About

Minggu, 08 Februari 2015

Knight Under The Light (Part 4)

Title    : Knight Under The Light
Author : An (Annisa)
Length : Chaptered
Cast     : Kim Soon Hi (OC), Jack (OC), Oh Sehun (EXO)
Genre : Adventure
***
Soon Hi berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan pisau itu dari mereka. Tapi jumlah mereka terlalu banyak, apalagi ia baru saja menyadari kekuatannya dan belum sekalipun melatihnya. Ia merasa gugup dan takut. Karena itu ia memilih untuk memejamkan mata.
Di tengah semua itu, tiba-tiba ada orang yang memeluknya, menjatuhkannya ke tanah dan melindunginya. Kepala Soon Hi dipeluk erat dan didekatkan ke tubuh orang tersebut, agar tidak terkena pisau sama sekali. Ketika serangannya berakhir, pelukannya mengendur. Soon Hi memberanikan diri membuka matanya. Tubuhnya memang tidak terluka sama sekali, tapi ia kaget bukan kepalang.

“Se … hun …?”
Wajah Sehun begitu kosong. Tubuhnya benar-benar penuh darah. Pisau-pisau itu menancap dengan baik di tubuhnya, membuat tubuhnya keseluruhan bersimbah darah. Hanya wajahnya yang tidak terkena darah sama sekali. Masih suci, dan putih.
Soon Hi tak mampu berkata-kata. Sehun terhuyung ke depan, jatuh persis di samping Soon Hi. Darahnya terus mengalir. Wajahnya pucat pasi tanpa ekspresi. Ia berkedip sekarat, serta bergumam tidak jelas.
Soon Hi melirik Sehun sekilas. Namja itu melindunginya, ya.
“…”
Soon Hi tidak sadar air matanya jatuh. Mengalir lambat di kelak-kelok pipi tirusnya.
“Kau …,” bibirnya tergerak lemah. “Bodoh ….”
Sehun tersenyum tipis. Napasnya pendek-pendek. Sekonyong-konyong tangannya bergerak, memegang tangan Soon Hi yang lembut.
Sarang …,” ia berucap pelan. “Hae …”
Soon Hi melirik Sehun.
Mian baru mengucapkannya sekarang,” Sehun terbatuk sedikit. “Mian.”
Soon Hi menunduk. Ia menyesal. Kenapa ia tidak mendengarkan Jack tadi? Kenapa ia tidak ikut Jack kembali ke dunianya? Paling tidak takkan mengorbankan satu nyawa seperti ini.
Tiba-tiba ada seseorang muncul di tengah itu semua. Sosok jakung, tinggi berjubah hitam. Ketika ia muncul, para pria itu tambah ribut. Tetapi mereka terlihat ketakutan. Mereka berjalan mundur pelan-pelan, menghindari tatapan dari si sosok.
Sosok itu menghilang seperti asap, lalu muncul di sudut lain ruangan, menyerang pria-pria itu dengan agresif. Sosok itu hilang-muncul berulang kali, dan pria di sana benar-benar bingung apa yang harus dilakukan. Satu per satu para pria berjatuhan, lalu jasadnya lenyap ditelan tanah.
Dalam sekejap, ruangan itu kosong, tinggal mereka bertiga.
Si sosok muncul di depan Soon Hi, dan ia menurunkan tudungnya. Itu, Jack.
“Kau baru sadar kalau semuanya benar kan?” Jack berkacak pinggang.
Soon Hi menatap Jack lemas.
Jack tertawa kecil. Ia berjalan menuju Sehun, kemudian berjongkok di dekatnya. “Lelaki ini benar-benar mencintaimu. Dia rela melakukan ini karenamu. Sayang cintanya baru ia tunjukkan sekarang,” Jack menghela napas. Ia melirik Soon Hi, lalu tertawa lagi.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Soon Hi. “Dia sekarat seperti ini, dan kau masih sempat tertawa?” ia mengusap air matanya.
Jack memandang Soon Hi.
Soon Hi menangis makin keras. Air matanya terus mengalir, berjatuhan membasahi pakaiannya.
Jack menarik napas. Ia mendekat pada Sehun. Tangannya ia gerakkan ke atas, melambai-lambai dan melakukan suatu gerakan di atas tubuh Sehun. Darah yang membasahi lantai itu bergerak, mengalir bersamaan menuju Sehun. Darah-darah itu masuk kembali ke tempat asalnya, dan pisau-pisau yang menancap tercabut sendiri, melayang di udara sebelum terbang ke sudut ruangan. Setelah itu Sehun seperti tersedak, membuka matanya.
Ia duduk, dan kaget kenapa ia ada di sana.
Soon Hi memeluknya, mendekapnya erat-erat. “Gomawo, jinjja gomawo.”
Sehun perlu berpikir untuk mengingat apa yang terjadi, dan pada akhirnya ia tersenyum, balas memeluk Soon Hi.
Kemudian Sehun berbalik memandang Jack, dan berkata, “Terima kasih.”
Jack tersenyum, “Aku yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih sudah melindungi adikku.”
Sehun membelalak. Ia melirik Soon Hi, “Dia … adikmu?”
“Ceritanya panjang,” Soon Hi menyeka air matanya. “Kau mungkin tidak percaya bagaimana rangkaian persitiwanya. Aku saja pada awalnya mengira itu semua hanya lelucon atau bualan belaka.”
“Dan sekarang kau percaya itu,” Jack tersenyum. “Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?”
“Aku akan kembali ke Exoplanet,” Soon Hi mengangguk mantap. “Tempatku di sana, bukan di sini.”
Sehun melongo.
Jack tersenyum, “Pegang tanganku, Vinessa. Kau juga, Sehun.”
Soon Hi memegang tangan Jack. Sehun memegangnya pula sambil berkata, “Siapa Vinessa?”
Dalam kedipan mata, mereka sudah berada di luar ruangan kecil itu. Kembali berada di gang kecil menuju pagar kampus.
“Jack,” panggil Soon Hi pelan. “Apa pria-pria tadi termasuk pasukan yang menyerang Exoplanet?”
Jack mengiyakan, “Mereka pasukannya Gargant. Gargant itulah yang hendak merebut Exoplanet.”
“Kenapa?” tanya Soon Hi lagi. “Apa dia manusia yang sangat haus akan kekuasaan?”
Jack nyengir, “Dia memang sangat serakah. Pasukannya beribu-ribu dan sudah banyak dunia lain yang dia rebut. Dan Exoplanet menjadi incarannya saat ini.”
Soon Hi manggut-manggut.
“Aneh kau menyebutnya manusia,” Jack menatap langit. “Dia tidak seperti yang kau pikirkan. Tidak seperti dalam pikiran semua orang.”
“Memang seperti apa wujudnya?” ujar Soon Hi kemudian.
“Aku yakin kau akan menyesal ketika tahu.”
Jack menghela napas. Ia melirik jam dinding yang terdapat di perpustakaan. Memang perpustakaan itu sangat jauh letaknya dari sana. Tapi dia dapat melihat angka-angka dan jarumnya yang bergerak dengan amat jelas.
“Kita bisa kembali sekarang. Masih ada banyak waktu,” Jack maju beberapa langkah. Lalu ia mengangkat tangannya. Jack menggumamkan sesuatu. Tidak ada yang terjadi. Jack melakukannya lagi, tapi tetap tidak terjadi apapun.
Ketika itu firasat buruk merayapi hatinya. Ia menurunkan tangannya dan berpikir.
“Ada apa?” tanya Soon Hi.
Jack memberi isyarat padanya untuk diam. Jack mengangkat tangannya lagi, dan mengucapkan sesuatu.
Tidak ada yang terjadi. Eobseo.
“Jangan-jangan …,” Jack memutar bola matanya. Ia membelalak, lalu menatap Soon Hi.
Soon Hi memandangnya penasaran.
“Portalnya terputus!” pekik Jack. “Bukan tertutup, tapi terputus! Kita takkan pernah bisa kembali lagi!”
Soon Hi hanya menganga.
“Bagaimana  bisa …?”
***
[Tamat]
By : An (Annisa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar