About

Sabtu, 09 Agustus 2014

I'm Not A Pesky Kid (Part 4)

Title            : I’m Not A Pesky Kid
Author        : An (Annisa)
Length         : Chaptered
Cast            : Park Rae Hwa (OC), Choi Sang Hee (OC), Kim Yoon Ra (OC)

Genre          : Mystery
***
“Aku … aku tidak berbuat hal-hal aneh dengannya. Hanya mengobrol dan, menerobos pintu belakang sekolah. Itu saja,” Rae Hwa masih kaget mendengar berita itu. “Tolong tunjukkan padaku lokasinya.”
***
Sama dengan Sang Hee. Yoon Ra tewas dengan bekas sobekan di tengkuk leher. Kasusnya sama, ada sesosok makhluk yang menyobek lehernya, lalu memutus saluran pernapasan.
Rae Hwa hanya mampu menahan napas melihat peristiwa itu.

“Kenapa orang yang dekat denganku yang diincar?” ia mendesah pelan. “Baru saja kami dekat sehari, ia meninggal. Kasusnya sama pula. Pasti pelakunya juga sama. Kenapa dia membunuh orang yang dekat denganku? Bila dia memang membenciku, jangan begitu caranya. Pergi saja ke dukun untuk meletuskan perutku atau membunuhku secara langsung.”
Kejadian ini semakin aneh. Esoknya, Rae Hwa mendapatkan teman baru. Selama beberapa hari keduanya selalu bersama. Namun, suatu saat, temannya itu ditemukan tewas dalam kondisi yang sama. Tengkuknya sobek dan saluran pernapasannya putus.
Di hari lain, ada murid baru dari luar kota. Ia berkenalan dengan Rae Hwa dan langsung akrab dengannya pada hari itu. Esoknya, ia juga tewas. Keadaannya sama dengan Sang Hee atau Yoon Ra.
Rae Hwa menjadi bingung. Teman-teman sekelasnya menjadi waspada terhadapnya, takut kalau terjadi hal yang sama pada mereka. Rae Hwa berusaha meyakinkan teman-temannya itu, kalau dia bukanlah penyebabnya. Tapi bangku Sang Hee yang patut dicurigai. Karena, sampai saat ini, murid yang duduk di bangku tersebut tewas dalam waktu dekat.
Ketika itu, teman-temannya percaya saja pada Rae Hwa. Mereka masih berani mendekati Rae Hwa dan berbicara dengannya. Namun, saat Rae Hwa bersahabat dengan murid dari kelas lain, murid tersebut ditemukan tewas beberapa hari kemudian, membuat teman-teman sekolah Rae Hwa menjadi sangat takut dengannya. Murid dari kelas lain itu tidak duduk di bangku Sang Hee, tapi ia tewas setelah menjalin persahabatan dengan Rae Hwa. Kondisi tubuhnya saat tewas sama dengan empat korban sebelumnya.
Rae Hwa tidak mampu berkutik. Sekarang ia tahu dirinyalah penyebab semua itu. Polisi sempat menginterogasinya, dan setelah itu ia terbukti tak bersalah. Rae Hwa memang tidak melakukan pembunuhan sadis itu. Hanya saja terasa ganjil kenapa orang yang dekat dengannya dalam beberapa hari selalu tewas.
Rae Hwa menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah keluar kelas, lalu beranjak ke gerbang. Teman-teman sekolah yang dijumpainya selalu berusaha menjauh, takut bernasib sama. Rae Hwa hanya terdiam. Ia memaklumi teman-temannya. Bila ia menjadi merekapun, Rae Hwa tentu menjauhi orang yang dianggap sial tersebut.
Mata cokelatnya memandang langit, “Apa ini misteri kedua di gua itu? Yaitu orang yang dekat denganku selalu meninggal?”
***
Berita ini sudah menyebar luas ke daratan Seoul. Banyak orang yang berusaha menghindari Rae Hwa. Bahkan, ibu pemilik kos yang ditempati Rae Hwa saat ini, menyuruh Rae Hwa segera menyelesaikan pendidikannya dan pergi dari situ.
Rae Hwa hanya termenung di kamarnya. Ia duduk di bangku kayu yang sudah agak reyot, yang menghadap ke jendela. Di sana ia bisa langsung melihat kota Seoul dengan bangunan tingginya, karena kamar kosnya itu berada di dataran tinggi.
“Dewa kematian …,” ia secara tidak sadar mengucapkan kata-kata itu. Sedetik kemudian, ia mengerjap-ngerjapkan mata, teringat sesuatu.
“Yoon Ra pernah mengatakan sesuatu tentang kematian,” ia mengusap dagu, mengingat-ingat. “Sekolah, kematian, lalu apa, ya? Ada lima poin yang ia sebutkan,” jari Rae Hwa membentuk angka lima. “Pertama, sekolah,” ia menyentuh jari pertama. “Kedua … apa, ya? Sebelum kematian ada satu kata lagi, kok.”
Matanya memicing ke langit Korea. Ada beberapa burung lewat di dekat jendelanya. Ia terus berpikir, mengingat-ingat.
“Oh, iya! Rekayasa!” Rae Hwa menepuk-nepuk jari kedua. “Lalu yang ketiga kematian. Eh, benar tidak, sih?”
Rae Hwa terus berpikir, sembari terkadang meremas jarinya. Bola matanya berputar, melihat ke sana-sini. Lima poin yang diberikan Yoon Ra mungkin adalah kunci dari misteri ini. Ia harus mengingat semuanya.
“Sekolah, rekayasa, kematian …,” Rae Hwa mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. “Sekolah, rekayasa …”
Beberapa menit kemudian, ia ingat kata keempat.
“Oh! Sekolah, rekayasa, kematian, bintang dan ...,” untuk kesekian kalinya, kata-katanya tersendat. “Apa kata terakhir?”
Rae Hwa menggigit bibir, “Ah, sudahlah. Kata terakhir, urusan terakhir. Sekarang, aku harus segera mencatat kata-kata ini sebelum ingatanku hilang.”
Ia segera mengeluarkan note dan pensil. Segera ia tulis keempat kata yang ia ingat.
“Sekolah? Apa maksudnya? Rekayasa juga … apaan, sih?” Rae Hwa menggaruk kepalanya dengan pensil. “Kalau kematian ini, mungkin maksudnya lima anak yang mati itu.”
Rae Hwa terdiam sejenak. Ia terbayang, akan tragisnya mereka dibunuh. Kemudian Rae Hwa segera menggelengkan kepala dan berusaha untuk tidak mengingat itu kembali.
“Hanya membuatku menangis saja,” ia menghela napas. “Sekarang aku harus fokus pada kata-kata ini.”
Dipandangnya empat kata yang menurutnya mencurigakan itu, “Kemudian, apa maksudnya bintang?” Ia mengetuk-ngetuk ujung pensil ke pelipisnya. Beberapa detik kemudian, matanya membesar, teringat sesuatu lagi.
Segera dibukanya laci meja, lemari, bahkan kolong tempat tidur. Setelah mendapatkan benda yang dimaksud, ia kembali ke bangku dekat jendela. Rae Hwa membentangkan peta Seoul, benda yang ia cari itu, di atas meja. Setelah itu ia mengambil pulpen.
“Sang Hee dibunuh di gudang sekolah,” ia membuat titik hitam di sekolahnya pada peta. “Kemudian Yoon Ra di dekat sungai,” Rae Hwa mengarahkan pulpennya ke sungai. “Dan Ji Sang, di sini. Hye Jae di sini, dan Eun Kyo di sini,” Rae Hwa membuat titik di beberapa tempat. “Lalu, dihubungkan …,” Rae Hwa menggerakkan pulpennya, menghubungkan semua titik tersebut.

“Oh?” matanya membelalak. “Benar … benar apa dugaanku!”
[Bersambung ....]
By : An (Annisa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar