Author : An
IsTa (Annisa, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast : All EXO’s members, Kim Yeajin (OC)
Genre : Mystery, adventure
***
Malamnya, seluruh anggota XOXO berkumpul di sana.
Mereka bersenda gurau, saling bercerita, atau kegiatan lainnya. Yang jelas
Sehun sudah sadar, dan mereka mensyukuri hal itu. Sekarang saatnya melepas
rindu pada Sehun, sehingga mereka benar-benar menikmati malam itu.
Tidak hingga pintu tiba-tiba diketuk.
Kyungsoo melangkah ke pintu. Ia membukanya, dan
Yeajin muncul di sana. Dengan dingin, berkatalah ia, “Sehun sudah sadar?”
Kyungsoo dengan senyum ramahnya menjawab, “Sudah.
Ayo, masuklah! Kita nikmati malam ber …”
Pintu didorong dengan keras. Yeajin menyelinap
masuk. Ia berhenti di depan Sehun. Sehun menatapnya bingung, sedangkan Yeajin
mendelik padanya. Sementara teman-teman lainnya justru terdiam, bingung pula
ada apa Yeajin datang malam-malam.
Yeajin mengulurkan tangan. Di tangannya terdapat
cincin Sehun.
“Kamu ingin mengembalikannya?” tanya Suho.
Yeajin tidak menjawab. Ia masih mendelik pada Sehun.
Sehun dengan bingung mengambil cincin itu, lalu memandang Yeajin lagi. Yeajin
diam.
Kai sepertinya tahu apa maksud Yeajin. Ia mendekat
pada Sehun dan berbisik, “Pakai cincin itu. Lalu lepaskan dengan tulus. Karena
bila kamu memakainya, kekuatanmu akan berpindah padanya. Dan ketika cincin
dilepaskan, kekuatan itu hilang dari tubuhmu.”
Sehun tanpa basa-basi lagi mengenakan cincin itu. Sepertinya
ia tidak mengharapkan kekuatannya. Setelah menunggu dua detik, ia melepasnya
dengan mudah. Sehun menyerahkan cincin itu pada Yeajin. Yeajin dengan cepat
menyambar cincin itu dan berlalu. Pintu kamar ditutupnya dengan keras.
Hening.
“Tingkah Yeajin aneh sejak peristiwa itu,” tutur
Kyungsoo tiba-tiba. “Ia tidak seramah saat aku bertemu dengannya pertama kali.”
“Dia dingin,” tambah Chanyeol. “Aku tidak suka
Yeajin yang sekarang.”
“Kenapa dia kembali lagi ke sini? Bukankah cincin
itu sudah diberikan padanya? Benar kan, Kyungsoo?” Suho melirik Kyungsoo.
“Aku memang sudah memberikannya pada Yeajin. Tetapi
reaksi Yeajin sungguh di luar dugaanku. Ia menutup pintu tanpa berbasa-basi.
Biasanya dia cerewet. Tidak begitu cerewet, tapi minimal satu kata pasti keluar
dari mulutnya,” ujar Kyungsoo. “Atau biasanya ia tersenyum sebelum menutup
pintu.”
“Dia ingin memusnahkan kekuatan itu,” sahut Suho.
“Tapi kenapa harus berubah menjadi dingin? Memangnya ada syarat demikian?”
“Mungkin dia kembali ke sini karena kekuatan Sehun
belum ada di cincinnya,” kata Kai.
“Iya juga,” Chen meregangkan tangan.
“Tapi, sungguh, aku ingin menyelidiki kenapa Yeajin
berubah,” Kyungsoo mendesah. “Dia pasti sedang dalam masalah.”
“Masalah apa?” timpal Luhan.
“Ini hanya firasatku,” Kyungsoo menarik napas.
“Semoga saja.”
***
Lagi.
Sosoknya berada di situ. Ia menggelar perlak di atas
tanah. Lalu menata cincin-cincin itu membentuk sebuah pola. Pola yang teratur,
sangat teratur. Ia memandangi cincin tersebut, memejamkan mata. Diucapkannya
suatu kalimat. Kemudian awan bergerak menjauhi tempat itu. Angin malam seolah
berhenti. Suara jangkrik yang mengiringinya hilang. Cahaya bulan seakan
meredup, padahal tentu saja tidak demikian.
Sedetik setelahnya, tanah bergetar hebat. Sosok itu
sampai terjatuh. Kemudian perlak itu tersobek-sobek sendiri. Tetapi
cincin-cincinnya tetap berada di sana. Tidak bergerak satu centipun. Ia
menyingkirkan poni yang menghalangi matanya, lalu mendongak ke atas.
Angin membentuk pusaran di atas pola cincin itu.
Berputar terus, diikuti bebatuan yang melayang di sekitarnya. Setelah itu
cahaya bersinar terang, membuat segalanya silau. Sosok itu menutup wajahnya,
menghindari cahaya itu. Kemudian, setelah cahaya itu hilang, dibukanya
wajahnya.
Ia sedikit tersentak melihat seseorang di depannya. Namun
sebelumnya ia telah menduga, orang itu pasti akan muncul. Lelaki, tidak jelas
wajahnya karena ia membelakanginya. Ia berdiri di atas pola cincin. Lelaki itu
mengendus-endus sesuatu. Kemudian ia menoleh ke kanan, dan ia berjalan ke sana.
Tetapi anehnya sekejap ia lenyap.
Sosok itu menahan napas. Ia menunduk, sadar apa yang
baru saja dilakukannya.
Ya, lelaki itu … Ryeowook.
***
“Apa maksudnya ini?” ujar Baekhyun saat melihat
koran pagi yang dijajakan seorang loper koran.
Kai mendekat. Ia memicingkan matanya, “Berita Hangat : Bangkit dari Kubur, Ryeowook
Bertindak Kriminal. Ryeowook bangkit dari kubur?”
“Heh?” Chanyeol mendengar percakapan kedua namja
itu. “Ryeowook? Kim Ryeowook maksudnya?”
Loper koran itu melihat korannya, lalu mengangguk,
“Ya. Kim Ryeowook yang meninggal akibat serangan serigala itu.”
“Yang benar saja,” Baekhyun menggaruk kepalanya.
“Seperti apa rupanya sekarang? Zombie-kah?”
“Di sini ada fotonya,” loper itu menunjuk korannya.
“Silakan dibeli jika ingin membacanya lebih lengkap.”
“Ya,” Chanyeol mengeluarkan dompetnya dan memberikan
selembar uang. Lalu mereka berjalan menuju dorm sambil membawa koran itu.
“Astaga, lihat wajahnya! Matanya gelap, poninya
menutupi dahinya. Lalu, pipinya jauh lebih kurus dari Ryeowook yang pernah kutemui.
Dan … oh, dia benar-benar zombie,”
komentar Baekhyun saat melihat foto Ryeowook.
“Ketika
berbuat kejahatan di salah satu sudut kota Seoul, Ryeowook tertangkap basah
oleh polisi. Namun, aneh bin ajaib ia hilang dari sana. Diduga ia bisa
berteleportasi. Selain itu, gedung dekat taman kota terbakar setelah Ryeowook
menjentikkan jarinya. Pemukiman penduduk di pesisir pantai mengalami tsunami,
padahal tidak ada gempa yang terjadi. Tsunami itu terjadi juga karena Ryeowook
yang melintas di sana. Sepertinya, Ryeowook mempunyai kekuatan luar biasa yang
berbahaya,” Kai membaca salah satu paragraf dalam koran. “Tunggu … soal
kekuatan.”
Mereka bertiga berhenti berjalan. Ada seseorang yang
terbesit di benak mereka. Seseorang yang ikut serta dalam kejadian ini.
“Tapi benarkah ia?” Baekhyun memandang Chanyeol dan
Kai. “Kalian juga berpikiran yang sama denganku, bukan?”
Serempak, Chanyeol dan Kai mengangguk.
***
“Ryeowook, ini aku! Lupakah kamu denganku?” seorang
gadis berbicara di depan Ryeowook. “Apa yang kamu lakukan?”
Ryeowook sepertinya tidak mengenal gadis itu sama
sekali. Ia berjalan terus, sedangkan gadis itu melangkah mundur mengikuti
jalannya Ryeowook.
“Oppa, lihat wajahku!”
Tetapi Ryeowook tidak menghiraukannya.
“Oppa,” si gadis menyentuh Ryeowook pelan. Namun
reaksi Ryeowook ganas. Ia menepis lengan si gadis dengan kasar, lalu
dibantingnya gadis itu ke tanah. Si gadis meringis, hampir menangis. Ryeowook
tetap saja tidak peduli dan melanjutkan jalannya.
Gadis itu akhirnya menangis, “Aku harus minta
tolong.”
***
[Bersambung ....]
By : An IsTa (Annisa, Isti, and Gita)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar