About

Sabtu, 12 Juli 2014

Shadows (Part 3)

Title    : Shadows
Author : An IsTa (Annisa, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast     : All EXO’s members, Kim Yeajin (OC)

Genre  : Mystery, adventure
***
Malamnya, seluruh anggota XOXO berkumpul di sana. Mereka bersenda gurau, saling bercerita, atau kegiatan lainnya. Yang jelas Sehun sudah sadar, dan mereka mensyukuri hal itu. Sekarang saatnya melepas rindu pada Sehun, sehingga mereka benar-benar menikmati malam itu.
Tidak hingga pintu tiba-tiba diketuk.
Kyungsoo melangkah ke pintu. Ia membukanya, dan Yeajin muncul di sana. Dengan dingin, berkatalah ia, “Sehun sudah sadar?”

Kyungsoo dengan senyum ramahnya menjawab, “Sudah. Ayo, masuklah! Kita nikmati malam ber …”
Pintu didorong dengan keras. Yeajin menyelinap masuk. Ia berhenti di depan Sehun. Sehun menatapnya bingung, sedangkan Yeajin mendelik padanya. Sementara teman-teman lainnya justru terdiam, bingung pula ada apa Yeajin datang malam-malam.
Yeajin mengulurkan tangan. Di tangannya terdapat cincin Sehun.
“Kamu ingin mengembalikannya?” tanya Suho.
Yeajin tidak menjawab. Ia masih mendelik pada Sehun. Sehun dengan bingung mengambil cincin itu, lalu memandang Yeajin lagi. Yeajin diam.
Kai sepertinya tahu apa maksud Yeajin. Ia mendekat pada Sehun dan berbisik, “Pakai cincin itu. Lalu lepaskan dengan tulus. Karena bila kamu memakainya, kekuatanmu akan berpindah padanya. Dan ketika cincin dilepaskan, kekuatan itu hilang dari tubuhmu.”
Sehun tanpa basa-basi lagi mengenakan cincin itu. Sepertinya ia tidak mengharapkan kekuatannya. Setelah menunggu dua detik, ia melepasnya dengan mudah. Sehun menyerahkan cincin itu pada Yeajin. Yeajin dengan cepat menyambar cincin itu dan berlalu. Pintu kamar ditutupnya dengan keras.
Hening.
“Tingkah Yeajin aneh sejak peristiwa itu,” tutur Kyungsoo tiba-tiba. “Ia tidak seramah saat aku bertemu dengannya pertama kali.”
“Dia dingin,” tambah Chanyeol. “Aku tidak suka Yeajin yang sekarang.”
“Kenapa dia kembali lagi ke sini? Bukankah cincin itu sudah diberikan padanya? Benar kan, Kyungsoo?” Suho melirik Kyungsoo.
“Aku memang sudah memberikannya pada Yeajin. Tetapi reaksi Yeajin sungguh di luar dugaanku. Ia menutup pintu tanpa berbasa-basi. Biasanya dia cerewet. Tidak begitu cerewet, tapi minimal satu kata pasti keluar dari mulutnya,” ujar Kyungsoo. “Atau biasanya ia tersenyum sebelum menutup pintu.”
“Dia ingin memusnahkan kekuatan itu,” sahut Suho. “Tapi kenapa harus berubah menjadi dingin? Memangnya ada syarat demikian?”
“Mungkin dia kembali ke sini karena kekuatan Sehun belum ada di cincinnya,” kata Kai.
“Iya juga,” Chen meregangkan tangan.
“Tapi, sungguh, aku ingin menyelidiki kenapa Yeajin berubah,” Kyungsoo mendesah. “Dia pasti sedang dalam masalah.”
“Masalah apa?” timpal Luhan.
“Ini hanya firasatku,” Kyungsoo menarik napas. “Semoga saja.”
***
Lagi.
Sosoknya berada di situ. Ia menggelar perlak di atas tanah. Lalu menata cincin-cincin itu membentuk sebuah pola. Pola yang teratur, sangat teratur. Ia memandangi cincin tersebut, memejamkan mata. Diucapkannya suatu kalimat. Kemudian awan bergerak menjauhi tempat itu. Angin malam seolah berhenti. Suara jangkrik yang mengiringinya hilang. Cahaya bulan seakan meredup, padahal tentu saja tidak demikian.
Sedetik setelahnya, tanah bergetar hebat. Sosok itu sampai terjatuh. Kemudian perlak itu tersobek-sobek sendiri. Tetapi cincin-cincinnya tetap berada di sana. Tidak bergerak satu centipun. Ia menyingkirkan poni yang menghalangi matanya, lalu mendongak ke atas.
Angin membentuk pusaran di atas pola cincin itu. Berputar terus, diikuti bebatuan yang melayang di sekitarnya. Setelah itu cahaya bersinar terang, membuat segalanya silau. Sosok itu menutup wajahnya, menghindari cahaya itu. Kemudian, setelah cahaya itu hilang, dibukanya wajahnya.
Ia sedikit tersentak melihat seseorang di depannya. Namun sebelumnya ia telah menduga, orang itu pasti akan muncul. Lelaki, tidak jelas wajahnya karena ia membelakanginya. Ia berdiri di atas pola cincin. Lelaki itu mengendus-endus sesuatu. Kemudian ia menoleh ke kanan, dan ia berjalan ke sana. Tetapi anehnya sekejap ia lenyap.
Sosok itu menahan napas. Ia menunduk, sadar apa yang baru saja dilakukannya.
Ya, lelaki itu … Ryeowook.
***
“Apa maksudnya ini?” ujar Baekhyun saat melihat koran pagi yang dijajakan seorang loper koran.
Kai mendekat. Ia memicingkan matanya, “Berita Hangat : Bangkit dari Kubur, Ryeowook Bertindak Kriminal. Ryeowook bangkit dari kubur?”
“Heh?” Chanyeol mendengar percakapan kedua namja itu. “Ryeowook? Kim Ryeowook maksudnya?”
Loper koran itu melihat korannya, lalu mengangguk, “Ya. Kim Ryeowook yang meninggal akibat serangan serigala itu.”
“Yang benar saja,” Baekhyun menggaruk kepalanya. “Seperti apa rupanya sekarang? Zombie-kah?”
“Di sini ada fotonya,” loper itu menunjuk korannya. “Silakan dibeli jika ingin membacanya lebih lengkap.”
“Ya,” Chanyeol mengeluarkan dompetnya dan memberikan selembar uang. Lalu mereka berjalan menuju dorm sambil membawa koran itu.
“Astaga, lihat wajahnya! Matanya gelap, poninya menutupi dahinya. Lalu, pipinya jauh lebih kurus dari Ryeowook yang pernah kutemui. Dan … oh, dia benar-benar zombie,” komentar Baekhyun saat melihat foto Ryeowook.
Ketika berbuat kejahatan di salah satu sudut kota Seoul, Ryeowook tertangkap basah oleh polisi. Namun, aneh bin ajaib ia hilang dari sana. Diduga ia bisa berteleportasi. Selain itu, gedung dekat taman kota terbakar setelah Ryeowook menjentikkan jarinya. Pemukiman penduduk di pesisir pantai mengalami tsunami, padahal tidak ada gempa yang terjadi. Tsunami itu terjadi juga karena Ryeowook yang melintas di sana. Sepertinya, Ryeowook mempunyai kekuatan luar biasa yang berbahaya,” Kai membaca salah satu paragraf dalam koran. “Tunggu … soal kekuatan.”
Mereka bertiga berhenti berjalan. Ada seseorang yang terbesit di benak mereka. Seseorang yang ikut serta dalam kejadian ini.
“Tapi benarkah ia?” Baekhyun memandang Chanyeol dan Kai. “Kalian juga berpikiran yang sama denganku, bukan?”
Serempak, Chanyeol dan Kai mengangguk.
***
“Ryeowook, ini aku! Lupakah kamu denganku?” seorang gadis berbicara di depan Ryeowook. “Apa yang kamu lakukan?”
Ryeowook sepertinya tidak mengenal gadis itu sama sekali. Ia berjalan terus, sedangkan gadis itu melangkah mundur mengikuti jalannya Ryeowook.
“Oppa, lihat wajahku!”
Tetapi Ryeowook tidak menghiraukannya.
“Oppa,” si gadis menyentuh Ryeowook pelan. Namun reaksi Ryeowook ganas. Ia menepis lengan si gadis dengan kasar, lalu dibantingnya gadis itu ke tanah. Si gadis meringis, hampir menangis. Ryeowook tetap saja tidak peduli dan melanjutkan jalannya.
Gadis itu akhirnya menangis, “Aku harus minta tolong.”
***
[Bersambung ....]
By : An IsTa (Annisa, Isti, and Gita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar