Title : I’m Not A Pesky Kid
Author : An (Annisa)
Length : Chaptered
Cast : Park Rae Hwa (OC), Choi Sang Hee
(OC), Kim Yoon Ra (OC)
Genre : Mystery
***
Titik-titik
itu bila dihubungkan membentuk bintang. Tepat di tengah bintang terdapat gua
belakang sekolah yang sangat dicurigai. Rae Hwa menelan ludah, “Gua itu harus
diselidiki!”
Keesokan
harinya, dengan bekal senter, ia mendatangi gua itu. Rae Hwa menatap gua itu
sebentar, kemudian mendekat. Di singkirkannya tanaman liar yang menutupi, lalu
melangkah masuk. Di dalam gelap sekali, terlalu gelap bila disebut gua.
Rae
Hwa menyalakan senternya. Di mana-mana terlihat stalakmit. Stalakmit-stalakmit
itu ukurannya kecil, tajam pula. Seperti jutaan jarum yang dipasang di lantai. Rae
Hwa melangkah dengan hati-hati agar tidak tertusuk. Di ujung lorong, terlihat
patung kepala manusia. Bentuknya mirip dengan patung di Easter Island, Chili.
Rae
Hwa mendekati patung itu, perlahan. Ia menyinari patung itu, mengamati setiap
inci wajahnya. Kemudian ia memeriksa gua itu lagi. Gua itu buntu. Ujungnya
hanya terdapat patung kepala manusia, dan tidak ada lagi yang lain. Kelelawar
juga tidak terlihat, padahal gua segelap itu mestinya habitat yang cocok untuk
kelelawar. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sama sekali tidak ada.
“Beruang
mustahil berada di sini,” Rae Hwa menyoroti sudut-sudut gua. “Tidak ada yang
spesial dari gua ini. Tidak terlalu panjang dan tidak begitu lebar.
Stalakmitnya terlalu kecil dan banyak, sedangkan stalaktitnya tidak ada sama
sekali. Anehnya, kenapa patung yang ada di Chili bisa sampai sini?”
Rae
Hwa melihat-lihat sebentar, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pulang, “Apa
yang istimewa dari gua ini?”
Baru
saja ia berbalik badan dan beberapa kali melangkah, terdengar suara.
“Ah,
kau Park Rae Hwa yang dijuluki anak sial itu bukan?”
Rae
Hwa terdiam, memaku. Ia memejamkan mata, tidak berani melihat siapa yang
menyapanya.
“Bahkan
makhluk sepertiku saja mengetahui berita itu! Hahaha! Kau benar-benar anak
sial!”
Rae
Hwa masih mematung. Nyalinya langsung ciut saat mendengar kata ‘makhluk
sepertiku’. Ia langsung berpikir bahwa yang sedang berbicara dengannya itu
makhluk si pembunuh teman-temannya, atau bisa juga roh temannya yang
terperangkap di gua.
“Hei?
Kau tidak memperhatikanku? Dasar.”
Rae
Hwa perlahan membuka matanya. Ia memberanikan diri untuk melihat siapa itu. Ia
membalikkan badan. Ketika Rae Hwa tahu siapa yang mengajaknya bicara, langsung
saja ia terlonjak kaget. Kejutnya bukan kepalang. Patung itu berbicara!
“Jangan
menatapku seperti itu. Aku bukan hantu, Bodoh. Jangan bertingkah seperti anak
yang tidak tahu apa-apa,” patung itu terus berbicara.
Rae
Hwa melongo melihatnya. Setelah keanehan yang ia dapati selama ini, inilah yang
menurutnya paling ganjil.
Keduanya
terdiam setelah itu. Mereka saling menatap, dan tidak mengatakan satu patah
katapun. Rae Hwa masih tidak percaya dengan penglihatannya. Tapi ia yakin
patung itu benar-benar berbicara dengannya.
“S-siapa
kamu …?” tanya Rae Hwa takut-takut.
“Aku?
Aku ini patung, Bodoh. Lihat baik-baik, dong!”
Rae
Hwa mengangguk-angguk, “Aku sudah tahu kamu itu patung, tapi bagaimana mungkin
patung bisa berbicara?”
Patung
tersebut tertawa. Rae Hwa yang mendengarnya justru tambah ketakutan. Melihat
ekspresi Rae Hwa yang takut, patung tersebut berdehem, lalu berkata, “Percayai
saja apa yang kamu lihat, tapi jangan biarkan penglihatanmu menipumu.”
“Maksudmu?
Ini semua hanya ilusi?” cerocos Rae Hwa.
“Siapa
yang bilang begitu? Aku tidak mengatakannya,” ujar si patung. Ia mendesah, lalu
melanjutkan, “Pokoknya, aku yang sekarang benar-benar berbicara padamu!”
“Yang
sekarang? Berarti, kamu di waktu yang lain tidak bisa berbicara?”
Si
patung terlihat kesal dengan pertanyaan Rae Hwa. Namun ia akhirnya menghela
napas, “Lupakan saja itu. Sekarang, aku akan menjawab apa yang akan kamu
tanyakan.”
“Bagus.
Pertama, bagaimana kamu bisa berbicara?” Rae Hwa melontarkan pertanyaan
pertama.
Si
patung terdiam sejenak, “Bisa beri aku pertanyaan lain?”
“Aku
harus tahu asal-usulmu. Setahuku kau dan teman-temanmu seharusnya ada di Chili,
dan kenapa kamu di sini? Selain itu kau mengajakku bicara! Sebenarnya siapa
kamu? Jangan jawab kalau kamu ini patung, aku sudah tahu kalau kau patung,”
sahut Rae Hwa. “Jelaskan semuanya.”
“Tidak!”
patung itu bersikeras. “Aku akan menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting
daripada itu.”
Rae
Hwa tiba-tiba teringat akan misteri kelima temannya yang tewas itu. Raut
wajahnya menjadi serius, “Kalau kau tahu tentang kabarku yang disebut anak
sial, maka jelaskan semuanya padaku sejak awal. Semenjak Sang Hee tewas, kenapa
ia tewas, dan lainnya. Tolong ceritakan padaku.”
“Hm?”
si patung terdiam sebentar. “Ingat lima kata kunci yang diberikan Yoon Ra? Bila
kau berhasil menyebutkan semuanya, akan kujelaskan satu per satu.”
Rae
Hwa mulai menyebutkan, “Sekolah, rekayasa, …” Tiba-tiba ia ingat kata-kata si
patung untuk tidak tertipu oleh penglihatannya. Bisa saja ini hanyalah ilusi,
semacam hipnotis atau lainnya. Mungkin ada orang di balik ini semua, pelaku
kejahatan yang sama dengan pembunuh teman-temannya. Orang ini mungkin butuh
lima poin yang dikatakan Yoon Ra untuk suatu hal. Bisa juga ia telah bertanya
pada lima anak sebelumnya yang tahu soal ini, tapi mereka tidak memberitahunya,
sehingga mereka dibunuh. Mungkin juga lima anak itu kebetulan menjadi teman
dekat Rae Hwa, jadi ia disebut anak sial. Mustahil bukan bila patung bisa
berbicara?
“Sekolah,
rekayasa, …? Lalu apa?” ucapan si patung membuyarkan lamunannya.
Rae
Hwa mengusir jauh-jauh pikiran itu. Ia dipenuhi rasa penasaran yang dalam akan
jawaban misteri tersebut. Rae Hwa menarik napas, lalu berkata.
“Sekolah,
rekayasa, kematian, bintang, anak sial,” setelah itu ia kaget. Dengan lancarnya
ia berbicara, padahal di kamar kosnya tadi ia kesulitan mengingat kata
terakhir.
Si
patung mengangguk, “Baik. Akan kujelaskan satu per satu. Dengarkan dengan baik,
karena aku tidak akan mengulangi ucapanku.”
Rae
Hwa mengiyakan. Ia membuka telinganya lebar-lebar, dan menatap patung itu
dengan antusias. Ia ingin tahu semuanya, semua kebenaran tentang dirinya dan
masa lalunya.
***
[Tamat]
By : An (Annisa)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar