Title : Knight Under The Light
Author : An
(Annisa)
Length :
Chaptered
Cast : Kim Soon Hi (OC), Jack (OC), Oh Sehun
(EXO)
Genre :
Adventure
***
Soon
Hi menyeberangi taman itu. Saat melewati pohon dekat air mancur, ada yang
berbicara padanya.
“Kenapa
kau tidak jujur saja?”
Soon
Hi tersentak, berbalik. Ia melihatnya.
Sosok
berjubah yang menolongnya kemarin dari serangan si pria.
“Maksudmu?”
“Kau
suka dia kan?” si sosok tersenyum tipis. “Vinessa.”
Soon
Hi menautkan alisnya, “Apa?”
Sosok
itu membuka tudungnya, lalu menarik napas, “Aku yakin kau mengenalku.
Setidaknya, merasa pernah melihat wajahku. Benar kan?”
Soon
Hi mengingat-ingat. Ia memang merasa pernah melihat sosok itu selain kejadian
kemarin. Tapi entahlah kapan.
“Aku
Jack,” ucapnya. “Namamu Vinessa.”
Soon
Hi tercekat. Apa sih yang dikatakannya? Jelas-jelas namanya itu Kim Soon Hi.
Siapa Vinessa yang dibicarakannya? Karena itu, Soon Hi membungkuk sedikit untuk
memberi salam, kemudian berbalik pergi. Tetapi entah mengapa, ada sesuatu yang
menarik tubuhnya. Kakinya tak mampu menolak dan tahu-tahu ia kembali berhadapan
dengan si sosok.
“Hei,
aku bisa membaca pikiranmu. Tidak, pikiran semua orang,” sosok itu, Jack,
berkata lagi. “Namamu itu Vinessa. Kau itu adikku. Kim Soon Hi adalah nama yang
diberikan oleh keluarga yang mengasuhmu.”
Soon
Hi berbalik, memandang Jack, “Maaf, kurasa kau salah orang.” Setelah itu, dia
berjalan lagi.
“Kau
benar-benar tidak ingin mendengarku? Kenapa?”
Soon
Hi mendesah, lalu menjawab setengah berteriak, “Aku sama sekali tidak mengerti
apa yang kamu katakan. Atau yang akhir-akhir ini terjadi. Pergilah, dan jangan
ganggu kehidupanku!”
Jack
tertawa kecil. Ia membiarkan Soon Hi berjalan menjauh, kemudian berteleportasi
di depannya dan membuat Soon Hi kaget setengah mati.
“Kau!”
Soon Hi tersedak. Ia menengok ke belakang, memastikan seberapa jauh ia
berjalan.
“Baik,
akan kujelaskan satu per satu,” Jack berdehem. “Terserahmu kau mau percaya atau
tidak, yang jelas semua kejadian ini nyata. Kau boleh membuktikannya besok.”
Soon
Hi menarik napas. Ia tidak punya pilihan lain selain mendengar kata-kata lelaki
ini.
“Pertama,
yang paling penting, kau itu adikku. Kedua, kau bukan berasal dari sini, tapi
dari Exoplanet di luar sana. Ketiga, Exoplanet sedang dalam bahaya, sementara
kita adalah keluarga kerajaan yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap
Exoplanet. Jadi kami semua membutuhkanmu kembali. Keempat, portal yang
menghubungkan dunia ini dengan Exoplanet akan ditutup besok. Bila kau tidak
segera ikut denganku ke Exoplanet, kau akan musnah bersama manusia lain yang
ada di sini.”
Soon
Hi tidak berkomentar.
“Dunia
ini tidak nyata. Bumi yang kau tinggali ini hanyalah sebuah lukisan buatan
seniman terkenal di Exoplanet, namanya Emma Codger. Emma, seperti para penduduk
Exoplanet pada umumnya, menginginkan kehidupan normal. Tanpa kekuatan, tanpa
sihir, tanpa kutukan-kutukan mengerikan. Kehidupan yang kau lihat di
sekelilingmu ini.”
Soon
Hi menatap sekitarnya dengan linglung.
“Para
makhluk di Exoplanet mempunyai kekuatan sendiri-sendiri. Kau juga punya itu,
hanya saja kau tidak menyadarinya.”
Soon
Hi memandang Jack lekat-lekat.
Jack
hendak melanjutkan kata-katanya, tetapi dia menarik napas dan berkata, “Kau
berpikir kalau aku ini gila kan?”
“Tentu
saja,” Soon Hi menjawab dengan cepat. “Dari mana kau dapat cerita seperti itu?
Lagipula, kalau kau menyukaiku, bilang saja langsung. Kenapa aku yang harus
diceritakan kisah abnormalmu itu, bukannya gadis lain?”
Jack
menghela napas, “Maaf, Bu.”
“Apa?”
mata Soon Hi membesar. “Kau memanggilku ‘Bu’?”
“Dasar,”
Jack menaikkan tudungnya. “Aku tidak berbicara padamu.”
“Lalu
pada siapa?” Soon Hi menatapnya tajam. “Abnormal!”
Jack
meliriknya malas, “Ah, sudahlah.” Sedetik kemudian, ia menghilang.
“Siapa
sih dia? Apa maunya pula?” Soon Hi melipat tangannya.
***
Soon
Hi baru saja keluar dari fakultasnya. Aneh, akhir-akhir ini ia tidak bertemu
kakaknya, Sooyoung. Padahal biasanya ia selalu menghadiri kelas bersama
kakaknya, pulang bersama, makan bersama. Setiap pulang ke rumah pun, rasanya ia
tidak pernah melihat batang hidung Sooyoung sekali saja.
Soon
Hi membelok ke gang kecil yang mengarah ke pagar kampus. Tiba-tiba, ada orang
yang membekapnya dari belakang, lalu menariknya paksa. Entah ke mana ia dibawa.
Sekonyong-konyong ia berada di sebuah ruangan sempit. Lalu ia merasa tubuhnya didorong
dengan kasar ke lantai.
Soon
Hi mengaduh pelan. Ia membersihkan telapak tangannya dari debu yang menempel.
Kemudian ia mendongak. Jantungnya terasa ingin melompat saat melihat
pemandangan yang ada di depannya. Si pria … pria bertangan empat itu kini
berdiri di depannya. Dia tidak sendiri. Ada si pria bertangan empat yang lain,
sangat banyak jumlahnya berdiri mengelilingi Soon Hi.
“Bunuh,”
ujar salah satu dari mereka. “Kau, pewaris kekuatan pengendali benda.”
“Bahaya,
sangat bahaya,” sahut yang lain.
Soon
Hi ketakutan. Ia meringkuk, menggigil. Padahal ia yakin udara di situ tidak
dingin, tapi tubuhnya terasa menggigil.
Suara-suara
parau itu terdengar. Seperti orang sekarat, menjerit-jerit aneh. Bersahutan
satu sama lain tidak teratur. Soon Hi menutup telinganya. Ia tidak kuat
mendengar suara memekakkan itu. Soon Hi melihat sekeliling. Sekejap, ia tidak
percaya apa yang dilihatnya. Ruangan ini tidak mempunyai jendela dan pintu?
Lantas, bagaimana ia bisa masuk ke sini?
“Keluarkan
satunya … keluarkan satunya ...,” perintah seseorang yang lebih mirip seperti
rintihan.
Kemudian
terdengar keributan dari sudut ruangan. Ada orang lain di sana, diseret-seret
dengan kasar dari belakang, lalu dilempar begitu saja ke arah Soon Hi.
Soon
Hi menangkap tubuh orang itu. Namun karena tubuhnya terlalu besar, ia tidak
kuat dan mereka tersaruk ke belakang.
Orang
itu segera bangun, lalu menunduk dan terbatuk-batuk. Ada cairan putih kental
keluar dari mulutnya, dan batuknya berhenti. Kepalanya diangkat ke atas
sedikit, menatap satu per satu pria-pria berlengan empat itu yang menatapnya.
Soon
Hi memandangi orang itu. Terasa familiar ….
“Sehun?”
ucapnya saat ia mengenalinya.
Orang
itu menunduk sejenak, lalu berpaling menatap Soon Hi. Matanya melebar dan ia
juga berkata, “Soon Hi?”
Hening.
“A-apa
yang kau lakukan di sini?” tanya Soon Hi terbata.
Sehun
mengangkat bahu, “Kau sendiri?”
Soon
Hi menggeleng pelan.
Sedetik
kemudian, terdengar suara lagi. Kali ini begitu berat, sangat berat diiringi
dengusan napas yang keras, “Bunuh.”
Sehun
terlonjak kaget. Soon Hi menggigit bibir. Ketika suara itu terdengar, para pria
bertangan empat memegang pisaunya. Mereka ribut sekali, berbicara tidak jelas.
Tiba-tiba
Soon Hi teringat kata-kata Jack tentang si pria bertangan empat. Mereka terus
berusaha membunuhnya, dan akan datang dengan jumlah yang lebih banyak. Dan, oh,
tunggu. Apakah cerita yang dia katakan tadi nyata? Apa ada hubungannya dengan
semua ini? Andai saja Soon Hi mendengar cerita tadi tanpa menggerutu. Dia pasti
bisa mendapatkan jawabannya.
“Sehun-ah,”
panggil Soon Hi pelan. “Kau harus keluar dari sini. Bagaimanapun caranya.”
Sehun
menatapnya bingung.
Soon
Hi memikirkan cerita Jack. Jack bilang Soon Hi itu sebenarnya memiliki
kekuatan. Dan berulang kali si pria bertangan empat selalu bilang kalau dia
adalah penerus kekuatan pengendali benda. Jadi … apakah ini semua benar?
Soon
Hi menggerakkan tangannya. Ia mencoba mengangkat pisau yang dipegang si pria
bertangan empat. Awalnya tidak terjadi apa-apa. Soon Hi berkonsentrasi, menatap
pisau itu lekat-lekat dan berusaha menggerakkannya. Sehun yang melihatnya hanya
kebingungan, memiringkan kepalanya sedikit.
Dan
beberapa saat kemudian, pisau itu benar-benar terangkat. Si pria bertangan
empat kebingungan dan menatap ke atas. Pisau itu melayang-layang di atas
kepalanya. Pria-pria yang lain memandangnya terpana. Bukan terpana dalam maksud
baik, tapi justru mereka terlihat tambah marah.
“Tunggu-tunggu,”
Sehun mendekat pada Soon Hi. “Apakah … kau yang hendak mereka bunuh?”
Soon
Hi meliriknya sedikit, kemudian mengangguk pahit, “Kurasa.”
“Kenapa?”
Soon
Hi menggeleng, “Aku tidak begitu mengerti.” Ia menurunkan tangannya. Pisau yang
melayang itu jatuh dengan cepat, tapi si pria dapat menangkapnya dengan baik.
Tiba-tiba
para pria itu mengangkat pisaunya tinggi-tinggi. Lalu salah satu dari mereka
berteriak, dan mendadak pisau-pisau itu dilempar ke arah mereka.
[Bersambung ....]
By : An (Annisa)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar