Author : An
(Annisa)
Length : Chaptered
Cast : Jessica
Jung (SNSD), Lee Dong Hae (Super Junior)
Genre : Sad, mystery, romance
***
Donghae berjalan
meninggalkan tempat tersebut. Hujan masih turun dengan deras, membasahi
tubuhnya. Tapi ia tidak peduli dengan semua itu. Malam semakin larut, dan namja
itu masih berjalan-jalan di trotoar. Ia belum ingin pulang. Rasa kecewanya pada
Jessica terlalu besar untuk diungkapkan.
Donghae terus berjalan. Ia
ingin mencari udara segar untuk meredakan amarahnya.
Di ujung jalan, ia melihat
seseorang berjubah hitam, duduk menghadap meja lebar di depannya. Meja itu
dilapisi kain hitam, tidak diletakkan apa-apa pada permukaannya. Karena
penasaran, Donghae mendekati orang tersebut. Semakin dekat, auranya terasa
mengerikan. Donghae sempat berhenti, mengamati orang tersebut. Perasaan takut
menyelimuti hatinya.
Entah kenapa, Donghae
memantapkan hatinya untuk bertemu sosok itu. Tidak tahu apa yang membuatnya
begitu penasaran dengan orang itu.
Ia sampai, tepat di depan
wajah orang misterius itu. Sosok itu tidak menatapnya sama sekali. Pandangannya
datar, lurus ke depan. Donghae terdiam, memandang sosok itu.
Orang berjubah itu tidak
jelas wanita atau pria. Wajahnya berkeriput, dengan hidung yang mancung.
Matanya terbuka setengah, seperti orang yang sedang mengantuk. Poninya berwarna
putih, acak-acakan menutupi dahinya. Tudungnya menutupi tiga perempat kepalanya.
Pandangannya yang ganjil itu benar-benar mencurigakan. Ia tampak sedang melihat
sosok supranatural di sekelilingnya.
Donghae tidak berbicara
apa-apa. Sejak beberapa menit yang lalu, ia berdiri di depan sosok itu.
Anehnya, sosok itu tidak menyuruh Donghae menyingkir dari hadapannya, padahal
tubuh Donghae tentu menghalangi sebagian besar pandangannya.
Donghae menyapa sosok itu,
“Halo?”
Sosok tersebut terdiam, sama
sekali tidak mengalihkan penglihatannya.
Donghae mencobanya lagi,
“Hai, apa kabar?” Ia melambaikan tangannya di depan wajah sosok itu.
Memang terlihat tidak sopan
jika mengatakan hal seperti itu pada orang yang lebih tua. Tapi sosok itu tidak
merespon sama sekali. Matanya saja tidak berkedip.
“Apa orang ini mati?”
Donghae menatap lekat-lekat wajah sosok itu. Jarak matanya dengan mata orang
itu mungkin hanya beberapa sentimeter. Saat itupun, sosok itu tidak berkedip.
Matanya memang menatap Donghae, tapi tidak seperti menatap Donghae.
Donghae menghela napas. Ia
memutuskan untuk pulang. Baru saja ia melangkah, sosok itu mencuri perhatiannya
lagi. Sosok ini benar-benar misterius. Apa yang dilakukan seorang kakek atau
nenek di malam hari saat hujan deras seperti ini, mengenakan jubah hitam dan
duduk di belakang meja lebar yang dilapisi kain? Apa pula yang ditatapnya?
Donghae mencoba meraba meja
itu. Ketika tangannya menyentuh permukaan meja, sosok itu menampar tangannya.
“Auch!” Donghae mengelus
tangannya. Saat itu si sosok menatapnya, tanpa berkedip. Tangannya dengan kasar
menarik Donghae, membuat namja itu tersaruk ke depan. Wajah namja itu sekarang
dekat sekali jaraknya dengan wajah sosok itu. Donghae menunduk, tidak berani
memandang si sosok.
“Apa yang kau inginkan dari
mejaku?” ujarnya galak. “Siapapun yang menyentuh meja ini, harus membuat
perjanjian denganku. Dan kau, telah berani menyentuhnya. Maka, apa yang kau
inginkan?”
“Per … perjanjian apa?”
“Kau yang memintanya, jadi
kau yang menentukan perjanjiannya.”
“Aku tidak meminta apapun.”
“Kalau begitu, aku akan
membunuhmu.”
Mata Donghae melebar. Sosok
ini akan membunuhnya?
“Kalau kau tidak lekas
mengatakan apa yang kau inginkan, aku akan membunuhmu,” ancam si sosok lagi.
“Berani-beraninya kau menyentuh meja ini sedangkan kau tidak mempunyai keinginan.”
Donghae sama sekali tidak
mengerti apa yang terjadi di situ. Ia juga tidak tahu maksud dari perkataan si
sosok. Menyentuh meja, keinginan, membunuh, apa arti semua ini?
“Katakan!”
Nyali Donghae langsung ciut
mendengar bentakan itu. Ingin rasanya ia berlari dari sana, cepat-cepat pulang
ke dorm dan meminta Leeteuk melindunginya. Tapi ia tidak bisa. Tangannya
dicengkeram kuat oleh si sosok. Bergerak sedikit saja tidak bisa.
Selintas, ia teringat
Jessica. Ia ingin Jessica mengetahui perasaannya yang sesungguhnya. Perasaannya
selama ini, yang terus mencintai Jessica meski yeoja itu mengiris hatinya.
Donghae menelan ludah,
kemudian berkata, “Baiklah. Aku hanya ingin Jessica mengetahui perasaanku
sebenarnya padanya. Itu saja.”
Si sosok terdiam sejenak.
Kemudian ia tertawa memperlihatkan giginya yang keropos. Ia melepaskan
cengkeramannya, dan Donghae kini bisa menghembuskan napas lega. Ia hendak
berlari, tetapi tangannya lagi-lagi dipegang si sosok.
Sosok itu membuka secarik
kertas kusam, sangat kusam hingga warnanya kuning dan sisi-sisinya tersobek.
Lalu ia menyodorkan sebuah bulu pada Donghae, seraya menunjuk suatu titik pada
kertas itu, “Kau tanda tangan di sini!”
Donghae menerima bulu itu
takut-takut, “Untuk apa aku harus tanda tangan?”
“Ini perjanjianmu padaku.
Kau harus membuat perjanjian dulu baru aku akan memenuhi keinginanmu,” jawab
sosok itu. “Cepatlah! Aku tidak sabar untuk melakukannya.”
Donghae terpaksa
menandatangani kertas itu. Dalam kertas itu ada penjelasan tentang sesuatu,
tetapi ia tidak tahu artinya. Sepertinya ditulis dalam bahasa lain. Di bawah
penjelasan itulah, si sosok memintanya tanda tangan.
Sosok itu menyeringai
senang, menggosok-gosokkan buku jarinya hingga berderik. Ia terlihat begitu
bahagia saat Donghae selesai tanda tangan. Segera ia menarik kertas tersebut.
Ia mengeluarkan sebuah
kompor mungil. Entah dari mana ia mengeluarkannya. Kemudian ia menyalakan
kompor itu, dan apinya langsung membara. Api itu berwarna hijau, bukan merah
atau biru. Donghae hanya mengernyitkan dahi melihatnya, kebingungan. Ia nyaris
berteriak saat si sosok membakar kertas yang baru saja ia tanda tangani itu
dengan api tersebut. Setelah terbakar, api hijau itu langsung padam.
“Kenapa kau … membakar
kertas itu? Katanya itu perjanjianku denganmu. Kenapa kau bakar?” Donghae
menunjuk-nunjuk kompor dengan telunjuknya yang gemetaran.
Tanpa memperhatikan Donghae,
si sosok mengeluarkan sebuah bola kristal berwarna biru bening. Setelah itu ia
berkata, “Kau akan melihat hal yang kau inginkan. Di dalam bola ini.”
Donghae memandang si sosok,
lalu ia mengamati bola kristal tersebut. Di dalamnya seperti ada asap abu-abu,
mengepul. Kemudian seperti tertiup angin, asap itu menghilang pelan-pelan. Di
tengah semua itu, Jessica muncul. Ia terlihat kebingungan, menoleh ke sana-kemari.
“Nah, sekarang kita buat
keajaiban,” si sosok menaburkan sesuatu di atas bola kristal. “Lihat, dan
perhatikan.”
***
Jessica bingung bagaimana ia
bisa sampai kemari. Seingatnya, ia sedang di dorm, bercanda ria dengan adiknya,
Krystal. Tetapi entah kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa begitu berat, dan
matanya juga tertutup, tak bisa dibuka. Kepalanya pusing mendadak. Dan saat ia
tidak lagi merasakan semua itu, ia membuka matanya dan … ia berada di sini.
Jessica berdiri di suatu
ruangan. Ia tidak tahu ia sedang berpijak atau tidak. Karena ruangan ini
benar-benar aneh. Tidak jelas mana lantainya dan mana atapnya. Semuanya
berwarna cokelat, sedikit goresan putih abstrak yang bercampur. Dan, warna itu
juga bergerak. Seperti permukaan kopi yang diaduk.
Ketika itu sekonyong-konyong
ada bayang-bayang di depannya. Ia melihat Donghae tengah berdiri di sisi jalan,
menantinya. Dilihatnya pula sosok Jessica yang lain di sana, bermain di bar
bersama teman-temannya. Jessica mengerutkan dahi melihat hal itu.
Bayang-bayang itu sepertinya
menceritakan sesuatu. Donghae terlihat berdiri di sana, tidak berpindah satu
sentipun. Malam yang bertambah larut, juga suasana yang tambah sepi terjadi.
Namun Donghae belum beranjak sedikitpun. Di sisi lain ia melihat pula, sosoknya
bermain gembira bersama teman-teman, melupakan janjinya untuk bertemu Donghae
malam itu.
Jessica masih tidak mengerti
maksud dari bayang-bayang itu. Kemudian gambar yang ditampilkan bayang-bayang
itu berpendar. Diganti gambar lain. Di situ ia melihat lagi, Donghae yang terus
setia menunggunya sedangkan sosoknya yang selalu melupakan janjinya pada
Donghae. Lalu gambarnya diganti, tapi masih dengan pemandangan yang sama.
Berulang kali gambar itu ditampilkan hingga akhirnya Jessica mengerti.
Ia sekarang tahu apa maksud
dari bayang-bayang itu. Semuanya menggambarkan masa lalunya dengan Donghae.
Jessica juga sadar, betapa Donghae mencintainya. Karena cinta itulah Donghae
rela menantinya berjam-jam meski akhirnya ia tidak datang.
Lalu bayang-bayang itu
berganti lagi. Sekarang ia melihat Super Junior tengah bersorak di dorm, karena
mereka mendapat promosi. Dilihatnya pula Donghae yang menerima telepon darinya,
dan ia kebingungan antara menemuinya atau konferensi.
Setelah itu ia juga melihat,
sosoknya berdiri di sisi jalan raya, seperti Donghae. Ia merasakan hal yang
sama dengan Donghae, yaitu menunggu seseorang yang tidak datang. Dan ia
langsung memarahi namja itu tanpa mendengar alasannya. Jessica menggigit
bibirnya melihat semua itu.
Ia juga melihat, Donghae
yang langsung berlari dari gedung seusai konferensi untuk menemuinya.
Dilihatnya Donghae dengan nekat menyeberang dan hampir mencelakakan dirinya
sendiri. Semua itu demi dirinya.
Jessica akhirnya menangis.
Ia menyadari semua kesalahannya selama ini. Ia tidak seharusnya melakukan hal
itu pada Donghae yang mencintainya dengan sepenuh hati. Ia ingin memeluk
Donghae sekarang, meminta maaf kepadanya.
“Aku ingin pulang dari sini!
Di mana aku sekarang? Donghae oppa, aku minta maaf atas semua kesalahanku!
Oppa, saranghae!”
***
Donghae yang melihat
peristiwa itu dari bola kristal menangis pula. Ia segera meminta si sosok untuk
mengembalikan Jessica, karena permintaannya sudah terpenuhi.
“Mengembalikan dia?” sosok
itu justru tertawa bengis. “Kau memintaku mengembalikannya begitu saja,
sedangkan kau yang memintaku untuk memperlakukannya seperti itu?”
“Aku tidak menyuruhmu
memasukkannya ke dimensi lain. Aku hanya ingin dia sadar, tidak perlu seperti
itu,” Donghae memandang si sosok. “Kumohon. Aku ingin bertemu dengannya. Aku
ingin memeluknya.”
Si sosok mengelus dagunya,
“Baik, tapi ada syaratnya.”
“Katakan saja! Aku pasti
akan memenuhinya!” seru Donghae penuh harapan.
“Syaratnya, kau harus mati,”
sosok itu tersenyum jahat. “Kau tidak tahu isi perjanjian yang kau tanda tangani?
Di sana tertulis bahwa aku akan memenuhi permintaanmu, dan bila kau ingin
mengembalikan ke kondisi semula, kau harus mati.”
“Mati …?” Donghae
terbelalak. Bila ia mati, Jessica tentu bisa kembali ke dunia sebenarnya. Tapi,
ia tidak bisa menemui Jessica. Takkan pernah bisa.
Si sosok memandang Donghae
dengan sangar, “Bagaimana? Apa kau menyetujuinya?”
Donghae berpikir sebentar.
Akhirnya ia berkata, “Aku bersedia. Tapi, aku ingin kau menyampaikan sesuatu
padanya setelah ia kembali ke sini.”
***
Jessica merasa tubuhnya
kembali berat, dan matanya tertutup tiba-tiba. Pusing kembali dirasakannya. Ia
seperti diputar dengan kecepatan tinggi. Kemudian seolah ada yang melemparnya,
ia terhempas dan menabrak dinding. Ketika itu ia kembali sadar dan membuka matanya.
Jessica berada di pinggir
jalan, duduk di trotoar bersandarkan dinding suatu gedung. Di sampingnya ada
sesosok berjubah hitam yang ditemui Donghae, duduk menghadap meja lebar.
Jessica berdiri, mendekati sosok itu.
“Bisa katakan aku di mana
sekarang?” tanyanya kemudian.
“Kau di dunia nyata,
sebenarnya dekat dengan tempat yang selalu kau tuju,” ucap si sosok.
Jessica bingung dengan
kata-kata sosok aneh itu. Sedetik kemudian, ia mengerti maksud dari perkataan
itu. Tempat yang selalu kau tuju, maksudnya tempat yang dijadikan pertemuannya
dengan Donghae.
“Apa kau kenal Donghae?”
Jessica melanjutkan.
“Dia orang yang memintaku
memperlakukanmu demikian,” jawab si sosok.
Jessica ingat apa yang
terjadi dengannya tadi. Timbul perasaan marah pada Donghae.
“Dan dia orang yang
mengorbankan dirinya, agar kau bisa kembali,” sambung si sosok.
Amarah Jessica hilang
tiba-tiba, “Mengorbankan diri? Maksudnya?”
“Dia hanya ingin kau tahu
perasaannya sesungguhnya, bahwa ia mencintaimu sepenuh hati. Kemudian saat kau
sadar atas semua kesalahanmu, ia memintaku mengembalikanmu ke pelukannya. Tapi,
karena ia sudah menandatangani perjanjian, ia harus mati agar kau bisa pulang.”
Mata Jessica melebar.
“Ia juga menitipkan pesan
untukmu,” si sosok mencari sesuatu dalam jubahnya. Kemudian ia menemukan sebuah
kertas, dan diberikannya kertas itu pada Jessica.
Jessica menyambar kertas itu
dan langsung membacanya.
‘Bila kau sudah sampai di dunia nyata, aku minta maaf bila aku tidak
lagi ada di sana. Bila kau sudah membaca pesan ini, aku bersyukur kau telah
kembali. Mianhae, Jessica, aku lebih mementingkan konferensi daripada
menemuimu. Maaf, tapi ketahuilah bahwa aku benar-benar mencintaimu. Aku sangat
menyayangimu, melebihi diriku sendiri. Selalu kuharap untuk bisa memelukmu
sekali lagi, melihat senyummu sekali lagi. Aku akan selalu ada untukmu.
Saranghaeyo.’
Di bawah tulisan itu, ada
bagian kertas yang basah. Jessica tahu, Donghae ketika menulis pesan ini pasti
sedang menangis. Bulir air mata Jessica jatuh, ikut membasahi kertas itu.
Biarlah air mata kita bersatu, melalui kertas ini. Biarlah kita saling
mendengar satu sama lain, melalui air mata ini. Oppa, kau sudah memelukku. Air
mata kita yang jatuh sedang berpelukan, Oppa.
Jessica mengusap air
matanya. Ia menyesali seluruh perbuatannya pada namja itu. Ia berharap ada
kesempatan lain untuk memperbaiki diri. Tapi, tentu kesempatan itu tidak ada.
Dan takkan pernah ada.
Tangis Jessica makin keras. Hampir
saja. Hampir ia bisa menemui Donghae bila ia tidak melakukan itu semua padanya.
***
[Tamat]
By : An (Annisa)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar