Author : An
(Annisa)
Length : Chaptered
Cast : Jessica
Jung (SNSD), Lee Dong Hae (Super Junior)
Genre : Sad, mystery, romance
***
Ia berdiri di sisi jalan.
Matanya menangkap genangan air di jalanan, yang memantulkan cahaya bulan.
Sesekali genangan itu beriak, mencipratkan air karena kendaraan yang melintas.
Ramai sekali di sana. Jam
sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi masih banyak orang berlalu
lalang. Mereka berjalan begitu saja, melewatinya. Sama sekali mereka tidak
menyadari ia berdiri di situ.
Ia melihat arlojinya. Ini
sudah lewat sepuluh menit dari perjanjian. Kapan yeoja itu tiba?
Perlahan-lahan, kendaraan
mulai hilang. Para pejalan kaki juga berkurang jumlahnya. Lampu jalan yang
sedari tadi berkelap-kelip sekarat, kini sudah menanggalkan cahayanya. Ia, si
namja bertubuh tegap itu, masih berdiri di sana. Dengan setia ia menunggu yeoja
yang telah berjanji untuk menemuinya malam itu.
Malam semakin mencekam. Awan
bergerak tertiup angin, menutupi bulan yang memancarkan sinarnya. Gelap. Banyak
orang yang sudah pergi, meninggalkan namja yang belum menggeser kakinya
sedikitpun.
Dilihatnya lagi arlojinya.
Sudah satu jam. Apa hal ini terjadi lagi?
Namja itu mengeluarkan handphone-nya, lalu ia menelepon si
yeoja.
“Oppa, aku lelah sekali. Baru saja aku sampai di dorm, sepulang dari bar
bersama teman-temanku. Apa? Kita ada janji untuk bertemu hari ini? Astaga! Maaf,
Oppa. Aku benar-benar lupa. Lain kali saja, ya. Aku terlalu capek untuk
menemuimu sekarang. Pulanglah, Oppa.”
Namja itu memasukkan handphone-nya. Ia menghela napas
sejenak, melepas pandangan ke jalan raya yang sunyi. Akhirnya ia melangkah,
berlalu dari kesepian yang ia dapat tadi.
Ini terjadi lagi. Entah
untuk keberapa kalinya.
***
“Oppa!”
Suara itu, suara khas yang
berasal dari mulut kecil Jessica.
“Oppa! Apa kau ada jadwal
hari ini?” tangannya menggelayut. “Nanti malam, ayo kita bertemu lagi! Aku
ingin bercerita sesuatu padamu.”
Namja itu, Donghae, menatap
Jessica.
“Apa kau ada jadwal hari
ini?” Jessica balas menatap. Dengan suara imut ia berkata.
Donghae menarik napas, “Aku
akan menghubungi manager-ku nanti.”
Jessica mengelus-elus tangan
Donghae, “Yah, tapi kalau kau tidak bisa, aku tentu memakluminya. Kau pasti
punya jadwal yang padat sebagai personil Super Junior.”
Donghae tersenyum tipis,
“Tapi akan kuusahakan untuk datang.”
“Baiklah,” Jessica berdiri.
Ia mengacungkan jempol pada Donghae, “Kutunggu kau di sana, Oppa!”
Jessica berlari kecil,
menuju teman-temannya. Donghae memandangnya terus. Ia tidak tahu bagaimana ia
bisa jatuh cinta pada gadis itu. Dan kenapa ia begitu mencintainya, ia juga
tidak tahu.
***
“Astaga! Aku lupa! Oppa, aku benar-benar minta maaf. Mungkin aku terlalu
asyik bersama teman-temanku, sampai lupa janjiku padamu. Maaf, Oppa, sekali
lagi maaf. Kalau aku ada di dekatmu, aku akan langsung berlutut padamu. Maafkan
aku, Oppa! Kumohon.”
“Tidak apa-apa, kok. Jangan
diulangi lagi, ya.”
Donghae menutup teleponnya.
Yap, terjadi lagi. Dengan tundukan kepala yang dalam, ia kembali ke dorm.
***
“Super Junior mendapat promosi dari perusahaan musik besar di Korea. Wah, kerja keras kita selama ini terbayar!” Leeteuk membaca kertas yang diberikan manager-nya.
“Super Junior mendapat promosi dari perusahaan musik besar di Korea. Wah, kerja keras kita selama ini terbayar!” Leeteuk membaca kertas yang diberikan manager-nya.
Semua orang yang berada di
sana bersorak gembira.
“Kapan konferensinya?” tanya
Eunhyuk kemudian.
“Besok malam. Di Jamsil
Indoor. Jutaan fans kita pasti hadir di sana. Menyenangkan rasanya bisa bertemu
mereka, menyapa mereka, setelah kegiatan padat kita sehari-hari,” Leeteuk
meletakkan kertas tersebut. “Sekarang, kita istirahat saja. Besok kita ada hari
yang besar.”
Donghae memasuki kamarnya.
Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang. Sambil tersenyum senang, dipandangnya
langit-langit kamar. Tentu bahagia rasanya, saat tahu Super Junior mendapat
promosi. Semoga boyband ini terus
berjaya, begitu harapannya.
Leeteuk masuk kamar beberapa
menit kemudian. Ia menutup pintu, lalu menyalakan pendingin ruangan.
“Ah!” Leeteuk merebahkan
tubuhnya. “Hai.”
Donghae tersenyum
membalasnya, “Sapaanmu garing sekali.”
Leeteuk tertawa kecil. “Lalu
bagaimana aku harus mengucapkannya?”
“Lambaikan tanganmu seperti
ini, tersenyumlah selebar mungkin hingga semua gigimu kelihatan, lalu katakan ‘hai’
dengan volume yang keras,” Donghae mencontohkan.
Leeteuk menarik napas, “Oke,
akan kupraktekkan.”
Baru saja ia hendak
berbicara, handphone Donghae
berbunyi. Donghae buru-buru mencari handphone-nya.
Segera ia menerima telepon itu.
“Oppa! Besok malam ayo kita bertemu lagi! Kali ini aku benar-benar datang.
Kau juga harus datang, Oppa. Jadwalmu sepadat apapun, kau tetap harus menemuiku,”
suara Jessica terdengar.
Donghae kaget. Ia teringat
tentang konferensi besok malam. Jadwalnya tentu bertabrakan dengan menemui
Jessica. Donghae terdiam, bingung apa yang harus dijawab.
“Oke, Oppa. Kutunggu kau di sana. Dah!”
Tut
… tut …. Telepon terputus. Donghae
menaruh handphone-nya kembali di
laci, sementara pikirannya melayang.
“Siapa itu?” tanya Leeteuk.
“Sica,” Donghae menjawabnya
dengan singkat.
“Ia memintamu untuk
menemuinya lagi?” terka Leeteuk.
Donghae mengangguk pelan, “Besok
malam.”
Leeteuk menautkan alisnya, “Tapi
besok kita ada konferen …”
“Ya, itu masalahnya!” nada
bicara Donghae meninggi. “Aku bingung harus ikut konferensi atau menemuinya!”
Leeteuk tidak berkomentar. Sepertinya
ia tengah berpikir.
“Kalau kau jadi aku, apa
yang kau lakukan?”
“Aku memilih konferensi,”
ujar Leeteuk. “Gadis itu sudah berkali-kali berjanji menemuimu tiap malam, tapi
tak satupun ditepatinya. Nah, apa kau mau ambil resiko menemuinya besok malam sedangkan
besok ada konferensi penting yang harus dihadiri?”
Donghae memutar bola
matanya, “Tapi …”
“Memangnya seberapa besar
cintamu padanya? Hingga kamu berani mengorbankan konferensi untuk menemuinya?
Padahal belum tentu ia datang. Semua alasannya padamu mungkin hanya
dibuat-buat! Ia sejak awal tidak berniat bertemu denganmu!”
Donghae tutup mulut. Benar
juga perkataan hyung-nya itu.
“Lebih baik kau ikut
konferensi. Itu saranku padamu. Terserah kau mau mengikutinya atau tidak,”
Leeteuk menarik selimut. “Aku ini hyung-mu, Donghae-ah. Pengalamanku lebih
banyak darimu.”
***
Konferensi berakhir. Seluruh
anggota Super Junior keluar dari ruangan. Mereka melepas make up, hairdo, dan
lainnya sebelum kembali ke dorm. Donghae saat ini berada di ruang make up, duduk menghadap cermin. Seorang
perias menata rambutnya, juga menghilangkan make
up di wajahnya.
Donghae memandang cermin. Ia
teringat Jessica. Rasa cemas meliputi hatinya, takut bila gadis itu sendirian
di tengah malam yang sunyi, menanti dirinya yang tidak datang.
Tiba-tiba handphone-nya berdering. Donghae segera
mengangkatnya. Telepon dari Jessica.
“Oppa!” Jessica tampak marah. “Oppa,
aku sudah menunggumu dari tadi! Kira-kira sudah satu jam aku berdiri di sini.
Tapi kamu ke mana? Kamu mau mempermainkanku, ya? Atau kau ingin mendengar
amarahku? Oke, kau sudah mendengarnya. Sekarang, lekas datang kemari atau
akhiri saja hubungan kita!”
Donghae tercekat
mendengarnya. Ia tidak ingin hubungannya berakhir begitu saja. Hubungan ini
impiannya sejak dulu. Donghae begitu mencintai Jessica, meski sampai saat ini
gadis itu berkali-kali melukai hatinya. Segera ia memakai jaket, lalu berlari
keluar. Ia tidak memedulikan teriakan si perias karena Donghae terlihat aneh
dengan make up-nya yang baru setengah
dihapus.
Donghae membuka pintu
keluar. Ia tersentak kaget melihat kondisi di luar. Hujan. Udara begitu dingin.
Petir juga menggelegar, memancarkan cahaya ungu. Namja itu semakin khawatir
terhadap Jessica. Takut ketika membayangkan yeoja bertubuh mungil itu berdiri
di trotoar, memandangi jalan berharap ia datang.
Tanpa berpikir panjang,
Donghae menerobos hujan. Ia merapatkan jaketnya, tidak kuat dengan udara yang
dingin menembus kulit. Larinya dipercepat. Ia harus sampai secepatnya, tidak
boleh terlambat sedetikpun.
Ia menyeberang jalan dengan
nekat. Kendaraan di sana membunyikan klakson gara-gara tingkahnya tersebut. Ia
juga menukik di perempatan dengan kecepatan tinggi, membuat mobil berhenti
mendadak dan nyaris menabraknya. Donghae tidak peduli terhadap keluhan
orang-orang itu. Hanya satu yang dipikirnya, Jessica.
Sebentar lagi ia sampai.
Tinggal beberapa meter lagi. Di sana, ia melihat sesosok bermantel, berdiri di
sisi jalan seperti menunggu sesuatu. Donghae berlari lebih kencang. Kakinya
mulai terasa pegal, tapi tak apa. Semua demi Jessica.
“Sica!” panggil Donghae. Ia
menepuk pundak sosok tersebut. Betapa kagetnya ia, saat mengetahui sosok itu
bukanlah Jessica. Seorang wanita lain, entah dari mana asalnya. Ia sedang
menunggu taksi.
Wanita itu menoleh,
memandang Donghae. Matanya membesar saat melihat idolanya itu berdiri di
hadapannya. “Oppa!” serunya girang. “Saranghae!” setelah itu ia membungkuk.
Donghae, masih dengan
kekecewaannya, membungkuk juga dan membalas, “Gumawo.” Kemudian ia berlalu dari
sana. Wanita itu terus memandanginya, tersenyum-senyum tidak jelas karena
bertemu idolanya di saat yang tak terduga.
Donghae menghela napas,
kemudian menghembuskannya. Di mana sebenarnya Jessica?
Ia segera menelepon Jessica.
Telepon memang tersambung, tapi tidak ada jawaban.
“Sica?” Donghae mulai cemas.
“Jessica, jawab aku!”
Tidak ada sahutan. Beberapa
detik kemudian, telepon terputus.
Donghae menunduk, hampir
menangis. Ia menyesal kenapa memilih konferensi daripada menemui Jessica. Ia
tahu Jessica sering membuatnya sakit, tapi ia selalu berpikir positif. Setiap
janji bertemu dengan Jessica, ia terus berharap pada saat itu Jessica telah
mengubah sikapnya. Dan baru saja ia menyadari, bahwa pertemuan barusan yang ia
lewatkan itu, adalah saat-saat Jessica mengubah perilakunya. Lalu, Donghae
melewatkannya begitu saja.
Ding!
Suara SMS masuk. Donghae cepat-cepat membukanya. Dari Jessica.
‘Kalau kau datang di tempat tujuan, jangan kaget aku sudah tidak berdiri
di sana. Kau mengecewakanku, Oppa. Kau pulang saja. Hubungan kita cukup sampai
di sini.’
Donghae menahan napas.
Perlahan air matanya terjatuh. Padahal sampai saat ini ia berusaha untuk sabar,
dan sabar, menghadapi semua sikap Jessica padanya. Karena ia sungguh-sungguh
mencintai wanita itu.
Tapi, Jessica yang tidak
tahu apa-apa, mengakhirinya tiba-tiba.
Ada perasaan marah dalam
dirinya. Donghae meremas handphone-nya.
Tidak boleh seperti ini. Jessica harus
tahu perasaanku sesungguhnya, karena itu aku harus memberinya pelajaran.
***
[Bersambung ....]
By : An (Annisa)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar