Title : Knight Under The Light
Author : An
(Annisa)
Length :
Chaptered
Cast : Kim Soon Hi (OC), Jack (OC), Oh Sehun
(EXO)
Genre :
Adventure
***
Soon
Hi berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan pisau itu dari mereka. Tapi jumlah
mereka terlalu banyak, apalagi ia baru saja menyadari kekuatannya dan belum
sekalipun melatihnya. Ia merasa gugup dan takut. Karena itu ia memilih untuk
memejamkan mata.
Di
tengah semua itu, tiba-tiba ada orang yang memeluknya, menjatuhkannya ke tanah
dan melindunginya. Kepala Soon Hi dipeluk erat dan didekatkan ke tubuh orang
tersebut, agar tidak terkena pisau sama sekali. Ketika serangannya berakhir,
pelukannya mengendur. Soon Hi memberanikan diri membuka matanya. Tubuhnya
memang tidak terluka sama sekali, tapi ia kaget bukan kepalang.
“Se
… hun …?”
Wajah
Sehun begitu kosong. Tubuhnya benar-benar penuh darah. Pisau-pisau itu menancap
dengan baik di tubuhnya, membuat tubuhnya keseluruhan bersimbah darah. Hanya
wajahnya yang tidak terkena darah sama sekali. Masih suci, dan putih.
Soon
Hi tak mampu berkata-kata. Sehun terhuyung ke depan, jatuh persis di samping
Soon Hi. Darahnya terus mengalir. Wajahnya pucat pasi tanpa ekspresi. Ia
berkedip sekarat, serta bergumam tidak jelas.
Soon
Hi melirik Sehun sekilas. Namja itu melindunginya, ya.
“…”
Soon
Hi tidak sadar air matanya jatuh. Mengalir lambat di kelak-kelok pipi tirusnya.
“Kau
…,” bibirnya tergerak lemah. “Bodoh ….”
Sehun
tersenyum tipis. Napasnya pendek-pendek. Sekonyong-konyong tangannya bergerak,
memegang tangan Soon Hi yang lembut.
“Sa … rang
…,” ia berucap pelan. “Hae …”
Soon
Hi melirik Sehun.
“Mian baru mengucapkannya sekarang,”
Sehun terbatuk sedikit. “Mian.”
Soon
Hi menunduk. Ia menyesal. Kenapa ia tidak mendengarkan Jack tadi? Kenapa ia
tidak ikut Jack kembali ke dunianya? Paling tidak takkan mengorbankan satu
nyawa seperti ini.
Tiba-tiba
ada seseorang muncul di tengah itu semua. Sosok jakung, tinggi berjubah hitam.
Ketika ia muncul, para pria itu tambah ribut. Tetapi mereka terlihat ketakutan.
Mereka berjalan mundur pelan-pelan, menghindari tatapan dari si sosok.
Sosok
itu menghilang seperti asap, lalu muncul di sudut lain ruangan, menyerang
pria-pria itu dengan agresif. Sosok itu hilang-muncul berulang kali, dan pria di
sana benar-benar bingung apa yang harus dilakukan. Satu per satu para pria
berjatuhan, lalu jasadnya lenyap ditelan tanah.
Dalam
sekejap, ruangan itu kosong, tinggal mereka bertiga.
Si
sosok muncul di depan Soon Hi, dan ia menurunkan tudungnya. Itu, Jack.
“Kau
baru sadar kalau semuanya benar kan?” Jack berkacak pinggang.
Soon
Hi menatap Jack lemas.
Jack
tertawa kecil. Ia berjalan menuju Sehun, kemudian berjongkok di dekatnya.
“Lelaki ini benar-benar mencintaimu. Dia rela melakukan ini karenamu. Sayang
cintanya baru ia tunjukkan sekarang,” Jack menghela napas. Ia melirik Soon Hi,
lalu tertawa lagi.
“Kenapa
kau tertawa?” tanya Soon Hi. “Dia sekarat seperti ini, dan kau masih sempat
tertawa?” ia mengusap air matanya.
Jack
memandang Soon Hi.
Soon
Hi menangis makin keras. Air matanya terus mengalir, berjatuhan membasahi
pakaiannya.
Jack
menarik napas. Ia mendekat pada Sehun. Tangannya ia gerakkan ke atas,
melambai-lambai dan melakukan suatu gerakan di atas tubuh Sehun. Darah yang
membasahi lantai itu bergerak, mengalir bersamaan menuju Sehun. Darah-darah itu
masuk kembali ke tempat asalnya, dan pisau-pisau yang menancap tercabut
sendiri, melayang di udara sebelum terbang ke sudut ruangan. Setelah itu Sehun
seperti tersedak, membuka matanya.
Ia
duduk, dan kaget kenapa ia ada di sana.
Soon
Hi memeluknya, mendekapnya erat-erat. “Gomawo, jinjja gomawo.”
Sehun
perlu berpikir untuk mengingat apa yang terjadi, dan pada akhirnya ia
tersenyum, balas memeluk Soon Hi.
Kemudian
Sehun berbalik memandang Jack, dan berkata, “Terima kasih.”
Jack
tersenyum, “Aku yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih sudah melindungi
adikku.”
Sehun
membelalak. Ia melirik Soon Hi, “Dia … adikmu?”
“Ceritanya
panjang,” Soon Hi menyeka air matanya. “Kau mungkin tidak percaya bagaimana
rangkaian persitiwanya. Aku saja pada awalnya mengira itu semua hanya lelucon
atau bualan belaka.”
“Dan
sekarang kau percaya itu,” Jack tersenyum. “Jadi, apa yang akan kau lakukan
sekarang?”
“Aku
akan kembali ke Exoplanet,” Soon Hi mengangguk mantap. “Tempatku di sana, bukan
di sini.”
Sehun
melongo.
Jack
tersenyum, “Pegang tanganku, Vinessa. Kau juga, Sehun.”
Soon
Hi memegang tangan Jack. Sehun memegangnya pula sambil berkata, “Siapa
Vinessa?”
Dalam
kedipan mata, mereka sudah berada di luar ruangan kecil itu. Kembali berada di
gang kecil menuju pagar kampus.
“Jack,”
panggil Soon Hi pelan. “Apa pria-pria tadi termasuk pasukan yang menyerang Exoplanet?”
Jack
mengiyakan, “Mereka pasukannya Gargant. Gargant itulah yang hendak merebut
Exoplanet.”
“Kenapa?”
tanya Soon Hi lagi. “Apa dia manusia yang sangat haus akan kekuasaan?”
Jack
nyengir, “Dia memang sangat serakah. Pasukannya beribu-ribu dan sudah banyak
dunia lain yang dia rebut. Dan Exoplanet menjadi incarannya saat ini.”
Soon
Hi manggut-manggut.
“Aneh
kau menyebutnya manusia,” Jack menatap langit. “Dia tidak seperti yang kau
pikirkan. Tidak seperti dalam pikiran semua orang.”
“Memang
seperti apa wujudnya?” ujar Soon Hi kemudian.
“Aku
yakin kau akan menyesal ketika tahu.”
Jack
menghela napas. Ia melirik jam dinding yang terdapat di perpustakaan. Memang
perpustakaan itu sangat jauh letaknya dari sana. Tapi dia dapat melihat
angka-angka dan jarumnya yang bergerak dengan amat jelas.
“Kita
bisa kembali sekarang. Masih ada banyak waktu,” Jack maju beberapa langkah.
Lalu ia mengangkat tangannya. Jack menggumamkan sesuatu. Tidak ada yang
terjadi. Jack melakukannya lagi, tapi tetap tidak terjadi apapun.
Ketika
itu firasat buruk merayapi hatinya. Ia menurunkan tangannya dan berpikir.
“Ada
apa?” tanya Soon Hi.
Jack
memberi isyarat padanya untuk diam. Jack mengangkat tangannya lagi, dan
mengucapkan sesuatu.
Tidak
ada yang terjadi. Eobseo.
“Jangan-jangan
…,” Jack memutar bola matanya. Ia membelalak, lalu menatap Soon Hi.
Soon
Hi memandangnya penasaran.
“Portalnya
terputus!” pekik Jack. “Bukan tertutup, tapi terputus! Kita takkan pernah bisa
kembali lagi!”
Soon
Hi hanya menganga.
“Bagaimana bisa …?”
***
[Tamat]
By : An (Annisa)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar