About

Sabtu, 09 Agustus 2014

I'm Not A Pesky Kid (Part 5)

Title            : I’m Not A Pesky Kid
Author        : An (Annisa)
Length         : Chaptered
Cast            : Park Rae Hwa (OC), Choi Sang Hee (OC), Kim Yoon Ra (OC)

Genre          : Mystery
***
Titik-titik itu bila dihubungkan membentuk bintang. Tepat di tengah bintang terdapat gua belakang sekolah yang sangat dicurigai. Rae Hwa menelan ludah, “Gua itu harus diselidiki!”
***
Keesokan harinya, dengan bekal senter, ia mendatangi gua itu. Rae Hwa menatap gua itu sebentar, kemudian mendekat. Di singkirkannya tanaman liar yang menutupi, lalu melangkah masuk. Di dalam gelap sekali, terlalu gelap bila disebut gua.
Rae Hwa menyalakan senternya. Di mana-mana terlihat stalakmit. Stalakmit-stalakmit itu ukurannya kecil, tajam pula. Seperti jutaan jarum yang dipasang di lantai. Rae Hwa melangkah dengan hati-hati agar tidak tertusuk. Di ujung lorong, terlihat patung kepala manusia. Bentuknya mirip dengan patung di Easter Island, Chili.
Rae Hwa mendekati patung itu, perlahan. Ia menyinari patung itu, mengamati setiap inci wajahnya. Kemudian ia memeriksa gua itu lagi. Gua itu buntu. Ujungnya hanya terdapat patung kepala manusia, dan tidak ada lagi yang lain. Kelelawar juga tidak terlihat, padahal gua segelap itu mestinya habitat yang cocok untuk kelelawar. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sama sekali tidak ada.
“Beruang mustahil berada di sini,” Rae Hwa menyoroti sudut-sudut gua. “Tidak ada yang spesial dari gua ini. Tidak terlalu panjang dan tidak begitu lebar. Stalakmitnya terlalu kecil dan banyak, sedangkan stalaktitnya tidak ada sama sekali. Anehnya, kenapa patung yang ada di Chili bisa sampai sini?”
Rae Hwa melihat-lihat sebentar, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pulang, “Apa yang istimewa dari gua ini?”
Baru saja ia berbalik badan dan beberapa kali melangkah, terdengar suara.
“Ah, kau Park Rae Hwa yang dijuluki anak sial itu bukan?”
Rae Hwa terdiam, memaku. Ia memejamkan mata, tidak berani melihat siapa yang menyapanya.
“Bahkan makhluk sepertiku saja mengetahui berita itu! Hahaha! Kau benar-benar anak sial!”
Rae Hwa masih mematung. Nyalinya langsung ciut saat mendengar kata ‘makhluk sepertiku’. Ia langsung berpikir bahwa yang sedang berbicara dengannya itu makhluk si pembunuh teman-temannya, atau bisa juga roh temannya yang terperangkap di gua.
“Hei? Kau tidak memperhatikanku? Dasar.”
Rae Hwa perlahan membuka matanya. Ia memberanikan diri untuk melihat siapa itu. Ia membalikkan badan. Ketika Rae Hwa tahu siapa yang mengajaknya bicara, langsung saja ia terlonjak kaget. Kejutnya bukan kepalang. Patung itu berbicara!
“Jangan menatapku seperti itu. Aku bukan hantu, Bodoh. Jangan bertingkah seperti anak yang tidak tahu apa-apa,” patung itu terus berbicara.
Rae Hwa melongo melihatnya. Setelah keanehan yang ia dapati selama ini, inilah yang menurutnya paling ganjil.
Keduanya terdiam setelah itu. Mereka saling menatap, dan tidak mengatakan satu patah katapun. Rae Hwa masih tidak percaya dengan penglihatannya. Tapi ia yakin patung itu benar-benar berbicara dengannya.
“S-siapa kamu …?” tanya Rae Hwa takut-takut.
“Aku? Aku ini patung, Bodoh. Lihat baik-baik, dong!”
Rae Hwa mengangguk-angguk, “Aku sudah tahu kamu itu patung, tapi bagaimana mungkin patung bisa berbicara?”
Patung tersebut tertawa. Rae Hwa yang mendengarnya justru tambah ketakutan. Melihat ekspresi Rae Hwa yang takut, patung tersebut berdehem, lalu berkata, “Percayai saja apa yang kamu lihat, tapi jangan biarkan penglihatanmu menipumu.”
“Maksudmu? Ini semua hanya ilusi?” cerocos Rae Hwa.
“Siapa yang bilang begitu? Aku tidak mengatakannya,” ujar si patung. Ia mendesah, lalu melanjutkan, “Pokoknya, aku yang sekarang benar-benar berbicara padamu!”
“Yang sekarang? Berarti, kamu di waktu yang lain tidak bisa berbicara?”
Si patung terlihat kesal dengan pertanyaan Rae Hwa. Namun ia akhirnya menghela napas, “Lupakan saja itu. Sekarang, aku akan menjawab apa yang akan kamu tanyakan.”
“Bagus. Pertama, bagaimana kamu bisa berbicara?” Rae Hwa melontarkan pertanyaan pertama.
Si patung terdiam sejenak, “Bisa beri aku pertanyaan lain?”
“Aku harus tahu asal-usulmu. Setahuku kau dan teman-temanmu seharusnya ada di Chili, dan kenapa kamu di sini? Selain itu kau mengajakku bicara! Sebenarnya siapa kamu? Jangan jawab kalau kamu ini patung, aku sudah tahu kalau kau patung,” sahut Rae Hwa. “Jelaskan semuanya.”
“Tidak!” patung itu bersikeras. “Aku akan menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting daripada itu.”
Rae Hwa tiba-tiba teringat akan misteri kelima temannya yang tewas itu. Raut wajahnya menjadi serius, “Kalau kau tahu tentang kabarku yang disebut anak sial, maka jelaskan semuanya padaku sejak awal. Semenjak Sang Hee tewas, kenapa ia tewas, dan lainnya. Tolong ceritakan padaku.”
“Hm?” si patung terdiam sebentar. “Ingat lima kata kunci yang diberikan Yoon Ra? Bila kau berhasil menyebutkan semuanya, akan kujelaskan satu per satu.”
Rae Hwa mulai menyebutkan, “Sekolah, rekayasa, …” Tiba-tiba ia ingat kata-kata si patung untuk tidak tertipu oleh penglihatannya. Bisa saja ini hanyalah ilusi, semacam hipnotis atau lainnya. Mungkin ada orang di balik ini semua, pelaku kejahatan yang sama dengan pembunuh teman-temannya. Orang ini mungkin butuh lima poin yang dikatakan Yoon Ra untuk suatu hal. Bisa juga ia telah bertanya pada lima anak sebelumnya yang tahu soal ini, tapi mereka tidak memberitahunya, sehingga mereka dibunuh. Mungkin juga lima anak itu kebetulan menjadi teman dekat Rae Hwa, jadi ia disebut anak sial. Mustahil bukan bila patung bisa berbicara?
“Sekolah, rekayasa, …? Lalu apa?” ucapan si patung membuyarkan lamunannya.
Rae Hwa mengusir jauh-jauh pikiran itu. Ia dipenuhi rasa penasaran yang dalam akan jawaban misteri tersebut. Rae Hwa menarik napas, lalu berkata.
“Sekolah, rekayasa, kematian, bintang, anak sial,” setelah itu ia kaget. Dengan lancarnya ia berbicara, padahal di kamar kosnya tadi ia kesulitan mengingat kata terakhir.
Si patung mengangguk, “Baik. Akan kujelaskan satu per satu. Dengarkan dengan baik, karena aku tidak akan mengulangi ucapanku.”
Rae Hwa mengiyakan. Ia membuka telinganya lebar-lebar, dan menatap patung itu dengan antusias. Ia ingin tahu semuanya, semua kebenaran tentang dirinya dan masa lalunya.

***
[Tamat]
By : An (Annisa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar