About

Minggu, 08 Februari 2015

Knight Under The Light (Part 2)

Title    : Knight Under The Light
Author : An (Annisa)
Length : Chaptered
Cast     : Kim Soon Hi (OC), Jack (OC), Oh Sehun (EXO)
Genre : Adventure
***
Soon Hi tidak tahu pasti apa yang barusan terjadi. Tiba-tiba ada sosok hitam berkelebat, kemudian ia terlepas dari cengkeraman si pria bertangan empat itu. Ia jatuh terduduk, bisa bernapas lega sekarang.
Di ujung gang, Soon Hi dapat melihat dua sosok yang sedang bertarung. Salah satunya si pria. Satunya lagi … entahlah. Ia muncul-lenyap berulang kali membuat si pria kebingungan.

Akhirnya, sosok yang sulit dilihat tersebut menampakkan dirinya. Ia melompat, menerjang si pria hingga tersaruk beberapa meter.
Timing-mu selalu tepat, Jack,” ucap si pria lirih. “Seperti biasa.”
Sosok berjubah hitam itu terdiam sesaat. Lalu ia mengangkat tangan kanannya.
Soon Hi terkaget-kaget ketika tahu pisau si pria yang mengancam nyawanya tadi menancap di tembok dekat tempatnya duduk. Pisau itu bergerak seiring dengan gerakan tangan kanan si sosok. Kemudian tercabut dari dinding, dan melesat menuju si pria.
JRASS!
Soon Hi menutup matanya melihat peristiwa itu. Pisau-pisau itu menancap persis di tiap inci tubuh si pria. Sosok berjubah itu berdiri, kemudian memandangi jasad si pria. Soon Hi membelalak saat melihat tubuh kaku si pria menghilang. Perlahan-lahan ditelan tanah.
Sosok berjubah itu berbalik, menatap Soon Hi. Soon Hi tercengang melihat wajah itu. Terasa familiar baginya. Ia merasa pernah melihat wajah itu. Entah kapan atau di mana.
Selama beberapa saat, keduanya bertatapan. Sama-sama terdiam.
Akhirnya, sosok itu angkat bicara, “Akan datang yang lebih banyak.”
Soon Hi menautkan alisnya. Sosok ini bicara apa?
Sosok itu merapatkan jubahnya, “Pria itu akan datang lain waktu. Dengan sekutu yang lebih banyak. Bersiaplah.”
“Maksudmu apa?” Soon Hi kebingungan.
“Kau akan tahu suatu saat nanti,” perlahan sosok itu menghilang. Meninggalkan Soon Hi sendiri di gang sempit itu.
Soon Hi termenung sesaat. Ia mencerna kata-kata si sosok. Namun, satupun dari ucapan si sosok tak dapat ia pahami. Soon Hi mengangkat bahu, lalu berlalu dari sana.
***
“Aku pulang.”
Soon Hi menutup pintu. Ia melepaskan sepatunya, kemudian masuk ke dalam. Ibunya berteriak dari dapur, “Soon Hi-yah! Segeralah ganti baju dan kemari! Aku butuh bantuanmu!”
Soon Hi menarik napas. Ia ke kamar, meletakkan tasnya dan merebahkan diri. Beberapa menit kemudian, Soon Hi selesai dengan kepentingannya dan melangkah ke dapur. Di sana ia melihat ibunya sibuk memasak.
“Apa yang bisa kuban …”
“Pergilah ke belakang! Ada cucian yang belum beres. Aku tak sempat membereskannya, jadi …”
Soon Hi bergegas ke belakang. Dia melihat banyak pakaian yang diletakkan sembarangan di dalam ember, juga banyak baskom-baskom air berserakan di sana. Soon Hi mendekat. Ia mengambil sebuah kaos di dalam ember, lalu memasukkannya ke dalam baskom air. Kemudian ia menggosoknya dengan sabun, sebelum dibilas beberapa kali dan dijemur.
Ia melakukannya terus-menerus, hingga ember yang berisi pakaian kotor itu kosong. Soon Hi menyeka keringatnya. Ia mengangkat ember kosong tersebut dan membawanya ke teras belakang. Meletakkannya di samping alat pel. Kemudian ia kembali, menggeser si baskom air ke atas agar air sabun yang ada di dalamnya tumpah. Setelah itu ia meletakkan baskomnya di tempat yang sama. Ia kembali lagi, hendak melakukan hal yang sama pada baskom kedua. Namun, ia terlonjak kaget melihat siapa yang ada di dalam baskom.
Tidak, si pria yang ditemuinya tadi.
Soon Hi bergidik. Mata si pria memicing tajam, menatap Soon Hi dengan bengis. Soon Hi beringsut mundur. Ia tahu si pria hanya berupa bayangan, menakut-nakutinya dari dalam air. Tapi tetap saja ia takut. Bagaimana kalau si pria akan muncul bersama kawan-kawannya dan menyerang rumahnya pada malam hari? Bagaimana kalau kemunculannya sekarang merupakan peringatan baginya untuk waspada?
Soon Hi menggeleng cepat. Ia segera berlari ke dalam dan menutup pintu, lalu menguncinya. Ia buru-buru berlari ke kamar, mengunci kamarnya juga. Dari jendela kamarnya ia dapat melihat si pria. Masih ada di dalam baskom. Masih menatapnya pula.
Soon Hi berusaha untuk mengabaikannya. Berpura-pura kalau ia tidak melihat si pria. Beberapa detik kemudian, ibunya muncul di teras belakang dan mendekati baskom air itu. Soon Hi tergelak. Ia bangkit dari duduknya dan pergi ke jendela, hendak memberi isyarat pada ibunya tentang si pria.
Tapi ibunya tidak melihat apapun di dalam baskom air. Beliau menggulingkannya ke tanah, membuat air di dalamnya tertuang dan merembes ke saluran air di pojok. Bayangan si pria masih terlihat, mengikuti aliran air. Tetapi ketika air tersebut melewati bebatuan, si pria menghilang.
Soon Hi bernapas lega.
***
“Kau gagal membawanya lagi?”
Seorang lelaki berjubah membungkuk, “Maaf.”
Wanita tua keriput dengan rambut putihnya, berusaha berdiri dari kursi. Namun rasa sakit luar biasa pada kakinya, membuatnya tak mampu meneruskannya.
“Jack, oh, Jack,” wanita itu mendesah. “Sudah waktunya adikmu untuk kembali. Gargant akan mengirim pasukannya lagi ke Bumi, dan jumlahnya akan semakin banyak. Portal penghubung dunia kita dan dunia adikmu akan tertutup besok lusa. Pada saat itu pula … kau tahu apa yang akan terjadi kan?”
Lelaki itu, Jack, mengangguk sopan. “Tapi, kenapa Ibu mengirim Vinessa ke sana bila dunianya akan musnah bila portalnya tertutup?”
“Hanya Bumi yang paling aman,” wanita itu terbatuk-batuk. Ia memanggil para pelayan istana untuk membawakannya minum. Setelah minum, ia melanjutkan, “Besok, kau harus benar-benar bisa membawanya. Jack, tidak biasanya kau begini. Jika kau diberi misi, kau selalu bisa menyelesaikannya dengan cepat. Tapi kau sepertinya kesulitan menyelesaikan yang satu ini. Apa perlu kupanggil Ethan?”
“Tidak, tidak perlu,” tukas Jack cepat.
Wanita itu menarik napas, “Apa kau sudah bertemu adikmu di sana?”
Jack mengangguk.
“Seperti apa dia?” sang wanita menegakkan duduknya. “Aku yang melahirkan dia, tapi aku belum pernah melihatnya tumbuh.”
“Dia cantik,” ujar Jack singkat. Dia seperti memikirkan sesuatu, lalu berkata lagi, “Karena itu aku ragu-ragu membawanya kemari.”
Sang wanita mengerutkan dahi, “Maksudmu?”
Jack menarik napas, “Dunia yang diciptakan Emma Codger begitu menarik. Aku heran seniman seperti dia bisa melukiskan dunia yang begitu sempurna. Tidak ada kekuatan di sana. Tidak ada yang namanya perebutan kekuasaan dengan ilmu hitam. Matahari bersinar sepanjang tahun, sedangkan di sini … melihat matahari saja mustahil rasanya. Asap menjadi pemandangan sehari-hari.”
Sang wanita tersenyum lembut, “Sudah kukatakan bukan? Bumi itu tempat yang paling aman untuk adikmu. Sayang sekali harus musnah ketika portalnya tertutup.”
Jack menatap sang wanita, “Tak bisakah kita tunda penutupannya? Aku sengaja tidak menyelesaikan misiku dengan cepat agar aku bisa pergi ke dunia itu setiap hari.”
Sang wanita menunduk, menghembuskan napas dengan keras, “Gargant akan menguasai dunia itu jika kita tidak menutup portalnya. Seperti dunia yang lain, Exoplanet dapat diakses Gargant dan pasukannya gara-gara Daffodil belum menutup portalnya ke dunia kita.”
Jack memutar bola matanya, “Ada alasan lain mengapa aku tak ingin menyelesaikan misiku dengan cepat.” Ia berjalan perlahan, menuju jendela besar di sisi kiri.
Sang wanita menatapnya.
“Vinessa menemukan hal lain yang kuinginkan di Exoplanet,” desahnya pelan. “Cinta.”
Sang wanita menaikkan alisnya, “Cinta?”
Jack mengangguk, “Ya. Cinta antar-lawan jenis. Apabila kita saling jujur satu sama lain, maka kita bisa hidup bersama dan melalui kegiatan indah yang mereka sebut pernikahan.”
Sang wanita tampak tertarik, “ Jadi maksudmu, Vinessa menyukai seseorang di dunia itu?”
“Ya. Orang yang disukainya juga menyukainya balik. Sayangnya kedua-duanya tidak jujur pada perasaannya sendiri,” Jack menatap awan-awan hitam yang bergelantungan di langit. “Perlu Ibu ingat, Vinessa mempunyai nama lain di dunia itu. Mungkin diberi oleh keluarga yang mengasuhnya.”
“Siapa?”
“Kim Soon Hi,”ujar Jack. “Dan orang yang disukainya itu, Oh Sehun.”
***
Soon Hi mendekati mesin penjual minuman otomatis. Ia mengamati kaleng-kaleng minuman segar yang terdapat di dalamnya. Di tiap-tiap minuman terpampang harga minuman yang diketik di kertas kecil. Soon Hi memasukkan uangnya, lalu memencet nomor minuman yang ia inginkan. Sekejap minuman tersebut tergerak, jatuh ke dalam lubang tempat pengambilan.
Soon Hi merogoh lubang itu, menarik minumannya keluar. Dibukanya si kaleng dan berjalan ke sebuah bangku.
Ia duduk di sana, kemudian meneguk minumannya perlahan-lahan. Setelah itu ia mengamati keadaan sekitar. Ketika melihat sisi kirinya, ia terkejut. Ada seorang namja duduk di situ, tengah membaca buku tebal. Ia mengenakan earphone dan sepertinya tidak sadar bila Soon Hi duduk di sampingnya.
Soon Hi mengamati namja itu. Seketika ia sadar kalau itu Sehun.
Soon Hi menengok kanan-kiri. Benar apa dugaannya. Banyak orang yang menuding-nuding mereka, bergumam dan berbisik-bisik. Bahkan sepertinya ada yang membawa kamera, memotret mereka berdua.
Soon Hi sadar ia tidak boleh terus duduk di situ. Karenanya, ia berdiri dan berlalu pergi. Ketika ia sudah jauh beberapa langkah, Soon Hi melirik ke belakang. Sehun terlihat cuek dan terus membaca bukunya.
Soon Hi menyeberangi taman itu. Saat melewati pohon dekat air mancur, ada yang berbicara padanya.
“Kenapa kau tidak jujur saja?”
Soon Hi tersentak, berbalik. Ia melihatnya.
[Bersambung ....]
By : An (Annisa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar