : An IsTa (Annisa, Isti, and Gita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar