Author : An
IsTa (Annisa, Isti, and Gita)
Length : Chaptered
Cast : All EXO’s members, Kim Yeajin (OC)
Genre : Mystery, adventure
***
Putih.
Itu hal pertama yang dilihat mereka.
Kini mereka berada dalam sebuah ruangan bercat
putih. Mereka tidak bisa menemukan di mana ujung ruangan itu. Yang jelas
semuanya putih.
“Dimensi satu,” kata Kyungsoo pelan. Ia melihat
sebuah tulisan yang melayang di udara. “Kata Yeajin kita akan melewati beberapa
dimensi kan?”
“Ya,” jawab Kai singkat. Mendadak matanya menangkap
sesuatu, “Hei, itu ada sebuah pusaran berwarna hitam-putih. Ayo kita masuk,
siapa tahu di sanalah dimensi kedua.”
Mereka berlari ke sana, masuk ke dalam pusaran.
Tentu saja mereka berputar-putar di dalamnya.
***
Chen memegangi kepalanya. Kini ia sendirian, dalam
ruangan berwarna hitam-putih. Ia berusaha berdiri, namun entah mengapa
kepalanya sangat pusing. Lalu diedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ada
sebuah tulisan di udara, tulisannya ‘Dimensi kedua’.
“Hyung?” Chen memanggil-manggil. “Hyung! Ada yang
mendengar suaraku?”
Tiba-tiba ada suara langkah kaki. Chen menoleh ke
kanan-kiri. Ada Kyungsoo di sana. Berlari-lari kecil menghampirinya.
“Chen hyung, kamu terpisah? Seharusnya kita
bergandengan tangan tadi. Aku sudah bertemu beberapa yang lain. Ada Kai,
Chanyeol, dan Baekhyun di sana. Tetapi mereka terlalu pusing untuk berjalan,”
terang Kyungsoo. “Ayo kita ke sana!”
Keduanya berjalan perlahan. Ruangan itu sangat
membingungkan. Terkadang warna hitam dan putihnya bergerak, lalu
berkelap-kelip. Jalanan juga terasa berputar.
Akhirnya sampailah mereka di suatu tempat. Ya, ada
Kai, Chanyeol, dan Baekhyun. Tapi sekarang ditambah Suho dan Sehun. Mereka
duduk bersama. Berharap melihat teman-teman mereka.
Tidak, justru sekarang yang muncul pusaran
berwarna-warni.
Kai bangkit dari tidurnya, “Pusaran itu … haruskah
kita pentingkan daripada teman-teman yang lain?”
Mereka terdiam, memandang satu sama lain.
“Kita tunggu yang lain saja,” ujar Suho. Detik
berikutnya pusaran itu hilang.
Bermenit-menit telah berlalu. Pusaran itu
berkali-kali muncul, namun diabaikan oleh mereka. Tak berapa lama, Kris, Tao,
Lay, Luhan, dan Xiumin berlari mendekat. Entah dari mana mereka datang.
“Rupanya kalian di sini,” Luhan menarik napas. “Kami
dari tadi berjalan terus mencari kalian, tetapi tidak ketemu juga. Perasaan
kita sudah melewati tempat ini tapi tidak melihat kalian.”
“Lupakan saja,” sahut Suho. “Dimensi ini membuatku
sangat pusing.”
Mereka berduabelas berdiri. Seketika muncul pusaran
lagi.
Mereka bergandengan tangan, lalu saling memandang,
“Siap?”
***
Sekarang mereka bersama. Jatuh di ruangan
berwarna-warni. Warna-warnanya memusingkan, sangat abstrak dengan paduan warna
yang buruk. Bahkan Suho menutup matanya, tidak kuat melihat warna-warna aneh
itu yang melayang di udara. Bergerak bak tertiup angin.
“Dimensi ketiga,” Kai menghela napas. “Sampai
dimensi keberapa pintu itu akan muncul?”
“Entahlah,” Kyungsoo mengangkat bahu. “Kepalaku
rasanya pusing sekali.”
“Ya, mungkin kita bisa istirahat sejenak,” Baekhyun
memeluk tangan Chanyeol. “Pinjam.”
Chanyeol gantian memeluk Baekhyun, “Pinjam.”
***
Ketika terbangun, betapa kagetnya mereka. Suho
sampai meloncat dari duduknya.
“Kenapa kita berada di sini?” tanyanya bingung.
“Ini dimensi keempat,” ujar Xiumin. “Tersembunyi.
Hanya bisa dilewati dengan tidur.”
“Bagaimana kamu tahu?” Chen menatap Xiumin.
“Tadi aku belum tidur. Memandangi warna-warna itu
dan berkhayal. Namun aku kaget melihat satu per satu dari kalian yang tidur
menghilang secara perlahan. Makanya aku coba saja untuk tidur dan rupanya
menembus dimensi. Jadi, di sinilah kita,” jelas Xiumin.
“Dimensi ini mungkin memang sengaja dibuat
tersembunyi. Agar tak sembarang orang mampu masuk,” Chanyeol meregangkan
tangan.
“Kupikir dimensi ini sangat bagus,” kata Tao
tiba-tiba. “Lihatlah, warnanya tidak abstrak atau membingungkan. Justru
warnanya emas, berkilauan.”
“Tunggu dulu,” sahut Kai. “Mungkin pintu permata itu
ada di sini.”
“Aku sudah melihatnya dari tadi,” Chanyeol menunjuk
sesuatu di ujung sana. Ya, sebuah pintu yang sama dengan cerita Yeajin.
“Pintu itu jauh lebih indah dari yang kubayangkan,”
ujar Baekhyun. “Bercahaya, seperti kekuatanku saja.”
“Ayo kita ke sana,” Luhan berlari. Mereka akhirnya
berlari bersama menuju pintu itu.
***
Kyungsoo mendekat perlahan. Teman-temannya berada di
belakang. Kyungsoo mengamati pintu itu. Sama sekali tidak ada gagang pintunya.
Ia menoleh ke belakang sejenak. Teman-temannya mengangguk. Kyungsoo melangkah
lagi.
Ia semakin dekat. Tinggal satu langkah, ia dapat
menyentuh pintu tersebut. Namun, mendadak pintu terbuka.
“Kita pelopor kekuatan itu?” tanya Sehun.
“Sepertinya iya,” Luhan menggandeng tangan Sehun. Ia
tersenyum.
Kyungsoo berbalik. Ia melempar senyum pada
kawan-kawannya, “Kita bisa masuk sekarang?”
***
[Bersambung ....]
By : An IsTa (Annisa, Isti, and Gita)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar