About

Minggu, 17 Agustus 2014

Almost There (Part 2)

Title    : Almost There
Author : An (Annisa)
Length : Chaptered
Cast     : Jessica Jung (SNSD), Lee Dong Hae (Super Junior)

Genre : Sad, mystery, romance
***
Donghae berjalan meninggalkan tempat tersebut. Hujan masih turun dengan deras, membasahi tubuhnya. Tapi ia tidak peduli dengan semua itu. Malam semakin larut, dan namja itu masih berjalan-jalan di trotoar. Ia belum ingin pulang. Rasa kecewanya pada Jessica terlalu besar untuk diungkapkan.
Donghae terus berjalan. Ia ingin mencari udara segar untuk meredakan amarahnya.
Di ujung jalan, ia melihat seseorang berjubah hitam, duduk menghadap meja lebar di depannya. Meja itu dilapisi kain hitam, tidak diletakkan apa-apa pada permukaannya. Karena penasaran, Donghae mendekati orang tersebut. Semakin dekat, auranya terasa mengerikan. Donghae sempat berhenti, mengamati orang tersebut. Perasaan takut menyelimuti hatinya.
Entah kenapa, Donghae memantapkan hatinya untuk bertemu sosok itu. Tidak tahu apa yang membuatnya begitu penasaran dengan orang itu.
Ia sampai, tepat di depan wajah orang misterius itu. Sosok itu tidak menatapnya sama sekali. Pandangannya datar, lurus ke depan. Donghae terdiam, memandang sosok itu.
Orang berjubah itu tidak jelas wanita atau pria. Wajahnya berkeriput, dengan hidung yang mancung. Matanya terbuka setengah, seperti orang yang sedang mengantuk. Poninya berwarna putih, acak-acakan menutupi dahinya. Tudungnya menutupi tiga perempat kepalanya. Pandangannya yang ganjil itu benar-benar mencurigakan. Ia tampak sedang melihat sosok supranatural di sekelilingnya.
Donghae tidak berbicara apa-apa. Sejak beberapa menit yang lalu, ia berdiri di depan sosok itu. Anehnya, sosok itu tidak menyuruh Donghae menyingkir dari hadapannya, padahal tubuh Donghae tentu menghalangi sebagian besar pandangannya.
Donghae menyapa sosok itu, “Halo?”
Sosok tersebut terdiam, sama sekali tidak mengalihkan penglihatannya.
Donghae mencobanya lagi, “Hai, apa kabar?” Ia melambaikan tangannya di depan wajah sosok itu.
Memang terlihat tidak sopan jika mengatakan hal seperti itu pada orang yang lebih tua. Tapi sosok itu tidak merespon sama sekali. Matanya saja tidak berkedip.
“Apa orang ini mati?” Donghae menatap lekat-lekat wajah sosok itu. Jarak matanya dengan mata orang itu mungkin hanya beberapa sentimeter. Saat itupun, sosok itu tidak berkedip. Matanya memang menatap Donghae, tapi tidak seperti menatap Donghae.
Donghae menghela napas. Ia memutuskan untuk pulang. Baru saja ia melangkah, sosok itu mencuri perhatiannya lagi. Sosok ini benar-benar misterius. Apa yang dilakukan seorang kakek atau nenek di malam hari saat hujan deras seperti ini, mengenakan jubah hitam dan duduk di belakang meja lebar yang dilapisi kain? Apa pula yang ditatapnya?
Donghae mencoba meraba meja itu. Ketika tangannya menyentuh permukaan meja, sosok itu menampar tangannya.
“Auch!” Donghae mengelus tangannya. Saat itu si sosok menatapnya, tanpa berkedip. Tangannya dengan kasar menarik Donghae, membuat namja itu tersaruk ke depan. Wajah namja itu sekarang dekat sekali jaraknya dengan wajah sosok itu. Donghae menunduk, tidak berani memandang si sosok.
“Apa yang kau inginkan dari mejaku?” ujarnya galak. “Siapapun yang menyentuh meja ini, harus membuat perjanjian denganku. Dan kau, telah berani menyentuhnya. Maka, apa yang kau inginkan?”
“Per … perjanjian apa?”
“Kau yang memintanya, jadi kau yang menentukan perjanjiannya.”
“Aku tidak meminta apapun.”
“Kalau begitu, aku akan membunuhmu.”
Mata Donghae melebar. Sosok ini akan membunuhnya?
“Kalau kau tidak lekas mengatakan apa yang kau inginkan, aku akan membunuhmu,” ancam si sosok lagi. “Berani-beraninya kau menyentuh meja ini sedangkan kau tidak mempunyai keinginan.”
Donghae sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi di situ. Ia juga tidak tahu maksud dari perkataan si sosok. Menyentuh meja, keinginan, membunuh, apa arti semua ini?
“Katakan!”
Nyali Donghae langsung ciut mendengar bentakan itu. Ingin rasanya ia berlari dari sana, cepat-cepat pulang ke dorm dan meminta Leeteuk melindunginya. Tapi ia tidak bisa. Tangannya dicengkeram kuat oleh si sosok. Bergerak sedikit saja tidak bisa.
Selintas, ia teringat Jessica. Ia ingin Jessica mengetahui perasaannya yang sesungguhnya. Perasaannya selama ini, yang terus mencintai Jessica meski yeoja itu mengiris hatinya.
Donghae menelan ludah, kemudian berkata, “Baiklah. Aku hanya ingin Jessica mengetahui perasaanku sebenarnya padanya. Itu saja.”
Si sosok terdiam sejenak. Kemudian ia tertawa memperlihatkan giginya yang keropos. Ia melepaskan cengkeramannya, dan Donghae kini bisa menghembuskan napas lega. Ia hendak berlari, tetapi tangannya lagi-lagi dipegang si sosok.
Sosok itu membuka secarik kertas kusam, sangat kusam hingga warnanya kuning dan sisi-sisinya tersobek. Lalu ia menyodorkan sebuah bulu pada Donghae, seraya menunjuk suatu titik pada kertas itu, “Kau tanda tangan di sini!”
Donghae menerima bulu itu takut-takut, “Untuk apa aku harus tanda tangan?”
“Ini perjanjianmu padaku. Kau harus membuat perjanjian dulu baru aku akan memenuhi keinginanmu,” jawab sosok itu. “Cepatlah! Aku tidak sabar untuk melakukannya.”
Donghae terpaksa menandatangani kertas itu. Dalam kertas itu ada penjelasan tentang sesuatu, tetapi ia tidak tahu artinya. Sepertinya ditulis dalam bahasa lain. Di bawah penjelasan itulah, si sosok memintanya tanda tangan.
Sosok itu menyeringai senang, menggosok-gosokkan buku jarinya hingga berderik. Ia terlihat begitu bahagia saat Donghae selesai tanda tangan. Segera ia menarik kertas tersebut.
Ia mengeluarkan sebuah kompor mungil. Entah dari mana ia mengeluarkannya. Kemudian ia menyalakan kompor itu, dan apinya langsung membara. Api itu berwarna hijau, bukan merah atau biru. Donghae hanya mengernyitkan dahi melihatnya, kebingungan. Ia nyaris berteriak saat si sosok membakar kertas yang baru saja ia tanda tangani itu dengan api tersebut. Setelah terbakar, api hijau itu langsung padam.
“Kenapa kau … membakar kertas itu? Katanya itu perjanjianku denganmu. Kenapa kau bakar?” Donghae menunjuk-nunjuk kompor dengan telunjuknya yang gemetaran.
Tanpa memperhatikan Donghae, si sosok mengeluarkan sebuah bola kristal berwarna biru bening. Setelah itu ia berkata, “Kau akan melihat hal yang kau inginkan. Di dalam bola ini.”
Donghae memandang si sosok, lalu ia mengamati bola kristal tersebut. Di dalamnya seperti ada asap abu-abu, mengepul. Kemudian seperti tertiup angin, asap itu menghilang pelan-pelan. Di tengah semua itu, Jessica muncul. Ia terlihat kebingungan, menoleh ke sana-kemari.
“Nah, sekarang kita buat keajaiban,” si sosok menaburkan sesuatu di atas bola kristal. “Lihat, dan perhatikan.”
***
Jessica bingung bagaimana ia bisa sampai kemari. Seingatnya, ia sedang di dorm, bercanda ria dengan adiknya, Krystal. Tetapi entah kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa begitu berat, dan matanya juga tertutup, tak bisa dibuka. Kepalanya pusing mendadak. Dan saat ia tidak lagi merasakan semua itu, ia membuka matanya dan … ia berada di sini.
Jessica berdiri di suatu ruangan. Ia tidak tahu ia sedang berpijak atau tidak. Karena ruangan ini benar-benar aneh. Tidak jelas mana lantainya dan mana atapnya. Semuanya berwarna cokelat, sedikit goresan putih abstrak yang bercampur. Dan, warna itu juga bergerak. Seperti permukaan kopi yang diaduk.
Ketika itu sekonyong-konyong ada bayang-bayang di depannya. Ia melihat Donghae tengah berdiri di sisi jalan, menantinya. Dilihatnya pula sosok Jessica yang lain di sana, bermain di bar bersama teman-temannya. Jessica mengerutkan dahi melihat hal itu.
Bayang-bayang itu sepertinya menceritakan sesuatu. Donghae terlihat berdiri di sana, tidak berpindah satu sentipun. Malam yang bertambah larut, juga suasana yang tambah sepi terjadi. Namun Donghae belum beranjak sedikitpun. Di sisi lain ia melihat pula, sosoknya bermain gembira bersama teman-teman, melupakan janjinya untuk bertemu Donghae malam itu.
Jessica masih tidak mengerti maksud dari bayang-bayang itu. Kemudian gambar yang ditampilkan bayang-bayang itu berpendar. Diganti gambar lain. Di situ ia melihat lagi, Donghae yang terus setia menunggunya sedangkan sosoknya yang selalu melupakan janjinya pada Donghae. Lalu gambarnya diganti, tapi masih dengan pemandangan yang sama. Berulang kali gambar itu ditampilkan hingga akhirnya Jessica mengerti.
Ia sekarang tahu apa maksud dari bayang-bayang itu. Semuanya menggambarkan masa lalunya dengan Donghae. Jessica juga sadar, betapa Donghae mencintainya. Karena cinta itulah Donghae rela menantinya berjam-jam meski akhirnya ia tidak datang.
Lalu bayang-bayang itu berganti lagi. Sekarang ia melihat Super Junior tengah bersorak di dorm, karena mereka mendapat promosi. Dilihatnya pula Donghae yang menerima telepon darinya, dan ia kebingungan antara menemuinya atau konferensi.
Setelah itu ia juga melihat, sosoknya berdiri di sisi jalan raya, seperti Donghae. Ia merasakan hal yang sama dengan Donghae, yaitu menunggu seseorang yang tidak datang. Dan ia langsung memarahi namja itu tanpa mendengar alasannya. Jessica menggigit bibirnya melihat semua itu.
Ia juga melihat, Donghae yang langsung berlari dari gedung seusai konferensi untuk menemuinya. Dilihatnya Donghae dengan nekat menyeberang dan hampir mencelakakan dirinya sendiri. Semua itu demi dirinya.
Jessica akhirnya menangis. Ia menyadari semua kesalahannya selama ini. Ia tidak seharusnya melakukan hal itu pada Donghae yang mencintainya dengan sepenuh hati. Ia ingin memeluk Donghae sekarang, meminta maaf kepadanya.
“Aku ingin pulang dari sini! Di mana aku sekarang? Donghae oppa, aku minta maaf atas semua kesalahanku! Oppa, saranghae!”
***
Donghae yang melihat peristiwa itu dari bola kristal menangis pula. Ia segera meminta si sosok untuk mengembalikan Jessica, karena permintaannya sudah terpenuhi.
“Mengembalikan dia?” sosok itu justru tertawa bengis. “Kau memintaku mengembalikannya begitu saja, sedangkan kau yang memintaku untuk memperlakukannya seperti itu?”
“Aku tidak menyuruhmu memasukkannya ke dimensi lain. Aku hanya ingin dia sadar, tidak perlu seperti itu,” Donghae memandang si sosok. “Kumohon. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin memeluknya.”
Si sosok mengelus dagunya, “Baik, tapi ada syaratnya.”
“Katakan saja! Aku pasti akan memenuhinya!” seru Donghae penuh harapan.
“Syaratnya, kau harus mati,” sosok itu tersenyum jahat. “Kau tidak tahu isi perjanjian yang kau tanda tangani? Di sana tertulis bahwa aku akan memenuhi permintaanmu, dan bila kau ingin mengembalikan ke kondisi semula, kau harus mati.”
“Mati …?” Donghae terbelalak. Bila ia mati, Jessica tentu bisa kembali ke dunia sebenarnya. Tapi, ia tidak bisa menemui Jessica. Takkan pernah bisa.
Si sosok memandang Donghae dengan sangar, “Bagaimana? Apa kau menyetujuinya?”
Donghae berpikir sebentar. Akhirnya ia berkata, “Aku bersedia. Tapi, aku ingin kau menyampaikan sesuatu padanya setelah ia kembali ke sini.”
***
Jessica merasa tubuhnya kembali berat, dan matanya tertutup tiba-tiba. Pusing kembali dirasakannya. Ia seperti diputar dengan kecepatan tinggi. Kemudian seolah ada yang melemparnya, ia terhempas dan menabrak dinding. Ketika itu ia kembali sadar dan membuka matanya.
Jessica berada di pinggir jalan, duduk di trotoar bersandarkan dinding suatu gedung. Di sampingnya ada sesosok berjubah hitam yang ditemui Donghae, duduk menghadap meja lebar. Jessica berdiri, mendekati sosok itu.
“Bisa katakan aku di mana sekarang?” tanyanya kemudian.
“Kau di dunia nyata, sebenarnya dekat dengan tempat yang selalu kau tuju,” ucap si sosok.
Jessica bingung dengan kata-kata sosok aneh itu. Sedetik kemudian, ia mengerti maksud dari perkataan itu. Tempat yang selalu kau tuju, maksudnya tempat yang dijadikan pertemuannya dengan Donghae.
“Apa kau kenal Donghae?” Jessica melanjutkan.
“Dia orang yang memintaku memperlakukanmu demikian,” jawab si sosok.
Jessica ingat apa yang terjadi dengannya tadi. Timbul perasaan marah pada Donghae.
“Dan dia orang yang mengorbankan dirinya, agar kau bisa kembali,” sambung si sosok.
Amarah Jessica hilang tiba-tiba, “Mengorbankan diri? Maksudnya?”
“Dia hanya ingin kau tahu perasaannya sesungguhnya, bahwa ia mencintaimu sepenuh hati. Kemudian saat kau sadar atas semua kesalahanmu, ia memintaku mengembalikanmu ke pelukannya. Tapi, karena ia sudah menandatangani perjanjian, ia harus mati agar kau bisa pulang.”
Mata Jessica melebar.
“Ia juga menitipkan pesan untukmu,” si sosok mencari sesuatu dalam jubahnya. Kemudian ia menemukan sebuah kertas, dan diberikannya kertas itu pada Jessica.
Jessica menyambar kertas itu dan langsung membacanya.
Bila kau sudah sampai di dunia nyata, aku minta maaf bila aku tidak lagi ada di sana. Bila kau sudah membaca pesan ini, aku bersyukur kau telah kembali. Mianhae, Jessica, aku lebih mementingkan konferensi daripada menemuimu. Maaf, tapi ketahuilah bahwa aku benar-benar mencintaimu. Aku sangat menyayangimu, melebihi diriku sendiri. Selalu kuharap untuk bisa memelukmu sekali lagi, melihat senyummu sekali lagi. Aku akan selalu ada untukmu. Saranghaeyo.
Di bawah tulisan itu, ada bagian kertas yang basah. Jessica tahu, Donghae ketika menulis pesan ini pasti sedang menangis. Bulir air mata Jessica jatuh, ikut membasahi kertas itu.
Biarlah air mata kita bersatu, melalui kertas ini. Biarlah kita saling mendengar satu sama lain, melalui air mata ini. Oppa, kau sudah memelukku. Air mata kita yang jatuh sedang berpelukan, Oppa.
Jessica mengusap air matanya. Ia menyesali seluruh perbuatannya pada namja itu. Ia berharap ada kesempatan lain untuk memperbaiki diri. Tapi, tentu kesempatan itu tidak ada. Dan takkan pernah ada.
Tangis Jessica makin keras. Hampir saja. Hampir ia bisa menemui Donghae bila ia tidak melakukan itu semua padanya.

***
[Tamat]
By : An (Annisa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar