About

Minggu, 08 Februari 2015

Knight Under The Light (Part 3)

Title    : Knight Under The Light
Author : An (Annisa)
Length : Chaptered
Cast     : Kim Soon Hi (OC), Jack (OC), Oh Sehun (EXO)
Genre : Adventure
***
Soon Hi menyeberangi taman itu. Saat melewati pohon dekat air mancur, ada yang berbicara padanya.
“Kenapa kau tidak jujur saja?”
Soon Hi tersentak, berbalik. Ia melihatnya.
Sosok berjubah yang menolongnya kemarin dari serangan si pria.
“Maksudmu?”
“Kau suka dia kan?” si sosok tersenyum tipis. “Vinessa.”
Soon Hi menautkan alisnya, “Apa?”

Sosok itu membuka tudungnya, lalu menarik napas, “Aku yakin kau mengenalku. Setidaknya, merasa pernah melihat wajahku. Benar kan?”
Soon Hi mengingat-ingat. Ia memang merasa pernah melihat sosok itu selain kejadian kemarin. Tapi entahlah kapan.
“Aku Jack,” ucapnya. “Namamu Vinessa.”
Soon Hi tercekat. Apa sih yang dikatakannya? Jelas-jelas namanya itu Kim Soon Hi. Siapa Vinessa yang dibicarakannya? Karena itu, Soon Hi membungkuk sedikit untuk memberi salam, kemudian berbalik pergi. Tetapi entah mengapa, ada sesuatu yang menarik tubuhnya. Kakinya tak mampu menolak dan tahu-tahu ia kembali berhadapan dengan si sosok.
“Hei, aku bisa membaca pikiranmu. Tidak, pikiran semua orang,” sosok itu, Jack, berkata lagi. “Namamu itu Vinessa. Kau itu adikku. Kim Soon Hi adalah nama yang diberikan oleh keluarga yang mengasuhmu.”
Soon Hi berbalik, memandang Jack, “Maaf, kurasa kau salah orang.” Setelah itu, dia berjalan lagi.
“Kau benar-benar tidak ingin mendengarku? Kenapa?”
Soon Hi mendesah, lalu menjawab setengah berteriak, “Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu katakan. Atau yang akhir-akhir ini terjadi. Pergilah, dan jangan ganggu kehidupanku!”
Jack tertawa kecil. Ia membiarkan Soon Hi berjalan menjauh, kemudian berteleportasi di depannya dan membuat Soon Hi kaget setengah mati.
“Kau!” Soon Hi tersedak. Ia menengok ke belakang, memastikan seberapa jauh ia berjalan.
“Baik, akan kujelaskan satu per satu,” Jack berdehem. “Terserahmu kau mau percaya atau tidak, yang jelas semua kejadian ini nyata. Kau boleh membuktikannya besok.”
Soon Hi menarik napas. Ia tidak punya pilihan lain selain mendengar kata-kata lelaki ini.
“Pertama, yang paling penting, kau itu adikku. Kedua, kau bukan berasal dari sini, tapi dari Exoplanet di luar sana. Ketiga, Exoplanet sedang dalam bahaya, sementara kita adalah keluarga kerajaan yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap Exoplanet. Jadi kami semua membutuhkanmu kembali. Keempat, portal yang menghubungkan dunia ini dengan Exoplanet akan ditutup besok. Bila kau tidak segera ikut denganku ke Exoplanet, kau akan musnah bersama manusia lain yang ada di sini.”
Soon Hi tidak berkomentar.
“Dunia ini tidak nyata. Bumi yang kau tinggali ini hanyalah sebuah lukisan buatan seniman terkenal di Exoplanet, namanya Emma Codger. Emma, seperti para penduduk Exoplanet pada umumnya, menginginkan kehidupan normal. Tanpa kekuatan, tanpa sihir, tanpa kutukan-kutukan mengerikan. Kehidupan yang kau lihat di sekelilingmu ini.”
Soon Hi menatap sekitarnya dengan linglung.
“Para makhluk di Exoplanet mempunyai kekuatan sendiri-sendiri. Kau juga punya itu, hanya saja kau tidak menyadarinya.”
Soon Hi memandang Jack lekat-lekat.
Jack hendak melanjutkan kata-katanya, tetapi dia menarik napas dan berkata, “Kau berpikir kalau aku ini gila kan?”
“Tentu saja,” Soon Hi menjawab dengan cepat. “Dari mana kau dapat cerita seperti itu? Lagipula, kalau kau menyukaiku, bilang saja langsung. Kenapa aku yang harus diceritakan kisah abnormalmu itu, bukannya gadis lain?”
Jack menghela napas, “Maaf, Bu.”
“Apa?” mata Soon Hi membesar. “Kau memanggilku ‘Bu’?”
“Dasar,” Jack menaikkan tudungnya. “Aku tidak berbicara padamu.”
“Lalu pada siapa?” Soon Hi menatapnya tajam. “Abnormal!”
Jack meliriknya malas, “Ah, sudahlah.” Sedetik kemudian, ia menghilang.
“Siapa sih dia? Apa maunya pula?” Soon Hi melipat tangannya.
***
Soon Hi baru saja keluar dari fakultasnya. Aneh, akhir-akhir ini ia tidak bertemu kakaknya, Sooyoung. Padahal biasanya ia selalu menghadiri kelas bersama kakaknya, pulang bersama, makan bersama. Setiap pulang ke rumah pun, rasanya ia tidak pernah melihat batang hidung Sooyoung sekali saja.
Soon Hi membelok ke gang kecil yang mengarah ke pagar kampus. Tiba-tiba, ada orang yang membekapnya dari belakang, lalu menariknya paksa. Entah ke mana ia dibawa. Sekonyong-konyong ia berada di sebuah ruangan sempit. Lalu ia merasa tubuhnya didorong dengan kasar ke lantai.
Soon Hi mengaduh pelan. Ia membersihkan telapak tangannya dari debu yang menempel. Kemudian ia mendongak. Jantungnya terasa ingin melompat saat melihat pemandangan yang ada di depannya. Si pria … pria bertangan empat itu kini berdiri di depannya. Dia tidak sendiri. Ada si pria bertangan empat yang lain, sangat banyak jumlahnya berdiri mengelilingi Soon Hi.
“Bunuh,” ujar salah satu dari mereka. “Kau, pewaris kekuatan pengendali benda.”
“Bahaya, sangat bahaya,” sahut yang lain.
Soon Hi ketakutan. Ia meringkuk, menggigil. Padahal ia yakin udara di situ tidak dingin, tapi tubuhnya terasa menggigil.
Suara-suara parau itu terdengar. Seperti orang sekarat, menjerit-jerit aneh. Bersahutan satu sama lain tidak teratur. Soon Hi menutup telinganya. Ia tidak kuat mendengar suara memekakkan itu. Soon Hi melihat sekeliling. Sekejap, ia tidak percaya apa yang dilihatnya. Ruangan ini tidak mempunyai jendela dan pintu? Lantas, bagaimana ia bisa masuk ke sini?
“Keluarkan satunya … keluarkan satunya ...,” perintah seseorang yang lebih mirip seperti rintihan.
Kemudian terdengar keributan dari sudut ruangan. Ada orang lain di sana, diseret-seret dengan kasar dari belakang, lalu dilempar begitu saja ke arah Soon Hi.
Soon Hi menangkap tubuh orang itu. Namun karena tubuhnya terlalu besar, ia tidak kuat dan mereka tersaruk ke belakang.
Orang itu segera bangun, lalu menunduk dan terbatuk-batuk. Ada cairan putih kental keluar dari mulutnya, dan batuknya berhenti. Kepalanya diangkat ke atas sedikit, menatap satu per satu pria-pria berlengan empat itu yang menatapnya.
Soon Hi memandangi orang itu. Terasa familiar ….
“Sehun?” ucapnya saat ia mengenalinya.
Orang itu menunduk sejenak, lalu berpaling menatap Soon Hi. Matanya melebar dan ia juga berkata, “Soon Hi?”
Hening.
“A-apa yang kau lakukan di sini?” tanya Soon Hi terbata.
Sehun mengangkat bahu, “Kau sendiri?”
Soon Hi menggeleng pelan.
Sedetik kemudian, terdengar suara lagi. Kali ini begitu berat, sangat berat diiringi dengusan napas yang keras, “Bunuh.”
Sehun terlonjak kaget. Soon Hi menggigit bibir. Ketika suara itu terdengar, para pria bertangan empat memegang pisaunya. Mereka ribut sekali, berbicara tidak jelas.
Tiba-tiba Soon Hi teringat kata-kata Jack tentang si pria bertangan empat. Mereka terus berusaha membunuhnya, dan akan datang dengan jumlah yang lebih banyak. Dan, oh, tunggu. Apakah cerita yang dia katakan tadi nyata? Apa ada hubungannya dengan semua ini? Andai saja Soon Hi mendengar cerita tadi tanpa menggerutu. Dia pasti bisa mendapatkan jawabannya.
“Sehun-ah,” panggil Soon Hi pelan. “Kau harus keluar dari sini. Bagaimanapun caranya.”
Sehun menatapnya bingung.
Soon Hi memikirkan cerita Jack. Jack bilang Soon Hi itu sebenarnya memiliki kekuatan. Dan berulang kali si pria bertangan empat selalu bilang kalau dia adalah penerus kekuatan pengendali benda. Jadi … apakah ini semua benar?
Soon Hi menggerakkan tangannya. Ia mencoba mengangkat pisau yang dipegang si pria bertangan empat. Awalnya tidak terjadi apa-apa. Soon Hi berkonsentrasi, menatap pisau itu lekat-lekat dan berusaha menggerakkannya. Sehun yang melihatnya hanya kebingungan, memiringkan kepalanya sedikit.
Dan beberapa saat kemudian, pisau itu benar-benar terangkat. Si pria bertangan empat kebingungan dan menatap ke atas. Pisau itu melayang-layang di atas kepalanya. Pria-pria yang lain memandangnya terpana. Bukan terpana dalam maksud baik, tapi justru mereka terlihat tambah marah.
“Tunggu-tunggu,” Sehun mendekat pada Soon Hi. “Apakah … kau yang hendak mereka bunuh?”
Soon Hi meliriknya sedikit, kemudian mengangguk pahit, “Kurasa.”
“Kenapa?”
Soon Hi menggeleng, “Aku tidak begitu mengerti.” Ia menurunkan tangannya. Pisau yang melayang itu jatuh dengan cepat, tapi si pria dapat menangkapnya dengan baik.
Tiba-tiba para pria itu mengangkat pisaunya tinggi-tinggi. Lalu salah satu dari mereka berteriak, dan mendadak pisau-pisau itu dilempar ke arah mereka.
[Bersambung ....]
By : An (Annisa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar