Title : Knight Under The Light
Author : An
(Annisa)
Length :
Chaptered
Cast : Kim Soon Hi (OC), Jack (OC), Oh Sehun
(EXO)
Genre :
Adventure
***
Soon Hi tidak
tahu pasti apa yang barusan terjadi. Tiba-tiba ada sosok hitam berkelebat,
kemudian ia terlepas dari cengkeraman si pria bertangan empat itu. Ia jatuh
terduduk, bisa bernapas lega sekarang.
Di ujung gang,
Soon Hi dapat melihat dua sosok yang sedang bertarung. Salah satunya si pria.
Satunya lagi … entahlah. Ia muncul-lenyap berulang kali membuat si pria
kebingungan.
Akhirnya,
sosok yang sulit dilihat tersebut menampakkan dirinya. Ia melompat, menerjang
si pria hingga tersaruk beberapa meter.
“Timing-mu selalu tepat, Jack,” ucap si
pria lirih. “Seperti biasa.”
Sosok
berjubah hitam itu terdiam sesaat. Lalu ia mengangkat tangan kanannya.
Soon
Hi terkaget-kaget ketika tahu pisau si pria yang mengancam nyawanya tadi
menancap di tembok dekat tempatnya duduk. Pisau itu bergerak seiring dengan
gerakan tangan kanan si sosok. Kemudian tercabut dari dinding, dan melesat
menuju si pria.
JRASS!
Soon
Hi menutup matanya melihat peristiwa itu. Pisau-pisau itu menancap persis di
tiap inci tubuh si pria. Sosok berjubah itu berdiri, kemudian memandangi jasad
si pria. Soon Hi membelalak saat melihat tubuh kaku si pria menghilang.
Perlahan-lahan ditelan tanah.
Sosok
berjubah itu berbalik, menatap Soon Hi. Soon Hi tercengang melihat wajah itu.
Terasa familiar baginya. Ia merasa pernah melihat wajah itu. Entah kapan atau
di mana.
Selama
beberapa saat, keduanya bertatapan. Sama-sama terdiam.
Akhirnya,
sosok itu angkat bicara, “Akan datang yang lebih banyak.”
Soon
Hi menautkan alisnya. Sosok ini bicara apa?
Sosok
itu merapatkan jubahnya, “Pria itu akan datang lain waktu. Dengan sekutu yang
lebih banyak. Bersiaplah.”
“Maksudmu
apa?” Soon Hi kebingungan.
“Kau
akan tahu suatu saat nanti,” perlahan sosok itu menghilang. Meninggalkan Soon
Hi sendiri di gang sempit itu.
Soon
Hi termenung sesaat. Ia mencerna kata-kata si sosok. Namun, satupun dari ucapan
si sosok tak dapat ia pahami. Soon Hi mengangkat bahu, lalu berlalu dari sana.
***
“Aku
pulang.”
Soon
Hi menutup pintu. Ia melepaskan sepatunya, kemudian masuk ke dalam. Ibunya
berteriak dari dapur, “Soon Hi-yah! Segeralah ganti baju dan kemari! Aku butuh
bantuanmu!”
Soon
Hi menarik napas. Ia ke kamar, meletakkan tasnya dan merebahkan diri. Beberapa
menit kemudian, Soon Hi selesai dengan kepentingannya dan melangkah ke dapur. Di
sana ia melihat ibunya sibuk memasak.
“Apa
yang bisa kuban …”
“Pergilah
ke belakang! Ada cucian yang belum beres. Aku tak sempat membereskannya, jadi
…”
Soon
Hi bergegas ke belakang. Dia melihat banyak pakaian yang diletakkan sembarangan
di dalam ember, juga banyak baskom-baskom air berserakan di sana. Soon Hi
mendekat. Ia mengambil sebuah kaos di dalam ember, lalu memasukkannya ke dalam
baskom air. Kemudian ia menggosoknya dengan sabun, sebelum dibilas beberapa
kali dan dijemur.
Ia
melakukannya terus-menerus, hingga ember yang berisi pakaian kotor itu kosong.
Soon Hi menyeka keringatnya. Ia mengangkat ember kosong tersebut dan membawanya
ke teras belakang. Meletakkannya di samping alat pel. Kemudian ia kembali,
menggeser si baskom air ke atas agar air sabun yang ada di dalamnya tumpah.
Setelah itu ia meletakkan baskomnya di tempat yang sama. Ia kembali lagi,
hendak melakukan hal yang sama pada baskom kedua. Namun, ia terlonjak kaget melihat
siapa yang ada di dalam baskom.
Tidak,
si pria yang ditemuinya tadi.
Soon
Hi bergidik. Mata si pria memicing tajam, menatap Soon Hi dengan bengis. Soon
Hi beringsut mundur. Ia tahu si pria hanya berupa bayangan, menakut-nakutinya
dari dalam air. Tapi tetap saja ia takut. Bagaimana kalau si pria akan muncul
bersama kawan-kawannya dan menyerang rumahnya pada malam hari? Bagaimana kalau
kemunculannya sekarang merupakan peringatan baginya untuk waspada?
Soon
Hi menggeleng cepat. Ia segera berlari ke dalam dan menutup pintu, lalu
menguncinya. Ia buru-buru berlari ke kamar, mengunci kamarnya juga. Dari
jendela kamarnya ia dapat melihat si pria. Masih ada di dalam baskom. Masih
menatapnya pula.
Soon
Hi berusaha untuk mengabaikannya. Berpura-pura kalau ia tidak melihat si pria.
Beberapa detik kemudian, ibunya muncul di teras belakang dan mendekati baskom
air itu. Soon Hi tergelak. Ia bangkit dari duduknya dan pergi ke jendela,
hendak memberi isyarat pada ibunya tentang si pria.
Tapi
ibunya tidak melihat apapun di dalam baskom air. Beliau menggulingkannya ke
tanah, membuat air di dalamnya tertuang dan merembes ke saluran air di pojok.
Bayangan si pria masih terlihat, mengikuti aliran air. Tetapi ketika air
tersebut melewati bebatuan, si pria menghilang.
Soon
Hi bernapas lega.
***
“Kau
gagal membawanya lagi?”
Seorang
lelaki berjubah membungkuk, “Maaf.”
Wanita
tua keriput dengan rambut putihnya, berusaha berdiri dari kursi. Namun rasa
sakit luar biasa pada kakinya, membuatnya tak mampu meneruskannya.
“Jack,
oh, Jack,” wanita itu mendesah. “Sudah waktunya adikmu untuk kembali. Gargant
akan mengirim pasukannya lagi ke Bumi, dan jumlahnya akan semakin banyak.
Portal penghubung dunia kita dan dunia adikmu akan tertutup besok lusa. Pada
saat itu pula … kau tahu apa yang akan terjadi kan?”
Lelaki
itu, Jack, mengangguk sopan. “Tapi, kenapa Ibu mengirim Vinessa ke sana bila
dunianya akan musnah bila portalnya tertutup?”
“Hanya
Bumi yang paling aman,” wanita itu terbatuk-batuk. Ia memanggil para pelayan
istana untuk membawakannya minum. Setelah minum, ia melanjutkan, “Besok, kau
harus benar-benar bisa membawanya. Jack, tidak biasanya kau begini. Jika kau
diberi misi, kau selalu bisa menyelesaikannya dengan cepat. Tapi kau sepertinya
kesulitan menyelesaikan yang satu ini. Apa perlu kupanggil Ethan?”
“Tidak,
tidak perlu,” tukas Jack cepat.
Wanita
itu menarik napas, “Apa kau sudah bertemu adikmu di sana?”
Jack
mengangguk.
“Seperti
apa dia?” sang wanita menegakkan duduknya. “Aku yang melahirkan dia, tapi aku
belum pernah melihatnya tumbuh.”
“Dia
cantik,” ujar Jack singkat. Dia seperti memikirkan sesuatu, lalu berkata lagi,
“Karena itu aku ragu-ragu membawanya kemari.”
Sang
wanita mengerutkan dahi, “Maksudmu?”
Jack
menarik napas, “Dunia yang diciptakan Emma Codger begitu menarik. Aku heran
seniman seperti dia bisa melukiskan dunia yang begitu sempurna. Tidak ada
kekuatan di sana. Tidak ada yang namanya perebutan kekuasaan dengan ilmu hitam.
Matahari bersinar sepanjang tahun, sedangkan di sini … melihat matahari saja
mustahil rasanya. Asap menjadi pemandangan sehari-hari.”
Sang
wanita tersenyum lembut, “Sudah kukatakan bukan? Bumi itu tempat yang paling
aman untuk adikmu. Sayang sekali harus musnah ketika portalnya tertutup.”
Jack
menatap sang wanita, “Tak bisakah kita tunda penutupannya? Aku sengaja tidak
menyelesaikan misiku dengan cepat agar aku bisa pergi ke dunia itu setiap
hari.”
Sang
wanita menunduk, menghembuskan napas dengan keras, “Gargant akan menguasai
dunia itu jika kita tidak menutup portalnya. Seperti dunia yang lain, Exoplanet
dapat diakses Gargant dan pasukannya gara-gara Daffodil belum menutup portalnya
ke dunia kita.”
Jack
memutar bola matanya, “Ada alasan lain mengapa aku tak ingin menyelesaikan
misiku dengan cepat.” Ia berjalan perlahan, menuju jendela besar di sisi kiri.
Sang
wanita menatapnya.
“Vinessa
menemukan hal lain yang kuinginkan di Exoplanet,” desahnya pelan. “Cinta.”
Sang
wanita menaikkan alisnya, “Cinta?”
Jack
mengangguk, “Ya. Cinta antar-lawan jenis. Apabila kita saling jujur satu sama
lain, maka kita bisa hidup bersama dan melalui kegiatan indah yang mereka sebut
pernikahan.”
Sang
wanita tampak tertarik, “ Jadi maksudmu, Vinessa menyukai seseorang di dunia
itu?”
“Ya.
Orang yang disukainya juga menyukainya balik. Sayangnya kedua-duanya tidak jujur
pada perasaannya sendiri,” Jack menatap awan-awan hitam yang bergelantungan di
langit. “Perlu Ibu ingat, Vinessa mempunyai nama lain di dunia itu. Mungkin
diberi oleh keluarga yang mengasuhnya.”
“Siapa?”
“Kim
Soon Hi,”ujar Jack. “Dan orang yang disukainya itu, Oh Sehun.”
***
Soon
Hi mendekati mesin penjual minuman otomatis. Ia mengamati kaleng-kaleng minuman
segar yang terdapat di dalamnya. Di tiap-tiap minuman terpampang harga minuman
yang diketik di kertas kecil. Soon Hi memasukkan uangnya, lalu memencet nomor
minuman yang ia inginkan. Sekejap minuman tersebut tergerak, jatuh ke dalam
lubang tempat pengambilan.
Soon
Hi merogoh lubang itu, menarik minumannya keluar. Dibukanya si kaleng dan
berjalan ke sebuah bangku.
Ia
duduk di sana, kemudian meneguk minumannya perlahan-lahan. Setelah itu ia
mengamati keadaan sekitar. Ketika melihat sisi kirinya, ia terkejut. Ada
seorang namja duduk di situ, tengah membaca buku tebal. Ia mengenakan earphone dan sepertinya tidak sadar bila
Soon Hi duduk di sampingnya.
Soon
Hi mengamati namja itu. Seketika ia sadar kalau itu Sehun.
Soon
Hi menengok kanan-kiri. Benar apa dugaannya. Banyak orang yang menuding-nuding
mereka, bergumam dan berbisik-bisik. Bahkan sepertinya ada yang membawa kamera,
memotret mereka berdua.
Soon
Hi sadar ia tidak boleh terus duduk di situ. Karenanya, ia berdiri dan berlalu
pergi. Ketika ia sudah jauh beberapa langkah, Soon Hi melirik ke belakang.
Sehun terlihat cuek dan terus membaca bukunya.
Soon
Hi menyeberangi taman itu. Saat melewati pohon dekat air mancur, ada yang
berbicara padanya.
“Kenapa
kau tidak jujur saja?”
Soon
Hi tersentak, berbalik. Ia melihatnya.
[Bersambung ....]
By : An (Annisa)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar