Title : I’m Not A Pesky Kid
Author : An (Annisa)
Length : Chaptered
Cast : Park Rae Hwa (OC), Choi Sang Hee
(OC), Kim Yoon Ra (OC)
Genre : Mystery
***
“Aku
… aku tidak berbuat hal-hal aneh dengannya. Hanya mengobrol dan, menerobos
pintu belakang sekolah. Itu saja,” Rae Hwa masih kaget mendengar berita itu.
“Tolong tunjukkan padaku lokasinya.”
***
Sama
dengan Sang Hee. Yoon Ra tewas dengan bekas sobekan di tengkuk leher. Kasusnya
sama, ada sesosok makhluk yang menyobek lehernya, lalu memutus saluran pernapasan.
Rae
Hwa hanya mampu menahan napas melihat peristiwa itu.
“Kenapa
orang yang dekat denganku yang diincar?” ia mendesah pelan. “Baru saja kami
dekat sehari, ia meninggal. Kasusnya sama pula. Pasti pelakunya juga sama.
Kenapa dia membunuh orang yang dekat denganku? Bila dia memang membenciku,
jangan begitu caranya. Pergi saja ke dukun untuk meletuskan perutku atau
membunuhku secara langsung.”
Kejadian
ini semakin aneh. Esoknya, Rae Hwa mendapatkan teman baru. Selama beberapa hari
keduanya selalu bersama. Namun, suatu saat, temannya itu ditemukan tewas dalam
kondisi yang sama. Tengkuknya sobek dan saluran pernapasannya putus.
Di
hari lain, ada murid baru dari luar kota. Ia berkenalan dengan Rae Hwa dan
langsung akrab dengannya pada hari itu. Esoknya, ia juga tewas. Keadaannya sama
dengan Sang Hee atau Yoon Ra.
Rae
Hwa menjadi bingung. Teman-teman sekelasnya menjadi waspada terhadapnya, takut
kalau terjadi hal yang sama pada mereka. Rae Hwa berusaha meyakinkan
teman-temannya itu, kalau dia bukanlah penyebabnya. Tapi bangku Sang Hee yang
patut dicurigai. Karena, sampai saat ini, murid yang duduk di bangku tersebut
tewas dalam waktu dekat.
Ketika
itu, teman-temannya percaya saja pada Rae Hwa. Mereka masih berani mendekati
Rae Hwa dan berbicara dengannya. Namun, saat Rae Hwa bersahabat dengan murid
dari kelas lain, murid tersebut ditemukan tewas beberapa hari kemudian, membuat
teman-teman sekolah Rae Hwa menjadi sangat takut dengannya. Murid dari kelas
lain itu tidak duduk di bangku Sang Hee, tapi ia tewas setelah menjalin
persahabatan dengan Rae Hwa. Kondisi tubuhnya saat tewas sama dengan empat
korban sebelumnya.
Rae
Hwa tidak mampu berkutik. Sekarang ia tahu dirinyalah penyebab semua itu.
Polisi sempat menginterogasinya, dan setelah itu ia terbukti tak bersalah. Rae
Hwa memang tidak melakukan pembunuhan sadis itu. Hanya saja terasa ganjil
kenapa orang yang dekat dengannya dalam beberapa hari selalu tewas.
Rae
Hwa menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah keluar kelas, lalu beranjak ke
gerbang. Teman-teman sekolah yang dijumpainya selalu berusaha menjauh, takut
bernasib sama. Rae Hwa hanya terdiam. Ia memaklumi teman-temannya. Bila ia
menjadi merekapun, Rae Hwa tentu menjauhi orang yang dianggap sial tersebut.
Mata
cokelatnya memandang langit, “Apa ini misteri kedua di gua itu? Yaitu orang
yang dekat denganku selalu meninggal?”
***
Berita
ini sudah menyebar luas ke daratan Seoul. Banyak orang yang berusaha
menghindari Rae Hwa. Bahkan, ibu pemilik kos yang ditempati Rae Hwa saat ini,
menyuruh Rae Hwa segera menyelesaikan pendidikannya dan pergi dari situ.
Rae
Hwa hanya termenung di kamarnya. Ia duduk di bangku kayu yang sudah agak reyot,
yang menghadap ke jendela. Di sana ia bisa langsung melihat kota Seoul dengan
bangunan tingginya, karena kamar kosnya itu berada di dataran tinggi.
“Dewa
kematian …,” ia secara tidak sadar mengucapkan kata-kata itu. Sedetik kemudian,
ia mengerjap-ngerjapkan mata, teringat sesuatu.
“Yoon
Ra pernah mengatakan sesuatu tentang kematian,” ia mengusap dagu,
mengingat-ingat. “Sekolah, kematian, lalu apa, ya? Ada lima poin yang ia
sebutkan,” jari Rae Hwa membentuk angka lima. “Pertama, sekolah,” ia menyentuh
jari pertama. “Kedua … apa, ya? Sebelum kematian ada satu kata lagi, kok.”
Matanya
memicing ke langit Korea. Ada beberapa burung lewat di dekat jendelanya. Ia
terus berpikir, mengingat-ingat.
“Oh,
iya! Rekayasa!” Rae Hwa menepuk-nepuk jari kedua. “Lalu yang ketiga kematian.
Eh, benar tidak, sih?”
Rae
Hwa terus berpikir, sembari terkadang meremas jarinya. Bola matanya berputar,
melihat ke sana-sini. Lima poin yang diberikan Yoon Ra mungkin adalah kunci
dari misteri ini. Ia harus mengingat semuanya.
“Sekolah,
rekayasa, kematian …,” Rae Hwa mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. “Sekolah,
rekayasa …”
Beberapa
menit kemudian, ia ingat kata keempat.
“Oh!
Sekolah, rekayasa, kematian, bintang dan ...,” untuk kesekian kalinya,
kata-katanya tersendat. “Apa kata terakhir?”
Rae
Hwa menggigit bibir, “Ah, sudahlah. Kata terakhir, urusan terakhir. Sekarang,
aku harus segera mencatat kata-kata ini sebelum ingatanku hilang.”
Ia
segera mengeluarkan note dan pensil.
Segera ia tulis keempat kata yang ia ingat.
“Sekolah?
Apa maksudnya? Rekayasa juga … apaan, sih?” Rae Hwa menggaruk kepalanya dengan
pensil. “Kalau kematian ini, mungkin maksudnya lima anak yang mati itu.”
Rae
Hwa terdiam sejenak. Ia terbayang, akan tragisnya mereka dibunuh. Kemudian Rae
Hwa segera menggelengkan kepala dan berusaha untuk tidak mengingat itu kembali.
“Hanya
membuatku menangis saja,” ia menghela napas. “Sekarang aku harus fokus pada
kata-kata ini.”
Dipandangnya
empat kata yang menurutnya mencurigakan itu, “Kemudian, apa maksudnya bintang?”
Ia mengetuk-ngetuk ujung pensil ke pelipisnya. Beberapa detik kemudian, matanya
membesar, teringat sesuatu lagi.
Segera
dibukanya laci meja, lemari, bahkan kolong tempat tidur. Setelah mendapatkan
benda yang dimaksud, ia kembali ke bangku dekat jendela. Rae Hwa membentangkan
peta Seoul, benda yang ia cari itu, di atas meja. Setelah itu ia mengambil
pulpen.
“Sang
Hee dibunuh di gudang sekolah,” ia membuat titik hitam di sekolahnya pada peta.
“Kemudian Yoon Ra di dekat sungai,” Rae Hwa mengarahkan pulpennya ke sungai.
“Dan Ji Sang, di sini. Hye Jae di sini, dan Eun Kyo di sini,” Rae Hwa membuat
titik di beberapa tempat. “Lalu, dihubungkan …,” Rae Hwa menggerakkan
pulpennya, menghubungkan semua titik tersebut.
“Oh?”
matanya membelalak. “Benar … benar apa dugaanku!”
[Bersambung ....]
By : An (Annisa)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar