About

Jumat, 15 Agustus 2014

Almost There (Part 1)

Title    : Almost There
Author : An (Annisa)
Length : Chaptered
Cast     : Jessica Jung (SNSD), Lee Dong Hae (Super Junior)

Genre : Sad, mystery, romance
***
Ia berdiri di sisi jalan. Matanya menangkap genangan air di jalanan, yang memantulkan cahaya bulan. Sesekali genangan itu beriak, mencipratkan air karena kendaraan yang melintas.
Ramai sekali di sana. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi masih banyak orang berlalu lalang. Mereka berjalan begitu saja, melewatinya. Sama sekali mereka tidak menyadari ia berdiri di situ.
Ia melihat arlojinya. Ini sudah lewat sepuluh menit dari perjanjian. Kapan yeoja itu tiba?

Perlahan-lahan, kendaraan mulai hilang. Para pejalan kaki juga berkurang jumlahnya. Lampu jalan yang sedari tadi berkelap-kelip sekarat, kini sudah menanggalkan cahayanya. Ia, si namja bertubuh tegap itu, masih berdiri di sana. Dengan setia ia menunggu yeoja yang telah berjanji untuk menemuinya malam itu.
Malam semakin mencekam. Awan bergerak tertiup angin, menutupi bulan yang memancarkan sinarnya. Gelap. Banyak orang yang sudah pergi, meninggalkan namja yang belum menggeser kakinya sedikitpun.
Dilihatnya lagi arlojinya. Sudah satu jam. Apa hal ini terjadi lagi?
Namja itu mengeluarkan handphone-nya, lalu ia menelepon si yeoja.
Oppa, aku lelah sekali. Baru saja aku sampai di dorm, sepulang dari bar bersama teman-temanku. Apa? Kita ada janji untuk bertemu hari ini? Astaga! Maaf, Oppa. Aku benar-benar lupa. Lain kali saja, ya. Aku terlalu capek untuk menemuimu sekarang. Pulanglah, Oppa.
Namja itu memasukkan handphone-nya. Ia menghela napas sejenak, melepas pandangan ke jalan raya yang sunyi. Akhirnya ia melangkah, berlalu dari kesepian yang ia dapat tadi.
Ini terjadi lagi. Entah untuk keberapa kalinya.
***
“Oppa!”
Suara itu, suara khas yang berasal dari mulut kecil Jessica.
“Oppa! Apa kau ada jadwal hari ini?” tangannya menggelayut. “Nanti malam, ayo kita bertemu lagi! Aku ingin bercerita sesuatu padamu.”
Namja itu, Donghae, menatap Jessica.
“Apa kau ada jadwal hari ini?” Jessica balas menatap. Dengan suara imut ia berkata.
Donghae menarik napas, “Aku akan menghubungi manager-ku nanti.”
Jessica mengelus-elus tangan Donghae, “Yah, tapi kalau kau tidak bisa, aku tentu memakluminya. Kau pasti punya jadwal yang padat sebagai personil Super Junior.”
Donghae tersenyum tipis, “Tapi akan kuusahakan untuk datang.”
“Baiklah,” Jessica berdiri. Ia mengacungkan jempol pada Donghae, “Kutunggu kau di sana, Oppa!”
Jessica berlari kecil, menuju teman-temannya. Donghae memandangnya terus. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa jatuh cinta pada gadis itu. Dan kenapa ia begitu mencintainya, ia juga tidak tahu.
***
Astaga! Aku lupa! Oppa, aku benar-benar minta maaf. Mungkin aku terlalu asyik bersama teman-temanku, sampai lupa janjiku padamu. Maaf, Oppa, sekali lagi maaf. Kalau aku ada di dekatmu, aku akan langsung berlutut padamu. Maafkan aku, Oppa! Kumohon.
“Tidak apa-apa, kok. Jangan diulangi lagi, ya.”
Donghae menutup teleponnya. Yap, terjadi lagi. Dengan tundukan kepala yang dalam, ia kembali ke dorm.
***
“Super Junior mendapat promosi dari perusahaan musik besar di Korea. Wah, kerja keras kita selama ini terbayar!” Leeteuk membaca kertas yang diberikan manager-nya.
Semua orang yang berada di sana bersorak gembira.
“Kapan konferensinya?” tanya Eunhyuk kemudian.
“Besok malam. Di Jamsil Indoor. Jutaan fans kita pasti hadir di sana. Menyenangkan rasanya bisa bertemu mereka, menyapa mereka, setelah kegiatan padat kita sehari-hari,” Leeteuk meletakkan kertas tersebut. “Sekarang, kita istirahat saja. Besok kita ada hari yang besar.”
Donghae memasuki kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang. Sambil tersenyum senang, dipandangnya langit-langit kamar. Tentu bahagia rasanya, saat tahu Super Junior mendapat promosi. Semoga boyband ini terus berjaya, begitu harapannya.
Leeteuk masuk kamar beberapa menit kemudian. Ia menutup pintu, lalu menyalakan pendingin ruangan.
“Ah!” Leeteuk merebahkan tubuhnya. “Hai.”
Donghae tersenyum membalasnya, “Sapaanmu garing sekali.”
Leeteuk tertawa kecil. “Lalu bagaimana aku harus mengucapkannya?”
“Lambaikan tanganmu seperti ini, tersenyumlah selebar mungkin hingga semua gigimu kelihatan, lalu katakan ‘hai’ dengan volume yang keras,” Donghae mencontohkan.
Leeteuk menarik napas, “Oke, akan kupraktekkan.”
Baru saja ia hendak berbicara, handphone­ Donghae berbunyi. Donghae buru-buru mencari handphone-nya. Segera ia menerima telepon itu.
Oppa! Besok malam ayo kita bertemu lagi! Kali ini aku benar-benar datang. Kau juga harus datang, Oppa. Jadwalmu sepadat apapun, kau tetap harus menemuiku,” suara Jessica terdengar.
Donghae kaget. Ia teringat tentang konferensi besok malam. Jadwalnya tentu bertabrakan dengan menemui Jessica. Donghae terdiam, bingung apa yang harus dijawab.
Oke, Oppa. Kutunggu kau di sana. Dah!
Tuttut …. Telepon terputus. Donghae menaruh handphone-nya kembali di laci, sementara pikirannya melayang.
“Siapa itu?” tanya Leeteuk.
“Sica,” Donghae menjawabnya dengan singkat.
“Ia memintamu untuk menemuinya lagi?” terka Leeteuk.
Donghae mengangguk pelan, “Besok malam.”
Leeteuk menautkan alisnya, “Tapi besok kita ada konferen …”
“Ya, itu masalahnya!” nada bicara Donghae meninggi. “Aku bingung harus ikut konferensi atau menemuinya!”
Leeteuk tidak berkomentar. Sepertinya ia tengah berpikir.
“Kalau kau jadi aku, apa yang kau lakukan?”
“Aku memilih konferensi,” ujar Leeteuk. “Gadis itu sudah berkali-kali berjanji menemuimu tiap malam, tapi tak satupun ditepatinya. Nah, apa kau mau ambil resiko menemuinya besok malam sedangkan besok ada konferensi penting yang harus dihadiri?”
Donghae memutar bola matanya, “Tapi …”
“Memangnya seberapa besar cintamu padanya? Hingga kamu berani mengorbankan konferensi untuk menemuinya? Padahal belum tentu ia datang. Semua alasannya padamu mungkin hanya dibuat-buat! Ia sejak awal tidak berniat bertemu denganmu!”
Donghae tutup mulut. Benar juga perkataan hyung-nya itu.
“Lebih baik kau ikut konferensi. Itu saranku padamu. Terserah kau mau mengikutinya atau tidak,” Leeteuk menarik selimut. “Aku ini hyung-mu, Donghae-ah. Pengalamanku lebih banyak darimu.”
***
Konferensi berakhir. Seluruh anggota Super Junior keluar dari ruangan. Mereka melepas make up, hairdo, dan lainnya sebelum kembali ke dorm. Donghae saat ini berada di ruang make up, duduk menghadap cermin. Seorang perias menata rambutnya, juga menghilangkan make up di wajahnya.
Donghae memandang cermin. Ia teringat Jessica. Rasa cemas meliputi hatinya, takut bila gadis itu sendirian di tengah malam yang sunyi, menanti dirinya yang tidak datang.
Tiba-tiba handphone-nya berdering. Donghae segera mengangkatnya. Telepon dari Jessica.
Oppa!” Jessica tampak marah. “Oppa, aku sudah menunggumu dari tadi! Kira-kira sudah satu jam aku berdiri di sini. Tapi kamu ke mana? Kamu mau mempermainkanku, ya? Atau kau ingin mendengar amarahku? Oke, kau sudah mendengarnya. Sekarang, lekas datang kemari atau akhiri saja hubungan kita!
Donghae tercekat mendengarnya. Ia tidak ingin hubungannya berakhir begitu saja. Hubungan ini impiannya sejak dulu. Donghae begitu mencintai Jessica, meski sampai saat ini gadis itu berkali-kali melukai hatinya. Segera ia memakai jaket, lalu berlari keluar. Ia tidak memedulikan teriakan si perias karena Donghae terlihat aneh dengan make up-nya yang baru setengah dihapus.
Donghae membuka pintu keluar. Ia tersentak kaget melihat kondisi di luar. Hujan. Udara begitu dingin. Petir juga menggelegar, memancarkan cahaya ungu. Namja itu semakin khawatir terhadap Jessica. Takut ketika membayangkan yeoja bertubuh mungil itu berdiri di trotoar, memandangi jalan berharap ia datang.
Tanpa berpikir panjang, Donghae menerobos hujan. Ia merapatkan jaketnya, tidak kuat dengan udara yang dingin menembus kulit. Larinya dipercepat. Ia harus sampai secepatnya, tidak boleh terlambat sedetikpun.
Ia menyeberang jalan dengan nekat. Kendaraan di sana membunyikan klakson gara-gara tingkahnya tersebut. Ia juga menukik di perempatan dengan kecepatan tinggi, membuat mobil berhenti mendadak dan nyaris menabraknya. Donghae tidak peduli terhadap keluhan orang-orang itu. Hanya satu yang dipikirnya, Jessica.
Sebentar lagi ia sampai. Tinggal beberapa meter lagi. Di sana, ia melihat sesosok bermantel, berdiri di sisi jalan seperti menunggu sesuatu. Donghae berlari lebih kencang. Kakinya mulai terasa pegal, tapi tak apa. Semua demi Jessica.
“Sica!” panggil Donghae. Ia menepuk pundak sosok tersebut. Betapa kagetnya ia, saat mengetahui sosok itu bukanlah Jessica. Seorang wanita lain, entah dari mana asalnya. Ia sedang menunggu taksi.
Wanita itu menoleh, memandang Donghae. Matanya membesar saat melihat idolanya itu berdiri di hadapannya. “Oppa!” serunya girang. “Saranghae!” setelah itu ia membungkuk.
Donghae, masih dengan kekecewaannya, membungkuk juga dan membalas, “Gumawo.” Kemudian ia berlalu dari sana. Wanita itu terus memandanginya, tersenyum-senyum tidak jelas karena bertemu idolanya di saat yang tak terduga.
Donghae menghela napas, kemudian menghembuskannya. Di mana sebenarnya Jessica?
Ia segera menelepon Jessica. Telepon memang tersambung, tapi tidak ada jawaban.
“Sica?” Donghae mulai cemas. “Jessica, jawab aku!”
Tidak ada sahutan. Beberapa detik kemudian, telepon terputus.
Donghae menunduk, hampir menangis. Ia menyesal kenapa memilih konferensi daripada menemui Jessica. Ia tahu Jessica sering membuatnya sakit, tapi ia selalu berpikir positif. Setiap janji bertemu dengan Jessica, ia terus berharap pada saat itu Jessica telah mengubah sikapnya. Dan baru saja ia menyadari, bahwa pertemuan barusan yang ia lewatkan itu, adalah saat-saat Jessica mengubah perilakunya. Lalu, Donghae melewatkannya begitu saja.
Ding! Suara SMS masuk. Donghae cepat-cepat membukanya. Dari Jessica.
Kalau kau datang di tempat tujuan, jangan kaget aku sudah tidak berdiri di sana. Kau mengecewakanku, Oppa. Kau pulang saja. Hubungan kita cukup sampai di sini.
Donghae menahan napas. Perlahan air matanya terjatuh. Padahal sampai saat ini ia berusaha untuk sabar, dan sabar, menghadapi semua sikap Jessica padanya. Karena ia sungguh-sungguh mencintai wanita itu.
Tapi, Jessica yang tidak tahu apa-apa, mengakhirinya tiba-tiba.
Ada perasaan marah dalam dirinya. Donghae meremas handphone-nya. Tidak boleh seperti ini. Jessica harus tahu perasaanku sesungguhnya, karena itu aku harus memberinya pelajaran.
***
[Bersambung ....]
By : An (Annisa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar