Author : An
IsTa (Annisa, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast : All EXO’s members, Kim Yeajin (OC)
Genre : Mystery, adventure
***
Simbol itu melayang-layang terus, membentuk pusaran.
Ini cukup mudah bagi Tao. Tao menghentikan waktu. Simbol itu berhenti di tengah
pusaran anginnya. Tao melangkah, mengambil simbol tersebut. Lalu dilemparnya
simbol itu ke batang pohon MAMA yang langsung menancap.
Dia orang pertama yang berhasil.
***
Jarum-jarum itu memang berhasil melukai dirinya.
Menancap persis di setiap inci tubunya. Suho mengerang, melihat darah yang
perlahan tapi pasti keluar.
Ia memandang simbol itu. Suho mendekat, namun si
simbol membekukan kakinya. Suho menghentikan langkah. Ia meraih-raih simbol
itu. Simbol tersebut lalu mulai membekukan badannya. Sebelum mencapai tangan,
Suho mengeluarkan airnya yang menarik simbol itu untuk mendekat padanya. Pada
awalnya terlihat berhasil, namun airnya dibekukan pula oleh si simbol. Saat itu
tangannya membeku, dan ia hanya bisa menggerakkan kepalanya.
Si simbol mendekat, semakin dekat dengan dirinya.
Sepertinya ia tengah membuat jarum-jarum es yang baru. Suho tidak
menyia-nyiakan kesempatan ini. Ketika si simbol betul-betul dekat dengannya, ia
melahapnya. Yap, simbol itu kini berada dalam gigitan mulutnya.
Ia menunggu hingga es itu mencair. Saat tangannya
telah bebas, ia mengambil simbol Xiumin dan melemparnya ke pohon MAMA. Menancap
dengan sempurna.
***
Chanyeol melompat ketika si naga mengeluarkan
apinya. Lalu ia mengendalikan api itu ke arah sang naga. Sempat membakar
sayapnya, namun justru naga itu bertambah marah dan menghembuskan api yang
lebih besar. Chanyeol menghindari api itu, kemudian melompat ke atas punggung
naga. Naga itu menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tubuhnya mendadak berselimut api.
Apinya itu membakar Chanyeol. Chanyeol berlari menuju simbol yang melayang di
dekat naga. Ia tak peduli bagaimana keadaan kulitnya. Chanyeol melompat,
mengambil simbol itu dan terjerembab di tanah.
Chanyeol melempar simbol itu ke pohon MAMA. Kulitnya
mengelupas, terbakar.
***
Berhasil. Simbol itu berhasil keluar.
Baekhyun menancapkannya ke pohon. Ia tersenyum,
sebelum akhirnya tak sadarkan diri dan jatuh ke tanah. Tubuhnya penuh darah.
***
Kai menangkap simbol itu setelah si simbol
menariknya dan menusuk perutnya dengan pedang. Entah dari mana simbol itu
mendapatkan pedang tersebut. Kai memandangi si simbol. Ia menancapkannya ke
batang pohon. Lalu dipeganginya perutnya. Kai terduduk lemas.
***
Dengan tangan bergetar, Kyungsoo menancapkan simbol.
Ia berhasil lolos dari setruman yang telah berhasil merusak tubuhnya. Kyungsoo
terjatuh, lalu ia memegangi kepalanya.
***
Ia meloncat keluar. Napasnya benar-benar tidak kuat.
Ia menancapkan simbol itu. Kemudian seketika ia pingsan.
***
Kris mengulurkan tangan. Ia mengambil simbol itu,
lalu menarik tangannya keluar. Tepat dugaannya. Tangannya terbakar. Kris
melempar simbol itu ke batang pohon.
***
Lay membuka matanya lebar-lebar. Ia tahu matanya
mungkin bisa buta setelah kejadian ini. Namun ia tidak menghiraukannya. Lay
melangkah, mendekati cahaya itu karena ia melihat simbol itu. Lay menggapai
simbol itu dan melemparnya ke pohon MAMA. Cahaya yang menyilaukan berhasil
membuat matanya terasa rabun.
***
Luhan
menarik simbol itu ketika si simbol hendak berteleportasi. Simbol itu mendekat,
terus mendekat. Luhan memegangnya, namun si simbol kembali berteleportasi.
Luhan melihat simbol itu di tempat lain. Ia
menariknya lagi. Simbol itu mendekat, dan lagi-lagi ketika Luhan hendak
menyentuhnya ia berteleportasi.
Luhan menarik simbol itu. Untuk yang ketiga kalinya,
simbol itu juga berteleportasi ketika Luhan hampir mengambilnya.
Kali ini Luhan mempercepat gerakannya. Ia menarik
simbol itu, lalu dipegangnya dengan kilat dan ditancapkannya ke pohon.
***
Chanyeol berdiri. Ia memaksakan dirinya. Dengan
terpincang-pincang didekatinya Kai yang duduk bersandar di pohon MAMA. Kai
masih memegangi perutnya, sembari sesekali mengerang.
“Kai-ah,” Chanyeol berusaha tersenyum. “Hai.”
Kai tidak menjawab. Ia hanya memandang Chanyeol
sekilas.
Tao mendekat. Sepertinya hanya dia yang terlihat
sehat di antara semuanya. Kemudian ia memindahkan Kyungsoo ke tempat Kai dan
Chanyeol. Setelah itu digendongnya Baekhyun dan diletakkan di tempat yang sama.
Seusainya ia membantu Kris, Lay, Xiumin, dan Suho duduk di tempat itu pula.
Luhan sama dengan Tao. Ia juga tidak terluka sama sekali.
“Jangan duduk di sini,” ujar Luhan. “Lebih baik di
dekat pintu permata itu. Di sana kita bisa langsung kabur kalau terjadi bencana
alam yang dikatakan Yeajin.”
Akhirnya mereka pindah ke tempat itu. Kemudian Tao
dan Luhan kembali ke pohon MAMA. Mereka menghitung berapa simbol yang sudah
tertancap.
“Sebelas?” hitung Tao. “Siapa yang belum?”
Luhan mengamati kesebelas simbol itu, “Simbolnya
Kyungsoo belum nampak di sini. Siapa yang berpasangan dengan Kyungsoo?”
Mereka mengingat-ingat. Lalu mata mereka membesar
ketika mengingat satu nama.
“Chen!” pekik keduanya.
“Di mana dia?” tanya Luhan khawatir.
Keduanya mencari bersama. Akhirnya Chen ditemukan.
Keadaannya benar-benar mengenaskan. Stalakmit-stalakmit itu merobek-robek
kulitnya, Chen sendiri tak sadarkan diri. Ia menelungkup di sana, dipenuhi
darahnya yang tak berhenti mengalir.
Tao membangunkan Chen. Karena tidak ada respon yang
diberikan, Tao membawa Chen ke pintu permata itu. Sedangkan Luhan yang berusaha
menangkap si simbol.
Simbol itu benar-benar lincah. Ia bergerak ke
sana-sini. Namun Luhan menariknya dengan telekinesisnya, kemudian simbol itu
mendekat dan akhirnya Luhan menancapkannya ke batang.
***
Bencana itu benar-benar terjadi. Bencana yang
menggabungkan keduabelas kekuatan itu. Ada cahaya yang menyilaukan. Api
membara, tsunami yang tinggi, juga naga yang mengamuk. Semuanya bercampur aduk
menyeramkan. Pohon itu tumbang. Sudah seharusnya begitu.
Luhan bergegas berlari pergi. Ia mendekati Tao dan
teman-teman lain. Tao menyemangatinya. Luhan berlari, namun tiba-tiba cahaya
menyilaukan itu menghalangi pandangannya. Saat itu ia tersandung batu dan
terjatuh. Kemudian tanah bergetar hebat. Dan yang lebih buruk terbelah.
Tao mematung. Ia menatap Luhan di ujung sana yang
melindungi kepalanya dari hantaman batu-batu yang berjatuhan.
[Bersambung ....]
By : An IsTa (Annisa, Isti, and Gita)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar